Wednesday, December 26, 2012

Medan Bisnis, 4 November 2012


Lelaki dalam Cerita
Oleh: Ria Ristiana Dewi
            Setiap malam, ketika wajahnya remang dalam sinar rembulan, ia mengatakan padaku bahwa itu hanyalah cerita. Cerita yang mengibaratkan masalah-masalah dalam hidupnya. Si Bibir Merah Berair, aku menyebutnya. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Setiap kali ia ingin menuliskan ceritanya di sebuah buku, kertas, ataupun laptop kesayangannya, ia tak alpa mengoles bibirnya dengan lipstik merah sekaligus pelembab bibir hingga berair. Aku tak tahu apa pula alasannya—barangkali sebuah ritual kebahagiaan. Ya! si Bibir Merah Berair itu terus berceloteh seolah  kisah “Tukang Obat” yang sukses karena sebuah cerita. Tetapi ia bukan tukang obat, melainkan seorang wanita cantik yang pintar, terdidik—begitulah sebutan orang-orang kepadanya. Aku mendengar hal itu setiap kali orang-orang membaca atau mendengar cerita yang terlontar dari bibir merah wanita ini.
            Pada setiap ceritanya, ia mengutarakan kejenuhan. Aku tak paham mengapa terlontar jenuh itu. Terkadang ia ingin pamit dari dunia cerita, namun ia tak mampu berkata-kata. Cerita telah menjadi kehidupan, memberikannya sesuap harapan, menanak kerinduan yang sulit terlukis di kehidupan nyata. Nyata! Ini memang ada, selalu menyulam cerita dalam secarik kertas yang perlahan menjadi tumpukan sampah. Ah, kenapa si Bibir Merah Berair itu membuang kertas-kertas yang setiap saat menjadi saksi. Lalu, satu kali lagi, ia pernah menceritakan kembali hal yang sama. Terkadang aku mulai merasa bosan setelah ia terus mengutarakannya tiga hingga... ah, terakhir kali ia mengatakan itu tumpukan kertas sampah tak mampu kuhitung. Aku bosan dengan cerita wanita itu.
            Oh, aku mohon jangan menceritakan kisah kehidupannya dengan seorang lelaki sebab aku takkan tahan.  Namun, suatu saat seorang lelaki dan wanita tengah berceloteh  tentang si Bibir Merah Berair. Mereka mengatakan bahwa wanita ini tengah dilanda asmara. Asmara yang sekian lama dalam kehidupannya baru dirasakan setelah menginjak masa matang sebagai seorang pekerja—setelah ia tamat kuliah, ingin meniti karir—lantas ia meneruskan S2 di sebuah universitas ternama di ibu kota. Syahdan, wanita ini mendapatkan kesempatan emas menjadi seorang dosen di universitas tersebut berkat prestasinya yang gemilang. Ia semakin tak dapat berkata-kata—menuturkan ungkapan bahagia atau justru sebaliknya. Kedua orang tersebut terkadang menggelengkan kepala kala mengingat tingkah wanita ini dalam setiap cerita-ceritanya. Cerita-cerita itu bahkan berpindah dari satu orang ke satu orang yang lain.
            Kini, cerita itu berada di tangan salah seorang sahabat baiknya. Wanita yang juga berprofesi sebagai dosen. Seorang sahabat yang lebih sering bercerita tentang keunikan-keunikan tingkah kedua anaknya di rumah atau tentang gelagat mengesankan dari sang suami saat pulang dari kantor. Ah, ia ingin mengganti ceritanya dengan cerita sahabatnya, namun ia seperti tengah dihadiahkan pena yang khusus untuk satu cerita saja. Terkadang, si Bibir Merah Berair mengutarakan padaku bahwa benar! Ia bosan dengan semua ceritanya sendiri. Saat ia menceritakan seorang lelaki dengan sahabatnya, ternyata sahabatnya telah mengetahui cerita itu dari dua orang teman. Si Bibir Merah Berair merasa kesal sebab cerita itu telah dicuri dari pemiliknya.
            Ia pernah pula bertengkar dengan ibunya demi membela cerita yang ia agung-agungkan itu. Ia juga pernah terang-terangan mengungkapkan bahwa ceritanya lebih berharga, namun ia tak berani meneruskan kepada ibunya bahwa sesungguhnya cerita itu telah melebihi rasa cintanya kepada ibu. Sungguh! Ia sendiri tak mau melakukan itu. Tak terbersit sedikitpun dalam hidupnya untuk menggantikan surga yang berada di bawah kaki ibunya. Ia tahu, ia paham bahwa ibu takkan tergantikan meskipun ia tengah tergila-gila dengan ceritanya sendiri.
            Cerita-cerita itu perlahan menjadi lembar kesaksian hidupnya yang kini menginjak usia 29 tahun. Beberapa hari yang lalu, ia diberi kejutan sebuah pesta kecil di villa yang sengaja ia beli beberapa tahun terakhir ini. Tentu bukan saja untuk menjadi tempat kecil baginya, juga mencari lembaran-lembaran yang hilang—tentang kisah ibu, kakak, adik, anak, atau suami walaupun aku tahu ia belum memiliki suami dan anak—meski itu masih dalam harapan besarnya. Selain alasan tersebut, si Bibir Merah Berair bercerita dalam usianya yang merindukan sosok lelaki—ia ucapkan itu dalam satu permintaan tertunda saat usia berencana ini. Dan saat pesta kecil yang berlangsung di keluarganya itu selesai, ia mengucapkan kembali permintaan itu dalam doa sebelum ia tertidur. Ia mencoba khusyuk seperti selama ini ia berdoa agar mendapatkan karir cemerlang, membelikan ibunya rumah, mendirikan villa untuk berkumpul bersama keluarga, dan tentu saja agar ia bisa selalu melanjutkan ceritanya. Aku tak paham, tetap tidak bisa benar-benar memahami mengapa ia punya keinginan melanjutkan cerita, yang, menurutku, hanya untuk membuat batinnya jatuh pada kelemahan pribadi semata. Namun, kali ini ia benar-benar ingin khusyuk dalam doanya.
            “Amin.”
Serambi Kompak, 30 Okt 2012
Penulis adalah guru di SMP Al-Azhar Medan

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...