Hai, Sam...
Di sini, di depan laptop baru yang menemaniku. Ia pacar ketigaku setelah si putih dan si kecil. laptop abu-abu yang tenang dan gagah. Uhuk..
Sam, sudah lama aku ingin berkata pada dunia, bahwa aku tidak akan kemana-mana, dan kita akan selalu bersama bersanding di hadapan dunia. Aku ingin menyatakan bahwa tidak ada ruang yang terlalu sempit untukku berpikir, jika si abu-abu tetap di sini, kita akan selalu bertemu, Sam. Ada banyak berita pun cerita, getir, penuh harap, jenuh, cerah, atau sayup. Suasana yang sangat beragam dalam sebuah kotak kecil di bawah atap yang sunyi.Tapi ini sudah begitu malam sebelum aku kisahkan bagaimana selanjutnya. sebaiknya kita menenang sejenak. malam.
Sunday, July 16, 2017
INI CERITA JALAN-JALANKU, MANA CERITAMU?
Medan.21-06-2017
PULKAM MEDAN-HANG NADIM HINGGA KUALA NAMU
Hari itu, Aku, Agid, dan Ayah Agid serta saudara kami, kakak, abang, sepupu agid bersama-sama menuju bandara Hang Nadim (Batam). Kami menaiki taksi yang berbeda menggunakan taksi silver dengan biaya Rp 60000. Alhamdulillah... kami sampai juga di bandara meskipun saat tadi akan mengunci rumah, kami kelabakan karena mencari sandal yang belum disiapkan, jemuran yang masih basah, dll. Semoga kekacauan itu tidak terjadi lagi.
Sampai di Hang Nadim, kami langsung bertemu kakak kami dan keluarganya, lalu kami menuju ke wilayah chek in. Oya, jangan lupa tali pinggang dan jam tangan disimpan saja di tas. begitu juga HP, dan alat elektronik lain saat akan melewati pintu detektor dan pemeriksaan ke dalam bandara. Setelah masuk, kami langsung melihat antrian panjang. Tapi itu tentu bukan tempat chek in pesawat Garuda. Karena kami naik Garuda, kami langsung saja ke arah kanan paling ujung. Di sana tidak perlu antri panjang. Kami meminta tempat duduk yang berdekatan karena ada 4 anak kecil dan 4 dewasa. Saya, suami, anak kami, tiga orang keponakan dan papa mamanya. Syukurlah proses berjalan lancar. Tidak perlu akta kelahiran anak, asalkan berangkat dengan orang tua kandungnya. Mereka hanya akan pinta meminta anak-anaknya. Melihat apakah betul usia anak sesuai dengan permintaan tempat duduk sebab banyak yang berbohong perihal usia agar mendapat tiket murah (non-kursi-alias anak dipangku). Saya sendiri menyadari Agid pasti maunya dipangku walaupun ia bayar juga satu seat sendiri karena usianya sudah di atas 2 tahun. Al hasil 1 bangku kosong di pesawat. sungguh mubazir... is..is...
Walaupun begitu, ada bagusnya juga Agid dipangku biar kami bisa bareng bertiga, karena pesawat garuda ke Medan ini memakai pesawat jenis jet yang lebih kecil dari boeing 737, bangkunya berjejer dua-dua kanan-kiri, jadi pas buat kami berdua plus Agid dipangku.
Kami menunggu di ruang tunggu, sambil melihat Agid dan sepupunya main. Ayah Agid dan abang ipar giliran pertama salat ke musala bandara. Kemudian kami yang perempuan. Syukurlah tak lama selesai salat kami sudah diminta naik ke pesawat. Saya langsung menggendong Agid yang masih asyik main. Tentu dia berontak. Ya! Harus sabarrrrr......
Waktu masuk ke pesawat memang dijadwalkan satu jam sebelum pesawat akan naik. Kalau di tiket waktu keberangkatan pukul 13.00, maka kita sudah masuk ke pesawat pukul 12.00 dan tepat pesawat akan terbang pukul 13.00. Di udara kita hanya berpaut satu jam 5 menit lebih sedikit.
Waktu naik ke atas pesawat, Agid memang sedikit rewel karena dia memang karakter anak yang tidak suka masuk ke ruang yang tidak begitu ia kenal dan jarang ia tahu. Ia juga tidak begitu suka tempat yang tidak bisa leluasa bermain, lari-lari, sembunyi-sembunyian. Ya! Dengan segala peraturan menegangkan di pesawat, tentu Agid yang terkenal aktif tidak begitu saja suka. Situasi ini membuat kami bingung. Akhirnya ia bisa dirayu dengan makanan ringan. Hem....
Akhirnya, perjalanan kami pun tidak begitu lama di atas, kami sampai dalam waktu yang pas satu jam 5 menit dan mendarat dengan baik. Alhamdulillah, kami melihat bandara Kuala Namu yang megah lagi, setelah satu tahun lalu kami juga pulang. Saya langsung merasa santai dan tenang sudah tidak berada di atas awan lagi. Agid juga tampak ga sabar mau keluar dari pesawat. Akhirnya kami turun dari pesawat dan di bawah sudah ditunggu bus menuju pintu masuk gedung bandara, berhubung bandara kuala namu memang cukup luas.
Ketika berpergian gini saya sudah paham Agid akan malas makan dan minum. Saya mencoba terus agar ia mau minum air yang banyak karena ini perjalanan yang cukup melelahkan. Saya membawa segala jenis minuman yang dia suka agar bisa merayunya untuk terus minum air. Alhamdulillah Agid bisa lebih baik. Kami menuju bagasi. Sebelumnya, kami berfoto di tampilan kreasi istana maimun dan lainnya yang terpampang sepanjang perjalanan menuju bagasi. Di luar, mamak, kakak pertama dan keponakan sudah menunggu kami. Akhirnya dengan haru kami bertemu lagi dengan mereka. Mereka menyewa bus hotel tempat abang ipar saya bekerja agar muat untuk kami semua. Kami, dengan satu orang nenek, 7 cucu, 4 anak dan 3 menantu tentu saja begitu ramai dan heboh
PULKAM MEDAN-HANG NADIM HINGGA KUALA NAMU
Hari itu, Aku, Agid, dan Ayah Agid serta saudara kami, kakak, abang, sepupu agid bersama-sama menuju bandara Hang Nadim (Batam). Kami menaiki taksi yang berbeda menggunakan taksi silver dengan biaya Rp 60000. Alhamdulillah... kami sampai juga di bandara meskipun saat tadi akan mengunci rumah, kami kelabakan karena mencari sandal yang belum disiapkan, jemuran yang masih basah, dll. Semoga kekacauan itu tidak terjadi lagi.
Sampai di Hang Nadim, kami langsung bertemu kakak kami dan keluarganya, lalu kami menuju ke wilayah chek in. Oya, jangan lupa tali pinggang dan jam tangan disimpan saja di tas. begitu juga HP, dan alat elektronik lain saat akan melewati pintu detektor dan pemeriksaan ke dalam bandara. Setelah masuk, kami langsung melihat antrian panjang. Tapi itu tentu bukan tempat chek in pesawat Garuda. Karena kami naik Garuda, kami langsung saja ke arah kanan paling ujung. Di sana tidak perlu antri panjang. Kami meminta tempat duduk yang berdekatan karena ada 4 anak kecil dan 4 dewasa. Saya, suami, anak kami, tiga orang keponakan dan papa mamanya. Syukurlah proses berjalan lancar. Tidak perlu akta kelahiran anak, asalkan berangkat dengan orang tua kandungnya. Mereka hanya akan pinta meminta anak-anaknya. Melihat apakah betul usia anak sesuai dengan permintaan tempat duduk sebab banyak yang berbohong perihal usia agar mendapat tiket murah (non-kursi-alias anak dipangku). Saya sendiri menyadari Agid pasti maunya dipangku walaupun ia bayar juga satu seat sendiri karena usianya sudah di atas 2 tahun. Al hasil 1 bangku kosong di pesawat. sungguh mubazir... is..is...
Walaupun begitu, ada bagusnya juga Agid dipangku biar kami bisa bareng bertiga, karena pesawat garuda ke Medan ini memakai pesawat jenis jet yang lebih kecil dari boeing 737, bangkunya berjejer dua-dua kanan-kiri, jadi pas buat kami berdua plus Agid dipangku.
Kami menunggu di ruang tunggu, sambil melihat Agid dan sepupunya main. Ayah Agid dan abang ipar giliran pertama salat ke musala bandara. Kemudian kami yang perempuan. Syukurlah tak lama selesai salat kami sudah diminta naik ke pesawat. Saya langsung menggendong Agid yang masih asyik main. Tentu dia berontak. Ya! Harus sabarrrrr......
Waktu masuk ke pesawat memang dijadwalkan satu jam sebelum pesawat akan naik. Kalau di tiket waktu keberangkatan pukul 13.00, maka kita sudah masuk ke pesawat pukul 12.00 dan tepat pesawat akan terbang pukul 13.00. Di udara kita hanya berpaut satu jam 5 menit lebih sedikit.
Waktu naik ke atas pesawat, Agid memang sedikit rewel karena dia memang karakter anak yang tidak suka masuk ke ruang yang tidak begitu ia kenal dan jarang ia tahu. Ia juga tidak begitu suka tempat yang tidak bisa leluasa bermain, lari-lari, sembunyi-sembunyian. Ya! Dengan segala peraturan menegangkan di pesawat, tentu Agid yang terkenal aktif tidak begitu saja suka. Situasi ini membuat kami bingung. Akhirnya ia bisa dirayu dengan makanan ringan. Hem....
Akhirnya, perjalanan kami pun tidak begitu lama di atas, kami sampai dalam waktu yang pas satu jam 5 menit dan mendarat dengan baik. Alhamdulillah, kami melihat bandara Kuala Namu yang megah lagi, setelah satu tahun lalu kami juga pulang. Saya langsung merasa santai dan tenang sudah tidak berada di atas awan lagi. Agid juga tampak ga sabar mau keluar dari pesawat. Akhirnya kami turun dari pesawat dan di bawah sudah ditunggu bus menuju pintu masuk gedung bandara, berhubung bandara kuala namu memang cukup luas.
Ketika berpergian gini saya sudah paham Agid akan malas makan dan minum. Saya mencoba terus agar ia mau minum air yang banyak karena ini perjalanan yang cukup melelahkan. Saya membawa segala jenis minuman yang dia suka agar bisa merayunya untuk terus minum air. Alhamdulillah Agid bisa lebih baik. Kami menuju bagasi. Sebelumnya, kami berfoto di tampilan kreasi istana maimun dan lainnya yang terpampang sepanjang perjalanan menuju bagasi. Di luar, mamak, kakak pertama dan keponakan sudah menunggu kami. Akhirnya dengan haru kami bertemu lagi dengan mereka. Mereka menyewa bus hotel tempat abang ipar saya bekerja agar muat untuk kami semua. Kami, dengan satu orang nenek, 7 cucu, 4 anak dan 3 menantu tentu saja begitu ramai dan heboh
Friday, July 7, 2017
Keramaian di Berastagi-menuju Parapat-Medan
Menjawab sepi bukan dengan keramaian, bukan pula dengan kelelahan.
Ia seperti menuntut kepuasan batin, meskipun mesti pula menjawab kemenangan mental.
Orang-orang menunjuk kepingan keinginan seperti menebak gundukan lotre.
Alhamdulillah... perjalanan telah dilalui.
Awalnya, kami merasa hanya akan menjadi bagian dua kota, tetapi kehendak Allah membuat jalan kami sampai pula ke parapat, berastagi, kebun teh sidamanik, dan ke Lhoksumawe (Aceh). Belum sampai ke Sabang.
Kisahnya akan dibagi menjadi beberapa bagian. Mari dibaca!
Ia seperti menuntut kepuasan batin, meskipun mesti pula menjawab kemenangan mental.
Orang-orang menunjuk kepingan keinginan seperti menebak gundukan lotre.
Alhamdulillah... perjalanan telah dilalui.
Awalnya, kami merasa hanya akan menjadi bagian dua kota, tetapi kehendak Allah membuat jalan kami sampai pula ke parapat, berastagi, kebun teh sidamanik, dan ke Lhoksumawe (Aceh). Belum sampai ke Sabang.
Kisahnya akan dibagi menjadi beberapa bagian. Mari dibaca!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...



