Saturday, December 28, 2013

Resensi, Medan Bisnis, 8 Desember 2013


Resensi Buku
Membaca Cinta dari Surat Panjang Seorang Wanita
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Judul Buku: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama
Kota/Tahun Terbit: Jakarta, Juni 2013
Halaman: 240 hlmn.

Jarak dan surat menjadi titik temu yang mengawali sekaligus mengakhiri kisah sepasang anak manusia ini. Konflik, tragedi, ataupun penantian yang dibalut dalam surat panjang. Ya! ada beberapa pertanyaan panjang yang pantas dilayangkan terhadap kisah di dalamnya. Seorang wanita, sebut saja ia pecinta dan seorang lelaki yang ia nantikan sepanjang surat yang ia tulis. Tidak hanya itu, sepanjang surat itu pula, wanita penulis surat kerap mengalami masalah demi masalah, tapi ia tetap patuh menuliskan surat untuk lelaki yang dimaksud, lelaki masa kecil yang selalu dinantikannya, Lelaki yang akhirnya menikah dengan wanita lain. 
Wanita itu menceritakan bagaimana perjuangannya saat benar-benar kehilangan ayah tercinta, keluarga yang sudah tidak peduli (selain ayahnya), ataupun saat-saat menuju kematiannya. Ia, wanita itu adalah seorang wartawan yang tangguh, tidak berhenti memperjuangkan kepentingan banyak orang, meskipun hanya dengan menuliskan sebuah fakta kehidupan. Menarik memang, jika pembaca menyimak kisah perjuangan wanita yang berprofesi sebagai wartawan ini. 
Tentu! Selain judul buku yang menarik perhatian, seperti membayangkan ada banyak penghalang bagi mereka untuk mendapatkan cinta satu sama lain. Atau sesungguhnya buku ini sedang memberitahukan nilai-nilai kesungguhan cinta yang seperti apa yang harus diperjuangkan. Lagi-lagi begitu, tapi tentu pula kisah kehidupannya yang mandiri dan tak kenal menyerah, terlebih ia, si tokoh utama adalah seorang wanita, harus dihadapkan dengan darah, merah, api, senjata, dan air mata. 
Selain dari segi ceritanya, dari segi bahasa juga turut mendukung kemenarikan di dalam buku ini. Bahasa adalah salah satu ketertarikan yang dimiliki sebuah tulisan. Sepertinya, “pembaca fasih” sangat haus akan pola bahasa yang dewasa dan berani. Mereka merindukan buku ini, buku yang dikenal memiliki nilai sastra yang cukup tinggi—tentu saat kita mengenal teknik bahasa yang digunakan penulisnya. Hal ini terlihat dalam kutipan, “Pada bulan-bulan isolasi itu, aku belajar bermasturbasi untuk kali pertama. Sesuatu yang membuncah di kepalaku saat pertama melakukannya membuat aku membayangkan bagaimana orang-orang bersenggama dalam gelap”. 
Meskipun kronologi maju mundur yang dipakai penulisnya membuat pembaca merasa seperti bimbang saat ingin melanjutkan bacaannya hingga akhir bab (surat). Selain itu, tentu saja pembaca kerap merindukan kisah cinta romantis yang berujung remaja, meskipun penulis menekankan nilai kehidupan—terlebih saat bab-bab yang ada, dimaksud untuk menggantikan surat demi surat, maka penulis seolah-olah curhat, atau sesungguhnya tokoh utama itu sendiri yang mulai bercerita “panjang lebar”.
Ada kebudayaan Bali yang ditawarkan “juga” dalam buku ini, penulis-nya, Dewi Kharisma Michellia, kelahiran 1991 asal Bali, memiliki wawasan setidaknya—tentang kebudayaan yang penuh kharismatik ini. Hal ini tampak pada beberapa kutipan novel seperti, “Keluarga ayah memang sangat kaku. Maklum saja, mereka berasal dari kalangan berwangsa kesatria di Bali. Di sana masih kuat adat untuk menikahkan wangsa kesatria dengan sesama wangsa kesatria, dan segelimpang tekanan adat lainnya.“
Begitu pula hitam putih yang ter-deskripsi di dalam buku ini. Penulis bermaksud membuat kisah flashback yang menarik seputar cinta, meskipun saat pembaca bergelut dalam bab-bab di dalamnya, saya (pembaca) merasa alur cerita masih belum dinamika. Ada beberapa konflik yang umum, dapat dibuat spesifik, namun penulis seperti kehabisan ide. Tapi mari! Di usia penulis yang masih cukup muda untuk seorang penulis yang memenangkan perlombaan novel setingkat dewan kesenian Jakarta, ini adalah sebuah awal pergerakan-nya yang patut diteladani. Tentu, ia adalah kelebihan tersendiri bagi penyelenggara! Selamat!

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...