Ria Ristiana Dewi
Mula-mula angin berdesir hingga lekat pada nafas
Turut mengangini ladang-ladang cemas nan deru teriakan
Yang senyap oleh paras cuaca mulai pucat, pekat
Kaukah senyum yang terukir di balik langit hari ini
Jiwa-jiwa melayang pilu akibat cahaya terlampau malas
Ketika bayang awan lintas bergumul-gumul, dirimu…
Terus saja terbawa oleh kencangnya angin
Padahal aku masih terpatung menatap putih di angkasa itu
Serambi KOMPAK, Februari 2011
TELAH SABIT RUPAWANMU
Ria Ristiana Dewi
Terlintas bintang melengkung serupa wajah anggun itu
Perlahan hanya garis setengah di langit
Telah tak sempurna dibuatkan jalan malam ini
Paras tersangkut di lampu-lampu menyoroti,
Di antara dua pohon gagah berani mengawal sejuta sinar
Mari simpulkan segala siluet cerita bintang dan rembulan
Terukir di alun-alun angkasa hitam, sangkut bak cahaya tangung
Bukanlah ini rupa berkawan sinar,
Karena cahaya detik-detik itu mulai pudar
Dagumu melengkung tak sempurna di bayangku yang terkini
Serambi KOMPAK, Februari 2011
MENATAP CAHAYA MUHAMMAD
Ria Ristiana Dewi
Terlahir wajah bercahaya di tengah padang kering
Pula kerontang dari kasih dan sayang dunia
Yang kini mulai menghitung jari seperti akan musnah
Seperti tinggal debu atau asap yang mudah di benam
Cahaya Muhammad seperti memancar pasti
Memberi sinar keindahan di garis-garis hidup
Dan para debu serta asap kan beralir menuju ujung garisnya
Tak pernah hilang walau air berusaha menghanguskan segala
Menyiram bara kebaikan-kebaikan itu,
Muhammad… Muhammad… Muhammad….
Serambi KOMPAK, Februari 2011
CERITA CAHAYA KESEJUKAN
Ria Ristiana Dewi
Bila langit membongkah sengat cahaya resah
Ceruk kebohongan menebar, menjauh, dan berpindah-pindah
Lautan debur gelisah di antara dua ombak berpasangan
Menemukan relung jiwa berdetak lemah
Di situlah gerimis menawar kesejukan,
di batin ilmu, di suatu jarak waktu matahari
perlahan menawar damai, kediaman aman bagi pejuang fajar
lambat laun penyakit sakit membara kan redup
Serambi KOMPAK, Februari 2011
No comments:
Post a Comment