Saturday, September 10, 2011

Cerpen Juara I di Ultah Teater LKK 2011

BORUGO
Oleh : Ria Ristiana Dewi

Turatung masih sibuk dengan urusan ritual.  Di sekitar perumahan warga para inang menggagahkan boneka kesayangannya. Ruang udara kental dengan iringan musik. Janjimi do na huingot ito hasian. Jala hatami do na sai mian di rohakku. Didok ho tu au tung na so jadi sirang so sinirang ni hamatean. Didok ho tu au tung na so jadi sirang so sinirang ni hamatean. Dialah Opu Joy dengan santainya memamerkan merdu. Sementara selang detik dalam keasyikkan, nadanya tertekan spontan mendengar suara lain dari luar.
“Ini terdengar membosankan,” kata Opu Joy yang mulai gerah dengan suara itu. Sementara masih di sekujur jalan perumahan sederhana itulah suara yang menghentikan Opu Joy bersahut dengan tekanan nada yang kian menantang.
 “Aku yakin ini ulah Boru Ganjang. Siapa lagi berani meletakkan ayam berdarah di depan rumah kalau bukan si Ganjang kurang se-ons. Dasar anak Begu!” Lantang suara Boru Jago yang memaksa para wajah mencari-cari asal perseteruan seorang itu. Sebagian lagi tak tertarik karena ini tak asing lagi sampai di daun telinga mereka. Tapi, Boru Jago semakin bergema hebat, parang diacungkannya ke udara. Ternyata ia masih belum menyerah. Pun Opu Joy mendongak dari balik samping rumah Boru Ganjang.
“Liat saja, kalau sampai ketahuan kau kotori rumahku, kubakar rumahmu, Ganjang!” katanya sudah sampai di depan rumah Boru Ganjang yang hanya terpaut beberapa langkah dari rumahnya. Boru Jago masih seperti gosokan disertai wajah seakan mencium aroma nanah. Geram menyelimuti hatinya, sudah lama ia menanti untuk bisa sekadar bertempur di tanah ini, Turatung yang penuh medan tempur. Begitulah ia menyebut tanahnya.
“Ha… Jago, jangan teriak terus, Kau! Cucuku mau tidur. Kalau Kau mencari si Ganjang, lagi pergi dia tadi kulihat,” sambar Opu Joy dari rumah sebelah Boru Ganjang.
“Joy, bagaimana bisa Kau tenang setiap hari bau busuk masuk ke rumahmu?” tantang Jago lagi dengan mengibas-ibaskan parang lurus dengan wajah Opu Joy.
Opu Joy hanya menggeleng-geleng kepala mendengar ucapan Jago lalu ia terpaksa keluar pagar dan menghadap Boru Jago. Sementara Jago bersiap melawan serangan Opu Joy. Ia merasa begitu yakin akan memenangkan pertempuran ini. Satu lawan satu yang lebih baik daripada satu lawan dua.  
“Apa? Kau mau bacok aku sekarang Jago? Bacoklah kalau mau kau mati perlahan di penjara,” Opu Joy mendongak seperti zebra sedang memanjangkan lehernya dan siap menghadap lawan.
Si Jago terpana melihat Opu Joy. Walaupun kenyataannya parang ada di tangannya, namun nyalinya tak setajam itu. Ia hanya melotot sejadi-jadinya berharap Opu Joy berputar haluan. Seperti biasa, Jago yang justru memutar haluannya. Ia rapatkan barisan dan berjalan dengan umpatan menjadi tanpa terdengar. Di baliknya Opu Joy petantang petenteng paten, menang adu. Opu Joy terbiasa menghadapi ini bahkan lebih dari Boru Ganjang. Walaupun terlihat sudah banyak garis melipat kulitnya, ia tetap menampakkan kekar. Sambil berjalan ke dalam rumah, Opu Joy kali ini terlihat dengan senyum setelah tatapannya berada di seberang rumah.
Boru Jago akhir-akhir ini semakin khawatir dengan tingkah Boru Ganjang. Kemarin saja ada kucing mati di dalam kamar mandinya. Spontan anaknya menjerit-jerit dan suaminya mengajak pindah. Belum lagi ada belatung dengan jumlah bertambah perlahan di dalam kamarnya. Tidur pun sudah tak seperti berada di rumah sendiri. Seakan kediamannya adalah kuburan.
Awalnya ia berpikir keras harus pindah ke mana? Ah… pula untuk apa ia menyerah dan mengaku kalah lebih awal. Ia harus membuktikan Boru Ganjang pasti memelihara begu ganjang di rumahnya. Pantas saja namanya Ganjang, sepertinya julukan ganjang dari warga memang pas diberikan padanya.
 Pernah satu malam. Jago mengintip dengan enggan dari dalam jendela rumahnya. Sekelebat bayangan itu melintas. Ini sebuah ancaman bagi warga setempat. Warga mulai resah. Terlihat Boru Jago yang paling cemas sebab ancaman itu sering dirasa menimpa keluarganya. Warga pun awalnya khawatir dengan hal ini, namun mereka enggan harus berurusan dengan begu. Boru Jago pun menyakinkan bahwa ancaman harus ditindas. Dengan mudahnya warga mulai percaya dan berkeinginan mencari tahu ancaman itu.
Boru Jago memang terkenal suka menunjukkan kejagoannya. Nafsunya tak lain adalah menduduki kursi nomor satu di kecamatan. Banyak yang mengakuinya selalu membuat kejutan. Misalnya saja Boru Jago pernah memberendeng gerombolan remaja pembuat onar. Kerap sekali membuat resah warga pun menjadi ancaman keamanan di wilayah ini. Pernah pula ia membongkar sindikat pekerja seks komersial di pinggiran kecamatan dan terakhir ia berhasil membongkar tindak korupsi kelurahan beserta kecamatan di tanahnya. Bukan kepalang senangnya warga dengan prestasi cemerlang Boru Jago yang terkenal hanya tukang ngerumpi itu hingga akhirnya ia dinaikkan sebagai kepling di sekitar jalan rumahnya.
Itu masih belum lagi ditambah dengan ikut campurnya dalam urusan-urusan pribadi warga setempat. Ia paling suka ikut sekadar nimbrung. Setidaknya buah dari hasil sikat sana-sini adalah jabatan penting di Turatung. Ah… mulai liarlah pikiran Boru Jago. Bisanya mulai berbisa, lagaknya merambat di daun lebat mencari sela bagi yang lupa perihal rerumputan. Tak ada yang tahu apa yang bersembunyi di balik rawa-rawa sebab mereka enggan terkena duri di dalamnya. Jadi, Boru Jagolah otak dari kepala-kepala itu. Otaknya sungguh merayap dalam semak kian memacu jagat yang ditinggal penghuninya.
Masalah begu sendiri bukan barang baru. Sejak jaman sebelum kelahiran Boru Ganjang pun, begu sudah batang tak langka. Di mana-mana ada saja tindak tanduk ritual sekadar menumbal darah, uang bak jatuh segepok dari langit cerah. Bah! Benar-benar gelagat di luar akal sehat. Sebelum kelahiran Boru Ganjang, sudah ada ayahnya yang merubuhkan tiang, sebelum kelahiran Boru Jago juga tampak kakeknya merobek sejarah dan sejak Opu Joy berkiprah dalam ruang suara, maka benih-benih ritual perlahan tinggal bayang-bayang.
Namun, ini masanya Boru Jago. Ia ingin membuktikan darahnya adalah darah biru suatu saat nanti. Adalah ia yang menjadi kepala segala kepala-kepala di tanahnya. Sedikit langkah lagi yang perlu baginya demi menduduki posisi nomor satu di kelurahan. Seperti rencana semula pun di kecamatan kelak. Dan keturunannya adalah tujuh darah biru seperti cita-citanya selama ini. Di dalam kamar mungil, dengan pakaian yang berarakan masih tergeletak pasrah di sana-sini Boru Jago mulai menjinjing rencana itu. Ia sedang membenarkan ambisinya. Ya… ya… ya…. Begitulah biji hitam pada matanya bermain lurus dengan seuatu yang dianggap dinding. Tengah asyik ia tersenyum pada dunia lain di bawah kesadaran, suaminya diam-diam telah duduk manis di pinggir ranjang sambil memiringkan kepala melihat istrinya tengah bergumam nafsu pada cermin.
Tak lama Boru Jago membalikkan wajahnya dari hipnotis tuan cermin. dan ia masih tak mampu mengingat situasi.
“Bah! Sudah lama Abang?” jerit kecilnya dengan begitu manis sambil tersenyum dingin.
“Sedang apa Kau? Lama-lama ngeri aku liat!” tanya suaminya masih dengan kepala miring. Dan sorotan mengerikan dilayangkan kepada Boru Jago.
“Ah… Sudahlah!” jawab Boru Jago dengan suara terhempas angin akibat gerakan tak sabar keluar dari kamar. Di luar ia masih tersenyum sinis. Dasar! Laki-laki rumahan. Katanya bergumam dalam hati sejenak kemudian. Tapi, ia enggan harus bertengkar. Itulah kelebihan Boru Jago, ia masih mampu membenam geramnya di hadapan suami. Sebagai tindak-tanduk caranya mendapat dukungan dari keluarga. Jeli ia memasang aba-aba sekadar mencari situasi aman dan siapapun tidak ada yang curiga. Lagi pula ia melakukannya tidak lain dan bukan adalah demi suami dan anak-anaknya. Demi menuruti kepalanya yang kian mendongak sering  dikatakannya, “Akulah wanita terkini, benar-benar Kartini dari Turatung!”
Sembari memungut sinar, ia menghembuskan napas bersatu pada siang. Hah, matahari tersimpul senang di atas sana. Namun, siang itu justru menampar-nampar pipinya, mencederainya bahkan telah mempermalukannya habis-habisan. Bagaimana tidak? Seharusnya jam segini ia sudah selangkah lebih maju ke rumah Pak Lurah sekadar numpang nimbrung, mencari wadah emas. Ah… di sana ia bisa sok sibuk membantu kantor dan mencari wajahnya yang tersangkut di lampu neon. Ia belagak cahaya di malam hari dan setiba dibutuhkan ia menjadi penerang paling dipuja sekali itu.
“Oi… sudah siangkah ini?” jeritnya terdengar hingga sampai ke telinga suaminya yang masih berada pada paku pinggir ranjang.
“Ada apa?” suaminya bertanya sambil mendongak heran.
“Ah… gak kau ingatkan aku, tahe?” bentak Boru Jago menggeretakkan bibirnya dan giginya saling beradu. Garang!
 “Manalah kutahu. Kaunya kulihat berkhayal tadi,” sentak suaminya tanpa memperdulikan lagi dan memilih masuk ke kamar lantas memejam mata. Seperti biasa.
“Begu!” kata Boru Jago geram. Dan ia tak perduli. Ia langsung saja sok sibuk cepat ke rumah Pak Lurah. Mungkin Bu Lurah sedang masak, butuh bantuan. Atau Pak Lurah sibuk membuat acara tambahan bulan ini. Dalam hatinya, pasti di sanalah tempatnya meletakkan wajah. Ya… ya….
***
            Di bukit paling aduhai. Konon pilihan pas bagi perangkat lurah tengger menyoroti sekitar lurah. Masih sibuk dengan urusan para pejabat itulah, tampak Boru Ganjang dan Opu Joy menempati lurah lebih awal. Sontak Boru Jago membelalakkan mata dan tak percaya apa yang dilihatnya. Bukan pemandangan yang ia harapkan. Ataupun inilah sesuatu yang tak pernah ia harapkan sampai kapanpun.
            “Inang! Begu!” katanya masih di depan kantor lurah yang berada pas di samping rumah Pak Lurah.
            “Tidak usah heran Jago. Masuklah… tak kularang kau numpang ngerumpi!” kata Boru Ganjang dengan tegak berdiri dan menampakkan baju barunya, baju dinas orang nomor satu di kelurahan.
            “Ganjang, menurutku, kepling di sekitar wilayah kita ini harus banyak yang diganti. Toh, hasil kerjanya sudah kurang memuaskan,” sambar Opu Joy berbicara kepada Boru Ganjang. Mereka menunjukkan partner yang menusuk-nusuk di dada Boru Jago. Sesaat menyerang seperti tersengat darah tinggi.   
            “Ah… apa hebatnya lurah!” kata Boru Jago memendam malunya. Dan ia langsung beranjak cepat menyembunyikan wajah. Tak jadi ia memamerkan gigi seperti rencana semula. Kecewa terpatri di angannya. Tapi, bukan si Jago jika tak mampu bertempur di tanah Turatung ini.
            “Kubuktikan kalau Turatung adalah tanahku. Akulah satu-satunya calon orang nomor satu di Turatung,” batinnya masih berkata-kata seiring perjalanannya menuju rumah. Sepanjang itu ia mulai merencakan langkah. Sekitar warung-warung tua sepanjang pinggiran kota Turatung itulah ia bercampur dalam wadah asap. Kopi teman baiknya. Sejenak ia tak perduli, walau rahim di dalam perutnya menjerit. Ia tetap nihil. Sejenak kemudian, ia sudah sumringah. Seakan baru mendapatkan emas terjatuh dari langit.
***
            Malam inilah rencananya. Para begu liar di pikirannya. Gagak terpaut sejengkal dan bersahut-sahutan. Burung hantu mencemarkan suara jangkrik. Mereka saling beradu merdu. Sedangkan di bawah mereka, terlihat seseorang memakai pakaian setengah dada seperti sarung di gulung sekujur tubuh. Ia bernyanyi seirama suara penghuni malam. Merdunya tak kalah saling bersahutan. Penuh daya khas, Turatung semakin gencar. Ya… ritual itu mulai berkumandang. Opu Joylah ia, parasnya tertelan malam, namun suaranya memekak telinga. Ia dianugerahkan suara paling merdu di Turatung dan memang kelihaiannya bernyanyi sudah tak kalah dengan kandidat Indonesian Idol, Joy Tobing. Ia menunggu.
            “Kau pemandu ritual yang baik, Joy!” kata orang itu dari balik semak daun pepohonan. Lalu Opu Joy mangguk-mangguk menyahut. Entah terlihat atau tidak. Yang pasti mereka hanya memanfaatkan sinar bulan. Bahkan itupun tertutup gagahnya dahan pohon jati. Masih di situlah, Opu Joy menggoyang-goyangkan bonekanya.
            Sementara Boru Jago masih menelusuri malam. Ia merasa inilah waktunya. Saat yang ditunggu itu tiba. Ia akan menangkap Opu Joy dan Boru Ganjang. Ia telah membayangkan wajah mereka berdua yang melarat pada kemenangan Boru Jago.
            “Jago, jangan mengada-ada! Mana? Kau bilang si Ganjang dan Joy sedang ritual begu ganjang!” tanya salah seorang pengawalnya yang tak lain warga yang suka nongkrong sekitar warung.
            “Tenang!” tegas Boru Jago menyakinkan.
            Tak lama memang itulah yang mereka cari. Mereka melihat Opu Joy dan Boru Ganjang sedang menari-nari. Dan Boru Jago mengelus dadanya. Lega….
            Sinar menyelimuti dari senter warga. Dengan masa puluhan orang dan berjarak dekat dengan mangsa. Tapi, mereka hanya saling memandang tak percaya. Ada suami Boru Jago di situ. Tidak! Tidak hanya itu! ada pula beberapa pemuda setempat yang sedang memegang alat musik baattak. Di sana ada gondang, suling, terompet. Entah apa yang mereka lakukan.
            “Hai… apa ini?” kata Boru Jago membelalakkan matanya terutama pada suaminya sendiri.
            “Ja… ja… go!” kata suaminya tergagap.
            “Ha! Begini Jago, suamimu ini penggemar Tor-Tor. Tak kau larang ia bermain musik, kan! Ganas kau Jago!” suara Opu Joy datar nan merdu melayang di kuping Boru Jago.
            “Ah… malu aku, malu!” sanggahnya seraya meremat rambut sendiri.
            “Kurasa, kau terlalu keras dengannya. Begini, besok ada pertunjukkan di kelurahan. Dan Boru Ganjang selaku Lurah meminta aku sebagai pemilik sanggar menari dan menyanyi baattak mempersembahkan Tor-Tor. Dan Toh suamimu berbakat, namun enggan ditilik olehmu, maka ia meminta kami memakai tempat ini sebagai tempat berlatih. Lagi pula, tempat ini pas tuk menjiwai pertunjukkan nanti. Hahaha…” tawa Opu Joy membuat hati Boru Jago berkeping-keping. Pecah.
            Sambil dengan wajah mendungnya. Boru jago menatap kejam sekeliling mereka. Dan ia pergi sambil mengumpat geram.
            “Awas…” katanya masih dengan nada tak puas meninggalkan lokasi. Hingga ia tak sadar lagi dalam umpatan itu justru di depannya ia telah menemukan sosok hitam tinggi, semakin tinggi, dan semakin lagi. Spontan saja amandelnya tercekak kaku. Tak mampu berkecimpung dalam pelarian.
            “Benar aku, kan!” katanya, namun diam.
Serambi KOMPAK  dalam April, diperbaiki Agustus, 2011.

NB:
v  Inang : ibu
v   Begu : Hantu
v  Janjimi do na huingot ito hasian. Jala hatami do na sai mian di rohakku. Didok ho tu au tung na so jadi sirang so sinirang ni hamatean. Didok ho tu au tung na so jadi sirang so sinirang ni hamatean (lirik lagu Pernados Trio berjudul “Kado Biru Hotel Sentosa”)

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...