Punggung Terkoyak
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Lepas ketukan air di tepi danau, sepasang mata mencegat sampan yang tertambat. Sampan seperti sandal jepang bergaya penari bandal menepuk-nepuk hamparan, sepasang kayu seperti sutil di atas wajan semakin menambah eksotisme di tengahnya. Seakan burung yang terjebak perangkap, memiliki sayap yang mengepak-ngepak tak berdaya untuk bergerak. Sampan itu menumpahkan awaknya di pinggir danau. Seseorang dengan raga yang tinggi tegak dan bertampang legam menantang di puncak malam. Ia menerangi dengan senter dua orang yang telah menunggu sejak beberapa jam lalu itu. “Jangan gelisah, pelan saja,” bisik lelaki tinggi tegak, bertampang legam sambil menerangi dengan senter dua orang menaiki sampan mungil kepunyaannya.
Danau yang meminggirkan beberapa desa. Danau berparas api menyala kecil-kecil pertanda lampu-lampu benderang, namun kini telah berganti bakaran rumah yang marak di sana sini. Danau yang kini menjadi saksi tragisnya hati nurani. Beberapa perempuan tampak menyiramkan kain putih yang ternoda, beberapa lelaki tampak pula merentangkan tangan di atas rumputan, lega sorak bahagia, merasa sangat berhasil memenggal perawan anak-anak remaja di desa entah berantah. Sementara malam semakin perkasa di gumpalan asap kepahitan. Hanya mereka yang berhasil, dua orang bersama seorang lelaki tinggi tegak dan legam.
Lelaki legam tampak mendayung dengan salah satu ciyau1, dan seorang lelaki berambut cepak, dengan tubuh tidak terlalu tinggi menggunakan ciyau yang satunya. Sang wanita menerangi hamparan air yang akan mereka lalui. Sela itu, suara seperti petasan memekak di belakang. Beberapa lelaki berpakaian hitam mendekat di pinggir danau. Mereka pun mengencangkan ciyau, lampu-lampu menyoroti mereka, lelaki legam menyingsingkan matanya dari sorotan itu. Namun, mereka tak berhenti mendayung hingga sebuah tikungan danau menelan jejak dan mereka tampak sedikit lega.
“Tak ada yang kena tembakan?” tanya lelaki legam dan dua yang lainnya menggelengkan kepala.
“Apa kita berhasil lari?” tanya wanita itu membulatkan mulutnya di hadapan lelaki legam.
“Belum. Kita harus sampai di pinggir danau. Aku yakin mereka akan terus mencari kita,” kata lelaki legam itu.
“Percayalah. Kita akan selamat,” kata lelaki berambut cepak sambil menggenggam tangan kanan wanita itu menggunakan tangan kirinya. Kini mereka saling berhadapan. Tampaknya, malam itu hujan merintik subur di tengah danau, katak-katak memekakan malam, dan ikan-ikan tampak berkecipak di kedalaman yang tak terlampau.
Wanita itu tak mampu menahan gejolak mata, ia meneteskan air dan lelaki berambut cepak mengusapnya.
“Tenanglah… kita akan berhasil menyelamatkan kehormatan leluhur. Ayah dan ibumu pasti bangga,” kata lelaki berambut cepak masih sambil mengayuh kembali ciyau.
Sementara, beberapa rumah yang terbuat dari kayu ubin dan beratapkan daun-daun kelapa di bakar seperti sampah. Warga yang melawan diseret dan dibunuh. Para lelaki yang berupaya menyelamatkan anak dan istrinya di penggal dan kepalanya dijadikan hiasan pagar. Selain para remaja yang dihabisi keperawanannya, ibu-ibu yang sudah lebih tua disuruh mengerjakan makanan yang lezat tanpa cacat. Mereka bersenjata lengkap, entah berasal dari beberapa pengusaha atau preman-preman di desa adat?
Anak-anak lelaki yang masih terlalu muda disuruh pula bekerja tanpa upah. Beberapa di antaranya telah bermimpi menikahi surga. Pernah suatu waktu, salah seorang dari pemuda itu berupaya melarikan diri. Ia akan membawa amanat besar dari desa adat. Menjadi tulang punggung kehormatan bila mampu mengucapkan sepatah saja kepada orang-orang di kota terdekat, tentang tangis, tentang lapar, tentang hak-hak yang teraniaya tanpa seorangpun menduga di luar sana. Pemuda itu dikuliti dan digantung di atas pohon trambesi, ditonton oleh ibu kandungnya dan pemuda itu masih sempat mengucapkan,”Aku bersumpah akan mengoyakkan punggungku demi leluhur!” katanya tetap lantang mengucapkan kalimat yang sering dipakai para lelaki pemberani dalam adat mereka, walaupun darah semakin menetes deras dari tubuhnya.
“Bersumpahlah di alam baka!” jawab salah satu lelaki bersenjatakan laras panjang sambil menggoyang-goyangkan tali dan mencambuk kembali tubuh pemuda itu.
Sementara kembali, sampan ketiga orang tadi telah tertambat di tepi yang jauh dari desa adat. Ketiganya menarik sampan itu hingga di bawah pepohonan dan ditutupi daun-daun. Merasa lebih yakin, mereka berjalan mengembangkan langkah harapan. Perlahan, cahaya mengintip di sela dahan, matahari menyingsing pun tergiring air yang bias ke atas danau. Mata lelaki legam menyoroti masih dengan tajam sekitar pepohonan yang mereka lalui. Lelaki yang satunya terus memegang tangan wanita tadi. Mereka menginjakkan ranting-ranting yang guguran di antara pohon. Daun-daun yang menumpangkan ulat-ulat di musim penghujan semakin marak terlihat. Seiring cahaya yang semakin luas, jalanan telah tampak di depan mereka. Jalan yang biasanya tempat beberapa mobil dan motor lalu lalang, masih terlihat begitu sepi. Mereka menunggu dan tumpangan pun datang.
“Ke kota, antarkan kami ke media terkedat, tolonglah!” kata lelaki legam tersebut saat ditanya pemilik mobil hendak ke mana. Sang pemilik mobil tak mengerti maksudnya. Ia masih terus menatap ke tiga orang aneh di depannya. Dua di antaranya menggunakan pakaian hasil tenunan berwarna hitam, putih, merah. Seorang wanita tampaknya gemetar dan lainnya sangat tajam melongok ke kanan dan kiri, menyusuri situasi.
“Kau lihat apa? Ayo cepat berangkat!”
“Oke… oke!”
Pemilik mobil tampak justru gemetar, sepertinya ia melihat gelagat yang tak lazim, dalam hatinya apakah ia bawa saja ke polisi setempat? Namun bila ketiganya sampai tahu, mungkin juga parang yang sejak tadi ia pandang di tangan lelaki tinggi dan legam itu menggorok di lehernya. Ah, sungguh merinding ia membayangkan itu.
“Jangan takut, kami bukan orang jahat selagi kau yakin,” kata lelaki legam itu lagi yang pakaiannnya masih lebih baik dengan celana dan kaos panjang, sementara yang lainnya memakai pakaian tanggung seperti hendak menari tradisional di depan istana presiden.
“Boleh bertanya dan boleh tertawa, santailah… kami membutuhkan bantuan dan orang yang bisa kami percaya saat ini. Apa kau paham?” katanya lagi lebih menyakinkan.
“Memangnya kalian dari mana? Sedang apa?”
“Masa kau tak tahu mereka ini. Ah, ya, kalau aku tentu pernah tinggal di kota. Tapi kedua orang yang di sampingmu ini belum. Mereka bahkan tak mengetahui apa yang kita katakan.”
“Maksudmu? Mereka itu….”
“Mereka masyarakat adat yang tak pernah sekalipun pergi beranjak dari desanya. Keseharian mereka hanya menyembah leluhur,” katanya sedikit berbisik, mendekatkan mulut ke arah telinga pemilik mobil.
“Sudah berapa lama kau jadi sopir truk?”
“Apa pertanyaan itu penting untukmu? Bukankah kau hanya ingin aku mengantarkan kalian ke tempat media terdekat?”
“Ya… kau benar. Itu tak penting. Antarkan saja, aku hanya mau mereka tertolong,” katanya lagi dengan memaniskan dagunya.
Beberapa jenis pepohonan pinus terlewati, suara jangkrik mulai padam dalam berang siang, jati-jati tampak mengembangkan sayap-sayap daun, suara burung-burung di kedalaman hutan mengisi perjalanan ini, siulan merpati yang tak sengaja bertengger di atas dahan pohon durian menetaskan tawa di sunggingnya wanita itu, ia tampak senang melihat dunia yang akan ditinggalkannya beberapa jam lagi. Saat matahari semakin bertiang tegak di atas kepala, lelaki legam dan cepak bersama wanita ini telah turun dari truk menuju sebuah stasiun.
“Sampai sini saja, bukannya aku tak mau mengantarkan kalian, tapi untuk ke pusat kota, truk tak bisa masuk. Carilah kendaraan di sini, tenang saja, di sini mereka baik-baik. Percayalah…”
“Oke. Terima kasih!”
Wanita itu memutarkan tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat. Menengadahkan kepalanya agar terlihat ujung gedung itu di angkasa. Setelah akhirnya lelaki berambut cepak menyeret tangannya menuju sebuah mobil sewa yang sejak tadi terus memandangi mereka berdua.
“Kalian tertinggal bus pembawa penari-penari istana? Kalian mau aku bawakan ke istana?”
“Maap. Saya hanya mau ke media, tempat melaporkan berita,” kata lelaki legam itu.
“Oh… mau syuting ya?”
“Bawa saja! Aku tak minta komentar!”
Sopir mobil sewa yang kemudian menyadari sebuah parang tergenggam di tangan lelaki legam itu, langsung meng-iyakan dan menyuruh mereka masuk.
Setelah sampai di tujuan, lelaki legam langsung dicegat salah seorang satpam. Lelaki legam itu tampak geram. Ia menggoyakan parang yang membuat satpam lainnya pun datang.
“Saya hanya mau ke dalam. Ada berita penting, mereka ini datang dari jauh,” katanya membentak-bentak satpam itu.
“Lalu Bapak kenapa mengancam dengan parang?”
“Parang?”
Lelaki legam yang menyadari langsung menurunkan parang yang sudah tegak di depan wajah satpam. Lantas ia menurunkan sedikit dan mengatakan, “Maap.”
“Tunggu di sini. Saya akan memanggil bos saya,” kata satpam itu lagi, namun ia berbalik.
“Bisa Bapak tak membawa parang saat bertemu bos saya ataupun nanti saat Bapak masuk ke dalam?”
“Oh.. ya… bolehlah,” katanya agak malu dan buram.
Sementara, lelaki cepak dan wanita itu tampak tak tahu harus berkata apa, mereka bahkan tak mampu menerka maksud pembicaraan lelaki legam dengan beberapa orang sejak tadi. Sesekali ia bertanya, dan sesekali lelaki legam itu menjawab dengan senyuman.
“Kau bilang kami akan aman, kan? Aku dan ia akan bertemu Tuhan kan?”
“Sudah pasti. Kalian akan bertemu Tuhan dan mengabarkan kegelisahan masyarakat adat! Tenanglah…”
“Aku rela bila punggungku terkoyak,” kata lelaki berambut cepak itu lagi setelah sejak awal ia terus mengatakannya dan membuat lelaki legam itu tampak bosan. Dalam hati lelaki legam, entah apa yang dimaksudnya punggung terkoyak? Entahlah….
Setelah akhirnya beberapa orang kru media mendapatkan mereka, mereka langsung diwawancarai. Lelaki legam itu tampak sibuk sebagai penterjemah.
***
Selama ini tugasnya menuliskan pesan-pesan di buku hasil penelitiannya tentang masyarakat adat yang teraniaya di desa sendiri telah lengkap di ujung hasil. Ia masih membayangkan akan membawa beberapa orang di bukunya ke media bila memang benar dugaannya masih ada yang tersisa dari mereka sebab sampai sekarang belum diketahui apa masih ada dari mereka yang berhasil hidup. Ia menuliskan pesannya bangunlah dari tulisanku dan jadilah sepasang yang melahirkan kembali anak-anak adat.
Beberapa berita tampak telah marak. Buku-buku itu terjual habis dan menjadi best seller. Lelaki legam membuatkan judul spesial yang kerap dikatakan lelaki cepak dan wanita itu dalam imajinya. “Punggung Terkoyak, terima kasih telah menjadi tulang punggung pengantar awal ceritaku. Takkan pernah kulupakan hari-hari kita dalam imaji mengelabui para pembunuh itu. Dalam hatiku, kalian masih terus hidup,” katanya di depan banyak kamera yang menyoroti. Beberapa wartawan tampaknya menatap aneh ke arah penulis buku yang banyak dibicarakan pernah mengetahui lebih banyak tentang masyarakat yang teraniaya itu. Tetapi, sungguh! Penulis itu tidak sedang menikmati kilau kamera yang berdatangan mengambil gambarnya ataupun beberapa pembaca yang meminta tanda tangannya, melainkan kepuasan mendatangkan dua orang itu sampai di depan media pun memberikan kenyataan pahit leluhur mereka. Tentu, melalui apa yang tengah semua orang baca.
Serambi KOMPAK, 18 Desember 2011
Keterangan:
Ciyau : Alat pengayuh sampan

No comments:
Post a Comment