Sunday, April 7, 2013

Resensi Buku Angin Kerinduan di Mimbar Umum, 7 April 2013 (Oleh: Febri M. Rizki)



Menilik Rasa dari Cuplikan Karya
: Antologi Puisi Ria Ristiana Dewi
  
  Judul                           : Angin Kerinduan
     Penulis                         : Ria Ristiana Dewi

                                  Penerbit                       : Leutika Prio, Yogyakarta 
                                  Cetakan                       : Oktober 2011
                                  Halaman/Ukuran         : x + 116, 13 x 19 cm

                                  Pemerhati Aksara       : Tristanti

                                  Dessin Sampul             : Anto

                                  Tata Letak                   : AGA

                                  ISBN                           : 978-602-225-110-1

“Angin Kerinduan” Karya Ria Ristiana Dewi bercover tidak kontras dan agak suram, sementara gambar batang pohon dengan baju seorang perempuan yang duduk di batangnya hampir tak dapat dibedakan, namun di balik itu semua, ada yang istimewa dari buku karya Ria Ristiana Dewi tersebut, yakni puisi-puisinya mensinyalirkan apa yang ia rasakan sehingga orang lain merasakannya pula. Puisi-puisinya pun berkaitan erat dengan perasaan, terutama ketika menspesifikkan puisinya untuk seseorang, misalnya ibu, ayah, ataupun kepada :khair terasa sekali puisinya tersemat pesan mendalam yang dibalut oleh makna pada tiap kata-katanya.
Dalam hal peletakan, susunan puisi agaknya disengaja, sehingga timbul penafsiran dari pembaca, ketika membaca puisi yang letaknya di awal, seolah pembaca disuguhkan dengan puisi yang biasa-biasa saja, artinya kata-kata yang digunakan umum, pembaca mudah larut dalam mengartikan maksud penulis menulis puisinya, selanjutnya di pertengahan, pembaca disajikan puisi yang bagus, dan puisi yang letaknya di akhir, pembaca dihidangkan puisi yang sangat bagus, pun menggugah pembaca. Susunan ini jelas menyisipkan suspend bagi para pembaca agar terus membaca dan ingin membaca terus puisi-puisi karya Ria Ristiana Dewi, namun ada hal yang perlu diperhatikan penulis dalam penulisan puisinya, misalnya judul-judul puisinya alangkah baiknya jika diruntut sesuai abjad, dan tahun pembuatan ditulis berurut, misalnya tahun 2010, 2011, 2013, dan seterusnya.
Umumnya, puisi Ria Ristiana Dewi yang judulnya satu kata, membuat pembaca menyimpulkan sendiri isi seluruh puisi itu sesuai judul, seolah di sini penulis telah menjelaskan puisinya, sebelum pembaca membacanya, si pembaca sudah tahu maksud penulis, meskipun maksud penulis itu sendiri tidak demikian, misalnya puisi-puisi yang berjudul: Kamboja, Ibu, Tornado, Embun, Remuk, Sunyi, Pamit, Mendung, Jejak, Risau, Asmara, dan lain-lainnya.
Ada beberapa judul puisi yang memberikan kesan pada para pembaca, sehingga sulit melupakan karya Ria Ristiana Dewi, karena karyanya yang luar biasa bercerita fakta, meskipun puisi sederhana, tapi mengandung makna, hal ini diterima pembaca karena menyatu masuk ke tiap individu yang membacanya, seolah penulis tahu, karyanya sesuai dengan kenyataan yang pernah dialami pembaca, misalnya halaman 41 puisi yang berjudul Ibu, dan halaman 50 puisi yang berjudul Ibuku dan Kartini. Selanjutnya meniliklah pembaca ke halaman 52 puisi berjudul Mengasah Angin. Judul seolah tidak kawin, dalam artian cerai, ini menjadikan penafsirannya tidak dapat dibunuh oleh logika, logika lantas mempertanyakan kebenaran judul?” Apakah angin bisa diasah? Bagaimana mengasahnya? Jika bisa, angin menjadi seperti apa jika diasah? Inilah yang akan timbul jika pembaca membayangkan lagi mengaitkan pada kenyataan. Sementara pada halaman 68 puisi berjudul Angin Berdesir Tentang Kita, bait pertama larik akhir terdapat kata yang mubazir, menjadikan larik tersebut rancu, yakni yang hadir, tiba, tiba-tiba menahan kencang detak jantung. Melihat puisi halaman 81 yang berjudul Pilu 1 tidak ada di daftar isi, dan yang terakhir halaman 92 puisi yang berjudul Ratapan, bait ke dua ada kesalahan ketik, ketika penulis ingin menulis cepat-cepat menghantam lantai menjadi tertulis cepat-cepat menghintam lantai.
Berdasarlah pada niat dan keyakinan, bahwa puisi itu sejatinya meluahkan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dialami menjadikannya satu kesatuan benang merah yang bertolak ukur pada pengalaman pribadi, orang lain maupun lingkungan. Sehingga dengan lancar kita mengalirkan pena ke lembar-lembar yang menorehkan tulisan atas nama karya. Ria Ristiana Dewi berhasil membuat pembaca menyelami dunianya. (Febri M. Rizki)

Ranah Kompak, 20 Maret 2013

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...