Tuesday, May 14, 2013

Catatan 7-9 Mei 2013

Memeluk Dunia dari Para Semut


               Memeluk dunia adalah kepastian yang datang dalam angan-angan. Meskipun, tidak sedikit orang yang telah mewujudkannya dalam kehidupan nyata mereka. Begitulah pemaparan yang saya temukan dari setiap tulisan 25 orang penulis di dalam buku Semut Merah 75, Kisah Pelajar Indonesia di 7 Benua 5 Samudra. Awalnya saya merasa bahwa acara ini adalah acara launching buku, ya launching buku seperti biasanya. Namun, menyaksikan video PPI dan kala membaca buku berkisah inspiratif mahasiswa yang kuliah di luar negeri, membius saya setidaknya, bahwa ini dapat menjadi tolak ukur: mereka perlu menorehkan hitam di atas putih sebagai bentuk kesaksian mereka atas dunia. Saya salut dengan kerja keras Mbak Wenny yang bersungguh-sungguh mengembangkan kepenulisan pelajar Indonesia di luar negeri ini, dan tentu saja tim-tim lainnya yang turut berperan. Ini bisa menjadi langkah yang menggemparkan dunia pelajar Indonesia dan kepenulisan Indonesia itu sendiri.
               Dalam acara launching yang berlangsung 8 Mei 2013 ini, bertepatan dengan hari ulang tahun mbak Wenny selaku direktur komunitas semut merah75, saya memang tidak menemukan beberapa penulis yang sering saya temui pada acara-acara kepenulisan lainnya. Tidak heran! sebab acara kali ini lebih fokus untuk menggugah pelajar Indonesia itu sendiri agar menyaksikan perjuangan pelajar Indonesia di luar negeri. Saya tidak menemukan nama-nama seperti Jamal D. Rahman, Joni Ardiadinata, Guntur Alam, Helvy Tiana Rosa, Habiburahman, dan lainnya. Bisa dipastikan aliran sastra hanya akan melekat pada diri saya dan teman saya Tiflatul Husna di dalam ruangan Auditorium RRI kala itu.

              Untuk masalah membacakan puisi, Tiflatul Husna memang tidak bisa diragukan lagi. Ia adalah gadis yang tangguh dan penuh mimpi. Saat acara launching, bahkan pembacaan puisi dari Husna, mampu membius para penonton yang merupakan teman-teman dari mbak wenny, mahasiswa, ataupun ketua komisi dua DPR RI, Bapak Agun Gunanjar sendiri sebagai ayah dari Mbak Wenny.
             Sebuah kesempatan saya untuk mendengarkan sendiri kesaksian beberapa orang mahasiswa yang telah tamat hingga jenjang s2 seperti Akhso, telah lulus s1 dan s2 di Hindia, yang mana ternyata merupakan warga kota Medan dan kebetulan mantan siswa di tempat saya mengajar saat ini. Ia menceritakan beberapa kisahnya dan tentu saja, meskipun lulusan luar negeri, bukan perkara mudah untuk melanjutkan perjuangan. Itulah yang saya dengar sendiri dari mereka.
              Belum lagi kisah perjuangan Mbak Wenny yang sempat merasa terguncang di China sebab ternyata ia harus membayar sejumlah uang tak terduga. Biaya untuk kuliah di Peking University, universitas nomor satu di Asia ini memang terbilang tidak sedikit. Mbak Wenny harus mencari tempat untuk memecahkan masalah itu sendirian di China. Namun, kenyataannya ia tak sendirian, ternyata kisah itu juga dilalui oleh beberapa warga negara Indonesia di China. Ya! Belum lagi kisah dari Ade Irma Elvira, yang mana merupakan mantan mahasiswa UISU dan melanjutkan kuliah di Rusia. Ade sampai harus berjuang mati-matian mendapatkan beasiswa, bekerja sambil kuliah di Rusia. Tentu, masih banyak lagi kisah lainnya.
              Dari situ saya bisa menyimpulkan bahwa launching buku ini adalah keberadaan langka yang harus terus digalakkan. Perjuangan tidak sebatas ini kawan! Terkadang kita merasa menjadi manusia paling menyedihkan, namun ternyata dunia ini begitu luas untuk terus kita jajaki. Teruslah mencari mimpi! Teruslah! hingga ke negeri China.



No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...