Saturday, May 4, 2013

Medan Bisnis, 5 Mei 2013



Ketika itu, Aliya...
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

Sebelum ada canda
kau janji
akan mekar bak bunga
di hadapanku

Aliya..
seperti api
yang habis melahap bara
--seperti itulah--  
debar di jantungku

atau matahari
yang menggelegak
di kulit putihmu
dan di antara porimu
akulah
yang merayap
dengan ringkih


Serambi Kompak, 17 Januari 2013

Katakan, “Indonesia!”
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

Inilah daging yang merah itu
seperti degupan bumi
yang tak ada sudah

aku menghibur diri
dan memang segalanya
Adalah air menetes persis di atas wajahku
kau tahu aku
tentang tangis yang terus menerus
bak banjir di dadaku

Kita mesti beristirahat
barang sejenak dua
lantas berdoa dengan ketinggian langit
Katakanlah untuk Indonesia di kemudian.

Serambi Kompak, 17 Januari 2013

Pilihan untukmu, Puja
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

Puja, ingin kubagi jeruk matang di tanganmu.
Lalu pilihan serupa garis-garis
meliuk-merengkuh-geliat-gelisah di telapakmu.
Begitulah: ketika hak manusia menjelma air liar
di tengah kota yang padat lagi arif
di hadap peradaban

Puja, ini balada dari negeri mirip dongeng
lantas kita bebas bermain-main.
Denganya-lah ada beludru
yang sering kita beli
sewaktu ibunda tengah berperan sebagai dirinya
—hendak memberi satu dua nasihat.

Kemudian, apa yang kita buat?
Entah...
Namun, aku jadi tahu
 ketika itu, ada air di pipi kita
Hendak sesal atau apa?

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...