PERISAI
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Wanita itu menjerit-jerit ke arah seluruh mata yang sejak tadi melihatnya.
“Juri pasti sudah buta! Perlombaan apa ini? Semuanya hanya kebohongan!” lalu ia berusaha untuk membanting kursi plastik di depannya. Setelah puas menjerit-jerit dan melampiaskan kemarahannya, ia pergi membelakangi seluruh mata itu. Seorang anak perempuan berusia kira-kira 14 tahun mengikutinya dari belakang. Anak itu tampak menangis dan tak mampu menahan rasa sedihnya. Hujan gerimis turun sore itu setelah dua bulan lebih hujan menjadi hal yang dirindukan penduduk Batam. Dengan derai air mata yang bercampur hujan, mereka pergi dan meninggalkan kekecewaan mendalam.Wanita itu mengendarai sepeda motornya dengan rasa gugup dan amarah yang masih kental di urat saraf.
“Jangan menangis! Sudahlah, Nak! Kau lupakan perlombaan itu!” katanya masih sempat menenangkan perasaan Indie.
Indie, nama yang ia berikan, hasil pertengkaran kecilnya dengan Hasan dulu. Ya, Hasan, suaminya!
Setidaknya, dalam beberapa pekan ini ia dan Indie sudah berkomitmen, agar melupakan masa lalu dan menatap masa depan, yang masih terus menunggu di depan rumah mereka. Rumah itu, ia hampir lupa kalau pihak bank sudah memberi teguran, baik lewat telepon, surat, maupun datang ke rumah. Mereka atau bahkan ia, Syafira dan Indie tentu berharap akan ada pertolongan yang datang, setidaknya mampu memberikan tunggakan 3 bulan angsuran rumah. Entah sampai kapan ia harus mempercayai
kenyataan. Ia benar-benar ingin melupakannya.
“Lihat! Lihat, Nak! Kalau sampai bunga anggrek di depan rumah berhenti mekar, kau harus siap mempercayai kondisinya.”
Indie, sekali lagi, nama itu ia buat karena tak ada yang dapat dilakukannya. Hasan nama ayahnya, syafira nama ibunya. Ketika satu bunga tengah mekar dan bunga yang lainnya juga harum di lain ruang, ketika itulah sebuah bunga harus tunas dan menyatukan perbedaan. Entahlah, mengapa Syafira mempercayainya ketika itu. Ia merasa harusmenjadikan Indie berbeda darinya, maupun dari ayahnya. Ia merasa dengan kewanitaan yang dimilikinya bahwa Indie memang telah berbeda. Itu terlihat dari kebiasaan yang dilakukannya.
Ya!
***
Hari itulah Indie berjalan dengan tergesa. Baru pertama kalinya ia merasakan cemas seperti itu. Tak ada kata-kata yang mampu diungkapkannya lagi.
“Kau mau apa lagi! Ibuku telah tiada! Ia telah tiada!”
Ia benar-benar harus menghadapi kenyataannya. Di depannya, seorang ayah yang sudah sangat tua—atau lebih tepatnya seorang kakek menatap penuh arti. Saat ia memandang Indie dengan caranya yang menahan tangis, saat itulah bunga anggrek di depan rumah tidak lagi mekar. Entah sejak kapan!
“Aku yang akan menjaga adik-adikku! Kau tahu, ah, entahlah, siapa dirimu! Aku hampir tak kenal. Tapi, aku memang tak kenal kamu!”
Kakek itu tak berani memulai kata-katanya, apalagi mendengar amarah yang tergesa dan tak henti
dari gadis di depannya itu. Tapi ia harus mengatakannya.
“Kakek hanya ingin kau dan adik-adikmu tidak merasa kalian sendirian!”
“Tapi kenyatannya aku dan adik-adikku sendirian. Kenyataannya begitu!”
“Dan kau berusaha untuk menjadi ayah sekaligus adik bagi adik-adikmu?”
“Ya!”
“Kau tak kasihan melihat adik-adikmu?”
Mendengar kalimat terakhir itu, Indie tak mampu lagi membalas kata-kata kakeknya.
“Bawalah mereka ke tempatmu! Berilah makanan dan minuman untuk mereka! Tapi biarkan aku di kota ini, Batam!
Di sini aku dilahirkan!”
“Tapi, Nak! Tempatmu bukan di sini! Kau cucuku dan kita akan pulang ke Padang!”
“Jangan paksa aku! Cucumu? Sejak kapan? Sejak kapan kau merestui ayah dan ibuku? Sejak kapan kau percaya bahwa aku adalah cucumu? Tapi,” ia menahan sedikit emosinya, “Kumohon, jagalah mereka!” Ia pergi meninggalkan kakeknya dan adik-adiknya. Rumah yang masih beraroma arwah itu ia tinggalkan begitu saja. Dan ia tahu, rumah itu akan disita oleh pihak bank.
“Mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau!” batinnya.
***
Di sekolah itu, ia masih ingat! Seorang ibu menjerit-jerit dan berkata bahwa anaknya adalah yang terbaik.
Seorang ibu yang melampiaskan seluruh energi dan cintanya. Mungkin seluruh mata yang memandang mereka kala itu menganggap ia dan ibunya sudah gila. Tidak bisa menerima kekalahan, tidak bisa memahami keputusan, tidak bisa menghadapi kenyataan!
“Aku akan menghadapi kenyataannya!”
Indie. Entah mengapa ia kini terlihat lebih dewasa. Ia memegang sapu dan pel, menggunakannya secara bergantian. Begitulah setiap harinya yang ia tekuni di tempat itu, di sekolah itu, di tempat ia memandang banyak gadis cantik, berpakaian rapi, kaki mereka berjenjang, rambutnya lurus, sebagian berwarna merah akibat cat rambut, sebagian lagi hitam legam dan menarik untuk dipandang lelaki manapun.
Indie. Tak ada yang pernah bertanya kepadanya, apakah ia bersekolah? Di mana ayahnya? Di mana ibunya? Di mana rumahnya? Tidak ada! Tidak ada!Kulitnya tampak lebih gelap dua tahun terakhir. Ia bahkan tak pernah memperdulikan hal itu. Saat hari mulai gelap, ia beranjak dengan langkah keyakinan ke tempat yang selalu menjadi tempat baginya menuangkan amarah. Ia bermain teater. Entah sejak kapan? Mungkin sejak ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia harus menghadapi kenyataan. Ia tak memiliki handphome. Ah, ia tak perdulikan itu. Ia hanya ingin berjalan dan setiap berjalan, ia selalu percaya akan ada jalan. Ia tak pernah percaya bahwa ia memerlukan handphone, meskipun untuk menghubungi adik-adiknya saat ini.
“Selesaikanlah kuliahmu! Aku yang akan menanggungnya. Tapi setelah kau tamat, aku hanya meminta satu hal, ya, hem... tentu kau tahu. Sanggar ini harus ada yang menjaganya! Harus ada yang meneruskannya!”
Lelaki itu bernama Azi, Azi Suyitno. Sudah lama ia mendirikan sanggar ini. Dan ia melihat seorang gadis dengan penuh keputusasaan berjalan di depan sanggar, menangis, meronta, menutup wajahnya dengan kedua lipatan lutut kaki. Saat ditanya, ia baru menyadari bahwa gadis itu seorang pemain teater. Ia percaya bahwa tangisannya itu bukan sekadar tangisan orang biasa. Tapi tangisan seseorang yang penuh kepercayaan diri. Tangisan seorang yang memiliki karekter kuat.
***
Sejak itulah. Sejak ia memenangkan keyakinan, ia kembali ke Padang menemui adik-adiknya. Ia bertanya pada kakeknya, Andi sudah kelas berapa? Lalu adiknya yang bungsu Buyong, sudah kelas berapa pula?
“Andi sudah kelas 3 SMP, Buyong sudah kelas 6 SD. Lalu kau, Indie, bagaimana sekolahmu? Aku mengkhawatirkanmu, tapi baru kini kau mengunjungiku!”
“Aku sudah tamat kuliah, S2 di Fakultas Seni, aku memiliki sanggar, aku juga memiliki murid, aku memenangkan banyak penghargaan, aku mendapatkan uang yang cukup untuk adik-adikku! Aku ingin kau menerimanya, Kakek!”
“Sejak kapan kau percaya bahwa aku ini kakekmu!”
“Sejak kakek membawa adikku, menjaga mereka, membesarkan, menyekolahkan dan menjadi perisai dalam hidup mereka!”
“Aku tak percaya ini! Tapi, In, anakku, cucuku, kaulah perisai itu! Kau melindungi keluargamu, kau melindungi dirimu dari kekalahan! Kau membuktikan bahwa dirimu pemenangnya!”
Mereka berdua tertawa, tertawa menatap diri mereka. Menatap masa depan, menatap kehidupan, merasakan napas, merasakan langkah. Hingga mereka tak menyadari bahwa kata-kata mereka terlalu formal untuk konteks antara kakek dan cucu. Entahlah...
Serambi Kompak, Batam, Maret 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...
No comments:
Post a Comment