Saturday, June 8, 2013

Resensi, Medan Bisnis, 9 Juni 2013



MENYAKSIKAN DUNIA DARI BENAK PELAJAR INDONESIA
Oleh: Ria Ristiana Dewi


Judul Buku                  :  Semut Merah 75, Kisah Pelajar  Indonesia di 7 Benua 5 Samudra
Penulis                         : Wenny Artha Lugina, dkk.
Penerbit                       : Galang Pustaka
Kota/Tahun Terbit       : Yogyakarta/2013
Halaman                      : x + 248 hlm

            “Berbagai tantangan dan pengorbanan harus kami lalui. Namun semuanya terasa ringan, mudah, dan lancar karena adanya persaudaraan yang tidak memandang suku, ras, agama, bahkan kebangsaan.” Begitulah pernyataan Hafnidar Hasbi, mahasiswa Indonesia yang tengah kuliah di Taiwan. Perjuangan mereka tentu saja beragam, mulai dari tidak adanya biaya, sulitnya beradaptasi, hingga masalah untuk tamat dari bangku kuliah. Adapula berbagai macam kesaksian hidup yang mereka alami selama berada di negara-negara tersebut.
Penulis-penulisnya adalah Ahmad Faris (Turki), Andi Liza Patminasari (Perancis), Charolinda (Canberra, Australia), Dewa Gede Sudika mangku (Hawai, USA), Faqih Ahmad (Yaman), Firman Arifandi (Pakistan), Gianvuigi Grimaldi (Jepang), Muhammad Zainudin (Kairo, Mesir), Muhammad Nur (Sudan), Nina Inayati (Australia), Rifki Furqan (Belanda), Susanto (Hindia), Ade Irma Alvira (Rusia), Wenny Artha Lugina (China), dan lainnya. Penulis-penulis di dalam buku ini tentu saja sebagian dari banyaknya pelajar Indonesia yang menulis di luar negeri dan memiliki pengalaman menginspirasi.
Dimulai dari Ade Irma Elvira (Rusia) yang mengawali segalanya dari restu ibu dan menjawab seluruh pertanyaannya dengan tindakan demi tindakan. Kemudian perjalanan Andi Liza Patminasari di Perancis. Perjalanan Andi yang terbilang lain dari mahasiswa-mahasiswa lainnya adalah ia tak lantas menjadi seorang mahasiswa melainkan au pair girl. Mungkin, istilah ini masih begitu asing di benak pembaca. Istilah yang bisa kita temukan jawabannya di dalam buku ini. Yang jelas, Andi tak langsung mengecap pendidikan melainkan sebuah cara lain dengan bekerja, misalnya. Tentu, tujuan akhirnya adalah mendapatkan pendidikan gratis di negara Perancis tersebut. Di Hawai, USA, Dewa Gede Sudika menceritakan bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa ke USA. Program yang ia ikuti yang akhirnya membawa ia ke negeri paman Sam. Menurutnya, Amerika Serikat sebagai negara dengan dunia pendidikan nomor satu di dunia itu, tak mungkin dapat ia sia-siakan begitu saja. Awalnya adalah mimpi, kemudian ia menginjakkan kakinya untuk mengubur dunia mimpi itu. Begitu pula yang dialami Charolinda yang tengah kuliah di Australia. Awalnya, ia adalah seseorang yang tak begitu pintar berbahasa Inggris, bahkan ini menjadi kelemahannya, selain tentunya masalah biaya, dan tanggung jawab sebagai anak pertama. Teknik berbahasa Inggris Amerika, Inggris, dan Australia ternyata juga berbeda. Pertama, Charolina mencoba untuk ikut wawancara, namun ia gagal, ya! Karena bahasa Inggrisnya yang belum sempurna. Lantas, setelah ia bekerja sambil mengumpulkan uang, menikah, dan memiliki anak, ia tak luput dari cita-cita awal yaitu kuliah di Australia. Akhirnya, penantiannya selama bertahun-tahun terjawab bahkan ia dan suaminya, keduanya lulus kuliah di Australia. Charolinda menyimpulkan bahwa terwujudnya cita-cita itu hanya perlu waktu yang lebih tepat saja.
Berlanjut pada kisah Faqih Ahmad (Yaman). Faqih merasakan pahitnya perjuangan itu saat ia tengah mengikuti ujian demi ujian di Universitas Al-Ahgaff, Yaman. Kenyataannya, untuk terus bertahan di Yaman, mereka, penerima beasiswa dari negara-negara seperti Indonesia, Pakistan, Palestina, Suriah, dan lainnya harus lulus dalam setiap ujian yang diadakan tiap semester. Beberapa yang tidak mampu mengikutinya akan langsung dipulangkan ke tanah air masing-masing. Jadi, mereka harus lulus di tiap semester dengan resiko akan langsung dipulangkan jika satu kali saja mereka gagal.
Itulah sebagian dari banyak lagi cerita yang terangkum dalam buku ini. Sayangnya Profil beberapa penulis ada yang tak tertera di dalamnya. Beberapa yang lain tertera di bagian belakang cerita masing-masing. Kata pengantar yang memuat tujuan dan proses kreatif di dalam buku ini juga dinilai masih belum memuaskan. Hanya ada kata pengantar sekadarnya dari Direktur Komunitas Semut Merah 75, Wenny Artha Lugina, dan Koordinator Persatuan pelajar Indonesia Luar Negeri, Zulham Effendi. Beberapa tulisan juga masih ada yang belum memenuhi rasa penasaran pembaca sebab terlalu tanggung atau hanya mengisahkan sepenggal kehidupan saja. Tentu saja, terlepas dari itu semua, buku ia merupakan usaha yang baik dari Komunitas Semut Merah 75 dan PPI untuk memberikan dampak motivasi kepada bangsa Indonesia agar dapat go international.

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...