MENYAKSIKAN
DUNIA DARI BENAK PELAJAR INDONESIA
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Judul Buku :
Semut Merah 75, Kisah Pelajar
Indonesia di 7 Benua 5 Samudra
Penulis : Wenny Artha Lugina, dkk.
Penerbit : Galang Pustaka
Kota/Tahun Terbit :
Yogyakarta/2013
Halaman :
x + 248 hlm
“Berbagai tantangan dan pengorbanan harus kami lalui.
Namun semuanya terasa ringan, mudah, dan lancar karena adanya persaudaraan yang
tidak memandang suku, ras, agama, bahkan kebangsaan.” Begitulah pernyataan
Hafnidar Hasbi, mahasiswa Indonesia yang tengah kuliah di Taiwan. Perjuangan
mereka tentu saja beragam, mulai dari tidak adanya biaya, sulitnya beradaptasi,
hingga masalah untuk tamat dari bangku kuliah. Adapula berbagai macam kesaksian
hidup yang mereka alami selama berada di negara-negara tersebut.
Penulis-penulisnya
adalah Ahmad Faris (Turki), Andi Liza Patminasari (Perancis), Charolinda
(Canberra, Australia), Dewa Gede Sudika mangku (Hawai, USA), Faqih Ahmad
(Yaman), Firman Arifandi (Pakistan), Gianvuigi Grimaldi (Jepang), Muhammad
Zainudin (Kairo, Mesir), Muhammad Nur (Sudan), Nina Inayati (Australia), Rifki
Furqan (Belanda), Susanto (Hindia), Ade Irma Alvira (Rusia), Wenny Artha Lugina
(China), dan lainnya. Penulis-penulis di dalam buku ini tentu saja sebagian
dari banyaknya pelajar Indonesia yang menulis di luar negeri dan memiliki
pengalaman menginspirasi.
Dimulai
dari Ade Irma Elvira (Rusia) yang mengawali segalanya dari restu ibu dan
menjawab seluruh pertanyaannya dengan tindakan demi tindakan. Kemudian
perjalanan Andi Liza Patminasari di Perancis. Perjalanan Andi yang terbilang
lain dari mahasiswa-mahasiswa lainnya adalah ia tak lantas menjadi seorang
mahasiswa melainkan au pair girl. Mungkin, istilah ini masih begitu
asing di benak pembaca. Istilah yang bisa kita temukan jawabannya di dalam buku
ini. Yang jelas, Andi tak langsung mengecap pendidikan melainkan sebuah cara
lain dengan bekerja, misalnya. Tentu, tujuan akhirnya adalah mendapatkan
pendidikan gratis di negara Perancis tersebut. Di Hawai, USA, Dewa Gede Sudika
menceritakan bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa ke USA. Program
yang ia ikuti yang akhirnya membawa ia ke negeri paman Sam. Menurutnya, Amerika
Serikat sebagai negara dengan dunia pendidikan nomor satu di dunia itu, tak
mungkin dapat ia sia-siakan begitu saja. Awalnya adalah mimpi, kemudian ia
menginjakkan kakinya untuk mengubur dunia mimpi itu. Begitu pula yang dialami
Charolinda yang tengah kuliah di Australia. Awalnya, ia adalah seseorang yang
tak begitu pintar berbahasa Inggris, bahkan ini menjadi kelemahannya, selain
tentunya masalah biaya, dan tanggung jawab sebagai anak pertama. Teknik
berbahasa Inggris Amerika, Inggris, dan Australia ternyata juga berbeda.
Pertama, Charolina mencoba untuk ikut wawancara, namun ia gagal, ya! Karena
bahasa Inggrisnya yang belum sempurna. Lantas, setelah ia bekerja sambil
mengumpulkan uang, menikah, dan memiliki anak, ia tak luput dari cita-cita awal
yaitu kuliah di Australia. Akhirnya, penantiannya selama bertahun-tahun
terjawab bahkan ia dan suaminya, keduanya lulus kuliah di Australia. Charolinda
menyimpulkan bahwa terwujudnya cita-cita itu hanya perlu waktu yang lebih tepat
saja.
Berlanjut
pada kisah Faqih Ahmad (Yaman). Faqih merasakan pahitnya perjuangan itu saat ia
tengah mengikuti ujian demi ujian di Universitas Al-Ahgaff, Yaman. Kenyataannya,
untuk terus bertahan di Yaman, mereka, penerima beasiswa dari negara-negara
seperti Indonesia, Pakistan, Palestina, Suriah, dan lainnya harus lulus dalam
setiap ujian yang diadakan tiap semester. Beberapa yang tidak mampu
mengikutinya akan langsung dipulangkan ke tanah air masing-masing. Jadi, mereka
harus lulus di tiap semester dengan resiko akan langsung dipulangkan jika satu
kali saja mereka gagal.
Itulah
sebagian dari banyak lagi cerita yang terangkum dalam buku ini. Sayangnya
Profil beberapa penulis ada yang tak tertera di dalamnya. Beberapa yang lain
tertera di bagian belakang cerita masing-masing. Kata pengantar yang memuat
tujuan dan proses kreatif di dalam buku ini juga dinilai masih belum memuaskan.
Hanya ada kata pengantar sekadarnya dari Direktur Komunitas Semut Merah 75,
Wenny Artha Lugina, dan Koordinator Persatuan pelajar Indonesia Luar Negeri,
Zulham Effendi. Beberapa tulisan juga masih ada yang belum memenuhi rasa
penasaran pembaca sebab terlalu tanggung atau hanya mengisahkan sepenggal
kehidupan saja. Tentu saja, terlepas dari itu semua, buku ia merupakan usaha
yang baik dari Komunitas Semut Merah 75 dan PPI untuk memberikan dampak
motivasi kepada bangsa Indonesia agar dapat go international.

No comments:
Post a Comment