Saturday, June 29, 2013

Medan Bisnis, 30 Juni 2013



Dua Daun Magenta
Oleh: Ria Ristiana Dewi


            Bermata magenta, kau sisir matahari tengah cengkrama dan berkata perihal daun-daun. Dengan mata magenta, kau duduk di halte tua, menunggu kedatangan malam yang berganti pagi. Kau tak beranjak barang satu atau dua jam. Hari itu, kau buat dirimu menunggu. Hingga matamu magenta dan aku pun akhirnya memilih untuk memanggilmu dengan sebutan itu. Hingga kini, aku mengenalmu begitu. Ya! Magenta...
            “Magenta!”Aku panggil kamu dengan lirih. Kau alihkan pandang pada daun gugur, menyisir angin seolah-olah mendengarkan suaraku. Memanggilmu, hanya itu yang dapat aku lakukan dan kau selalu bergidik memenuhinya. Magenta, jika aku bersuara dan kau mendengar, dengarkanlah...
            Kemarin malam ada sepasang merpati menjengukku di rumah. Aku tengah duduk di teras, menunggumu memilih daun-daun di bawah cemara, menuliskan kata rindu. Entah sudah berapa kali. Namamu tertera begitu ilu, menyengat dalam dadaku. Sudah berapa lama kita tak bertemu, begitulah aku menghitung daun-daun yang tumbuh pada pohon cemara di depan rumah. Magenta.. aku hanya punya daun dan dengan ini bisakah kau menikah denganku? Kataku masih membicarakanmu, berkabar dengan angin. Ada sambutan hembus dua hembus angin bulat dan menghilang. Membawa kabar yang hendak kau dengar. Aku sedang mempelajari caranya, percayalah! Aku sedang mempelajari bagaimana menjadi lelaki yang romantis. Aku sedang bergumam pada dua daun di tanganku lalu menuliskan namamu di keduanya. Untukmu satu dan dua. Magenta... aku seperti menunggumu, seperti benar bahwa kau akan datang dengan sendirinya. Tak ada yang bisa aku lakukan. Pagi itu semakin berkabut saja dan  malam semakin garangnya. Begitulah sehari itu aku belajar menjengukmu dan kau mendengarkan kata rindu dariku.
            Hari ini menginjakkan kakinya dalam tempo tujuh tahun. Tentu bukan waktu yang sejenak dalam batinmu, menunggu dalam kalbu, menghitung daun-daun yang gugur di bawah pohon- pohon cemara. Menyimak angin dan menjadikannya suara yang berkata, akan ada yang datang. Sebentar... sebentar lagi. Bukan aku tak tahu menahu tentang penungguanmu itu. Aku paham benar. Tujuh tahun adalah waktu yang berarti.  
            Daun gugur di kota Mukalla, tanda musim gugur yang hadir saat aku duduk di teras rumah. Beberapa hari aku sibuk menyiapkan kata-kata, aku sibuk menegur daun, aku sibuk membereskan  batin, aku tengah disibukkan dengan benak-benak yang berkelakar. Di Hadhramaut Mukalla, Yaman, aku beranjak membawa ijazah yang lama aku dan kau nanti. Tak sabar dadaku berkabar. Lalu, di depan rumah aku hembuskan napas panjang, menyimakmu dalam hembusan angin.
            Kira-kira seperti inilah perkataannmu, “Akan aku  nanti kamu, aku menanti dengan senyum paling indah.”
            Magenta, sudah lama aku tak mendengarkan kata-katamu bahkan aku seperti belajar kembali mengumpamakan suaramu dalam telingaku. Di benakku, suaramu yang terindah. Aku memilihmu menjadi calon istriku. Aku ingin kau tahu, aku akan pulang dengan satu  likaran cincin. Aku hanya ingin kau simak baik-baik, aku tak pernah melupakanmu barang satu atau dua jam yang selalu kau pungut di halte tua.
            Beberapa hari lagi, aku akan meninggalkan Kota Mukalla, kota yang selama ini kukenal bermata tajam, menyorotiku, seorang pejuang dari Indonesia, mencari ilmu, meneguk pengalaman yang indah dalam dunia yang luas. Tahukah kau, Magenta, kota ini seolah-olah ingin mencekamku. Setiap aku berjalan, aku menghitung sudah berapa ayat yang kupelajari, sudah berapa kata yang aku simak, sudah berapa kali aku berdoa, sudah berapa kali aku mempersiapkan untuk menghadapi ujian demi ujian.
            Aku masih ingat saat ibunda menangis dan memelukku lalu memberikan nasihat-nasihat panjang dan berarti. Ia mengecupku tepat di kening seraya berdoa untuk kesuksesanku. Entah berapa lama aku mencoba untuk ingat apa yang ia pesankan. Doamu dan doa ibulah yang membuat aku bertahan.
            Di Rayyan Airport, Mukalla, Yaman, aku duduk tengah menunggu pesawat yang akan membawaku kepadamu. Lantas aku mengingat-ingat sampai aku belajar bagaimana caranya dapat aku menegurmu. Di ruang tunggu itu, aku masih memegang cincin yang aku takkan meletakkannya di dalam tas, agar saat aku turun dan melihat matamu yang magenta, akan langsung aku genggam tanganmu dan kukenakan ia di jari indahmu. Magenta, sudah lama kita berpisah. Aku masih ingat saat kita bertemu di halte tua. Malam itu sepi bergelanyut di dadamu. Aku menyimak matamu, merah seperti tengah menangisi sesuatu. Kau bercerita panjang lebar tentang kepergian dan kepulangan. Kau merindukan ayah dan ibumu, yang di panti asuhan kau tak menemukan kedua mata magenta yang sekarang kau miliki di dalam matamu. Magenta, di halte tua aku memungut tanganmu dan untuk terakhir kali setelah kita berkenalan dan bercanda remaja, aku hendak pergi mencari ilmu, kau dengan senyummu meski tetap matamu yang magenta, berkata bahwa kau akan menungguku. Bukan barang satu dua kali akun menikmati kebahagiaan itu, setiap aku harus mengingat-ingatnya aku jadi menemukan ruhku yang berdiri tegak dan tak hendak menyerah. Beberapa kali kepulangan dengan kegagalan selalu menghantuiku. Kau tahu hal itu. Aku selalu menceritakannya padamu, selalu!
            Beasiswa adalah rangkaian bunga paling membanggakan dalam hidupku sekaligus meski aku memenuhi syarat. Kita sudah pernah berdebat. Ya, aku masih ingat!
            “Bagaimana jika kau dipulangkan sebelum ijazah kau genggam? Tidak mudah hidup di sana!”
            “Aku akan selalu menghadapi ujian demi ujian dan setiap itu pula aku akan berhasil. Percayalah!”
            Meskipun hatiku berdebar, berdenyut hebat, darah pun mengalir sangat cepat, seolah-olah aku benar-benar gugup. Aku tetap menyakinkanmu bahwa akan ada yang aku bawa pulang. Daun-daun di matamu berguguran seperti akan berganti esok dan esoknya dengan guguran yang sama. Magenta, aku hanya punya cincin ini dan dengan tanpa mengurangi rasa kasihku, selebihnya aku hanya punya daun-daun. Hanya ada dua daun di tanganku yang siap aku serahkan kepadamu. Yang keduanya memiliki sejarah dalam guguran cemara di depan rumah sewaku aku di Mukalla, Yaman.
            Daun yang pertama adalah ijazah yang aku persiapkan mencari kerja di tanah air. Ketika hendak pulang dan menunggu pesawat di ruang penungguan, aku sudah memikirkan apa yang bisa aku lakukan di tanah air. Di Mukalla, aku bekerja di sebuah rumah makan, aku selalu terlambat sebab setiap malam adalah waktu yang kupakai untuk menghapal mata kuliah esok. Sementara itu, aku harus bertahan. Uang beasiswa tidak sepenuhnya menjanjikan kehidupanku.
            Aku bekerja sebagai apa saja yang halal. Pernah suatu kali, aku bekerja sebagai pembantu di rumah salah seorang rumah tangga di Mukalla, aku juga menjadi supir angkutan, menjadi pengangkut barang-barang bagi orang-orang kaya. Setiap kali mereka melihatku, dengan perawakan kulit kuning langsat dan tubuh tidak terlalu tinggi, mereka akan paham, akan mengerti, dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan itulah, aku menyerahkan daun kepadamu, dengan keberanian dan doa.
            Daun yang kedua, aku sudah menghapal dengan khusyuk, sudah berapa banyak yang akan aku pelajari untuk menjadi imam yang baik bagimu. Bagaimana caranya memberikan nasihat jika istriku salah, bagaimana caranya menasihati diriku sendiri pun jika aku yang salah, bagaimana caranya agar dapur terus mengepul, agar kau merasa nyaman dan berkecukupan, bagaimana caranya aku dan kau membina anak-anak kita kelak dan menjadi penghuni surga.
            Magenta, bisakah kau tunggu aku di sana. Meskipun dua daun itu gugur di matamu setelah aku menaiki pesawat dan tersenyum, lalu delapan jam perjalanan yang aku janjikan kepadamu, kau tak menemukanku. Maapkan aku, Magenta, kau harus menungguku di halte tua. Aku akan terbang, ingin kembali, namun kehendak Tuhan mengatakan lain. Magenta, aku melihatmu dan ingin kau berdiri. Bisakah kau mendengarkan suaraku di antara daun-daun yang berguguran?
Serambi Kompak, 7-9 Mei 2013

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...