Sunday, April 6, 2014

Resensi Buku "Orang-Orang Tanah", Medan Bisnis, 6 April 2014

 Anak-Anak dalam Sisi Kemanusian yang Digugat
 Oleh : Ria Ristiana Dewi
 
Kita tak akan menemukan hal-hal yang sederhana, melainkan ketakutan, darah, manusia, dan lingkungan yang semakin tak bersahabat. Buku ini menceritakan sekaligus mengingatkan dari mana kita berasal. Tanah? Ya! Ada beberapa ekspresi yang akan timbul dari raut wajah pembaca, kerutan kening kerap menghiasi. Kerutan itu akan semakin jelas ketika kita sampai pada cerpen terakhir dalam buku ini, "Orang-Orang Tanah". Beberapa cerpen lainnya berakhir pula dengan begitu tragis. Cerpen "Bulan Merah" menceritakan hubungan kehidupan hewan dan manusia, kehidupan yang penuh ketakutan sekaligus keberanian. Dalam cerpen ini, seorang merasa khawatir akan beberapa hal-salah satunya kehancuran alam berikut manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari lingkungan di sekitar-barangkali, karena ia selalu dikurung di gudang setiap malam oleh ibunya. Ia tidak tahu mengapa ada tekanan seperti itu? Tapi ada sebuah keyakinan lain dalam dirinya. Hingga pada akhirnya ia melihat sendiri kehancuran itu berasal dari dirinya sendiri. Belakangan, ia baru menyadari bahwa ia tidak diizinkan menatap bulan merah oleh ibu, karena perubahan pada dirinya-perubahan dari manusia menjadi seekor serigala yang siap memangsa siapapun itu. Ah, itu dia, anak-anakkah?

Orang-orang yang tertekan dan diasingan dari lingkunganya juga terjadi pada cerpen "Jendela". Seorang anak diceritakan hanya diberi kebebasan untuk mendengar segala siksaan ayah tirinya terhadap sang ibu. Ia dikurung dan hanya dapat menatap jendela satu-satunya yang mengeluarkan cahaya, cahaya yang mampu menerawang wajahnya di dalam ruangan tersebut. Anak! Ya, ini juga terjadi dalam cerpen "Pelarian"-cerpen yang mengisahkan bagaimana seorang anak kekurangan kasih sayang dari ibunya-sebab ia adalah anak yang tidak diinginkan. Namun, belakangan anak itu baru menyadari bahwa yang terjadi justru pengorbanan sang ibu. Begitulah cerita tentang seorang anak dan hal-hal yang membuatnya ingin berlari dari semua tekanan dan siksaan batin, dari orang tuannya, orang-orang di sekelilingnya.

Anak-anak bisa menjadi apapun, tentu diluar konteks pemikiran orang dewasa. Ketika usia, kehidupan, perjalanan untuk terus bertahan darinya, hidup itu, maka ketika itu sisi kemanusiaan benar-benar dihilangkan dari anak-anak. Anak itu juga mengatakannya dalam gerimis yang tertekan, itu terlihat dalam salah satu kutipan cerpen "Pelarian": Aku sedang bertugas membersihkan taman dapur sambil menimbang-nimbang siapa di antara teman-temanku yang lebih kupercaya untuk kubagi rahasia...; "Apa salahku?" aku bertanya dengan suara gemetar; "Apakah ibuku ada bersama Dayang Kepala?"; "Apakah mereka kelihatan marah?".

Hingga anak-anak pun menjadi remaja, ketika remaja itu, orang tua tetap menjadi orang tua, dan anak-anak remaja menjadi seperti mereka lebih cepat. Cerpen yang menangkap kisah anak remaja itu terlihat pada judul "Lelaki Tua dan Tikus". Berikut adalah kutipannya: "Kamu pernah kuliah sebentar, Sari," kata Bu Haji dulu, sewaktu pertama kali menerimaku menjadi pegawai toko kelontongnya. "Kamu harus cari pekerjaan yang lebih layak".

Jelas, buku kumpulan cerpen ini layak menyampaikan pesan batin anak-anak kepada orang tuanya. Setelah membacanya, pembaca akan mengendurkan sedikit kerutan di kening dan menimbang-nimbang cara untuk memperlakukan sisi kemanusiaan anak-anak. Lalu, adakah orang-orang tanah itu anak-anak? Bacalah!
(Serambi Kompak, Batam, Maret 2014).

Keterangan Buku
Judul Buku : Orang-Orang Tanah
Penulis : Poppy D. Chusfani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 200
Cetakan : Pertama
Kota/Tgl Terbit : Jakarta, Agustus 2013

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...