KURIKULUM
2013, MEMAJUKAN BUDAYA BANGSA MENUJU GLOBALISASI
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Kurikulum
merupakan suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa
dalam membangun generasi muda bangsanya. Sementara itu, perubahan kebiasaan
pada masyarakat terus berkembang dari waktu ke waktu. Pemerintah pun merasakan
perubahan itu. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, namun yang paling membuat
perhatian pemerintah adalah pengaruh globalisasi.
“Dengan derasnya arus globalisasi dikhawatirkan budaya
bangsa, khususnya budaya lokal akan mulai terkikis”. Begitulah yang dikatakan
Asep Muhyidin, M. Pd. Dalam karya tulisnya di website “badanbahasa.kemendikbud.go.id”.
Sesungguhnya kekhawatiran inilah yang menjadi tolak ukur pemerintah untuk
menjadikan pembelajaran di sekolah mencantumkan nilai-nilai budaya. Salah satu
contohnya adalah dengan diadakannya perlombaan antar siswa oleh Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan pada tahun 2012 lalu yang mana mengangkat
nilai-nilai budaya. Perlombaan itu antara lain: Lomba cipta puisi, cerpen,
musik, dan tari. Dalam implementasinya, globalisasi memang tidak bisa ditindak
tegas atau dibumihanguskan dari bangsa Indonesia. Namun, keberadaannya bisa
kita sikapi dengan “ramah”. Tindakan
yang perlu dalam mengupayakan sikap tersebut adalah dengan menanamkan kekuatan
karakter budaya bangsa pada anak lebih dini. Selain hal tersebut, sebisa
mungkin pendidik mesti membuat sebuah kondisi kompetisi yang sehat antar
peserta didik. Pendidik harus bijak dan arif memberikan pemahaman serta
tindakan nyata bahwa kebudayaan merupakan alat pembangunan kepribadian bangsa
dalam menampung pengaruh globalisasi. Dalam upaya kecil, pendidik dirasa perlu
membuat perlombaan kecil antar siswa. Salah satu contohnya adalah perlombaan
cipta puisi, cerpen, dan sejenisnya. Upayakan pula perlombaan itu mengangkat
nilai-nilai budaya, yang nantinya akan menjadi rasa peduli bagi peserta didik. Selanjutnya,
pengadaan kebijakan peserta didik ini bisa saja akan memberikan pengaruh
sederhana persaingan sehat peserta didik dan secara tidak langsung telah
membentuk pribadi siswa menjadi pribadi yang mandiri.
Selanjutnya, pemerintah akhirnya
meluncurkan kurikulum 2013. Seperti yang kita ketahui, bahwa sebelumnya
pemerintah telah membuat kurikulum pendidikan berkarakter yang harus diterapkan
kepada siswa. Pendidikan berkarakter sendiri adalah belajar untuk mengatasi dan memperbaiki kelemahan, serta memunculkan
kebiasaan positif yang baru pada manusia. Dalam realitanya di lapangan, kita
masih banyak menemukan siswa yang kesadaran akan pendidikan masih sangat
rendah. Untuk itulah, di dalam kurikulum berkarakter tersebut diupayakan siswa
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan inilah yang nantinya akan
mengembangkan pribadi siswa dari yang kurang kesadaran akan pendidikan menjadi
pribadi yang mandiri. Program pendidikan yang diusung pemerintah ini
selanjutnya justru menuntut kemampuan pendidik yang mana justru masih lemah. Kenyataannya,
pendidik sendiri masih banyak yang ditemukan lemah akan kreativitas. Hal ini
terjadi sebab karakter yang ingin ditumbuhkan pada pendidik belum menemukan
cara-cara yang tepat. Untuk itulah salah satu cara yang dilakukan seperti pada
pemaparan sebelumnya akan membentuk siswa menjadi pribadi yang punya rasa
tanggung jawab. Yaitu membuat mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif.
Kegiatan-kegiatan seperti itu selanjutnya membuat peserta didik memanfaatkan
waktu ke arah-arah yang kreatif. Jika inilah budaya bangsa itu, maka pemerintah
ataupun pendidik tidak perlu merasa khawatir. Nantinya, peserta didik sendiri
yang akan memberikan sumbangsihnya untuk memajukan budaya bangsa.
Kurikulum
2013 telah memastikan siswa SMA nantinya akan memilih sendiri minat dan bakat
mereka. Dalam usia produktif, kreatif, dan inovatif tersebut, tentu saja sangat
mendukung program pemerintah dalam pengembangan kurikulum ini. Dalam kurikulum
2013 pula, pemerintah berharap berbagai nilai budaya bangsa diterapkan dalam
pendidikan. Namun, sekali lagi era globalisasi memang terus semakin terpacu
deras di tengah-tengah upaya pendidikan itu sendiri. Salah satu dampaknya,
semakin banyaknya peserta didik yang terpengaruh budaya asing sehingga menghilangkan
budaya sendiri.
Upaya Musik, Tari, dan Sastra dalam
Mempertahankan Nilai Budaya
Indonesia
dengan kekayaan musik dan tari daerah, dari sabang hingga merauke tentu tidak
perlu khawatir. Dalam upaya pengembangan musik, sesungguhnya telah dilakukan
oleh daerah-daerah masing-masing. Akan tetapi, ternyata upaya itu tidak
didukung oleh TV nasional. Seperti yang kita lihat di TV, lebih banyak tontonan
budaya asing yang mana menyulitkan anak-anak bangsa menyaksikan kekayaan budaya
bangsa. Seharusnya pemerintah mulai menyadarinya. Dan tentu saja juga tarian
Gangnam Style yang konon berasal dari Jepang serta tarian-tarian dari negara lainnya.
Upaya
sastra sendiri sesungguhnya sudah ada sejak zaman dahulu hingga kini. Di zaman
dahulu, melalui kegiatan drama perwayangan, baca puisi, hingga penulisan buku-buku
legenda telah dilakukan. Kini, upaya tersebut kembali dilakukan pelaku-pelaku
sastra. Salah satu yang menggemparkan adalah hadirnya novel “Laskar Pelangi”
selain timbulnya buku-buku “Mahabrata dan Ramayana”. Selain itu ada banyak
perlombaan yang dilakukan pelaku sastra. Misalnya saja perlombaan yang telah
dilaksanakan Komunitas Penulis Anak Kampus bulan Desember tahun 2012 lalu,
yaitu: perlombaan cipta puisi, baca puisi, dan cipta cerpen yang memaknai nilai
budaya Sumut. Saat ini Forum Lingkar Pena Sumut juga sedang mengadakan
perlombaan serupa dengan tema “Refleksi Budaya Literasi Menuju Sumatera
Berkarya”. Selain kedua komunitas tersebut, masih banyak lagi yang dilakukan
pegiat sastra di wilayah timur Indonesia
hingga wilayah barat. Ternate pernah melaksanakan acara Temu sastrawan,
pula diikuti daerah-daerah lainnya. Acara yang melibatkan peserta didik
Indonesia dengan memfungsikan sastrawan ini terbukti mampu memperkenalkan
budaya bangsa Indonesia. Pertanyaannya, sudahkan pemerintah memperhatikan
keberlangsungan kehidupan sastra dan sastrawan itu sendiri?
Dalam
kurikulum 2013 sudah sangat jelas bagaimana pengembangan budaya dirasa perlu.
Maka di sini, penulis melihat upaya itu banyak didukung oleh kegiatan musik,
tari, dan sastra yang berbahan baku budaya daerah. Solusi yang setidaknya akan
mengsukseskan kurikulum 2013. Diharapkan pula, nantinya kurikulum 2013 menjadi alat
pembendung pengaruh negatif globalisasi untuk mewujudkan pendidikan masa depan
Indonesia yang siap berperang dalam wadah internasional.
Maret, 2013
No comments:
Post a Comment