Saturday, April 6, 2013

Medan Bisnis, 7 April 2013

Judul Buku       : Kota dalam Ranselku 
(Catatan Backpacker Febrie Hastiyanto)
Penulis             : Febrie Hastiyanto
Penerbit           : Tiga Maha
Cetakan           : I, 2012
Halaman          : iv + 96 Halaman











Resensi Buku
Menemukan Budaya di Kota-Kota Indonesia
Oleh: Ria Ristiana Dewi


            Kota dalam ranselku merupakan buku yang menuntun kita untuk menemukan banyak kota yang pernah dikunjungi Febrie Hastiyanto. Ia seperti menemukan dirinya sendiri maupun jati diri budaya Indonesia. Febrie Hastiyanto bercerita setidaknya, tentang beberapa kota yang unik dan memiliki kekayaan nilai sejarah pula. Contohnya ada pada pemaparan tentang kota Semarang yang pernah ia kunjungi:
            “Tidak ada Semarang tanpa kota lama. Sebagai kawasan perdagangan, dahulu Kota Lama dilindungi oleh benteng yang dikenal sebagai benteng Vijhoek dengan poros Gereja Blenduk (Nederlandsch Indische Kerk) dengan kubahnya yang khas dan kantor-kantor pemerintahan. Kota lama juga disebut Outstadt atau Little Netherland.”
            Penyusuran Febri kemudian berlanjut pada Kota Bali. Di Bali, Febri memberikan petunjuk pada kita tentang bagaimana caranya agar memudahkan seorang backpacker untuk berkeliling Bali: Apakah menggunakan angkutan umum, taksi, sewa sepeda motor, atau justru menggunakan travel. Ia akan memberikan gambaran angkutan apa yang paling mudah untuk kita. Febrie juga menjabarkan Kota Bali yang penuh daya tarik dari segi perkotaan, budaya, disiplin, keramahan, dan lainnya. Lalu, ia menceritakan Kota Lampung, kota yang kebanyakan orang beranggapan biasa saja, ternyata memiliki keistimewaan di mata penulis. Di dalam buku ini Febrie akan mengungkapkan keistimewaan yang ia temukan. Selain tentunya keistimewaan yang telah ia temukan pada Kota Solo. Bersama istrinya, Febrie menceritakan pula bagaimana indahnya cinta di Kota Malioboro dengan subjudul yang ia buat “Cinta di Titik Nol Kilometer”. Ia juga menceritakan bagaimana kota Yogyakarta dikatakan sebagai kota sastrawan terpapar pada paragraf berikut:
            “Tiket kelas festival sesuai kemampuan dompet saya telah habis. Tersisa kelas VVIP. Calo-calo berkeliaran di sela-sela penonton. Pura-pura berkelas, tidak menyodor-nyodorkan tiket dan intimidatif seperti kelakuan calo bus di terminal. Maklum saja, acara kebudayaan. Dan Gandrik. Dan Taman Budaya. Dan Jogja. Sederet nama besar. Dikira apa?”
            Dan, masih ada tambahan lagi keunikan-keunikan dari daerah Bandung, Surabaya, Imogiri, Bantul.  Selain masalah sejarah kota, budaya, juga cara makan, berbicara, dan lainnya. Maka, buku ini akan memandu Anda yang ingin kaya akan negeri sendiri. Memperkenalkan karakter bangsa Indonesia. Untuk, menjadi dirinya sendiri.
            Dengan cover yang menarik, gambar-gambar unik memukau, buku ini mendapatkan tempat perhatian khusus dari pembaca. Mereka takkan bosan untuk membolak-balik buku ini berulang-ulang. Meskipun sesungguhnya gaya bahasa yang digunakan Febrie sering memakai bahasa-bahasa ibu yang bercampuran. Misalnya pada bahasa Jawa yang ia gunakan: ngangeni, dan banyak lagi. Teknik berceritanya juga sangat tinggi, sehingga bagi pembaca awam tentang bahasa-bahasa berat setidaknya, akan sulit dipahami.
            Namun, kita tentu saja ingat, jika dibandingkan dengan buku-buku backpacker sejenisnya, buku ini memiliki gayanya sendiri. Buku ini membuat kita menemukan apa yang tidak kita temukan pada buku lainnya. Pemaparan mendalam Febrie ini tentu karena ia sendiri mempelajari ilmu sejarah kota dan seluk beluk budaya. Ia seorang penulis yang detail. Meskipun ya, perlu baginya untuk berkelana di kota-kota lainnya di Indonesia selain hanya sekitar Bali, Jawa, dan Lampung, tentu masih banyak lagi kota-kota yang punya keunikan. Maka, bagi pembaca, selamat menjelajahi kekayaan ilmu dalam buku karangan Febrie Hastiyanto ini.

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...