Saturday, September 10, 2011

Cerpen, Medan Bisnis, 24 Oktober 2010


MENYULAM RINDU PADA PARAS MALAM
Karya: Ria Ristiana Dewi
Kepada: Ayu dan Ali

Kini aku mulai takut pada kabutnya kata-katamu yang selintas menyapa kalbu. Seiring terik yang menyertai seperti itulah dirimu dan kini berbalas manisnya perpisahan. Belum pun aku menyulam mimpi pada paras malam ini, namun kau telah banyak mengenggam kepalsuan pertemuan kita. Di benak ini telah kusulam baik-baik senyummu untuk pertama kalinya yang aku temukan sejak saat itu. Saat seseorang yang diam-diam mencuri ketenanganku. Ia ambil hatiku dan ia kembalikan dalam keadaan tidak utuh. Kini kau datang membawa penawar. Aku bilang kau telah berhasil membuatkan penawar itu, namun kau sendiri tidak pernah yakin. Bagaimana bisa ini yang terjadi setelah sekian lama aku mendambakannya.
Mimpikah aku bertemu denganmu. Sekian kali aku merindukanmu sejak kau mengambil kelamku dan membuangnya jauh-jauh. Hmm...Aku harap tidak! Karena kau memang datang ke lamunan yang membelengguku.
Di teras berbatu orange, di depan bangunan tua tempat puluhan petarung menawar keahliannya menuliskan sebuah seni kaligrafi. Tepatnya saat mata kita bertemu dan untuk pertama kalinya kau membuatku tak menemukan cara memalingkan wajah. Diam-diam kau sudah berada di sampingku.
”Sendiri saja?” sambil menebar pesonamu yang melumpuhkanku sembari duduk pelan-pelan tanpa kuperintah.
”Kawannya mana?” Dan aku masih saja diam hingga kurun lima detik aku menyerah untuk tak bersuara
”Iya...tidak ada kawan,” sungguh singkat kupikir. Ah...menyesalnya.
”Ya sudah, sekarang abang kawanin boleh?” Lagi-lagi kau sambil tersenyum dan lagi-lagi melumpuhkan ketangguhanku.
”Abang sendiri kawannya mana?” Setelah tak adil rasanya jika tak berbalik bertanya.
”Hmm...kan adik kawan abang.”
Ha...ha...ha...rasanya aku ingin terbahak-bahak, tapi sengaja kujaga sedikit sikapku dan akhirnya kuputuskan hanya tersenyum sambil berkata ”Iya...ya!”
Kau lebih pintar dari yang kupikir beberapa menit yang lalu dan sejak itu aku mulai menyandang status pengagummu. Dan itulah kenapa aku menuntaskannya dengan memberikan nomor HPku.
***
Pada langit malam di bulan purnama kali ini, Handphoneku terus menyentak lamunan dan membawa tawamu dalam hari-hariku di sorotan cahaya sekuntum kerinduan. Malam pun kembali berbinar. Dari luar kamar aku berlari kecil, hampir menggugah perhatian ibu di ruang TV dan diam-diam melemparkan sebagian tubuhku ke ranjang sambil menangkap Handphone. Kulihat  nama yang tertera di layarnya dan senyumku hadir.
”Hallo...Assalamualaikum.”
”Walaikumsalam. Apa kabar, Dik?” Ah...lagi-lagi suara merdunya menghanyutkan kesunyian malam itu.
Dan ini yang ketiga kalinya kau menggugahku lewat dering Handphone dan untuk yang kedua kalinya kau meminta pertemuan dan kupenuhi dengan perasaan lega.
”Oke...kita bertemu di kampus saja besok, di fakultas abang ya...!”
Hmm...indahnya. Barangkali aku takkan sabar menunggu hari itu. Dan sejak pertemuan itu kau sudah benar-benar mengubah status pengagum pada diriku menjadi rumit. Loh...aku jadi teringat status Facebookku yang akhir-akhir ini rumit, tepatnya dari status lajang aku ubah berpacaran dan sejak banyak yang bertanya, aku ubah menjadi lajang lagi dan saat ini jika ada kau disampingku ingin kuubah menjadi bertunangan agar benar-benar tak ada yang mengganggu diriku dan dirimu.
***
Pagi ini aku repotkan diriku dengan memilih baju yang mana kira-kira tidak merusak pemandanganmu nanti. Ha...ha... lucunya aku. Sudah lama sekali tidak menunjukkan sikap konyol ini. Hingga mendesak melebarkan waktu dan aku menduga akan terlambat beberapa menit.  
Yah...siap. Kukeluarkan sepeda motor dan segera berangkat ke kampus, ke fakultas tepatnya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Tentu tak jauh dari Fakultasku, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).
Sampai di FMIPA, Hpku berdering.
”Sudah dimana, Dik?”
”Di fakultas abang.”
”Dik, abang perginya sama teman ya...”
”Oh...sama siapa? Soalnya adik sendirian.”
”Gak apa kok, kasihan kalau dia ditinggal sendirian.”
Hmm...aku tak mampu menolak. Dan kupikir tak perlu canggung jika ada orang lain nantinya. Sejenak aku menyesal tak mengajak salah satu teman juga. Kupikir aku akan cukup berani sendirian karena biasanya mengajak salah satu teman.
Dari kejauhan aku memandangnya mendekat dengan mengendarai sepeda motornya. Dan yang kulihat pertama kali tentu senyumannya yang membuat kerinduanku terbayar tuntas.
”Maap ya...abang lama. Oh...ya, ini teman abang,” menggeser sedikit tubuh dan menampakkan sesosok yang membuat dadaku sesak seketika dan ini benar-benar mengganggu pikiranku.
”Hallo....”
Mataku terus memandang sosok itu dan ia juga memandangku dengan tatapan yang lekat. Ia...laki-laki yang telah lama tak kuingat karena ia adalah orang yang aku tolak cintanya hingga membuat kebencian timbul dan aku tak mampu memenuhi perasaannya. Bagaimana pun ia mencoba mengubah perasaanku padanya, tetap saja aku tak bisa memberikan mimpi yang indah itu.
”Hallo...apa kabarnya bang?”
Sekilas kau tak percaya dan mungkin sudah menduga bahwa kami sudah saling kenal sebelumnya. Sejak pertemuan ini kenapa kau mulai berpaling menyulam rindu seperti saat aku menebar tawa pada tiap dering HP yang hadir di kala malam. Dan aku menunggu suaramu menghiasi malam-malamku, namun tak terjadi lagi seperti pertama kali. Dari petikan malam pula aku merubah kenangan senyummu pada selembar kertas dan aku tuliskan puisi kerinduan untukmu.
Bila kau dengar desau angin diantara rimbun daun subuh
Ketika itu belaian embun rintik di tiap lembarnya, melewati tulang-tulang daun di kedua sisi yang basah
Serupa engkau yang kerap melintas di angan, mendekap dengan daun rindumu yang rambat
Kuceritakan saja tentang kesetiaan embun
Yang saban pagi tak alpa menembang lewat lembut dingin kabut
Seperti aku yang menyapamu lewat doa, yang Tuhan mendengarnya meski engkau tidak
Biarlah…(*)
            Apa yang dapat kuperbuat tanpa kau sendiri yang menyadari bahwa aku merasakan apa yang kau rasakan saat ini. Ingin rasanya aku berteriak di dekatmu dan mengatakan dengan penuh keyakinan jangan lagi kau pergi dari kehidupanku. Namun jelas sudah kau menelponku kemarin malam mengatakan bahwa kau tak ingin mengganguku, mengganggu orang yang sudah menjadi sasaran sebuah rasa dari temannya sendiri. Dan aku sudah mengira bahwa kau akan melakukan ini. Tapi kenapa begini?
***
            Sudah kuputuskan sejak kau memutuskan sendiri, aku takkan mengganggu kehidupanmu lagi dan takkan menginjakkan mimpi yang takkan pernah terjadi. Sudah kuyakinkan lewat tembang waktu yang memuncak dan lewat decit kaki yang terus melangkah jauh dari bayang-bayang pertemuan itu. Dan lewat manisnya hatiku yang tertuang lewat puisi itu. Puisi yang kemarin malam aku sampaikan lewat Handphone dan aku harap kau memahami, namun kuputuskan takkan menyinggung masalah kerinduan lagi dan takkan kutarik keyakinanku untuk menyimpanmu hanya dalam pertemuan manis masa lalu.
            Namun, tidak denganmu. Malam yang lain kau menggurau ingatanmu tentangku dan mulai mengusik relungku. Saat itu kau menelponku dan dengan singkatnya berkata
            ”Dik, abang sudah di depan rumah, bisakah keluar?”
            Tentu saja cahaya bulan purnama menutup kisah kita dan kau diam-diam mengintip cerah wajahku dengan terajut bingung sekaligus bimbang.
            ”Kenapa abang datang tiba-tiba?”
            ”Sebenarnya abang mau bilang sesuatu dan abang tidak sanggup mengatakannya.”
            ”Apa itu?”
            Kau hanya menyodorkan secarik kertas padaku dengan gemetar yang aku raba dari sorotan matamu. Dari kertas itu aku membaca sebuah kalimat ”Maukah adik jadi sandaran hati abang mulai saat ini?”
            Kira-kira aku hanya menjawab dengan senyum lalu kau menambahkan lagi lewat secarik kertas lain ”Dik, tapi abang hanya takut kau tak dapat menunggu abang karena besok abang akan pergi ke luar kota sebagai tugas kiriman dari kampus dan saat itu abang janji akan mengusik dering Handphonemu dan akan memenuhi rindumu lewat paras malam.”
            Anehnya saat itu, saat dua insan bertatap muka namun hanya dipenuhi dengan sederet kertas dan sesekali dengan senyuman di bawah terik malam.

Serambi KOMPAK, 26-27 Juni 2010

(*) Mengutip Puisi Wahyu Wiji Astuti

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...