Monday, April 29, 2013

Waspada, 28 April 2013



Langkah
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Bila ada langit
Dengan kompas di hatimu
Pergilah ke samudera
Kita mesti bertemu

Bila ada langkah
Maka katakan langkah
Nanti kakimu akan tergerak
Menjumpaiku di pengakuan
Awal
Dan akhirnya
Akuilah...

Friday, April 12, 2013

Mimbar Umum, 13 April 2013



KURIKULUM 2013, MEMAJUKAN BUDAYA BANGSA MENUJU GLOBALISASI
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Kurikulum merupakan suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya. Sementara itu, perubahan kebiasaan pada masyarakat terus berkembang dari waktu ke waktu. Pemerintah pun merasakan perubahan itu. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, namun yang paling membuat perhatian pemerintah adalah pengaruh globalisasi.
            Dengan derasnya arus globalisasi dikhawatirkan budaya bangsa, khususnya budaya lokal akan mulai terkikis”. Begitulah yang dikatakan Asep Muhyidin, M. Pd. Dalam karya tulisnya di website “badanbahasa.kemendikbud.go.id”. Sesungguhnya kekhawatiran inilah yang menjadi tolak ukur pemerintah untuk menjadikan pembelajaran di sekolah mencantumkan nilai-nilai budaya. Salah satu contohnya adalah dengan diadakannya perlombaan antar siswa oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan pada tahun 2012 lalu yang mana mengangkat nilai-nilai budaya. Perlombaan itu antara lain: Lomba cipta puisi, cerpen, musik, dan tari. Dalam implementasinya, globalisasi memang tidak bisa ditindak tegas atau dibumihanguskan dari bangsa Indonesia. Namun, keberadaannya bisa kita sikapi dengan “ramah”.  Tindakan yang perlu dalam mengupayakan sikap tersebut adalah dengan menanamkan kekuatan karakter budaya bangsa pada anak lebih dini. Selain hal tersebut, sebisa mungkin pendidik mesti membuat sebuah kondisi kompetisi yang sehat antar peserta didik. Pendidik harus bijak dan arif memberikan pemahaman serta tindakan nyata bahwa kebudayaan merupakan alat pembangunan kepribadian bangsa dalam menampung pengaruh globalisasi. Dalam upaya kecil, pendidik dirasa perlu membuat perlombaan kecil antar siswa. Salah satu contohnya adalah perlombaan cipta puisi, cerpen, dan sejenisnya. Upayakan pula perlombaan itu mengangkat nilai-nilai budaya, yang nantinya akan menjadi rasa peduli bagi peserta didik. Selanjutnya, pengadaan kebijakan peserta didik ini bisa saja akan memberikan pengaruh sederhana persaingan sehat peserta didik dan secara tidak langsung telah membentuk pribadi siswa menjadi pribadi yang mandiri.
            Selanjutnya, pemerintah akhirnya meluncurkan kurikulum 2013. Seperti yang kita ketahui, bahwa sebelumnya pemerintah telah membuat kurikulum pendidikan berkarakter yang harus diterapkan kepada siswa. Pendidikan berkarakter sendiri adalah belajar untuk mengatasi dan memperbaiki kelemahan, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru pada manusia. Dalam realitanya di lapangan, kita masih banyak menemukan siswa yang kesadaran akan pendidikan masih sangat rendah. Untuk itulah, di dalam kurikulum berkarakter tersebut diupayakan siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan inilah yang nantinya akan mengembangkan pribadi siswa dari yang kurang kesadaran akan pendidikan menjadi pribadi yang mandiri. Program pendidikan yang diusung pemerintah ini selanjutnya justru menuntut kemampuan pendidik yang mana justru masih lemah. Kenyataannya, pendidik sendiri masih banyak yang ditemukan lemah akan kreativitas. Hal ini terjadi sebab karakter yang ingin ditumbuhkan pada pendidik belum menemukan cara-cara yang tepat. Untuk itulah salah satu cara yang dilakukan seperti pada pemaparan sebelumnya akan membentuk siswa menjadi pribadi yang punya rasa tanggung jawab. Yaitu membuat mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif. Kegiatan-kegiatan seperti itu selanjutnya membuat peserta didik memanfaatkan waktu ke arah-arah yang kreatif. Jika inilah budaya bangsa itu, maka pemerintah ataupun pendidik tidak perlu merasa khawatir. Nantinya, peserta didik sendiri yang akan memberikan sumbangsihnya untuk memajukan budaya bangsa.
            Kurikulum 2013 telah memastikan siswa SMA nantinya akan memilih sendiri minat dan bakat mereka. Dalam usia produktif, kreatif, dan inovatif tersebut, tentu saja sangat mendukung program pemerintah dalam pengembangan kurikulum ini. Dalam kurikulum 2013 pula, pemerintah berharap berbagai nilai budaya bangsa diterapkan dalam pendidikan. Namun, sekali lagi era globalisasi memang terus semakin terpacu deras di tengah-tengah upaya pendidikan itu sendiri. Salah satu dampaknya, semakin banyaknya peserta didik yang terpengaruh budaya asing sehingga menghilangkan budaya sendiri.
Upaya Musik, Tari, dan Sastra dalam Mempertahankan Nilai Budaya
            Indonesia dengan kekayaan musik dan tari daerah, dari sabang hingga merauke tentu tidak perlu khawatir. Dalam upaya pengembangan musik, sesungguhnya telah dilakukan oleh daerah-daerah masing-masing. Akan tetapi, ternyata upaya itu tidak didukung oleh TV nasional. Seperti yang kita lihat di TV, lebih banyak tontonan budaya asing yang mana menyulitkan anak-anak bangsa menyaksikan kekayaan budaya bangsa. Seharusnya pemerintah mulai menyadarinya. Dan tentu saja juga tarian Gangnam Style yang konon berasal dari Jepang serta tarian-tarian dari negara lainnya.
            Upaya sastra sendiri sesungguhnya sudah ada sejak zaman dahulu hingga kini. Di zaman dahulu, melalui kegiatan drama perwayangan, baca puisi, hingga penulisan buku-buku legenda telah dilakukan. Kini, upaya tersebut kembali dilakukan pelaku-pelaku sastra. Salah satu yang menggemparkan adalah hadirnya novel “Laskar Pelangi” selain timbulnya buku-buku “Mahabrata dan Ramayana”. Selain itu ada banyak perlombaan yang dilakukan pelaku sastra. Misalnya saja perlombaan yang telah dilaksanakan Komunitas Penulis Anak Kampus bulan Desember tahun 2012 lalu, yaitu: perlombaan cipta puisi, baca puisi, dan cipta cerpen yang memaknai nilai budaya Sumut. Saat ini Forum Lingkar Pena Sumut juga sedang mengadakan perlombaan serupa dengan tema “Refleksi Budaya Literasi Menuju Sumatera Berkarya”. Selain kedua komunitas tersebut, masih banyak lagi yang dilakukan pegiat sastra di wilayah timur Indonesia  hingga wilayah barat. Ternate pernah melaksanakan acara Temu sastrawan, pula diikuti daerah-daerah lainnya. Acara yang melibatkan peserta didik Indonesia dengan memfungsikan sastrawan ini terbukti mampu memperkenalkan budaya bangsa Indonesia. Pertanyaannya, sudahkan pemerintah memperhatikan keberlangsungan kehidupan sastra dan sastrawan itu sendiri?
            Dalam kurikulum 2013 sudah sangat jelas bagaimana pengembangan budaya dirasa perlu. Maka di sini, penulis melihat upaya itu banyak didukung oleh kegiatan musik, tari, dan sastra yang berbahan baku budaya daerah. Solusi yang setidaknya akan mengsukseskan kurikulum 2013. Diharapkan pula, nantinya kurikulum 2013 menjadi alat pembendung pengaruh negatif globalisasi untuk mewujudkan pendidikan masa depan Indonesia yang siap berperang dalam wadah internasional.
Maret, 2013


Sunday, April 7, 2013

Resensi Buku Angin Kerinduan di Mimbar Umum, 7 April 2013 (Oleh: Febri M. Rizki)



Menilik Rasa dari Cuplikan Karya
: Antologi Puisi Ria Ristiana Dewi
  
  Judul                           : Angin Kerinduan
     Penulis                         : Ria Ristiana Dewi

                                  Penerbit                       : Leutika Prio, Yogyakarta 
                                  Cetakan                       : Oktober 2011
                                  Halaman/Ukuran         : x + 116, 13 x 19 cm

                                  Pemerhati Aksara       : Tristanti

                                  Dessin Sampul             : Anto

                                  Tata Letak                   : AGA

                                  ISBN                           : 978-602-225-110-1

“Angin Kerinduan” Karya Ria Ristiana Dewi bercover tidak kontras dan agak suram, sementara gambar batang pohon dengan baju seorang perempuan yang duduk di batangnya hampir tak dapat dibedakan, namun di balik itu semua, ada yang istimewa dari buku karya Ria Ristiana Dewi tersebut, yakni puisi-puisinya mensinyalirkan apa yang ia rasakan sehingga orang lain merasakannya pula. Puisi-puisinya pun berkaitan erat dengan perasaan, terutama ketika menspesifikkan puisinya untuk seseorang, misalnya ibu, ayah, ataupun kepada :khair terasa sekali puisinya tersemat pesan mendalam yang dibalut oleh makna pada tiap kata-katanya.
Dalam hal peletakan, susunan puisi agaknya disengaja, sehingga timbul penafsiran dari pembaca, ketika membaca puisi yang letaknya di awal, seolah pembaca disuguhkan dengan puisi yang biasa-biasa saja, artinya kata-kata yang digunakan umum, pembaca mudah larut dalam mengartikan maksud penulis menulis puisinya, selanjutnya di pertengahan, pembaca disajikan puisi yang bagus, dan puisi yang letaknya di akhir, pembaca dihidangkan puisi yang sangat bagus, pun menggugah pembaca. Susunan ini jelas menyisipkan suspend bagi para pembaca agar terus membaca dan ingin membaca terus puisi-puisi karya Ria Ristiana Dewi, namun ada hal yang perlu diperhatikan penulis dalam penulisan puisinya, misalnya judul-judul puisinya alangkah baiknya jika diruntut sesuai abjad, dan tahun pembuatan ditulis berurut, misalnya tahun 2010, 2011, 2013, dan seterusnya.
Umumnya, puisi Ria Ristiana Dewi yang judulnya satu kata, membuat pembaca menyimpulkan sendiri isi seluruh puisi itu sesuai judul, seolah di sini penulis telah menjelaskan puisinya, sebelum pembaca membacanya, si pembaca sudah tahu maksud penulis, meskipun maksud penulis itu sendiri tidak demikian, misalnya puisi-puisi yang berjudul: Kamboja, Ibu, Tornado, Embun, Remuk, Sunyi, Pamit, Mendung, Jejak, Risau, Asmara, dan lain-lainnya.
Ada beberapa judul puisi yang memberikan kesan pada para pembaca, sehingga sulit melupakan karya Ria Ristiana Dewi, karena karyanya yang luar biasa bercerita fakta, meskipun puisi sederhana, tapi mengandung makna, hal ini diterima pembaca karena menyatu masuk ke tiap individu yang membacanya, seolah penulis tahu, karyanya sesuai dengan kenyataan yang pernah dialami pembaca, misalnya halaman 41 puisi yang berjudul Ibu, dan halaman 50 puisi yang berjudul Ibuku dan Kartini. Selanjutnya meniliklah pembaca ke halaman 52 puisi berjudul Mengasah Angin. Judul seolah tidak kawin, dalam artian cerai, ini menjadikan penafsirannya tidak dapat dibunuh oleh logika, logika lantas mempertanyakan kebenaran judul?” Apakah angin bisa diasah? Bagaimana mengasahnya? Jika bisa, angin menjadi seperti apa jika diasah? Inilah yang akan timbul jika pembaca membayangkan lagi mengaitkan pada kenyataan. Sementara pada halaman 68 puisi berjudul Angin Berdesir Tentang Kita, bait pertama larik akhir terdapat kata yang mubazir, menjadikan larik tersebut rancu, yakni yang hadir, tiba, tiba-tiba menahan kencang detak jantung. Melihat puisi halaman 81 yang berjudul Pilu 1 tidak ada di daftar isi, dan yang terakhir halaman 92 puisi yang berjudul Ratapan, bait ke dua ada kesalahan ketik, ketika penulis ingin menulis cepat-cepat menghantam lantai menjadi tertulis cepat-cepat menghintam lantai.
Berdasarlah pada niat dan keyakinan, bahwa puisi itu sejatinya meluahkan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dialami menjadikannya satu kesatuan benang merah yang bertolak ukur pada pengalaman pribadi, orang lain maupun lingkungan. Sehingga dengan lancar kita mengalirkan pena ke lembar-lembar yang menorehkan tulisan atas nama karya. Ria Ristiana Dewi berhasil membuat pembaca menyelami dunianya. (Febri M. Rizki)

Ranah Kompak, 20 Maret 2013

Saturday, April 6, 2013

Puisi, Waspada, 7 April 2013





Canda

Kau bilang kau janji,
Melintasi telinga dengan merdu
Dan berjalan dalam genangan mataku
Serta mengatakan padanya
Bahwa kata-kata adalah aliran air
Ia akan datang dengan sendirian
Ke dalam hilir di benakmu
Lalu akan menggelitik kekakuan hidup
Hingga yang tertinggal hanya canda.
Ya, tidak yang lain
Begitu!



Tawa Melati

Aku sebut ia melati
sebab harum
seolah datangnya kabar gembira
dan pertanyaan kata:
mengapa ada tawa?

Ia harum
dan kelopaknya ramah
dalam hati, ia kegembiraan
tak lain melainkan
“Melatiku”.

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...