Ide, Mengawali Proses Kreatif Penulis
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Saat saya bertanya kepada beberapa orang penulis muda mengenai kondisi apa yang paling memungkinkan bagi mereka untuk mendapatkan ide, ternyata memiliki jawaban yang beragam. Lalu bila kita membicarakan masalah ide sendiri memang tak lepas dari proses kreatif seseorang terutama bagi seorang penulis. Dan inipula yang terjadi pada beberapa sastrawan kita. Menulis ibarat mencelupkan ide sebagai bahan terbentuknya sebuah karya. Lalu seperti apa keluaran dari hasil pencelupan ide?
Ide sebagai bahan tulisan ternyata awal sebuah proses kreatif yang dapat diperoleh secara beragam. Kelahiran ide sebagai proses kreatif ini sebenarnya mendapat tempat utama yaitu adanya situasi yang menjadikan kita berpendapat atas sesuatu hal kemudian menjadi gagasan. Gagasan inilah merupakan ide yang kemudian disalurkan dalam bentuk tulisan dan tulisan ini tentunya memerlukan editing sehingga hasilnya memuaskan. Jadi, seperti apa proses lengkapnya?
Tahapan Proses Kreatif dalam Menulis
Williem Miller dalam kutipan Jakob Sumarjo memaparkan bahwa berdasarkan berbagai pengalaman penulis terkenal, proses kreatif seorang penulis mengalami beberapa tahap. Pada dasarnya terdapat empat tahap proses kreatif menulis.
Pertama, adalah tahap persiapan. Tahapan ini adalah gagasan yang pertama kali mulai dipikirkan oleh seorang penulis dan akan siap untuk kemudian dikembangkan. Kedua, tahap inkubasi. Tahap ini akan menyimpan gagasan tadi dan dipikirkannya matang-matang. Proses ini dinamakan pula pengendapan yang nantinya akan terus dipikirkan oleh penulis untuk kemudian dimatangkan gagasan itu. Ketiga, saat inspirasi. Tahapan inilah tahap yang menggelisahkan. Saat ini gagasan ingin dilahirkan dan dimantapkan di mesin tulis sehingga kehadirannya harus disambut sesegera mungkin jika tidak ingin hilang begitu saja. Keempat, tahap penulisan. Saat ini dianjurkan membuka kran jiwa sebesar-besarnya. Jangan tunda lagi. Lakukan itu baik dalam bentuk catatan kecil maupun langsung mengetiknya di komputer. Tetapi ini masih sebuah tulisan kasar yang belum bisa final. Maka akan ada tahap akhir yaitu tahap revisi. Pada tahap inilah tulisan benar-benar dibaca kembali. Setelah menjadi sebuah tulisan pada tahap keempat dan diendapkan lagi beberapa waktu barulah dilakukan tahap revisi ini. Yang melakukan revisi bisa saja diri sendiri dan bisa pula orang lain.
Sastrawan Mengawalinya dengan Ide
Beberapa sastrawan yang juga membeberkan pengalamannya mengenai hal ini tertuang dalam buku Siswanto Wahyudi (2008: 24) yaitu: Arswendo Atmowiloto suka berpetualang untuk mendapatkan ide; A. A. Navis banyak membaca buku atau karya sastra lain, melihat film, mendengar cerita, atau mengamati tingkah laku orang di sekelilingnya; N. H. Dini tidak mau diganggu kesibukan-kesibukan sehari-hari hingga ia meminta izin keluarganya untuk menyendiri; Budi Darma bisa menulis dalam keadaan yang enak untuk menulis; Abdul Hadi W. M. lebih suka mengarang pada saat hujan atau di tepi kolam.
Beberapa contoh di atas adalah sastrawan yang banyak kita kenal. Lalu bagaimana dengan proses kelahiran ide dari penulis muda Sumatera Utara?
Sebenarnya, penulis muda Sumatera Utara yang kebanyakan menulis puisi, cerpen, dan artikel ini memiliki pengalaman yang serupa dengan beberapa sastrawan yang dipaparkan di atas. Melalui SMS, penulis muda mengutarakannya pada saya, yaitu: Ari Azhari Nasution melahirkan ide tergantung mood atau suasana hatinya; Winda Prihartini yang gemar menulis puisi ini lebih suka menyendiri saat menelurkan ide; Sartika Sari lebih suka mencarinya daripada menunggu suasana dan akan menuliskannya bila dalam kondisi sendirian bila memungkinkan; Febri Mira Rizki mengungkapkan itu tergantung suasana hati sehingga biasanya ia menyiapkan note kecil yang dibawanya untuk menuliskan ide yang tiba-tiba saja muncul, namun tidak menutup kemungkinan dalam kondisi menyendiri kualitas karya akan lebih baik; Zuliana Ibrahim lebih menyukai pula suasana keramaian yang kerap memunculkan beragam inspirasi; begitupula Ulfa Zaini yang juga menyukai keramaian.
Namun sesungguhnya berhubungan dengan hal ini, Koentjaraningrat dalam Siswanto (2008: 25) menjelaskan ada tujuh macam dorongan menjadi penulis yaitu: untuk mempertahankan hidup, seksual, untuk mencari makan, untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia, untuk meniru tingkah laku sesamanya, untuk berbakti, dan keindahan. Apapula hubungannya dengan ide menulis tadi?
Ketujuh dorongan itu sebenarnya merupakan unsur yang mengikat dan benar adanya dalam jati diri setiap penulis. Namun itu tergantung berapa besar pengaruh dari masing-masingnya. Misalnya saja Ari Azhari Nasution dan Febri Mira Rizki yang mengatakan bahwa ide menulis timbul berdasarkan suasana hati artinya menulis bukan sesuatu yang dipaksa dan prosesnya juga lahir dengan alami. Hal ini sejalan dengan lima tahapan proses kreatif menulis yang terjalin dengan banyak pertimbangan atau kehati-hatian serta mementingkan kualitas yang benar, jujur.
Ketujuh dorongan itupula yang turut mempengaruhi suasana hati. Bila saya melihat hal ini sejalan. Pertama, untuk mempertahankan hidup berarti kita ingin benar-benar menjadi hidup dan berguna, maka menulislah. Contohnya puisi-puisi yang mengkritik sesuatu hal tentu saja bertujuan untuk mempertahankan opini si penulis. Ini alasan yang tidak salah. Kedua, berdasarkan seksual. Tentu saja kisah percintaan begitu sederhana untuk kita kenali sebagai dorongan seksual kita dalam membuahkan pikiran, perasaan lalu menuliskannya. Atau bisa pula akibat keinginan menunjukkan rasa cinta pada pasangan dan membuatnya menuliskan puisi atau cerpen. Hal ini juga sudah tidak asing lagi. Bahkan tidak sedikit penulis yang meletakkan nama orang yang ditujunya dalam puisi atau cerpen baik yang telah terbit di media massa ataupun belum.
Ketiga, mencari makan biasanya akibat tuntutan ekonomi dan kebetulan mampu menulis. Hal ini walaupun banyak yang beranggapan tidak dapat dikatakan penulis sejati, namun keberadaannya tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi banyak pula yang tadinya menulis demi uang akhirnya menjadi terbiasa dan jatuh hati bahkan lupa akan tujuan awal. Ia begitu menikmatinya. Keempat, untuk bergaul juga sudah tidak asing lagi. Bahkan beberapa penulis muda yang saya sebutkan di atas juga berkenalan dalam dunia kepenulisan. Kelima, untuk meniru atau biasanya ada yang ia kagumi dari seorang penulis dan ini sering terjadi antara kawan dengan kawan. Keenam, untuk berbakti bisa saja berbakti pada dunia kepenulisan ataupun akibat perjanjian di masa dahulu untuk tetap menulis. Ketujuh, demi keindahan dari kegiatan menulis itu sendiri. Demi menunjukkan adanya ruang seni yang pantasnya ditampilkan dalam sebuah karya tulisan seperti halnya keindahan dunia sastra.
Maka, doronglah diri anda dengan dasar apapun, namun temukan jati diri seorang penulis. Buatlah ia menjadi alasan yang melahirkan ide-ide kuat dan terbaik.
Serambi KOMPAK, 2 September 2011.
No comments:
Post a Comment