Menyambut “Full Day
School”, Membentuk Karakter Siswa
Oleh: Ria Ristiana Dewi,
S.Pd.
Akhir-akhir
ini kita diberikan sedikit bisikan mengenai adanya rencana yang diajukan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Muhadjir Effendy untuk membuat system “full day school”. Rencana ini nantinya
dikhususkan bagi pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah
Pertama (SMP), baik di sekolah negeri maupun swasta. Hal ini dilandasi alasan
beliau bahwa kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan
tugas-tugas sekolah sampai dijemput orang tuanya seusai jam kerja.
Menyambut kabar ini,
sesungguhnya ada kekhawatiran pemerintah atas tingkah laku anak-anak yang kerap
menjadi liar saat jam pulang sekolah, saat orang tua bekerja dan tidak berada
di rumah. Pada umumnya anak usia SD dan SMP memerlukan pengawasan yang ekstra. Terutama
menyikapi tingkat konsumsi media sosial yang akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan.
Nantinya, di sekolah anak-anak dikontrol untuk tidak menggunakan media sosial
saat-saat masa produktif mereka dalam mencari ilmu pengetahuan. Pada akhirnya,
walaupun anak-anak memerlukan media, mereka tetap diberi arahan pengajar bahwa
fungsi media yang selama ini mereka gunakan harusnya digunakan untuk hal-hal
bermanfaat. Mereka bisa menggunakan facebook
untuk mencari teman, tapi perlu bagi mereka untuk bercerita apa yang terjadi
pada orang tuanya. Namun, kontrol yang dilakukan harusnya tidak lepas dari kata
“lengah”. Untuk itulah, dalam mengatasi ini nantinya, anak-anak perlu diberi
kesibukan yang bersifat akademik hingga tiba waktunya mereka mampu
mengendalikan diri dalam menyikapi manfaat media sosial.
Siswa SD kelas V dan VI menjadi
awal meningkatnya tingkat berpikir pada anak-anak dari yang bersifat menerima
kondisi berubah menjadi anak yang memiliki rasa ingin tahu lebih besar. Menurut
teori “Tahap Perkembangan Piaget”, Anak-anak usia ini mulai masuk dalam
kategori tahap operasional formal. Di usia ini anak-anak mulai berpikir logis
dan sistematis. Usia yang dimaksud adalah usia 11-15 tahun. Usia ini, rata-rata
baru akan dimulai pada siswa kelas V SD di semester dua. Untuk itulah ketika
memasuki usia ini, anak-anak akan mulai mengalami perubahan cara berpikir dari
yang pasif menjadi lebih aktif. Sifat aktif anak-anak ini tentunya perlu
disalurkan dengan baik. Jangan sampai usia ini dihabiskan dengan melakukan
kegiatan yang cenderung menghabiskan masa ingin tahu ke arah yang tidak baik,
seperti bermain games, lebih banyak
menerima respon dan umpan balik dari pergaulan yang buruk. Masa ini juga
disebut sebagai masa peralihan dari tahap operasional nyata ke tahap perkembangan
kognitif terakhir yang tadi disebut tahap operasional formal. Tahap operasional
formal dalam teori piaget adalah tahap di mana anak sudah mampu berpikir
abstrak, menalar dengan logis, menarik kesimpulan sebuah informasi. Hal ini
menarik ulur pengetahuan mereka dalam mengenal cinta, dan nilai. Tahap ini juga
disebut tahap pubertas.
Berasal dari teori ini
sesungguhnya anak sedang dalam kondisi puncaknya untuk menerima lingkungan. Untuk
alasan inilah pemerintah merasa khawatir ada banyak respon yang buruk akan
diterima anak, jika guru dan orang tua “tentunya” tidak segera mengambil alih
pengaturan kondisi lingkungan. Lalu, karakter apa yang akan dibentuk dengan
adanya penerapan “Full Day School”?
Pengaruh
positif yang bisa didapatkan dari penerapan sistem ini adalah anak perlahan
mengubah karakter puncaknya dengan kegiatan positif yang cenderung berada di
jalur aman. “Aman” dalam hal ini, anak hanya mengetahui apa yang ia lihat dan
dengar dari guru yang telah dikonsep untuk menjadikan siswa tidak mengetahui
hal-hal yang buruk. Tentu saja ini adalah hal yang baik disambut oleh orang
tua. Namun di sisi lain, anak akan mengalami kondisi tidak menemukan kehidupan
dinamis seperti yang terjadi pada kondisi kehidupan sesungguhnya. Anak akan
menjadi miniatur yang digerakkan dan dirawat sedemikian rupa. Proses perkembangannya
yang aktif sesungguhnya tidak tersalur sebagaimana mestinya. Namun, pengaruh negatif
ini masih bisa diatasi dengan adanya kerjasama guru dan orang tua, pun
pemerintah dalam hal merawat kondisi lingkungan menjadi aktif positif. Buatlah kegiatan-kegiatan
yang cenderung mewadahi mereka dengan kondisi baik. Seperti, aktivitas mengaji, kaligrafi, menari,
menulis, bernyanyi, wisata alam, olahraga dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan
mereka bersama teman, guru, orang tua, sekaligus lingkungan. Hingga pada
akhirnya anak-anak mampu mengetahui arti dinamika kehidupan berasal dari apa
yang dia alami di dalam berorganisasi positif bukan berorganisasi negatif di
luar sana. Mereka akan menemukan sebuah cara untuk memberi bantuan daripada menyulitkan orang lain. Hal inilah karakter
yang sesungguhnya diinginkan bangsa Indonesia.
No comments:
Post a Comment