Munasadat yang Terbuang
Pemisalan pergi ke surau
menindih rasa di awang ayat-ayat yang terlantun
tertindih merintih kan berteriak kata rindu
tak terporsi waktu terjalani
tetap tergawang sayang di ubun-ubun
falsku hembuskan angin yang terbawa
diterpa bersama angan janji
kini tak berbekas hingga memori terakhir
23 Mei 2010
Kupinjam Jantungmu
Bila jantungmu di selaput telingaku
bisakah kencangkan perdetaknya
akan teralunkan pelan ucapanku...
dari saraf-saraf telinga itu
jantungmu bergetar di bibirku
lidahku bergelut menjadikan sekata tak mampu terucap
ku hanya ingin kau letakkan lagi di amandelku perdetaknya
bisakah lebih cepat beralun cerita
aku bilang aku bisu
mengisyaratkan kata-katapun tersangkut rangka batang jantungmu
kuhanya ingin sekata sehidup merasa kasih padamu
kau bisa beralun ke peraduan para hati yang menanti
ingatlah!
kupinjam hanya sejantungmu saja
Syair Bergurau
Pada jalan yang mengecoh suratan kasih
salahmu menjadi koma
benarku menjadi koma
kita benar-benar berada pada air menggelimang di daun talas
pintaku hanya rindu hangat-hangat seperti saat kau menggumpal syair
syair-syair pengintai langit luluhku
pada pertama kali nadaku dan nadamu bertemu pada baris kata-kata
nada-nada yang kau guraukan
dan nada-nada yang ku pinggirkan
sungguh aku mega penurut rindu
jadi, biar syair itu jauh secara pasti
tak ingin hanya menyebar omong-omong
bila nanti sebait nada menjawab syair bergurau
Mengartikan Bening Mata
Menelantarkan kilas linangan air matamu
menggugah sandiwara perih
melihat betapa bening matamu
coba ungkapkan keluh yang beringsut di sudut kornea
Biru di sorot lampu gulita,
merah dibuat gores suram yang menyempit
menutup tangis-tangis suri bergurat tak henti-henti
tak terduga
bening matamu sungguh mengikis angkuhku,
mengingat kata-kata ”Terus niatkan tanpa mengukuh serah takdir”
ada jalan yang tersirat saat kedipanmu menguat
bening matamu berarti ada jalan pelan-pelan di penghujung suram
pasti merujuk manis arti panah air mata
Kisah Embun Menebas Sesal
Embun.
beriringan bertukar kisah
dan embun kembali mengadu sunyi
berbagi pagi dengan linangan air di sudut ranting
Kembali embun
sembari melingkarkan arah peringai
air yang berlinang
saat pagi tak berbicara lembut sambil menebas
sesal tiada tara
23 Mei 2010
No comments:
Post a Comment