Ketika itu, Aliya...
Oleh: Ria Ristiana Dewi
kau janji
akan mekar bak bunga
di hadapanku
Aliya..
seperti api
yang habis melahap bara
--seperti itulah--
debar di jantungku
atau matahari
yang menggelegak
di kulit putihmu
dan di antara porimu
akulah
yang merayap
dengan ringkih
Serambi Kompak, 17 Januari
2013
Katakan, “Indonesia!”
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Inilah daging yang merah itu
seperti degupan bumi
yang tak ada sudah
aku menghibur diri
dan memang segalanya
Adalah air menetes persis
di atas wajahku
kau tahu aku
tentang tangis yang terus
menerus
bak banjir di dadaku
Kita mesti beristirahat
barang sejenak dua
lantas berdoa dengan
ketinggian langit
Katakanlah untuk Indonesia di
kemudian.
Serambi Kompak, 17 Januari
2013
Pilihan untukmu, Puja
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Lalu
pilihan serupa garis-garis
meliuk-merengkuh-geliat-gelisah
di telapakmu.
Begitulah:
ketika hak manusia menjelma air liar
di
tengah kota yang padat lagi arif
di
hadap peradaban
Puja,
ini balada dari negeri mirip dongeng
lantas
kita bebas bermain-main.
Denganya-lah
ada beludru
yang
sering kita beli
sewaktu
ibunda tengah berperan sebagai dirinya
—hendak
memberi satu dua nasihat.
Kemudian, apa yang kita buat?
Entah...
Namun, aku jadi tahu
ketika itu, ada air di pipi kita
Hendak sesal atau apa?


No comments:
Post a Comment