Napasku sudah hampir lebih tenang, kepala perlahan damai, namun ada yang membangunkanku Aku berjalan di atas air, bertahan di ruang hampa, menata kembali hal demi hal. Ada guguran daun, ada kenikmatan menatap bulan yang sendirian malam ini. Napasku kembali terenyuh kuat, gerakan demi gerakan aku ciptakan dan ada hal-hal yang belum selesai. Lantas ada yang membangunkanku dan berkata, ucapkan hal terakhir yang dapat kau ucapkan sebelum gerakan yang harus membimbing pikiranmu esok. Lalu aku menerka-nerka, membalikkan tubuh, menggenggam erat tangan suamiku, erat!
Daun-daun berguguran, kata-kata terkesiap. Piring dan gelas di dapur retak dua, daun-daun gugur dua lagi. sungguh romantis dan aku kira juga tidak ada yang istemewa, Tuhan....
Jam terus berjalan, nada tetap berdentang, kata-kata tetap akan diucapkan, tidak ada tokoh kecuali aku, tidak ada alur, tidak ada konflik, tidak ada bahasa yang konyol, tidak ada kopi di sampingku, tidak ada! ketiak!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...

No comments:
Post a Comment