Oleh : Ria Ristiana Dewi
Kita tak akan menemukan hal-hal yang sederhana, melainkan ketakutan,
darah, manusia, dan lingkungan yang semakin tak bersahabat. Buku ini
menceritakan sekaligus mengingatkan dari mana kita berasal. Tanah? Ya!
Ada beberapa ekspresi yang akan timbul dari raut wajah pembaca, kerutan
kening kerap menghiasi. Kerutan itu akan semakin jelas ketika kita
sampai pada cerpen terakhir dalam buku ini, "Orang-Orang Tanah".
Beberapa cerpen lainnya berakhir pula dengan begitu
tragis. Cerpen "Bulan Merah" menceritakan hubungan kehidupan hewan dan
manusia, kehidupan yang penuh ketakutan sekaligus keberanian. Dalam
cerpen ini, seorang merasa khawatir akan beberapa hal-salah satunya
kehancuran alam berikut manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Ia
merasakan sesuatu yang berbeda dari lingkungan di sekitar-barangkali,
karena ia selalu dikurung di gudang setiap malam oleh ibunya. Ia tidak
tahu mengapa ada tekanan seperti itu? Tapi ada sebuah keyakinan lain
dalam dirinya. Hingga pada akhirnya ia melihat sendiri kehancuran itu
berasal dari dirinya sendiri. Belakangan, ia baru menyadari bahwa ia
tidak diizinkan menatap bulan merah oleh ibu, karena perubahan pada
dirinya-perubahan dari manusia menjadi seekor serigala yang siap
memangsa siapapun itu. Ah, itu dia, anak-anakkah?Orang-orang yang tertekan dan diasingan dari lingkunganya juga terjadi pada cerpen "Jendela". Seorang anak diceritakan hanya diberi kebebasan untuk mendengar segala siksaan ayah tirinya terhadap sang ibu. Ia dikurung dan hanya dapat menatap jendela satu-satunya yang mengeluarkan cahaya, cahaya yang mampu menerawang wajahnya di dalam ruangan tersebut. Anak! Ya, ini juga terjadi dalam cerpen "Pelarian"-cerpen yang mengisahkan bagaimana seorang anak kekurangan kasih sayang dari ibunya-sebab ia adalah anak yang tidak diinginkan. Namun, belakangan anak itu baru menyadari bahwa yang terjadi justru pengorbanan sang ibu. Begitulah cerita tentang seorang anak dan hal-hal yang membuatnya ingin berlari dari semua tekanan dan siksaan batin, dari orang tuannya, orang-orang di sekelilingnya.
Anak-anak bisa menjadi apapun, tentu diluar konteks pemikiran orang dewasa. Ketika usia, kehidupan, perjalanan untuk terus bertahan darinya, hidup itu, maka ketika itu sisi kemanusiaan benar-benar dihilangkan dari anak-anak. Anak itu juga mengatakannya dalam gerimis yang tertekan, itu terlihat dalam salah satu kutipan cerpen "Pelarian": Aku sedang bertugas membersihkan taman dapur sambil menimbang-nimbang siapa di antara teman-temanku yang lebih kupercaya untuk kubagi rahasia...; "Apa salahku?" aku bertanya dengan suara gemetar; "Apakah ibuku ada bersama Dayang Kepala?"; "Apakah mereka kelihatan marah?".
Hingga anak-anak pun menjadi remaja, ketika remaja itu, orang tua tetap menjadi orang tua, dan anak-anak remaja menjadi seperti mereka lebih cepat. Cerpen yang menangkap kisah anak remaja itu terlihat pada judul "Lelaki Tua dan Tikus". Berikut adalah kutipannya: "Kamu pernah kuliah sebentar, Sari," kata Bu Haji dulu, sewaktu pertama kali menerimaku menjadi pegawai toko kelontongnya. "Kamu harus cari pekerjaan yang lebih layak".
Jelas, buku kumpulan cerpen ini layak menyampaikan pesan batin anak-anak kepada orang tuanya. Setelah membacanya, pembaca akan mengendurkan sedikit kerutan di kening dan menimbang-nimbang cara untuk memperlakukan sisi kemanusiaan anak-anak. Lalu, adakah orang-orang tanah itu anak-anak? Bacalah!
(Serambi Kompak, Batam, Maret 2014).
Keterangan Buku
Judul Buku : Orang-Orang Tanah
Penulis : Poppy D. Chusfani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 200
Cetakan : Pertama
Kota/Tgl Terbit : Jakarta, Agustus 2013
No comments:
Post a Comment