Thursday, November 2, 2017

Buku Nayla, Siswi Kelas V SD Islam Nabilah Tahun Ajaran 2015/2016

Kepedulian Nayla dalam Buku Istimewa

Judul Buku  : Buku Istimewa
Penulis        : Nayla Restoe Bericha
Penerbit      : Prayatna Sangkara Pustaka

Buku ini mengisahkan seorang anak yang sangat perhatian dengan orang lain. Anak-anak yang peduli dengan kondisi orang-orang tidak mampu. Ia menghargai setiap nilai-nilai kemanusian. Buku istimewa adalah persembahannya kepada orang-orang tercinta. Kamu akan merasakan kebaikan seorang anak di dalam buku ini. Selamat, Nayla!!

Friday, September 8, 2017

Cerita Jalan-Jalan Hadir Lagi

Kamu masih ingat dengan cerita jalan-jalan ke Medan saya? Eh, iya masih di rumah. Kami menunggu saat-saat berbuka puasa. Jadwal berbuka puasa di Medan lebih lama daripada di Batam. Disyukuri aja.

Akhirnya kami makan-minum dengan lahap, para emak sudah masak banyak (tidak termasuk saya)-hahahaha.... saya emak Agid paling keren. Ok! sampai disini saya sudah banyak lupa ngapain aja saat itu. Maklumla, saya baru punya waktu menulis sekarang. Mohon dimengerti hidup emak-emak ni ye.

Alhamdulillah, kami menghabiskan lebaran pertama di Medan (keluarga aye). kami pakai baju kembar-biru-biru. Keren lo bajunya murah, bagus, ada banyak ukuran-punya ayahnya ada-anaknya ada-emaknya ada. keren kan! Ga perlu jahit! cukup pesan online.

Saturday, August 19, 2017

Mengetuk Palu Malam

Sam, malam terlalu larut untuk sekadar berbagi. Menceritakan kehidupan yang tak pernah ada habisnya. Dan rasa lelah selalu menjadi alasan kenapa kita senantiasa berbagi pada malam. Hanya dengan malam, kita bisa tahu seperti apa cerminan kita dan adegan-adegan peristiwa hari ini akan terngiang begitu saja. Sam, kehidupan berubah dengan sangat cepat dan aku sedang menuliskan dalam benak, apa saja yang telah berputar tentang kebodohan dan ketulusan. Bahwa sekali lagi aku katakan padamu manusia di dunia ini adalah sama, tidak ada yang bisa membuat perbedaan selagi ada Tuhan di atas segalanya. Hanya saja waktu selalu membedakan segalanya. Beginilah waktu mempermainkan kehidupan. Kau tahu, setiap perjumpaan dan perpisahan selalu ada artinya, apalagi jika itu di hadapan waktu. Jika saja seseorang menjumpai seseorang lebih awal daripada seseorang yang lainnya, kisah akan menjadi berbeda. Pun jika nanti ada seseorang yang begitu hebatnya karena waktu yang berputar begitu menjadikannya di atas saat seseorang yang lain sedang di bawah, kedua orang itu takkan pernah tahu bahwa waktulah yang telah memberikan batasan. Dan ketika kondisi telah menyamakan segalanya, kedua orang sesungguhnya tidak pernah bertemu. Dam biarlah dinding ini menjadi saksi coretan bahwa ada dua orang yang pernah bertemu lantas berpisah. Begitulah, alahai, aku masih lebai seperti tahun-tahun yang lalu walau dahulu tak disadari, kini aku menyadarinya. Mari kita tertawa bareng-bareng.

Sunday, August 6, 2017

Jalan-Jalan di Medan, Siapkan Stamina Ekstra

Oke mari saya pandu Anda ke video siaran langsung saat saya berada di Medan. Ini masih contoh jalan kecil, kepadatan sudah terasa. Klik kesini:
https://www.facebook.com/ria.ristiana.9/videos/10209546607763565/
Oke, Anda akan tahu betapa malasnya saya, terlebih membawa anak kecil harus pakai mobil keliling Kota Medan. Padahal ini masih di jalan kecil, belum ke jalan besar atau ke tengah kota. Saya ingin menyarankan agar Anda lebih baik naik motor, eh, "kereta"-kata orang Medan. Itu pun kalau Anda tidak membawa anak kecil. Karena kalau bawa anak kecil dengan kondiri berdebu memang membawa dilema tersendiri.



Saturday, August 5, 2017

@Medan

Medan tidak banyak berubah, sementara itu ke depannya sudah pasti, Medan akan menjadi kota metropolitan dengan segala problematikanya. Saya sendiri merasa masih terkejut "kembali" ketika berada di jalanan Kota Medan. Jika saya membandingkannya dengan Batam, memang terlihat sekali jauh berbeda. Di Batam, ketika di jalan raya saya merasa kantuk, sementara di Medan saya merasa harus selalu waspada. Inilah letak perbedaan yang membuat saya merindukan Batam jika berada di Medan. Lain halnya jika saya berada di Batam yang tenang dan hening, saya sangat merindukan Medan yang ramai. Oiya, satu lagi yang membuat saya harus selalu waspada adalah, di Medan marak pencopetan-perampokan. Segala cara akan dilakukan, terlebih ramainya kota ini. Bukan berarti di Batam tidak ada copet. Dulu, Batam memang tergolong kota yang cukup aman. Kalau ada copet pun mereka akan berpikir beribu kali, karena Batam adalah pulau dan untuk melarikan diri dari kota ini tidaklah mudah. Namun, akhir-akhir ini banyak orang yang nekat menjadi copet-hal itu dibarengi dengan banyaknya Perusahaan yang tutup, mengakibatkan banyak orang terpaksa harus mencari uang dengan menghalalkan segala cara.

Oke, Alhamdulillah tanggal 21 Mei 2017 kami sampai juga di Medan. Saya, Agid, ayah Agid, dan saudara sampai juga di rumah nenek Agid, ibu kandung saya di Medan, tepatnya dekat UMN. Cari aja sendiri ya, hehehe.....

Di Medan, nenek Agid sudah menyediakan kamar lengkap dengan AC-nya. Mengingat cucu zaman sekarang ga tahan kalau tidur ga pake AC. Is..is....zaman sudah berubah, cuaca bumi yang semakin panas membuat para orang tua tidak tega melihat anaknya kepanasan. Semoga cuaca di bumi tidak semakin memburuk ya, kasian anak-cucu kita nanti. Kami langsung merebahkan badan ke tempat tidur karena sudah sangat kelelahan.

Kami ke Medan pada bulan puasa, dalam suasana yang cukup melelahkan memang akan sangat mudah untuk kami tertidur nyenyak.

Oke, di Medan, perjalanan kami cukup panjang, sampai-sampai kami hanya beberapa hari saja di rumah loh... mau tahu kelanjutannya? Kita lihat dulu pesan-pesan berikut ini!

 Eng-Ing-Eng




Sunday, July 16, 2017

Hai!

Hai, Sam...
Di sini, di depan laptop baru yang menemaniku. Ia pacar ketigaku setelah si putih dan si kecil. laptop abu-abu yang tenang dan gagah. Uhuk..
Sam, sudah lama aku ingin berkata pada dunia, bahwa aku tidak akan kemana-mana, dan kita akan selalu bersama bersanding di hadapan dunia. Aku ingin menyatakan bahwa tidak ada ruang yang terlalu sempit untukku berpikir, jika si abu-abu tetap di sini, kita akan selalu bertemu, Sam. Ada banyak berita pun cerita, getir, penuh harap, jenuh, cerah, atau sayup. Suasana yang sangat beragam dalam sebuah kotak kecil di bawah atap yang sunyi.Tapi ini sudah begitu malam sebelum aku kisahkan bagaimana selanjutnya. sebaiknya kita menenang sejenak. malam.

INI CERITA JALAN-JALANKU, MANA CERITAMU?

Medan.21-06-2017
PULKAM MEDAN-HANG NADIM HINGGA KUALA NAMU

Hari itu, Aku, Agid, dan Ayah Agid serta saudara kami, kakak, abang, sepupu agid bersama-sama menuju bandara Hang Nadim (Batam). Kami menaiki taksi yang berbeda menggunakan taksi silver dengan biaya Rp 60000. Alhamdulillah... kami sampai juga di bandara meskipun saat tadi akan mengunci rumah, kami kelabakan karena mencari sandal yang belum disiapkan, jemuran yang masih basah, dll. Semoga kekacauan itu tidak terjadi lagi.

Sampai di Hang Nadim, kami langsung bertemu kakak kami dan keluarganya, lalu kami menuju ke wilayah chek in. Oya, jangan lupa tali pinggang dan jam tangan disimpan saja di tas. begitu juga HP, dan alat elektronik lain saat akan melewati pintu detektor dan pemeriksaan ke dalam bandara. Setelah masuk, kami langsung melihat antrian panjang. Tapi itu tentu bukan tempat chek in pesawat Garuda. Karena kami naik Garuda, kami langsung saja ke arah kanan paling ujung. Di sana tidak perlu antri panjang. Kami meminta tempat duduk yang berdekatan karena ada 4 anak kecil dan 4 dewasa. Saya, suami, anak kami, tiga orang keponakan dan papa mamanya. Syukurlah proses berjalan lancar. Tidak perlu akta kelahiran anak, asalkan berangkat dengan orang tua kandungnya. Mereka hanya akan pinta meminta anak-anaknya. Melihat apakah betul usia anak sesuai dengan permintaan tempat duduk sebab banyak yang berbohong perihal usia agar mendapat tiket murah (non-kursi-alias anak dipangku). Saya sendiri menyadari Agid pasti maunya dipangku walaupun ia bayar juga satu seat sendiri karena usianya sudah di atas 2 tahun. Al hasil 1 bangku kosong di pesawat. sungguh mubazir... is..is...


Walaupun begitu, ada bagusnya juga Agid dipangku biar kami bisa bareng bertiga, karena pesawat garuda ke Medan ini memakai pesawat jenis jet yang lebih kecil dari boeing 737, bangkunya berjejer dua-dua kanan-kiri, jadi pas buat kami berdua plus Agid dipangku.

Kami menunggu di ruang tunggu, sambil melihat Agid dan sepupunya main. Ayah Agid dan abang ipar giliran pertama salat ke musala bandara. Kemudian kami yang perempuan. Syukurlah tak lama  selesai salat kami sudah diminta naik ke pesawat.  Saya langsung menggendong Agid yang masih asyik main. Tentu dia berontak. Ya! Harus sabarrrrr......

Waktu masuk ke pesawat memang dijadwalkan satu jam sebelum pesawat akan naik. Kalau di tiket waktu keberangkatan pukul 13.00, maka kita sudah masuk ke pesawat pukul 12.00 dan tepat pesawat akan terbang pukul 13.00. Di udara kita hanya berpaut satu jam 5 menit lebih sedikit.

Waktu naik ke atas pesawat, Agid memang sedikit rewel karena dia memang karakter anak yang tidak suka masuk ke ruang yang tidak begitu ia kenal dan jarang ia tahu. Ia juga tidak begitu suka tempat yang tidak bisa leluasa bermain, lari-lari, sembunyi-sembunyian. Ya! Dengan segala peraturan menegangkan di pesawat, tentu Agid yang terkenal aktif tidak begitu saja suka. Situasi ini membuat kami bingung. Akhirnya ia bisa dirayu dengan makanan ringan. Hem....

Akhirnya, perjalanan kami pun tidak begitu lama di atas, kami sampai dalam waktu yang pas satu jam 5 menit dan mendarat dengan baik. Alhamdulillah, kami melihat bandara Kuala Namu yang megah lagi, setelah satu tahun lalu kami juga pulang. Saya langsung merasa santai dan tenang sudah tidak berada di atas awan lagi. Agid juga tampak ga sabar mau keluar dari pesawat. Akhirnya kami turun dari pesawat dan di bawah sudah ditunggu bus menuju pintu masuk gedung bandara, berhubung bandara kuala namu memang cukup luas.

Ketika berpergian gini saya sudah paham Agid akan malas makan dan minum. Saya mencoba terus agar ia mau minum air yang banyak karena ini perjalanan yang cukup melelahkan. Saya membawa segala jenis minuman yang dia suka agar bisa merayunya untuk terus minum air. Alhamdulillah Agid bisa lebih baik. Kami menuju bagasi. Sebelumnya, kami berfoto di tampilan kreasi istana maimun dan lainnya yang terpampang sepanjang perjalanan menuju bagasi. Di luar, mamak, kakak pertama dan keponakan sudah menunggu kami. Akhirnya dengan haru kami bertemu lagi dengan mereka. Mereka menyewa bus hotel tempat abang ipar saya bekerja agar muat untuk kami semua. Kami, dengan satu orang nenek, 7 cucu, 4 anak dan 3 menantu tentu saja begitu ramai dan heboh






Friday, July 7, 2017

Keramaian di Berastagi-menuju Parapat-Medan

Menjawab sepi bukan dengan keramaian, bukan pula dengan kelelahan.
Ia seperti menuntut kepuasan batin, meskipun mesti pula menjawab kemenangan mental.
Orang-orang menunjuk kepingan keinginan seperti menebak gundukan lotre.

Alhamdulillah... perjalanan telah dilalui.
Awalnya, kami merasa hanya akan menjadi bagian dua kota, tetapi kehendak Allah membuat jalan kami sampai pula ke parapat, berastagi, kebun teh sidamanik, dan ke Lhoksumawe (Aceh). Belum sampai ke Sabang.

Kisahnya akan dibagi menjadi beberapa bagian. Mari dibaca!

Friday, June 23, 2017

Demi Malam

dan jangan biarkan orang-orang mencuri malam kita
mata keras dada tangis
orang bilang kepunyaannya yang berharga
mengeluarkan kepingan emas
seperti ada rasa hampa yang kucur di lekuk pipi

dan memang, orang suka membelah kemenangan
di malam pekat nan berat
hingga lupa demi Allah, ia bersumpah
duduk di hadapan malam
tak terbangun, dan begitulah
kebanyakan orang mencuri malam segetirnya

Friday, June 2, 2017

Tentang Rasa yang Tersumbat di Tenggorokan

Dan aku sebagai orang yang tak ingin mengadakan negoisasi pada ruang sepi. Malam ini mari kita bahas rasa sepi itu seolah-olah menjabarkan rumus-rumus statistik yang tak berhenti. Ya, Sam... tersenyumlah meskipun ketika nanti kau berhenti maka akan ada sebuah ruang yang akan berjalan dan mempertemukan. Begitulah selalu. Kita takkan berhenti. Ini terlalu singkat dan terlalu mengada-ada. Jangan menjadi malam sebagai rindu dan siang sebagai penunai. Alangkah pendeknya. Oh, Sam... kita bisa hidup dalam pemikiran dan tulisan kita berjuta-juta tahun lamanya. Meskipun diri kita tak sepanjang itu. Bagiku kehidupan selalu memberi kesempatan terbaiknya. Aku ingin bertaruh padamu, siapa di antara kita yang paling diberi kesempatan, aku yakin itu aku. Hingga jika kau tahu, Sam, dadaku selalu sesak ketika mengingatnya.Orang-orang lebih banyak menamai dirinya Tuhan dengan selalu mengatakan mereka menjadi penafsir paling benar atas pemikiran Tuhan. Entahlah, bagaimana kau sendiri mengartikan ini, Sam. Aku tak terlalu suka dengan apa yang terjadi dengan pemikiran orang-orang akhir-akhir ini dan memang menyumbat di tenggorokan seperti memakan duri ikan yang menusuk-nusuk. Kau tahu, kita hanya diberikan satu otak untuk satu yang terpenting dan berharga. Dan mengapa kita selalu ingin menyianyiakannya. Segala rekaman baik dan buruk yang selalu kita alami tak pernah kita jadikan sebagai pengingat rasa sakit dan bahagia. Dan meskipun kita tahu sebuah kebahagiaan, kita selalu saja menjadikan diri kita sebagai pengingat. Ini terasa sangat tidak adil bagi otak.Dan jika kau ingin mengatakan sesuatu otakmu seolah menjadi tersangka yang mengakibatkan suaramu tercekat dan tersumbat di tenggorokan.Begitulah kira-kira!

Orang-Orang menyebut Malam sebagai pengingat

Aku sebut kau malam
yang ramai di hati
malam kepingan jalan
merangkak dan bergerak
dengan derak dan sesak
malam pergantian jarum
yang berdetak-detak

sebagai pengingat,
aku menjelmamu
seolah-olah menanjak
di kepalamu dan menjadi
ekor-ekor yang terus
dan terus mengelilingi
benakmu.

Friday, April 28, 2017

Menuju Mei

Malam yang luruh dan perasaan yang entah apa.
Bersama hati dan dua bagian yang tak terpisahkan
diam dan hiruk di bawah atap, serupa kehilangan kata
seberkas warna di bawah cahaya. Begitulah aku di sampingmu.

2 M Khair. Love u honey...

Tuesday, April 18, 2017

Bagian yang Berbeda

Kita adalah dua bagian yang berbeda
bagian-bagian yang diam dalam satu
di tubuh yang tak pernah bertanya, mengapa
dan kita berjalan saja, tak kenal dua pasang bola

kita bisa sangat benar! sangat berlawanan,
tapi tak pernah pudar dalam nuansa jemu
dan mengapa kita sama, pada hal yang tentu beda
meskipun di satu pintu bibir dibelah nahkoda

dan kita akan tetap
hari ini pun selama hayat terkubur badan
tak perlu bertanya maupun linglung
darah kan terus alir dan saraf berdenyut-denyut
detak yang sama.

Malam dan Segala Tentangnya

Malam terlalu diam
sekotak kopi
dan sebotol mungil di kepala
menjawab pertanyaan yang bisu
gawai ini mampu menebas sepi
sekali lagi, kita adalah keramaian
yang dibunuh bulan

Monday, March 20, 2017

Surat Kelima Malam Sepi untukmu selalu, Sam

Sam, terimakasih kau masih di sini bersamaku, menemani malam sepiku. Ya, aku kesepian, Sam. Kau bertanya kenapa? Ya, terkadang keramaian justru menyebabkan sepi. Entahlah, kau sudah menjadi teman baikku sejak lama. Dan tidak ada yang seperti kita.

Thursday, March 9, 2017

Surat yang telah lama untukmu, Sam!

Sam... aku tak mau mendengar bagaimana kabarmu. Aku tak tertarik dan tak berniat untuk mencampuri kehidupanmu. Tapi, izinkan aku menarik benang merah dari kehidupanku sendiri. Aku harap kau bisa menjaga rahasia. Terlalu sulit memang, di zaman serba canggih ini untuk merahasiakan sesuatu dari siapapun. Tapi aku yakin, tidak ada yang lebih menarik dari pada rahasia kita berdua. Apa kau tersenyum, Sam? Aku yakin itu. Aku ingin berkisah. Mungkin tidak menarik. Tapi, akibat ego, semuanya jadi menarik menurut diri sendiri.

Beberapa hari ini aku merasa duniaku kembali. Dunia saat melihat sebuah keluarga begitu berarti dan menjadi arah pulang. Lama sekali aku mendambakannya. Kau tahu, apa yang harus kulakukan untuk itu? Tidak banyak, tetapi aku tahu setiap kita harus berhasil menahan diri dari bentuk-yang apapun itu, menurut kita membahagiakan, tetapi sungguhnya tidak. Apa kau paham? hem... aku tahu apa kau mengerti aja atau mengerti sekali. Haha tetap sama, Sam--saja (satu), sekali (satu). Kau paham?

Sam, aku menulis apapun yang aku sukai dan terkadang aku tersenyum sendiri karena itu. Terlalu banyak orang yang cerewet dengan tulisanku. Sebenarnya aku tak terlalu suka dengan kecerewetan mereka. Aku merasa aku perlu berada dalam kenyamanan. Tulisanku pun akan menemukan pembacanya sendiri. Terserah dari arah mana. Yang aku peduli, aku tetap memperhatikan unsur Tuhan dalam tulisanku dan di sana aku senang mengutamakan masalah. Cara berceritanya? Terserah padaku--jangan terserah pada orang yang tidak menulis. Hehe...

Yap, kau betul, Sam. Aku ingin lebih cerewet dari orang yang paling cerewet. Itulah alasanku menemukan jalan pulang. Hem... aku merasa lebih nyaman dan bahagia. Ah, bahagia yang fleksibel maksudku. 



Saturday, February 18, 2017

Esai sederhana tentang karya dan komunitas



Ketika Berkarya, Berkomunitas, “Itu” Perlu.
(Berawal dari sebuah pandangan sederhana)

Berkarya, Lazim dalam Era Globalisasi
                Berkarya sesungguhnya bukan hal yang rumit, buat pusing, atau bahkan berdarah-darah. Berkarya sejatinya adalah hal yang cukup sederhana. Jadilah orang yang mampu membuat sesuatu, sesederhana apapun sesuatu itu. Namun terkadang, kita sebagai manusia pekarya tak mampu unjuk diri sekadar mempromosikan hasil karya. Misalnya saja, ada seorang anak SD hadir di hadapan saya selaku guru, lalu berkata, “Bu, saya suka menulis, saya punya beberapa tulisan, tapi saya malu.”
                Kata-kata yang sering terdengar itu pula tidak hanya dilisankan oleh seorang anak SD, namun seorang mahasiswa atau guru sekalipun. Mereka akan mengatakan hal yang sama. Padahal, bagi seorang manusia yang diberi kemampuan, kita harus berani menunjukkan hasil karya terlepas dari bagaimana cara orang lain memandangnya. Terkait dengan cara pandang orang lain, saya memiliki pengalaman yang menarik. Mari kita telaah satu persatu cara pandang seseorang terlebih dahulu, cara pandang yang baik atau justru sebaliknya. Pada umumnya, ada empat cara pandang orang lain pada diri kita. Pertama, cara pandang positif tetapi tak berkelanjutan. Kedua, cara pandang positif tetapi berkelanjutan. Ketiga, cara pandang biasa dan bisa dibilang sama sekali tidak mau tahu. Keempat, cara pandang negatif.
                Cara pandang positif yang tak berkelanjutan umumnya terjadi saat kita menunjukkan hasil karya kita kepada orang lain, namun orang tersebut hanya berkata, “Wah, keren ini.” Tapi, sudah, begitu saja cukup. Lantas orang itu akan membanggakan kita di hadapan orang lain seolah-olah kita adalah teman sejawat yang sudah lama sama-sama berkarya. Cara pandang positif berkelanjutan justru akan menawarkan sesuatu pada kita. Ia akan meminta kita untuk membuat lebih banyak dan bersedia untuk mempromosikan hasil karya kita. Orang seperti ini biasanya sangat paham bagaimana rasanya menjadi seorang pekarya. Dan biasanya pula orang seperti ini adalah contoh orang yang tulus dan rela membantu. Tapi jangan salah! Yang saya maksud di sini, bukan membantu karena ada maksud terselubung, namun benar-benar hanya ingin membantu karena ia juga pernah merasakan sakitnya perjuangan seorang pekarya.  Namun terkadang, justru ada pekarya yang sudah dibantu malah akan mundur perlahan, lagi-lagi karena putus asa. Seharusnya pekarya mamanfaatkan semaksimal mungkin dukungan itu. Jangan melulu mendengarkan kata-kata negatif orang yang tidak suka dengan kita. Nah, di sinilah hadir cara pandang ketiga dan keempat, cara pandang ketiga senantiasa tak mau tahu karena ia sendiri memiliki dunianya saja. Dan, cara pandang orang keempat inilah yang harus kita hindari. Cara pandang negatif yang seharusnya sudah ditinggalkan jauh-jauh sebelum hari ini, hari yang penuh tuntutan globalisasi. Terkadang, cara pandang ini datang dari orang yang sepele dengan hasil karya kita, merasa sombong, atau justru iri dan tidak suka dengan perkembangan kita. Orang-orang seperti ini harus dihindari jauh-jauh. Terkadang, memilih orang yang pantas kita tanyai tentang karya kita, itu juga perlu. Kalau tidak, bisa-bisa bangsa ini jauh dari hasil karya.

Berkarya lalu Berkomunitas
                Pentingkah berkomunitas? Kalau saya ditanyai hal tersebut, saya jawab, itu penting. Namun, berkomunitas itu tidak hanya datang, duduk, lantas senang dipuji saat kita berhasil berkarya, atau justru sebaliknya, kita datang, duduk, dan mendengar orang lain dipuji, saja. Berkomunitas berarti kita sama-sama duduk untuk melihat, mendengar-menyimak, berbicara, pun kita mesti saling mendukung karya kawan-kawan. Ada kalanya, kita hadir di sebuah komunitas, kita mencoba mencari apresiasi dari teman-teman yang konon juga pekarya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Karya kita tidak dianggap apa-apa, bahkan justru kita hanya dusuruh mendengar hasil karya mereka dan menjadi peserta yang baik budi. Inilah cara berkomunitas yang salah tafsir.  Ada pula orang-orang yang hadir di komunitas, konon katanya ingin pandai berkarya, namun ia tidak memulainya dengan cara terbaik. Ia hanya datang berharap orang lain memberikan sesuatu padanya, tapi ia sendiri tak memberikan sumbangsih apapun terhadap komunitas berikut anggotanya. Orang seperti ini hanya akan mau untung dan untung-untung kalau beruntung. Namun, ia sendiri tak mau mengapresiasi karya orang lain, yang konon orang lain itu ia minta untuk mengajari. Alahai…
                Saya sesungguhnya memiliki pengalaman pribadi. Begini, saya pernah berkenalan dengan seorang penulis terkenal. Saat itu, saya habis-habisan memuji beliau karena saya tahu beliau seseorang yang produktif berkarya. Tidak salah kalau saya puji kan. Lantas, saya tanya dengan beliau, saya sangat ingin memiliki bukunya, apakah beliau membawakan bukunya ke kota ini. Lalu beliau dengan wajah menyelidik mengatakan bahwa bukunya akan dijual dalam pameran buku nanti, ketika acara seminar dimulai. Oh, ya, dalam hati saya, saya pasti membelinya, bukan memintanya. Mungkin, beliau berpikir saya sama dengan para pengagum gratisan. Tapi saya katakan tidak! Sebab saya juga pekarya yang tahu bagaimana rasanya hasil karya yang kita bangga-banggakan justru dihargai gratisan. Padahal, untuk mencetak bukunya saja tidak gratis. Saya justru senang cara cerdas beliau menanggapinya. Saya sendiri tak mampu melakukannya. Kalau diminta gratis, saya suka luluh. Terkadang berkata, malas ah buat buku lagi.
                Oke, kita kembali lagi dengan berkomunitas. Jadi, saya anggap berkomunitas itu penting. Mengapa? Jawabnya, tentu karena tanpa ada komunitas kita tidak tahu berapa banyak peta persaingan, berapa banyak orang yang sama dengan kita, siapa yang mengapresiasi buku kita, dan sebenarnya di mana saat ini posisi kita. Kenyataannya, kita enggan berkomunitas yang sehat. Sehat di sini, maksudnya adalah datang dengan fair, menunjukkan keinginan untuk belajar, dan mau tahu serta bertanya. Atau mungkin, di lain posisi, kita menempatkan diri untuk memberikan motivasi kepada teman-teman yang belum berkarya, kita dorong mereka untuk mencoba. Sesekali perlu kita beri mereka tantangan dan kritikan, selagi kritikan ini tujuannya untuk membuat mereka sadar bahwa mereka juga bukan hanya sekadar nimbrung di komunitas. Jangan sungkan untuk mengkritik demi kebaikan orang lain. Jadi, kalau kamu hanya diam di rumah, duduk manis, dan menikmati saja hasil karya orang lain. Dan, ya, nunggu gratisan, jangan lagi deh. Kita ubah budaya seperti ini untuk kemajuan bangsa kita sendiri. Mari…
Oleh: Ria Ristiana Dewi
KGBM-18 Februari 2017

Sunday, January 15, 2017

Aku lelah sam!

Aku lelah, Sam! Sangat! Entah mengapa saat menuliskan ini pun tangganku telah kehilangan kekuatannya. Aku ingin tetap menulis, Sam. Aku ingin tetap berkreativitas. Sam, seandainya kau di sini memecah sepiku. Seandainya.

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...