Borugo
Turatung masih sibuk dengan urusan ritual. Di sekitar perumahan warga para inang
menggagahkan boneka kesayangannya. Ruang udara kental dengan iringan musik. Janjimi do na huingot ito hasian. Jala hatami do na sai mian di
rohakku. Didok ho tu au tung na so jadi sirang so sinirang ni hamatean. Didok
ho tu au tung na so jadi sirang so sinirang ni hamatean. Dialah Opu Joy
dengan santainya memamerkan merdu. Sementara selang detik dalam keasyikkan,
nadanya tertekan spontan mendengar suara lain dari luar.
“Ini terdengar
membosankan,” kata Opu Joy yang mulai gerah dengan suara itu. Sementara masih
di sekujur jalan perumahan sederhana itulah suara yang menghentikan Opu Joy
bersahut dengan tekanan nada yang kian menantang.
“Aku yakin ini ulah Boru Ganjang. Siapa lagi berani meletakkan ayam
berdarah di depan rumah kalau bukan si Ganjang kurang se-ons. Dasar anak Begu!”
Lantang suara Boru Jago yang memaksa para wajah mencari-cari asal perseteruan
seorang itu. Sebagian lagi tak tertarik karena ini tak asing lagi sampai di
daun telinga mereka. Tapi, Boru Jago semakin bergema hebat, parang
diacungkannya ke udara. Ternyata ia masih belum menyerah. Pun Opu Joy mendongak
dari balik samping rumah Boru Ganjang.
“Liat saja, kalau
sampai ketahuan Kau kotori rumahku, kubakar rumahmu, Ganjang!” katanya sudah
sampai di depan rumah Boru Ganjang yang hanya terpaut beberapa langkah dari
rumahnya. Boru Jago masih seperti gosokan disertai
wajah seakan mencium aroma nanah. Geram menyelimuti hatinya, sudah lama ia
menanti untuk bisa sekadar bertempur di tanah ini, Turatung yang penuh medan tempur. Begitulah ia
menyebut tanahnya.
“Ha… Jago, jangan teriak terus, Kau! Cucuku mau tidur.
Kalau Kau mencari si Ganjang, lagi pergi dia tadi kulihat,” sambar Opu Joy dari
rumah sebelah Boru Ganjang.
“Joy, bagaimana bisa Kau tenang setiap hari bau busuk
masuk ke rumahmu?” tantang Jago lagi dengan mengibas-ibaskan parang lurus
dengan wajah Opu Joy.
Opu Joy hanya menggeleng-geleng kepala mendengar ucapan
Jago lalu ia terpaksa keluar pagar dan menghadap Boru Jago. Sementara Jago
bersiap melawan serangan Opu Joy. Ia merasa begitu yakin akan memenangkan
pertempuran ini. Satu lawan satu yang lebih baik daripada satu lawan dua.
“Apa? Kau mau bacok aku
sekarang Jago? Bacoklah kalau mau Kau mati perlahan di penjara,” Opu Joy
mendongak seperti zebra sedang memanjangkan lehernya dan siap menghadap lawan.
Si Jago terpana melihat Opu
Joy. Walaupun kenyataannya parang ada di tangannya, namun nyalinya tak setajam
itu. Ia hanya melotot sejadi-jadinya berharap Opu Joy berputar haluan. Seperti
biasa, Jago yang justru memutar haluannya. Ia rapatkan barisan dan berjalan
dengan umpatan menjadi tanpa terdengar. Di baliknya Opu Joy petantang petenteng paten, menang adu. Opu Joy terbiasa menghadapi ini bahkan
lebih dari Boru Ganjang. Walaupun terlihat sudah banyak garis melipat kulitnya,
ia tetap menampakkan kekerasan. Sambil berjalan ke dalam rumah, Opu Joy kali ini
terlihat dengan senyum setelah tatapannya berada di seberang rumah.
Boru Jago akhir-akhir ini
semakin khawatir dengan tingkah Boru Ganjang. Kemarin saja ada kucing mati di
dalam kamar mandinya. Spontan anaknya menjerit-jerit dan suaminya mengajak
pindah. Belum lagi ada belatung dengan jumlah bertambah perlahan di dalam
kamarnya. Tidur pun sudah tak seperti berada di rumah sendiri. Seakan
kediamannya adalah kuburan.
Awalnya ia berpikir keras
harus pindah ke mana? Ah… pula untuk apa ia menyerah dan mengaku kalah lebih
awal. Ia harus membuktikan Boru Ganjang pasti memelihara begu ganjang di
rumahnya. Pantas saja namanya Ganjang, sepertinya julukan ganjang dari
warga memang pas diberikan padanya.
Pernah satu malam. Jago mengintip dengan
enggan dari dalam jendela rumahnya. Sekelebat bayangan itu melintas. Ini sebuah
ancaman bagi warga setempat. Warga mulai resah. Terlihat Boru Jago yang paling
cemas sebab ancaman itu sering dirasa menimpa keluarganya. Warga pun awalnya
khawatir dengan hal ini, namun mereka enggan harus berurusan dengan begu.
Boru Jago pun menyakinkan bahwa ancaman harus ditindas. Dengan mudahnya warga
mulai percaya dan berkeinginan mencari tahu ancaman itu.
Boru Jago memang terkenal suka
menunjukkan kejagoannya. Nafsunya tak lain adalah menduduki kursi nomor satu di
kecamatan. Banyak yang mengakuinya selalu membuat kejutan. Misalnya saja Boru
Jago pernah memberendeng gerombolan remaja pembuat onar. Kerap sekali membuat
resah warga pun menjadi ancaman keamanan di wilayah ini. Pernah pula ia membongkar
sindikat pekerja seks komersial di pinggiran kecamatan dan terakhir ia berhasil
membongkar tindak korupsi kelurahan beserta kecamatan di tanahnya. Bukan
kepalang senangnya warga dengan prestasi cemerlang Boru Jago yang terkenal
hanya tukang ngerumpi itu hingga akhirnya ia dinaikkan sebagai kepling di
sekitar jalan rumahnya.
Itu masih belum lagi ditambah
dengan ikut campurnya dalam urusan-urusan pribadi warga setempat. Ia paling
suka ikut sekadar nimbrung. Setidaknya buah dari hasil sikat sana-sini
adalah jabatan penting di Turatung. Ah… mulai liarlah pikiran Boru Jago.
Bisanya mulai berbisa, lagaknya merambat di daun lebat mencari sela bagi yang
lupa perihal rerumputan. Tak ada yang tahu apa yang bersembunyi di balik
rawa-rawa sebab mereka enggan terkena duri di dalamnya. Jadi, Boru Jagolah otak
dari kepala-kepala itu. Otaknya sungguh merayap dalam semak kian memacu jagat
yang ditinggal penghuninya.
Masalah begu sendiri
bukan barang baru. Sejak jaman sebelum kelahiran Boru Ganjang pun, begu sudah batang
tak langka. Di mana-mana ada saja tindak tanduk ritual sekadar menumbal darah,
uang bak jatuh segepok dari langit cerah. Bah! Benar-benar gelagat di luar akal
sehat. Sebelum kelahiran Boru Ganjang, sudah ada ayahnya yang merubuhkan tiang,
sebelum kelahiran Boru Jago juga tampak kakeknya merobek sejarah dan sejak Opu
Joy berkiprah dalam ruang suara, maka benih-benih ritual perlahan tinggal
bayang-bayang.
Namun, ini masanya Boru Jago.
Ia ingin membuktikan darahnya adalah darah biru suatu saat nanti. Adalah ia
yang menjadi kepala segala kepala-kepala di tanahnya. Sedikit langkah lagi yang
perlu baginya demi menduduki posisi nomor satu di kelurahan. Seperti rencana
semula pun di kecamatan kelak. Dan keturunannya adalah tujuh darah biru seperti
cita-citanya selama ini. Di dalam kamar mungil, dengan pakaian yang berarakan
masih tergeletak pasrah di sana-sini Boru Jago mulai menjinjing rencana itu. Ia
sedang membenarkan ambisinya. Ya… ya… ya…. Begitulah biji hitam pada matanya
bermain lurus dengan seuatu yang dianggap dinding. Tengah asyik ia tersenyum
pada dunia lain di bawah kesadaran, suaminya diam-diam telah duduk manis di
pinggir ranjang sambil memiringkan kepala melihat istrinya tengah bergumam
nafsu pada cermin.
Tak lama Boru Jago membalikkan
wajahnya dari hipnotis tuan cermin. dan ia masih tak mampu mengingat situasi.
“Bah! Sudah lama
Abang?” jerit kecilnya dengan begitu manis sambil tersenyum dingin.
“Sedang apa Kau? Lama-lama
ngeri aku liat!” tanya suaminya masih
dengan kepala miring. Dan sorotan mengerikan dilayangkan kepada Boru Jago.
“Ah… sudahlah!” jawab Boru
Jago dengan suara terhempas angin akibat gerakan tak sabar keluar dari kamar.
Di luar ia masih tersenyum sinis. Dasar! Laki-laki rumahan. Katanya bergumam
dalam hati sejenak kemudian. Tapi, ia enggan harus bertengkar. Itulah kelebihan
Boru Jago, ia masih mampu membenam geramnya di hadapan suami. Sebagai
tindak-tanduk caranya mendapat dukungan dari keluarga. Jeli ia memasang aba-aba
sekadar mencari situasi aman dan siapapun tidak ada yang curiga. Lagi pula ia
melakukannya tidak lain dan bukan adalah demi suami dan anak-anaknya. Demi
menuruti kepalanya yang kian mendongak sering
dikatakannya, “Akulah wanita terkini, benar-benar Kartini dari
Turatung!”
Sembari memungut sinar, ia
menghembuskan napas bersatu pada siang. Hah, matahari tersimpul senang di atas
sana. Namun, siang itu justru menampar-nampar pipinya, mencederainya bahkan
telah mempermalukannya habis-habisan. Bagaimana tidak? Seharusnya jam segini
ia sudah selangkah lebih maju ke rumah Pak Lurah sekadar numpang nimbrung,
mencari wadah emas. Ah… di sana ia bisa sok sibuk membantu kantor dan mencari
wajahnya yang tersangkut di lampu neon. Ia belagak cahaya di malam hari dan
setiba dibutuhkan ia menjadi penerang paling dipuja sekali itu.
“Oi… sudah siangkah ini?”
jeritnya terdengar hingga sampai ke telinga suaminya yang masih berada pada
paku pinggir ranjang.
“Ada apa?” suaminya
bertanya sambil mendongak heran.
“Ah… gak Kau ingatkan aku, tahe?”
bentak Boru Jago menggeretakkan bibirnya dan giginya saling beradu. Garang!
“Manalah kutahu.
Kaunya kulihat berkhayal tadi,” sentak suaminya tanpa memperdulikan lagi dan
memilih masuk ke kamar lantas memejam mata. Seperti biasa.
“Begu!” kata Boru
Jago geram. Dan ia tak perduli. Ia langsung saja sok sibuk cepat ke rumah Pak
Lurah. Mungkin Bu Lurah sedang masak, butuh bantuan. Atau Pak Lurah sibuk
membuat acara tambahan bulan ini. Dalam hatinya, pasti di sanalah tempatnya meletakkan wajah. Ya… ya….
***
Di bukit paling
aduhai. Konon pilihan pas bagi perangkat lurah tengger menyoroti sekitar lurah.
Masih sibuk dengan urusan para pejabat itulah, tampak Boru Ganjang dan Opu Joy
menempati lurah lebih awal. Sontak Boru Jago membelalakkan mata dan tak percaya
apa yang dilihatnya. Bukan pemandangan yang ia harapkan. Ataupun inilah sesuatu
yang tak pernah ia harapkan sampai kapanpun.
“Inang! Begu!”
katanya masih di depan kantor lurah yang berada pas di samping rumah Pak Lurah.
“Tidak usah heran
Jago. Masuklah… tak kularang Kau numpang ngerumpi!” kata Boru Ganjang dengan
tegak berdiri dan menampakkan baju barunya, baju dinas orang nomor satu di
kelurahan.
“Ganjang,
menurutku, kepling di sekitar wilayah kita ini harus banyak yang diganti. Toh, hasil kerjanya sudah kurang
memuaskan,” sambar Opu Joy berbicara kepada Boru Ganjang. Mereka menunjukkan partner yang menusuk-nusuk di
dada Boru Jago. Sesaat menyerang seperti tersengat darah tinggi.
“Ah…
apa hebatnya lurah!” kata Boru Jago memendam malunya. Dan ia langsung beranjak
cepat menyembunyikan wajah. Tak jadi ia memamerkan gigi seperti rencana semula. Kecewa terpatri di
angannya. Tapi, bukan si Jago jika tak mampu bertempur di tanah Turatung ini.
“Kubuktikan
kalau Turatung adalah tanahku. Akulah satu-satunya calon orang nomor satu di
Turatung,” batinnya masih berkata-kata seiring perjalanannya menuju rumah.
Sepanjang itu ia mulai merencakan langkah. Sekitar warung-warung tua sepanjang
pinggiran kota Turatung itulah ia bercampur dalam wadah asap. Kopi teman
baiknya. Sejenak ia tak perduli, walau rahim di dalam perutnya menjerit. Ia
tetap nihil. Sejenak kemudian, ia sudah sumringah.
Seakan baru mendapatkan emas terjatuh dari langit.
***
Malam
inilah rencananya. Para begu liar di pikirannya. Gagak terpaut sejengkal dan bersahut-sahutan.
Burung hantu mencemarkan suara jangkrik. Mereka saling beradu merdu. Sedangkan
di bawah mereka, terlihat seseorang memakai pakaian setengah dada seperti
sarung digulung sekujur tubuh. Ia bernyanyi seirama suara penghuni malam.
Merdunya tak kalah saling bersahutan. Penuh daya khas,
Turatung semakin gencar. Ya… ritual itu mulai berkumandang. Opu Joylah ia,
parasnya tertelan malam, namun suaranya memekak telinga. Ia dianugerahkan suara
paling merdu di Turatung dan memang kelihaiannya bernyanyi sudah tak kalah
dengan kandidat Indonesian Idol, Joy
Tobing. Ia menunggu.
“Kau pemandu ritual
yang baik, Joy!” kata orang itu dari balik semak daun pepohonan. Lalu Opu Joy
mangguk-mangguk menyahut. Entah terlihat atau tidak. Yang pasti mereka hanya memanfaatkan sinar bulan.
Bahkan itupun tertutup gagahnya dahan pohon jati. Masih di situlah, Opu Joy
menggoyang-goyangkan bonekanya.
Sementara
Boru Jago masih menelusuri malam. Ia merasa inilah waktunya. Saat yang ditunggu
itu tiba. Ia akan menangkap Opu Joy dan Boru Ganjang. Ia telah membayangkan
wajah mereka berdua yang melarat pada kemenangan Boru Jago.
“Jago, jangan mengada-ada! Mana? Kau
bilang si Ganjang dan Joy sedang ritual begu ganjang!” tanya salah
seorang pengawalnya yang tak lain warga yang suka nongkrong sekitar warung.
“Tenang!”
tegas Boru Jago menyakinkan.
Tak
lama memang itulah yang mereka cari. Mereka melihat Opu Joy dan Boru Ganjang sedang menari-nari. Dan Boru Jago mengelus dadanya.
Lega….
Sinar
menyelimuti dari senter warga. Dengan masa puluhan orang dan berjarak dekat dengan mangsa. Tapi, mereka
hanya saling memandang tak percaya. Ada suami Boru Jago di situ. Tidak! Tidak
hanya itu! ada pula beberapa pemuda setempat yang sedang memegang alat musik
baattak. Di sana ada gondang, suling, terompet. Entah apa yang mereka lakukan.
“Hai… apa ini?” kata Boru Jago
membelalakkan matanya terutama pada suaminya sendiri.
“Ja…
ja… go!” kata suaminya tergagap.
“Ha! Begini Jago, suamimu ini
penggemar Tor-Tor. Tak Kau
larang ia bermain musik, kan! Ganas
Kau Jago!” suara Opu Joy datar nan merdu melayang di kuping Boru Jago.
“Ah…
malu aku, malu!” sanggahnya seraya meremat rambut sendiri.
“Kurasa, Kau terlalu keras dengannya.
Begini, besok ada pertunjukkan di kelurahan. Dan Boru Ganjang selaku Lurah
meminta aku sebagai pemilik sanggar menari dan menyanyi baattak mempersembahkan
Tor-Tor. Dan Toh suamimu berbakat, namun enggan ditilik olehmu, maka ia meminta
kami memakai tempat ini sebagai tempat berlatih. Lagi pula, tempat ini pas tuk menjiwai pertunjukkan nanti. Ha...
ha... ha…” tawa Opu Joy membuat hati Boru Jago berkeping-keping. Pecah.
Sambil
dengan wajah mendungnya. Boru jago menatap kejam sekeliling mereka. Dan ia
pergi sambil mengumpat geram.
“Awas…”
katanya masih dengan nada tak puas meninggalkan lokasi. Hingga ia tak sadar
lagi dalam umpatan itu justru di depannya ia telah menemukan sosok hitam
tinggi, semakin tinggi, dan semakin lagi. Spontan saja amandelnya tercekak
kaku. Tak mampu berkecimpung dalam pelarian.
“Benar
aku, kan!” katanya, namun diam.
Serambi KOMPAK dalam April, diperbaiki Agustus, 2011.
NB:
v Inang :
ibu
v Begu : Hantu
v Janjimi do na huingot ito hasian. Jala
hatami do na sai mian di rohakku. Didok ho tu au tung na so jadi sirang so
sinirang ni hamatean. Didok ho tu au tung na so jadi
sirang so sinirang ni hamatean (lirik lagu Pernados Trio berjudul “Kado Biru
Hotel Sentosa”)
No comments:
Post a Comment