Friday, June 2, 2017

Tentang Rasa yang Tersumbat di Tenggorokan

Dan aku sebagai orang yang tak ingin mengadakan negoisasi pada ruang sepi. Malam ini mari kita bahas rasa sepi itu seolah-olah menjabarkan rumus-rumus statistik yang tak berhenti. Ya, Sam... tersenyumlah meskipun ketika nanti kau berhenti maka akan ada sebuah ruang yang akan berjalan dan mempertemukan. Begitulah selalu. Kita takkan berhenti. Ini terlalu singkat dan terlalu mengada-ada. Jangan menjadi malam sebagai rindu dan siang sebagai penunai. Alangkah pendeknya. Oh, Sam... kita bisa hidup dalam pemikiran dan tulisan kita berjuta-juta tahun lamanya. Meskipun diri kita tak sepanjang itu. Bagiku kehidupan selalu memberi kesempatan terbaiknya. Aku ingin bertaruh padamu, siapa di antara kita yang paling diberi kesempatan, aku yakin itu aku. Hingga jika kau tahu, Sam, dadaku selalu sesak ketika mengingatnya.Orang-orang lebih banyak menamai dirinya Tuhan dengan selalu mengatakan mereka menjadi penafsir paling benar atas pemikiran Tuhan. Entahlah, bagaimana kau sendiri mengartikan ini, Sam. Aku tak terlalu suka dengan apa yang terjadi dengan pemikiran orang-orang akhir-akhir ini dan memang menyumbat di tenggorokan seperti memakan duri ikan yang menusuk-nusuk. Kau tahu, kita hanya diberikan satu otak untuk satu yang terpenting dan berharga. Dan mengapa kita selalu ingin menyianyiakannya. Segala rekaman baik dan buruk yang selalu kita alami tak pernah kita jadikan sebagai pengingat rasa sakit dan bahagia. Dan meskipun kita tahu sebuah kebahagiaan, kita selalu saja menjadikan diri kita sebagai pengingat. Ini terasa sangat tidak adil bagi otak.Dan jika kau ingin mengatakan sesuatu otakmu seolah menjadi tersangka yang mengakibatkan suaramu tercekat dan tersumbat di tenggorokan.Begitulah kira-kira!

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...