Usfuriyah
Kelabu bintang layang-layang
Membawaku turut dibuai bayang
Insan tercinta dari keterangan malam
Hanyut bersama lahiriah kasih sayang
Membawaku turut dibuai bayang
Insan tercinta dari keterangan malam
Hanyut bersama lahiriah kasih sayang
Temaram hari ini menyentak burung-burung pipit
Yang kala itu disambung tangan pengganti firdaus
Dan renungkanlah…
Perihal pilar ceruk pertemuan pertama
Aku menghidang elang-elang
Namun kau menelan dalam-dalam
Yang kala itu disambung tangan pengganti firdaus
Dan renungkanlah…
Perihal pilar ceruk pertemuan pertama
Aku menghidang elang-elang
Namun kau menelan dalam-dalam
Masih tentang Umar
“Sebab kedermawanan, keadilan, dan zuhudku,” jawab Umar
Sama hal kemerdekaan burung-burung pipit kemarin itu
Jum’ah
Masih perihal pertemuan pertama
Dalam ukiran nisan antara langit dan bumi
Diuraian cara jama’ah
Mengadu hari teristimewa
Jadi, masih pula menerangkan jejak tapak
Awan dibayang bumi serta awaknya melingkar emas
Sambil merapat saf seraya meminta kedamaian
Sambil merapat saf seraya meminta kedamaian
Lalu, bumi biak membiak diatas bola yang mendengkur
Serupa elips cerita lalu
Menyambutmu di Tengah Malam
Kepada: Khair
Aku masih menilik keringat ini
Seakan kau terus bergurau di peliknya karang
Di tengah lautan sembahyang malam melonglong
Sembari mengujiku di relung kesetiaan
Seakan kau terus bergurau di peliknya karang
Di tengah lautan sembahyang malam melonglong
Sembari mengujiku di relung kesetiaan
Hanya saja, awang kemarin masih terngiang manis
Pintaku, berilah serpihan pada desiran angin sepoi-sepoi kali ini
Ceritakanlah perihal rautmu dalam sujud – sujudku
Kan ada keyakinan tiada tara menggema di gendang telingamu
Saat ini aku masih menanti bersama bayang-bayang di tengah malam
Pintaku, berilah serpihan pada desiran angin sepoi-sepoi kali ini
Ceritakanlah perihal rautmu dalam sujud – sujudku
Kan ada keyakinan tiada tara menggema di gendang telingamu
Saat ini aku masih menanti bersama bayang-bayang di tengah malam
Pada Ulu Hati Yang Tertanam Perih
Pada ulu hati yang tertanam perih
saraf –saraf luka menumpuk asa hingga pahit
jantung meringis keluh di pelupuk parau yang berkilau
iba.
saraf –saraf luka menumpuk asa hingga pahit
jantung meringis keluh di pelupuk parau yang berkilau
iba.
Sesorot tangis menyiram gelutan hidup
seakan tirai-tirai jalanan kisah kan terangkai
menepis segala usik hasil juang perdetaknya
di aliran merah yang mengalirkankan beribu saksi
iba.
23 Mei 2010
seakan tirai-tirai jalanan kisah kan terangkai
menepis segala usik hasil juang perdetaknya
di aliran merah yang mengalirkankan beribu saksi
iba.
23 Mei 2010
Tawa Mengeja Keluh Senyummu
Dari anggrek yang kau kadokan dalam kisah kasih dan sayang
Dari anggrek yang kau kadokan dalam kisah kasih dan sayang
kisah yang kau bawa beradu tawa-tawa
seperti ungunya ciptaanmu,
ku harap hasil dari mengeja tiap jenjang senyum
Kisahkanlah!
kau takkan mampu menuliskan secuil saja senja pada parasku
ada binar dari keluh senyum yang belum terkisahkan,
kisah tentang kau mengadu canda berarti iba
Eja.
ejakan apa-apa senyum menyunggingmu sendiri
dan katakanlah pelan-pelan sembari bergema di telinga
memahami setiap larut itu adalah bahagia dari kisahmu
seperti ungunya ciptaanmu,
ku harap hasil dari mengeja tiap jenjang senyum
Kisahkanlah!
kau takkan mampu menuliskan secuil saja senja pada parasku
ada binar dari keluh senyum yang belum terkisahkan,
kisah tentang kau mengadu canda berarti iba
Eja.
ejakan apa-apa senyum menyunggingmu sendiri
dan katakanlah pelan-pelan sembari bergema di telinga
memahami setiap larut itu adalah bahagia dari kisahmu
28 Maret diperbaiki 23 Mei 2010
No comments:
Post a Comment