Lelaki dalam Cerita
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Setiap
malam, ketika wajahnya remang dalam sinar rembulan, ia mengatakan padaku bahwa
itu hanyalah cerita. Cerita yang mengibaratkan masalah-masalah dalam hidupnya. Si
Bibir Merah Berair, aku menyebutnya. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Setiap
kali ia ingin menuliskan ceritanya di sebuah buku, kertas, ataupun laptop
kesayangannya, ia tak alpa mengoles bibirnya dengan lipstik merah sekaligus
pelembab bibir hingga berair. Aku tak tahu apa pula alasannya—barangkali sebuah
ritual kebahagiaan. Ya! si Bibir Merah Berair itu terus berceloteh seolah kisah “Tukang Obat” yang sukses karena sebuah cerita.
Tetapi ia bukan tukang obat, melainkan seorang wanita cantik yang pintar,
terdidik—begitulah sebutan orang-orang kepadanya. Aku mendengar hal itu setiap
kali orang-orang membaca atau mendengar cerita yang terlontar dari bibir merah
wanita ini.
Pada
setiap ceritanya, ia mengutarakan kejenuhan. Aku tak paham mengapa terlontar
jenuh itu. Terkadang ia ingin pamit dari dunia cerita, namun ia tak mampu
berkata-kata. Cerita telah menjadi kehidupan, memberikannya sesuap harapan,
menanak kerinduan yang sulit terlukis di kehidupan nyata. Nyata! Ini memang ada,
selalu menyulam cerita dalam secarik kertas yang perlahan menjadi tumpukan
sampah. Ah, kenapa si Bibir Merah Berair itu membuang kertas-kertas yang setiap
saat menjadi saksi. Lalu, satu kali lagi, ia pernah menceritakan kembali hal
yang sama. Terkadang aku mulai merasa bosan setelah ia terus mengutarakannya
tiga hingga... ah, terakhir kali ia mengatakan itu tumpukan kertas sampah tak
mampu kuhitung. Aku bosan dengan cerita wanita itu.
Oh,
aku mohon jangan menceritakan kisah kehidupannya dengan seorang lelaki sebab
aku takkan tahan. Namun, suatu saat
seorang lelaki dan wanita tengah berceloteh
tentang si Bibir Merah Berair. Mereka mengatakan bahwa wanita ini tengah
dilanda asmara. Asmara yang sekian lama dalam kehidupannya baru dirasakan
setelah menginjak masa matang sebagai seorang pekerja—setelah ia tamat kuliah,
ingin meniti karir—lantas ia meneruskan S2 di sebuah universitas ternama di ibu
kota. Syahdan, wanita ini mendapatkan kesempatan emas menjadi seorang dosen di
universitas tersebut berkat prestasinya yang gemilang. Ia semakin tak dapat
berkata-kata—menuturkan ungkapan bahagia atau justru sebaliknya. Kedua orang
tersebut terkadang menggelengkan kepala kala mengingat tingkah wanita ini dalam
setiap cerita-ceritanya. Cerita-cerita itu bahkan berpindah dari satu orang ke
satu orang yang lain.
Kini,
cerita itu berada di tangan salah seorang sahabat baiknya. Wanita yang juga
berprofesi sebagai dosen. Seorang sahabat yang lebih sering bercerita tentang
keunikan-keunikan tingkah kedua anaknya di rumah atau tentang gelagat mengesankan
dari sang suami saat pulang dari kantor. Ah, ia ingin mengganti ceritanya
dengan cerita sahabatnya, namun ia seperti tengah dihadiahkan pena yang khusus
untuk satu cerita saja. Terkadang, si Bibir Merah Berair mengutarakan padaku
bahwa benar! Ia bosan dengan semua ceritanya sendiri. Saat ia menceritakan
seorang lelaki dengan sahabatnya, ternyata sahabatnya telah mengetahui cerita
itu dari dua orang teman. Si Bibir Merah Berair merasa kesal sebab cerita itu
telah dicuri dari pemiliknya.
Ia
pernah pula bertengkar dengan ibunya demi membela cerita yang ia agung-agungkan
itu. Ia juga pernah terang-terangan mengungkapkan bahwa ceritanya lebih
berharga, namun ia tak berani meneruskan kepada ibunya bahwa sesungguhnya
cerita itu telah melebihi rasa cintanya kepada ibu. Sungguh! Ia sendiri tak mau
melakukan itu. Tak terbersit sedikitpun dalam hidupnya untuk menggantikan surga
yang berada di bawah kaki ibunya. Ia tahu, ia paham bahwa ibu takkan
tergantikan meskipun ia tengah tergila-gila dengan ceritanya sendiri.
Cerita-cerita
itu perlahan menjadi lembar kesaksian hidupnya yang kini menginjak usia 29
tahun. Beberapa hari yang lalu, ia diberi kejutan sebuah pesta kecil di villa
yang sengaja ia beli beberapa tahun terakhir ini. Tentu bukan saja untuk
menjadi tempat kecil baginya, juga mencari lembaran-lembaran yang
hilang—tentang kisah ibu, kakak, adik, anak, atau suami walaupun aku tahu ia
belum memiliki suami dan anak—meski itu masih dalam harapan besarnya. Selain
alasan tersebut, si Bibir Merah Berair bercerita dalam usianya yang merindukan
sosok lelaki—ia ucapkan itu dalam satu permintaan tertunda saat usia berencana
ini. Dan saat pesta kecil yang berlangsung di keluarganya itu selesai, ia
mengucapkan kembali permintaan itu dalam doa sebelum ia tertidur. Ia mencoba
khusyuk seperti selama ini ia berdoa agar mendapatkan karir cemerlang,
membelikan ibunya rumah, mendirikan villa untuk berkumpul bersama keluarga, dan
tentu saja agar ia bisa selalu melanjutkan ceritanya. Aku tak paham, tetap
tidak bisa benar-benar memahami mengapa ia punya keinginan melanjutkan cerita,
yang, menurutku, hanya untuk membuat batinnya jatuh pada kelemahan pribadi
semata. Namun, kali ini ia benar-benar ingin khusyuk dalam doanya.
“Amin.”
Serambi Kompak,
30 Okt 2012
Penulis adalah
guru di SMP Al-Azhar Medan

No comments:
Post a Comment