Ketika Berkarya,
Berkomunitas, “Itu” Perlu.
(Berawal dari sebuah pandangan sederhana)
Berkarya, Lazim dalam
Era Globalisasi
Berkarya
sesungguhnya bukan hal yang rumit, buat pusing, atau bahkan berdarah-darah.
Berkarya sejatinya adalah hal yang cukup sederhana. Jadilah orang yang mampu
membuat sesuatu, sesederhana apapun sesuatu itu. Namun terkadang, kita sebagai
manusia pekarya tak mampu unjuk diri sekadar mempromosikan hasil karya.
Misalnya saja, ada seorang anak SD hadir di hadapan saya selaku guru, lalu
berkata, “Bu, saya suka menulis, saya punya beberapa tulisan, tapi saya malu.”
Kata-kata
yang sering terdengar itu pula tidak hanya dilisankan oleh seorang anak SD,
namun seorang mahasiswa atau guru sekalipun. Mereka akan mengatakan hal yang
sama. Padahal, bagi seorang manusia yang diberi kemampuan, kita harus berani
menunjukkan hasil karya terlepas dari bagaimana cara orang lain memandangnya. Terkait
dengan cara pandang orang lain, saya memiliki pengalaman yang menarik. Mari
kita telaah satu persatu cara pandang seseorang terlebih dahulu, cara pandang
yang baik atau justru sebaliknya. Pada umumnya, ada empat cara pandang orang
lain pada diri kita. Pertama, cara pandang positif tetapi tak berkelanjutan. Kedua,
cara pandang positif tetapi berkelanjutan. Ketiga, cara pandang biasa dan bisa
dibilang sama sekali tidak mau tahu. Keempat, cara pandang negatif.
Cara
pandang positif yang tak berkelanjutan umumnya terjadi saat kita menunjukkan
hasil karya kita kepada orang lain, namun orang tersebut hanya berkata, “Wah,
keren ini.” Tapi, sudah, begitu saja cukup. Lantas orang itu akan membanggakan
kita di hadapan orang lain seolah-olah kita adalah teman sejawat yang sudah
lama sama-sama berkarya. Cara pandang positif berkelanjutan justru akan
menawarkan sesuatu pada kita. Ia akan meminta kita untuk membuat lebih banyak
dan bersedia untuk mempromosikan hasil karya kita. Orang seperti ini biasanya
sangat paham bagaimana rasanya menjadi seorang pekarya. Dan biasanya pula orang
seperti ini adalah contoh orang yang tulus dan rela membantu. Tapi jangan
salah! Yang saya maksud di sini, bukan membantu karena ada maksud terselubung,
namun benar-benar hanya ingin membantu karena ia juga pernah merasakan sakitnya
perjuangan seorang pekarya. Namun
terkadang, justru ada pekarya yang sudah dibantu malah akan mundur perlahan,
lagi-lagi karena putus asa. Seharusnya pekarya mamanfaatkan semaksimal mungkin
dukungan itu. Jangan melulu mendengarkan kata-kata negatif orang yang tidak
suka dengan kita. Nah, di sinilah hadir cara pandang ketiga dan keempat, cara pandang
ketiga senantiasa tak mau tahu karena ia sendiri memiliki dunianya saja. Dan,
cara pandang orang keempat inilah yang harus kita hindari. Cara pandang negatif
yang seharusnya sudah ditinggalkan jauh-jauh sebelum hari ini, hari yang penuh
tuntutan globalisasi. Terkadang, cara pandang ini datang dari orang yang sepele
dengan hasil karya kita, merasa sombong, atau justru iri dan tidak suka dengan
perkembangan kita. Orang-orang seperti ini harus dihindari jauh-jauh.
Terkadang, memilih orang yang pantas kita tanyai tentang karya kita, itu juga
perlu. Kalau tidak, bisa-bisa bangsa ini jauh dari hasil karya.
Berkarya lalu
Berkomunitas
Pentingkah
berkomunitas? Kalau saya ditanyai hal tersebut, saya jawab, itu penting. Namun,
berkomunitas itu tidak hanya datang, duduk, lantas senang dipuji saat kita
berhasil berkarya, atau justru sebaliknya, kita datang, duduk, dan mendengar
orang lain dipuji, saja. Berkomunitas berarti kita sama-sama duduk untuk
melihat, mendengar-menyimak, berbicara, pun kita mesti saling mendukung karya
kawan-kawan. Ada kalanya, kita hadir di sebuah komunitas, kita mencoba mencari
apresiasi dari teman-teman yang konon juga pekarya, namun yang terjadi justru
sebaliknya. Karya kita tidak dianggap apa-apa, bahkan justru kita hanya dusuruh
mendengar hasil karya mereka dan menjadi peserta yang baik budi. Inilah cara
berkomunitas yang salah tafsir. Ada pula
orang-orang yang hadir di komunitas, konon katanya ingin pandai berkarya, namun
ia tidak memulainya dengan cara terbaik. Ia hanya datang berharap orang lain
memberikan sesuatu padanya, tapi ia sendiri tak memberikan sumbangsih apapun
terhadap komunitas berikut anggotanya. Orang seperti ini hanya akan mau untung
dan untung-untung kalau beruntung. Namun, ia sendiri tak mau mengapresiasi
karya orang lain, yang konon orang lain itu ia minta untuk mengajari. Alahai…
Saya
sesungguhnya memiliki pengalaman pribadi. Begini, saya pernah berkenalan dengan
seorang penulis terkenal. Saat itu, saya habis-habisan memuji beliau karena
saya tahu beliau seseorang yang produktif berkarya. Tidak salah kalau saya puji
kan. Lantas, saya tanya dengan beliau, saya sangat ingin memiliki bukunya,
apakah beliau membawakan bukunya ke kota ini. Lalu beliau dengan wajah
menyelidik mengatakan bahwa bukunya akan dijual dalam pameran buku nanti,
ketika acara seminar dimulai. Oh, ya, dalam hati saya, saya pasti membelinya,
bukan memintanya. Mungkin, beliau berpikir saya sama dengan para pengagum
gratisan. Tapi saya katakan tidak! Sebab saya juga pekarya yang tahu bagaimana
rasanya hasil karya yang kita bangga-banggakan justru dihargai gratisan.
Padahal, untuk mencetak bukunya saja tidak gratis. Saya justru senang cara
cerdas beliau menanggapinya. Saya sendiri tak mampu melakukannya. Kalau diminta
gratis, saya suka luluh. Terkadang berkata, malas ah buat buku lagi.
Oke,
kita kembali lagi dengan berkomunitas. Jadi, saya anggap berkomunitas itu
penting. Mengapa? Jawabnya, tentu karena tanpa ada komunitas kita tidak tahu
berapa banyak peta persaingan, berapa banyak orang yang sama dengan kita, siapa
yang mengapresiasi buku kita, dan sebenarnya di mana saat ini posisi kita. Kenyataannya,
kita enggan berkomunitas yang sehat. Sehat di sini, maksudnya adalah datang
dengan fair, menunjukkan keinginan
untuk belajar, dan mau tahu serta bertanya. Atau mungkin, di lain posisi, kita
menempatkan diri untuk memberikan motivasi kepada teman-teman yang belum
berkarya, kita dorong mereka untuk mencoba. Sesekali perlu kita beri mereka
tantangan dan kritikan, selagi kritikan ini tujuannya untuk membuat mereka
sadar bahwa mereka juga bukan hanya sekadar nimbrung di komunitas. Jangan
sungkan untuk mengkritik demi kebaikan orang lain. Jadi, kalau kamu hanya diam
di rumah, duduk manis, dan menikmati saja hasil karya orang lain. Dan, ya,
nunggu gratisan, jangan lagi deh. Kita ubah budaya seperti ini untuk kemajuan
bangsa kita sendiri. Mari…
Oleh: Ria Ristiana Dewi
KGBM-18 Februari 2017
No comments:
Post a Comment