Sunday, May 19, 2013

Medan Bisnis, 19 Mei 2013



Di Kota Santana
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Santana pernah mengutarakan keinginannya, namun ayah dan ibunya hanya tersenyum lalu berkata, “Nanti, kau akan mengerti, apa itu kota!”
***
            Pagi itu Santana pergi tanpa diketahui oleh siapa pun. Hanya ada malam yang lagi-lagi gerimis menemani langkahnya. Sementara, Anggita telah siap menunggunya di bawah pohon cemara.
            “Hebat. Ini menjadi petualangan  luar biasa,” kata Anggita mengerucutkan mulutnya dan mengepalkan satu tanganya ke langit. Santana justru tampak gemetar, gerimis mengepulkan dingin dan membalut sekujur tubuhnya. Ketika melangkah pergi, ia masih sempat menatap kampungnya dengan perlahan, sangat perlahan. Kalau bukan karena Anggita menarik tangannya, ia memilih untuk tidak bertindak sebodoh ini.
            “Kita mau ke mana?”
            “Sudah, jangan banyak tanya!”
***
            Pada malam gerimis, kota selalu tampak manis. Ada saja lampu-lampu yang memungut awan mendung kemudian satu persatu jatuh bagai tirai air.
            “Lihat, lihat Santana! Hujan di kota lebih bercahaya!”
            Namun, Santana justru menunjukkan raut wajah yang berbeda. Wajahnya tampak merah biru, gugup dalam malam.
            “Anggita... aku ingin pulang! Aku tidak nyaman!”
            Anggita tidak memperdulikan Santana. Ia hanya berjalan dan tersenyum kagum dengan lampu-lampu di tengah kota. Ia masih berpikir, bagaimana mungkin ada hujan yang jatuhnya tak sampai ke tanah itu. Ia terus mengamati cahaya itu. Hingga ssstttt....
            “Santana!”
            “?”
            Tak lama mereka berlari, berlari begitu cepat. Tidak jelas ke mana. Yang pasti mereka sangat gelisah. Entahlah, ini terkesan begitu cepat untuk menyambut kedatangan mereka. Ada bunyi seperti desis ular yang siap mengejar mereka. Bunyi itu begitu jelas di telinga. Bahkan, seolah-olah akan menerkam-seketika.
            “Kau dengar itu?”
            “Bukankah ini kota?”
            “Aku tak mengerti!”
            Pembicaraan itu sekilas dan tergesa. Mereka berpikir ada hal yang tak biasanya.
            “Kau tahu dari mana ini kota? Pergi saja belum pernah!”
            Mereka bersembunyi di balik semak pohon di sekitar taman kota. Lantas bergidik dengan kejar mengejar, berkali-kali ketakutan mendengar suara desis ular. Seolah, desis itu ingin menanam bisa di tubuh mereka.
            “Anggita, sudah aku bilang. Ini bukan kota! Ini mirip dongeng yang kau ciptakan!”
            Anggita diam tak percaya. Lalu ia mengingat pesan lelaki yang pernah ditemuinya kalau di kota terdapat banyak makanan lezat. Lantas, Anggita kembali menarik tangan Santana untuk mencari makanan. Namun, mereka tak melihat apa-apa melainkan olahan menjijikan yang dimakan beberapa orang di sekeliling mereka.
            “Lihat Anggita! Mereka memakan cacing mentah. Bahkan di kampung kita cacing itu harus dimasak!”
            Mereka pun tak bertahan lama. Mereka pergi untuk menjauh dari orang-orang pemakan cacing.
            “Sudahlah, kita pulang saja!”
            “Sebentar, Santana! Aku ingat kalau kata lelaki itu, di kota ada tempat tidur yang menyenangkan, empuk, bagai istana!”
            Benar saja! Mereka melihat gedung dengan cahaya kelap-kelip memenuhi ruang malam. Walaupun mereka tak melihat tempat tidur di sana, tak lama Anggita dan Santana pun masuk ke dalam gedung itu. Sekilas, Anggita dan Santana tampak senang dan kagum dengan banyaknya cahaya di dalam gedung itu. Cahaya-cahaya itu bahkan bergoyang seperti pelangi yang berduyun-duyun. Di beberapa sisi ada iringan musik. Walaupun  mereka tak terlalu suka dengan iringan musik itu, mereka tetap menikmatinya. Beberapa orang di sana tampak menatap mereka dengan pandangan yang menjijikkan.
            Hallo... kenapa ada pengemis yang bisa masuk ke sini!?”
            Sejenak, Anggita dan Santana justru tak menggambarkan mereka sebagai manusia melainkan buaya yang siap menerkam. Raut wajah mereka pun  terkejut bukan main. Bahkan ada tanda tanya besar yang membekas di benak Anggita dan Santana. Bagaimana bisa di tempat menyenangkan ini, ada buaya? Ah, lama-lama mereka seperti berada di dunia Jumanji saja!
            “Lari, Santana! Ayo, kita lari!” katanya, kali ini mereka sangat tergesa.
            Anggita melihat buaya itu siap mengepakkan buntutnya yang liar. Dengan kulitnya yang tebal belang menakutkan, tatapannya tak lepas barang sejenak kepada mereka berdua. Seolah, mereka adalah santapan yang luar biasa siap untuk menjadi hidangan. Dalam hitungan detik, Santana dan Anggita telah berada di tempat yang sangat jauh. Jauh. Mereka sangat kelelahan. Wajah mereka saling memandang tak percaya.
            “Untunglah kita cepat!” kata Santana dengan napas yang perlahan tampak lebih tenang.
            Santana menarik tangan Anggita. Lalu mengajaknya bergegas cepat. Semantara Anggita masih ingin tahu. Ia menahan tarikan itu dan mencoba merayu Santana kembali.
            “Tunggu! Kalaupun kita pulang, perjalanan kan sangat jauh. Lebih baik kita tidur di sini! Satu malam saja.”
            Santana tampak berpikir dan pula ia tak habis pikir lagi dengan siasat Anggita selanjutnya.
            “Bagaimana?”
            “Baiklah. Untuk satu malam ini!”
            Mereka kembali berjalan mencari tempat untuk tidur. Mereka hanya melihat rumput di taman begitu menyenangkan. Meskipun di kampung mereka bahkan mereka tidak tidur di rerumputan. Mereka tetap tidur di sana.
            Dalam tidurnya, Santana terus merasa gelisah. Ia berkali-kali mencoba untuk tidur, namun ia tak bisa memejamkan matanya. Hingga setelah beberapa jam kemudian, ia pun tertidur. Dalam tidurnya itulah, Santana melihat ada harimau-harimau mengelilingi mereka. Jumlahnya tak terkira. Santana tak mampu lagi berkata-kata. Malam itu, malam gerimis. Wajahnya basah bercampur air mata. Ia memanggil-manggil ibu dan ayahnya berkali-kali. Ia ingin pulang, namun ia tak mampu lagi beranjak dari tempat yang telah dikelilingi harimau itu. Tangisnya tak pernah berhenti. Tangisan itu bak lautan di sekeliling mereka. Tangisan itu memberi kesadaran pada Santana.
            “Santana! Santana! Santana!”
            Ia terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Lalu di depannya, ada wanita yang sangat dikenalnya tengah tersenyum.
            “Ibu, aku ingin jadi seperti Ibu. Sungguh, aku ingin!”
            Ia mengucapkan kalimat itu dengan sangat jelas. Walaupun ibunya belum paham. Lalu ia memeluk ibunya erat, seerat ikatan lidi. Ia tak mampu lagi berpisah dengan ibunya bahkan dengan kampungnya itu. Ah, bahkan malam gerimis telah berlalu. Santana pun siap untuk menuruti perintah ayah dan ibunya demi kebiasaan leluhur yang mereka cintai. Ya, ia sungguh ingin menikah di kampung ini saja. Tentu, dengan lelaki pilihan orang tuanya.

Serambi Kompak, 7 April 2013

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...