Thursday, December 7, 2023

Puisi dibacakan pada momen Panen Hasil Belajar CGP A.8

 

Pilihan Kemerdekaan, Generasi Emas

 --Ria Ristiana Dewi--

 

Generasi yang kusebut harapan-harapan di kening langit

Ia adalah kertas yang siap menoreh cita dan memperoleh cinta

 

Generasi, bukanlah kunang-kunang yang tertatih dalam pekatnya malam

Dan lemahnya jalan

 

“Abu-abu dunia”

 

--yang membatasi pandangan-pandangan masa depan

Telah kubuka dengan kemerdekaan

 

Apalah arti kemerdekaan

Tanpa kau tahu pasti arti kebebasan

Apalah arti kemerdekaan

tanpa kau bisa melaksanakan

 

Kita telah di sini

Telah lama kita belajar

Menerjemahkan peliknya api

Ketika ia membakar semangat para pahlawan

 

Aku antarkan kau

Di pintu gerbang cakrawala

Yang pagarnya adalah besi-besi tua

--yang kokohnya telah runtuh dibawa waktu

 

Jika di bawah kakimu,

Bara telah menyala

Dan puing-puing sejarah telah Kembali

Aku yakin, kaupun tahu ketukan kuda yang mana

--akan membawamu pada lurusnya jalan.

 

Wahai generasi

kusebut kau Pancasila

yang berkibar dan memberi kabar

bahwa ia takkan kepak dengan sendirinya

takkan pula menjaga Indonesia dengan sebelah hatinya

 

perlu keutuhan niatmu

perlu kita berpegangan

meskipun lautan itu luas

lautan yang menerjang saat kapal-kapal persatuan

melewati samudera keemasan

 

Wahai generasi,

tingginya kepala, berdiri di atas kaki Garuda

Kegagahan itu,

Adalah kerendahan di hadapan Tuhanmu

 

Di bumi yang kita cintai

Kita mempertahankan yang benar

Mengaburkan perbedaan

 

Baju kita boleh jadi ragam pesona

Topi kita terbuat dari cenderamata peradaban emas

Bergegaslah

Meskipun keyakinan koyak oleh zaman

 

Jika aku memintamu dari ruang-ruang kesaksian ini

Maka berjalan dan berlarilah

Itu lebih baik, seandainya kau tak menoleh ke belakang

 

Merah dan putih itu melambai—

Lambaian masa depan yang kutitip kepadamu

 

 

2 Desember 2023


 

Friday, December 1, 2023

Hari ini, Catatan itu Bertambah Seumur Padi

Padi, telah ingin dipanen. Dalam kondisi itu, air tak harus tergenang, tanah tak pula kering, padi mesti segera dituntaskan.

Hitungan inilah, aku memberikan rekaman masa kini yang telah mengubah banyak ruang--yang tadi adalah hitam, yang konon adalah gelap--menjadi cahaya yang menerangi seisi jalan. 

Catatan ini panjang. Aku mulai dari sebuah peristiwa.

"Aku memandang cara berjalan, haruslah langkah-langkah pada Ayat-Ayat Suci, Alquran---tidak ada pernyataan koma, tidak ada garis pemisah, tidak ada penawaran."

Aku benar-benar takut, cara berserah yang tak membuatku benar-benar berserah pada-Nya. Maka, segala daya dan upaya aku tuliskan untuk benar hanya pada-Nya.

Catatan ini aku tuliskan untuk aku dan caraku berserah pada Pencipta Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

aku harus mengenal aku, dan itu akan terjadi, dan terjadinya adalah suatu seni untuk mengenal-Nya--Allah SWT.

"Sesungguhnya, dunia ini akan diwariskan pada hamba-hamba-Nya yang membawa kebenaran."

Maka, benarlah==jadilah benar! Jadilah ruh yang dibangun dari Alquran. 

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...