Tuesday, October 15, 2013

Analisa, Cerpen, 4 September 2013


Riak Toba
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Mompang menangis persis terakhir kali ia melambaikan tangan pada danau. Cuplikan masa lalu yang berjalan seperti deretan adegan, menggirinya kembali ke masa-masa itu. Deru angin menggebu-gebu di balik pegunungan, di tempat yang mudah menjangkau segala kenangan. Ia seolah terlempar berkali-kali, asap menggumpal, lalu menghilang, burung-burung di atas pinus memberi kabar kepastian. Riak danau kecil-kecil menggeli kaki, memoar langkah-langkah kecilnya bersama tubuh-tubuh tanggung di atas gunung sana, gunung yang berada di tengah Samosir: bermain gundukan, mencari kebahagiaan, bercanda erat dengan alam, memenuhi ruang kecil tentang anak-anak Toba bermimpi.
            “Apa kabar, Danau Toba...” katanya memberi salam kecil untuk menggantikan cuplikan hangat ini.
            Sementara, di hotel yang telah ia persiapkan persis menghadap ke Pulau Samosir, pergulatan dua anak kecil tengah menguatkan ingatan-ingatan itu. Sebuah surat dari amang tergenggam dalam hatinya. Ia bawa dahulu, saat hendak menempuh juang ke Jakarta. Saat hendak menjadi orang yang berhasil, membawa kabar tentang kisah kecil, menampung banyak renungan hati rakyat Pulau Samosir. Ia merasa menjadi kuda yang berlari secepat kilat. Saat inilah ia ingin menjadi kendaraan pribadi yang cukup adil bagi mereka—siapa saja yang mengaku dirinya Samosir kecil. Riak air Danau Toba berbicara bisik padanya memberi kabar muasal cita-cita mereka. Riak itu berkecipak terus menerus seolah tak ingin berhenti. Riak yang menuntutnya, hendak berbicara mimpi kecil.
            Wujudkan... wujudkan...
***
            Edo dan En. Itulah nama kedua anaknya. Amara, wanita yang telah menemaninya selama 8 tahun ini. Dan, tentu saja pekerjaan baru sebagai seorang pengusaha di sebuah daerah kecil di Pulau Jawa, tidak jauh dari Jakarta.
            Ia mengaku dengan kesadarannya bahwa ia adalah anak Samosir itu. Seorang Samosir kecil yang dahulunya sempat bercita-cita membangun gedung-gedung besar, membeli kapal-kapal mewah, menjadikan Samosir menjadi istimewa dengan keberadaannya di tengah danau terbesar di Indonesia, Danau Toba. Kata amangnya, danau mereka istimewa: masuk dalam daftar danau yang terluas di Asia Tenggara. Kata amangnya, danau itu anugerah bagi rakyat Toba untuk mencari penghasilan, dapat menyekolahkan anak-anak Toba ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. Lantas, bukankah mimpi itu seharusnya tengah diwujudkan anak-anak Toba, anak-anak dari Pulau Samosir?
            Dahulu, di seberang hotel ini, tepatnya di Pulau Samosir itu, ia ingat pernah mengikuti sebuah kompetisi menulis cerita rakyat tentang Danau Toba. Salah seorang temannya yang mengabari. Anak-anak sekolah dasar tengah dihebohkan dengan hadiah yang diusung kepala desa. Tidak tanggung-tanggung: beasiswa bersekolah tingkat perguruan tinggi. Bukankah itulah yang sedang dicita-citakan anak-anak Samosir? Termasuk ia, Mompang.
            “Kalau Kau mau tahu, Mompang! Anak juara terakhir sepertimu tak mungkin bisa menang!”
            Seperti yang diketahui amangnya. Mompang kecil tidak pernah terlalu perduli kata-kata tidak penting yang sering terlontarkan dari orang-orang. Salah satu ketidakpedulian itu adalah kata-kata amangnya sendiri.
            Mana pulak bisa menang Kau! Sudah tak usah susah Kau memikirkan perlombaan itu. Baik-baik saja Kau teruskan usaha amang dan inang.”
            Ia memang begitu. Tidak perduli dengan kata-kata amang yang sering mengatakan padanya Si Anak Danau yang liar. Pulang sekolah bukan pulang atau berganti pakaian terlebih dahulu melainkan mencari ikan di pinggir danau, bermain pasir, berenang dengan telanjang dada. Alhasil, segala umpatan kesal dari inang kerap memenuhi pendengaran Mompang. Lagi-lagi memang bukan Mompang kalau bukan santai lantas menerima serangan itu dengan apa adanya.
            Pada malam-malam tertentu, bukannya Mompang tidak pernah memikirkan tentang masa depan. Malam itu pula ia berpikir untuk memenangkan perlombaan—yang menurutnya sebuah tantangan besar. Ia bertanya banyak hal pada opung tentang ulos yang menjadi kebanggaan adat mereka. Opung hanya mencoba menjelaskan beberapa jenis ulos yang berbeda fungsinya. Dan saat Mompang mendengar penjelasan itu, ulos memang kerap menjadi mata pencaharian keluarganya selama ini. Beberapa turis asing bahkan mengaku ulos buatan keluarga Mompang adalah tenunan yang terbaik. Jadi, di akhir penjelasan opung sempat pula berpesan pada Mompang, jangan banyak kali mimpi, jaga danau, jaga warisan usaha keluarga opung. Titik.
            Mendengar penjelasan itu, dadanya berdebar tak karuan. Ah, itu urusan lain, pikirnya dalam hati.
***
            Perlombaan membuat cerita rakyat itu berjalan dengan peserta anak-anak cukup banyak. Yaitu berjumlah hampir lima puluh anak. Jumlah ini adalah yang terbanyak di antara perlombaan lainnya yang sering diselenggarakan kepala desa. Mompang hadir di urutan empat puluh delapan. Melihat namanya di urutan itu, hatinya sudah berlatih agar berlapang dada. Ia merasa sangat yakin dengan judul cerita rakyatnya: Ulos Sian Toba. Dalam pikirnya, pasti tak salah, begitu pula dengan apa yang ia pikirkan kemarin bahwa ulos memiliki tempat istimewa. Lantas hatinya mulai menunjukkan posisi yang sama berat: antara keyakinan atau pasrah atas apapun hasilnya nanti.
            Kepala desa mulai membuat pesta kecil di pinggir danau untuk anak-anak Samosir. Mereka disuguhi makanan ala kadarnya. Api unggun melengkapi suasana pesta khusus anak-anak malam itu. Beberapa dari mereka tertawa dengan tarian yang dibawakan orang tua dan sebagian lagi tampak memasang wajah tegang menunggu hasil perlombaan yang akan diumumkan tidak lebih dari sejam lagi.
            Api mulai meniup ke arah barat, sementara kayu-kayu bakar tampak mulai memudar, malam semakin pekat dan sekarat. Mompang dan anak-anak yang lain tampak mulai merapat pada angin. Kepala desa tampak telah berdiri di depan mereka lalu memilih duduk di tikar. Sebelum mulai membacakan nama pemenangnya, kepala desa menceritakan pada anak-anak Samosir bahwa Danau Toba adalah sebuah kebanggaan besar mereka. Ada banyak kisah yang dapat diangkat, ada banyak kenangan adat yang mampu dibawa merantau, ada banyak anak-anak hebat di pulau ini. Kepala desa mengingatkan bahwa kemenangan dan kekalahan adalah persoalan bagaimana kita mampu mendapatkan sebuah keinginan untuk bermimpi besar.
            Lalu tibalah saatnya. Sebuah pengumuman penting dan akan mengubah kehidupan salah seorang anak Samosir. Namun, lagi-lagi tertunda. Kepala desa masih memberikan kesempatan pada salah seorang juri yang tidak lain adalah tokoh adat untuk mengomentari cerita rakyat beberapa anak.
            “Ulos...” kata juri itu memulai. Mendengar satu kata itu, dada Mompang berdebar lebih kencang dari yang pernah ia rasakan selama ini.
            “Ulos bukanlah sembarang benda adat. Ulos merupakan peninggalan yang istimewa bagi adat kita. Ulos tidak sekadar dijual lalu dibawa sebagai oleh-oleh. Kalian harus tahu, ulos lebih dari sekadar cenderamata bagi kita. Biarlah ia menghidupi, namun keberadaannya jauh dari apa yang kamu pikirkan.”
            Mompang menunduk. Ia berpikir sejenak. Lalu ia dapat menerima kekalahan.
***
            Pagi itu riak air di Danau Toba kembali berulang kisah. Mompang menunggu kedua anaknya selesai menikmati pasir. Tatapannya sulit terlepas dari pulau di tengah danau itu. En mendekat ke arahnya.
            “Pa.. kapan kita ke sana?” katanya menunjuk ke arah Pulau Samosir. Lalu Mompang menjawab dengan berat, “Beberapa jam... beberapa jam lagi.”
            Beberapa orang yang masih ia kenal, kini tak dapat mengenalnya lagi. Entahlah, apakah ia harus memperkenalkan ulang dirinya sendiri kepada mereka. Bukankah dua puluh tahun yang lalu, saat ia meninggalkan tempat ini, ia sempat berjanji akan kembali dan akan mengatakan pada semua anak-anak Samosir bahwa bermimpi besar bukanlah kesalahan. Ia melihat hotel-hotel banyak dibangun. Salah satunya adalah hotel yang ia bangun ini, tempat ia menginap bersama istri dan anak-anaknya. Meskipun tidak ada satupun teman-temannya yang tahu, ia tetap merasa lega.
            Amang masih di pulau itu, walau hanya sebatang nisan. Ah, inang pasti masih setia menemani amang. Tentu saja walaupun hanya sebatang nisan pula. Dan, dua puluh tahun yang lalu, saat amang meninggal karena sakit keras, Mompang sempat dipesankan harta untuk bersekolah ke Jakarta seperti cita-citanya selama ini. Saat opung meninggalkan amang, amang masih sempat menjual tanahnya. Bukankah ia begitu mencintai Mompang?
 Lalu amang berbisik kecil pada bocah berusia sepuluh tahun kala itu,
            “Pergilah sana, cari dunia mimpi dan wujudkan!”
            Air di Danau Toba tengah memimpin riak kecil di cekungan mata Mompang kala itu. Ia berusaha berdiri ketika tulang membawanya ke Jakarta tinggal bersama sepupu-sepupunya. Satu yang pasti diingatnya,
            Mewujudkan mimpi yang kerap riak di Danau Toba.
Serambi Kompak, 8 Nov 12.


Mimbar Umum, Esai, 31 Agustus 2013



Sahabat dalam Manajemen Baca Puisi  
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Membaca puisi juga perlu manajemen yang baik. Jika baca puisi ibarat memainkan parodi, maka pembacaan puisi  dianggap gagal memenuhi teknik penampilan. Akhirnya, tawa penonton-lah yang akan bergema di ruangan. Terlebih, sulit ditemukan puisi dengan tambahan anekdot, sehingga seyogiyanya puisi memiliki tingkat penafsiran dari sedih, senang, haru, sendu, kritis, dan perjuangan. Untuk memenuhi penafsiran tersebut, membaca puisi dirasa perlu menampilkan kinesika yang baik. Selain itu ada banyak penilaian, mulai dari volume, artikulasi, warna suara, efektivitas, dan estetika.
Volume adalah tinggi rendahnya suara pada saat membacakan puisi. Terkadang, kita perlu memberikan batas mana yang harus ber-volume tinggi dan mana yang harus ber-volume rendah. Jika ada kata-kata yang perlu penekanan untuk memberikan penyampaian makna penting dan inti pada puisi, tentu saja volume sedang hingga tinggi perlu diterapkan. Biasanya volume seperti ini dilakukan pada pembacaan puisi-puisi perjuangan dan keagamaan. Sementara itu, puisi-puisi seperti puisi cinta justru cenderung memaknainya dengan nada rendah dan mendalam, seperti berbisik, namun tetap terdengar oleh penonton.
Kedua, artikulasi adalah pengucapan kata demi kata pada pembacaan puisi dengan jelas. Seperti yang kita ketahui, puisi merupakan karya sastra yang memakai pilihan kata-kata kias atau bergaya bahasa. Namun, dalam implementasi pengucapannya kata demi kata perlu eksperimentasi. Misalnya saja, kata rembulan perlu dilakukan pengucapan “rem-bu-lan” sehingga jelas terdengar dan tidak hanya seperti penyampaian tanpa makna. Dalam pengucapan kata-kata tertentu dimungkinkan dengan penekanan jelas agar penonton merasakan usaha kita dalam penyampaian makna isi puisi.
Ketiga, warna suara, tentu saja persoalan intonasi dan artikulasi adalah cakupan untuk menemukan warna suara. Ketika membaca puisi dengan penekanan-penekanan seperti pada tahap artikulasi, secara jelas warna suara juga akan tergambar dalam pendengaran penonton. Tinggi-rendah, kasar-lembut, jelas-samar akan tampak menjadi warna pada suara sang pembaca puisi.
Keempat, efektivitas adalah masalah kesesuaian atau ketepatan. Masalah ini sesungguhnya berpedoman pada masalah pembacaan dengan isi puisi seperti pada masalah volume tadi. Apabila kemudian pemberian ketentuan penekanan kata mana yang harus ditinggirendahkan mampu diimplementasikan, maka akan tercermin pula efektivitas. Dan terakhir adalah estetika. Estetika adalah keindahan. Pada puisi, terdapat rima (persamaan bunyi) yang turut mendukung dalam pemberian estetika. Tentu saja apabila kemudian keempat penilaian terpenuhi, estetika pada puisi menjadi pembacaan puisi yang paling dirindukan.
Mahasiswa, Sahabatnya, Puisi
            Penulis merasa perlu menyajikan teknik ini, mengingat masih hangat dalam benak penulis tentang bagaimana penampilan mahasiswa-mahasiswi LP3I untuk membaca puisi dalam acara Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) LP3I, Sabtu, 25-30 Maret 2013 lalu. Menarik! Mengingat mahasiswa-mahasiswi LP3I berasal dari jurusan-jurusan seperti: Akutansi dan Manajemen. Namun, kali ini antusias mereka untuk mengikuti perlombaan membaca puisi pantas diangkat jempol. Yang terpenting adalah semangat untuk bersaing. Dalam hari pertama perlombaan, mahasiswa diperlombakan terlebih dahulu untuk menyaring 3 besar yang nantinya—juara pertama, kedua, dan ketiga akan diperebutkan pada acara puncak. Pada babak penyaringan tiga besar itulah, mereka lebih banyak menemukan pemahaman yang salah tentang baca puisi. Meskipun mereka berusaha dengan penghayatan, namun jika pemahaman salah tentu akan sia-sia.
            Lomba baca puisi, bukan lomba musikalisasi puisi, atau visualisasi puisi. Kebanyakan peserta menganggap bahwa baca puisi lebih cocok jika dibawakan dengan gitar, atau gerakan-gerakan mendekati drama. Sebenarnya untuk ajang Porseni yang menggelar perlombaan baca puisi, hal ini akan menjadi salah acuan. Apabila panitia menggelar lomba musikalisasi puisi, maka yang dibawa adalah gitar, seruling, atau alat musik pendukung lainnya—yang mana puisi dijadikan lirik lagu pula. Dan, jika yang diperlombakan visualisasi puisi, maka perserta boleh membuat gerakan-gerakan seperti drama untuk memberikan gambaran jelas pada puisi yang akan disampaikannya. Namun, kali ini panitia Porseni LP3I menyajikan lomba baca puisi. Maka, peserta yang awam masalah baca puisi justru salah penafsiran dengan membawa alat musik atau membuat gerakan seperti drama dalam pembacaan puisinya. Dalam membaca puisi, seharusnya peserta hanya perlu membaca (bukan menghafal) puisi dan menonjolkan keunggulan intonasi, penghayatan, mimik, pelafalan, jeda, gerakan tubuh (seperlunya), dan penampilan. Apabila kombinasi di antara penilaian ini baik, maka hasil yang dicapai untuk menyampaikan makna puisi pada penonton juga baik.
            Inti utama dan pertama yang menjadi acuan adalah penghayatan. Penghayatan adalah soal rasa. Apabila penghayatan berhasil, maka pembaca puisi dianggap berhasil untuk merasakan isi puisi. Hal itu akan terlihat pada suara yang dihasilkan. Penghayatan dalam membaca puisi setidaknya tercermin dalam 4 hal yaitu: pemenggalan, intonasi, ekspresi, dan kelancaran (Doyin, 2008: 74). Pemenggalan dalam hal ini, adalah pembacaan puisi dengan tanpa terburu-buru untuk menyelesaikan pembacaan puisi. Apabila kemudian pemenggalan yang dilakukan baik, maka pengaturan napas pada pembaca juga akan baik. Begitu pula dengan ekspresi dan kelancaran pembacaan yang dihasilkan.
            Salah seorang peserta wanita pada lomba pembacaan puisi tersebut, membacakan puisi ciptaannya sendiri berjudul “Warna itu kita”. Dengan pemilihan tema persahabatan, tentu saja judul ini akan mendukung penghayatan si pembaca puisi. Namun, sayang sekali pada penentuan akhir penjurian yang penulis lakukan saat itu, sang pembaca puisi ini terkesan datar dan kurang memberikan energi vokal pada “justru” warna suaranya sendiri. Sehingga pembaca puisi tidak memberikan kesan merah, kuning, biru, abu-abu (apapun) pada penonton selain ya, mendengarkan berbicara di depan penonton. Membaca puisi perlu pula mimik, namun pembaca puisi “Abadi Kita”, salah seorang peserta lainnya dalam ajang ini, memberikan kesan persahabatan sebagai politik yang sadis. Bukankah ini sungguh berlawanan? Nah! Memang, pembacaan puisi juga harus disesuaikan dengan tema dan puisi itu sendiri, khususnya. Jadilah jiwa pada puisi itu, lakukanlah pada cara kita membacakannya.
            Menarik! Peserta terakhir yang maju ke babak akhir ini, kemudian membacakan puisi berjudul “Kalian Sahabatku”. Sejenak, judul puisi itu terkesan biasa. Namun, pada isinya “kalian” dalam hal ini menunjukkan siapapun, musuh atau teman adalah sahabat. Inilah yang menarik dari isi puisi peserta terakhir.
            Pada babak awal, peserta terakhir ini melakukan kesalahan dengan membawakan puisi dengan isi luas seperti itu dengan teknik mimik dan intonasi yang tidak konsisten. Namun, setelah melalui proses penjurian dan pengarahan ulang saat penjurian babak awal. Dengan  kejutan, peserta terakhir yang mengawalinya dengan tarik napas pelan dan dalam kemudian mampu membuat penonton bertepuk tangan puas. Ia membacakannya tentu dengan persabatan. Ya, sesuai dengan tema baca puisi kali ini: Sahabat.

Serambi Kompak, April 2013




Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...