(Catatan Backpacker Febrie Hastiyanto)
Penulis : Febrie Hastiyanto
Penerbit : Tiga Maha
Cetakan : I, 2012
Halaman : iv + 96 Halaman
Resensi
Buku
Menemukan Budaya di Kota-Kota Indonesia
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Kota dalam ranselku merupakan buku
yang menuntun kita untuk menemukan banyak kota yang pernah dikunjungi Febrie
Hastiyanto. Ia seperti menemukan dirinya sendiri maupun jati diri budaya
Indonesia. Febrie Hastiyanto bercerita setidaknya, tentang beberapa kota yang unik
dan memiliki kekayaan nilai sejarah pula. Contohnya ada pada pemaparan tentang
kota Semarang yang pernah ia kunjungi:
“Tidak ada Semarang tanpa kota lama.
Sebagai kawasan perdagangan, dahulu Kota Lama dilindungi oleh benteng yang
dikenal sebagai benteng Vijhoek dengan poros Gereja Blenduk
(Nederlandsch Indische Kerk) dengan kubahnya yang khas dan kantor-kantor
pemerintahan. Kota lama juga disebut Outstadt atau Little Netherland.”
Penyusuran Febri kemudian berlanjut
pada Kota Bali. Di Bali, Febri memberikan petunjuk pada kita tentang bagaimana
caranya agar memudahkan seorang backpacker untuk berkeliling Bali: Apakah
menggunakan angkutan umum, taksi, sewa sepeda motor, atau justru menggunakan
travel. Ia akan memberikan gambaran angkutan apa yang paling mudah untuk kita. Febrie
juga menjabarkan Kota Bali yang penuh daya tarik dari segi perkotaan, budaya,
disiplin, keramahan, dan lainnya. Lalu, ia menceritakan Kota Lampung, kota yang
kebanyakan orang beranggapan biasa saja, ternyata memiliki keistimewaan di mata
penulis. Di dalam buku ini Febrie akan mengungkapkan keistimewaan yang ia
temukan. Selain tentunya keistimewaan yang telah ia temukan pada Kota Solo. Bersama
istrinya, Febrie menceritakan pula bagaimana indahnya cinta di Kota Malioboro
dengan subjudul yang ia buat “Cinta di Titik Nol Kilometer”. Ia juga
menceritakan bagaimana kota Yogyakarta dikatakan sebagai kota sastrawan
terpapar pada paragraf berikut:
“Tiket kelas festival sesuai
kemampuan dompet saya telah habis. Tersisa kelas VVIP. Calo-calo berkeliaran di
sela-sela penonton. Pura-pura berkelas, tidak menyodor-nyodorkan tiket dan
intimidatif seperti kelakuan calo bus di terminal. Maklum saja, acara
kebudayaan. Dan Gandrik. Dan Taman Budaya. Dan Jogja. Sederet nama
besar. Dikira apa?”
Dan, masih ada tambahan lagi
keunikan-keunikan dari daerah Bandung, Surabaya, Imogiri, Bantul. Selain masalah sejarah kota, budaya, juga
cara makan, berbicara, dan lainnya. Maka, buku ini akan memandu Anda yang ingin
kaya akan negeri sendiri. Memperkenalkan karakter bangsa Indonesia. Untuk,
menjadi dirinya sendiri.
Dengan cover yang menarik,
gambar-gambar unik memukau, buku ini mendapatkan tempat perhatian khusus dari
pembaca. Mereka takkan bosan untuk membolak-balik buku ini berulang-ulang.
Meskipun sesungguhnya gaya bahasa yang digunakan Febrie sering memakai
bahasa-bahasa ibu yang bercampuran. Misalnya pada bahasa Jawa yang ia gunakan:
ngangeni, dan banyak lagi. Teknik berceritanya juga sangat tinggi, sehingga
bagi pembaca awam tentang bahasa-bahasa berat setidaknya, akan sulit dipahami.
Namun, kita tentu saja ingat, jika
dibandingkan dengan buku-buku backpacker sejenisnya, buku ini memiliki gayanya
sendiri. Buku ini membuat kita menemukan apa yang tidak kita temukan pada buku
lainnya. Pemaparan mendalam Febrie ini tentu karena ia sendiri mempelajari ilmu
sejarah kota dan seluk beluk budaya. Ia seorang penulis yang detail. Meskipun
ya, perlu baginya untuk berkelana di kota-kota lainnya di Indonesia selain
hanya sekitar Bali, Jawa, dan Lampung, tentu masih banyak lagi kota-kota yang
punya keunikan. Maka, bagi pembaca, selamat menjelajahi kekayaan ilmu dalam
buku karangan Febrie Hastiyanto ini.

No comments:
Post a Comment