Karya: Ria Ristiana Dewi
Alam memang tak mampu berkata-kata, namun alam mampu merintih dalam jiwanya. Alam berhembus seakan punya ketertarikan dengan segenap makhluk yang menghampirinya. Hanya alam yang mengerti bisikan-bisikan ketertarikan manusia. Menamainya dengan eksplorasi, menikmati tiada henti, tapi tak ada canda, yang ada hanyalah kausal bangkai alam yang dibuang ke alam pula.
Angin sepoi-sepoi terlihat bersahabat dengan cahaya di siang hari. Pembawaannya menghembus-hembuskan ujung jelbab Khadijah yang sedang berjalan ke arah kampung sebelah. Sesekali khadijah menyibakkan jelbabnya yang mengenai ujung pipi, sesekali pula ia tersentak ranting-ranting saling bertabrakan di antara pepohonan yang ada di dekatnya. Daun-daun jati berguguran terhembus angin yang membawanya ke liang bumi, tergeletak pasrah, lalu terinjak-injak oleh Khadijah yang sedang melintas, menemani langkah khadijah sendirian.
Di perempatan jalan Khadijah berhenti. Ini masih diantara pepohonan jati, mengelilingi tubuhnya yang berdiri tegak di atas bumi pertiwi, pandangannya jauh, menatap indahnya panorama di perempatan jalan yang terkelilingi ciptaan Allah.
“Eloknya tanah kelahiranku ini.” Khadijah berseru pelan, langkahnya semakin ringan.
Menikmati sejuknya angin yang berhembus, tak terasa satu dua rumah warga kampung sebelah telah terlihat. Di depan rumah kedua terpampang plat nama ‘Kampung Jati.’
“Sampai” celotehnya lagi masih sendirian berjalan melewati beberapa rumah warga lainnya.
Ia berbelok menuju tanah lapang yang dikelilingi sawah. Di balik dari sawah itulah terlihat rumah sederhana dikelilingi bunga-bunga yang ditanami sendiri oleh penghuninya. Pot-pot bunga itu juga dibuat dengan tangan penghuninya sendiri, bahannya diambil langsung dari gunung sebelah kampung ini. Kebiasaan kampung ini untuk membuat pot-pot sendiri lalu mencari bunga-bunga langka di hutan kemudian menanamkannya sendirian pula.
Sampai di depan pintu rumah, Khadijah mengetuk pintu sambil mengucap salam “Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam” Terdengar suara serak-serak yang sudah tak asing lagi di telinga khadijah dari arah dalam rumah itu.
“Walah cah ayu toh. Gimana kabar ibumu, Sehat?”
“Sehat, bulek!.” Khadijah berbicara seraya berjalan menuju kursi di ruang tamu.
“Mau dikasi minum apa to cah ayu?”
“Gak usah repot-repot bulek, Ijah cuma mau kasi kue titipan ibu. Kemarin ibu pergi ke kota membeli perlengkapan berjualan. Katanya ibu teringat bulek sangat suka kue ini, jadi ibu belikan.” Khadijah menyodorkan sebuah kotak kue kepada bulek Tarti dengan sedikit membungkuk menunjukkan rasa hormatnya pada teman lama ibunya itu.
“Bilang sama ibumu terimakasih banyak.”
“Iya bulek. Oya …Ijah harus pulang sekarang bulek. Takutnya adik-adik kelamaan nunggu Ijah.”
“Ya sudah. Adik-adikmu terus dikontrol ya Jah! Kasian kalian, ayah kalian sudah dipanggil Yang Maha Kuasa dan Ibumu harus banting tulang sendirian. Kalau kalian perlu bantuan bulek, bilang ya, Jah! Insyaallah bulek bantu.”
Khadijah mengangguk lagi. Kembali ia mencium tangan bulek Tarti, lalu ia melangkah keluar rumah.
Berjalan sedikit beraba-aba, Khadijah membelakangi wajah rumah teman ibunya itu. Sepanjang sawah ia melihat hamparan hijau seperti rerumputan di taman syurga, matahari pun turut memberi sambutan kepada tanaman-tanaman indah nan elok. Patahan-patahan sudut jalan sawah juga turut menambah kesejukan mata melihat. Tepat di balik sawah ini ada sungai mengalir jernih, menjadi teman bagi tanaman – tanaman di sekitarnya, dimanfaatkan pula para petani untuk pengairan sawah-sawah di sini. Di balik sawah, Khadijah melihat rombongan warga berjalan santai. Di antara mereka ada yang membawa cangkul, capil ,dan arit. Sebagian berjalan bersama-sama sambil mengumbar cerita menarik, sedangkan yang lain mengendari sepedanya dengan santai.
***
Khadijah telah sampai di perempatan yang tadi. Ia memperhatikan lagi empat tanaman yang berbeda tertanam di empat lekukan jalan. Satu arah menunju kampung jati tertanam pohon-pohon jati, satu arah kampung pinus tertanam pohon-pohon pinus, dua arah lainnya masing-masing kampung arak dan kampung salak. Di kampung Salak inilah rumah Khadijah. Lama khadijah berhenti di situ, lalu ia melihat tak jauh dari arah kampung arak ada seorang pria sedang mengotak-atik tasnya. Pria itu berpakaian rapi, rambutnya terpangkas habis, memakai sepatu olahraga, dan wajahnya teduh melampiaskan rupa berwibawa. Khadijah berjalan terus melalui pemandangan itu. Khadijah tidak ingin terlambat sampai di rumah.
***
Bermalam-malam sudah setelah Khadijah melihat pria dengan rupa malaikat. Khadijah terus memikirkan laki-laki itu. Khadijah memimpikannya tidak hanya sekali. Malam hari setelah memimpikan pria itu, khadijah terbangun dan ia niatkan mengambil wudhu. Khadijah shalat tengah malam meminta petunjuk Allah. Khadijah meminta agar ia dipertemukan lagi dengan pria misterius yang selalu hadir dalam mimpinya.
***
“Kak Ijah, ibu pulang kak.” Dari luar kamar terdengar suara Sakinah yang memecahkan lamunan Khadijah.
Khadijah beranjak dari lamunanya. Ia langsung keluar kamar, tidak sabar ingin bertemu ibunya. Cepat-cepat ia menundukkan kepala dan mencium tangan ibunya.
“Ibu senang kalian bisa menjaga diri. Ijah, ibu minta maaf ya nak sudah merepotkan. Seharusnya ibu menjaga kalian disini.”
“Ibu kan pergi mencari uang, jadi Ijah gak berhak marah dengan ibu.”
“Oya, bagaimana bulek Tarti? Apa kau sudah memberikan kue yang ibu titipkan?”
“Sudah, Bu!”
“Terus kau ketemu anaknya tidak, Jah?”
“Maksud ibu?” Ijah menatap heran. Tak mampu ia menutupi kekhawatiran yang selama ini menghantuinya.
Tentu saja ia tahu maksud ibunya. Ibu ingin ia mengakhiri masa gadisnya dengan seorang laki-laki pilihan. Jika ia ingin menentang perintah ibunya, sekaranglah waktunya. Namun ia tak ingin menurunkan derajat hormatnya pada ibu hanya karena keegoisan.
Khadijah kembali ke kamar. Hanya sendiri saja. Ia tak mampu menahan sedih dan kecewa. Ditatapnya foto ibu, ayah, dan adik-adiknya di sudut paling aman di kamarnya, di atas meja yang dihiasi kenangan masa suka duka bersama keluarganya. Bila ada waktu untuk memutarbalikkan kenyataan pahit ini ia akan memanfaatkannya. Ia tak mampu berbohong pada hatinya kalau ia terus saja berharap bisa bertemu dengan laki-laki misterius yang dijumpainya di perempatan menuju kampung. Kapan? Kapan Allah mengizinkannya bertemu?
Syahadat memang tak menjamin Khadijah meneriakkan yel-yel harapan. Syahadat bukan pula umpan menutupi kisah syahdu yang menggawangi angannya. Namun illahi tak kan menjelmakan ridhonya bila tak ada khuyuk syukur yang menghampirinya. Pula tiupan angin terbawa padanya menunjukkan tanda terang, Khadijah juga takkan menyadari. Setelah lama ia menuruti ibunya, kini tak ingin ia menentang hanya karena cinta tak terdeteksi. Ia tahu takkan bisa berbalik meminta dan memohon agar Allah segera menunjukkann cara agar sekali saja ia menentang ibu, untuk setiap muara kasih yang ia tancapkan pada ibu tak mungkin ia pendusta. Takkan. Khadijah takkan menentang. Ia akan jadi pelaksana. Kini dan nanti.
***
Khadijah sudah berpikir dan berdoa semalaman. Bersama simbol surat dari illahi, dengan purnama kasihnya pada ibu, dan demi timangan sayangnya pada adik-adik, Khadijah akan dan terus mematuhi ibu.
“Ijah akan ikut ibu ke rumah Bulek Tarti dan Ijah akan menikah dengan laki-laki pilihan ibu.”
Ibu hanya tersenyum dengan haru dan kasihnya. Barangkali ia juga telah mengkhawatirkan penentangan Khadijah, tapi puas rasa yang ia kumpulkan dalam jiwa dan pikirannya mendengar Khadijah masih seorang anak penurut seperti kemarin.
***
Khadijah sampai di rumah bulek Tarti bersama ibu dan adik-adiknya. Khadijah belajar untuk menutupi kekhawatirannya. Kekhawatiran itu bukan lagi kecemasan kalbu yang kemarin ia elu-elukan di benaknya, namun juga kekhawatiran menanti seperti apa calon suaminya. Apakah ia menyukai laki-laki itu atau laki-laki itu justru tidak menyukainya? Khadijah memang harus menerima kemungkinan itu dan lainnya.
“Kampung ini berbeda sekarang ya Tar, dulu aku kesini masih banyak pohon jati tertanam, sekarang sudah berbeda.”
“Maklum. Banyak pengusaha liar mengaku berizin resmi memangkas habis hutan kami. Sebagian dipakai pula para petani untuk sawah-sawahnya. Mumpung ada tanah gratis.”
“ha…ha…ha….”
Keduanya tertawa geli. Lama tak beradu canda, membuat hati masing-masing memutih bersinar, terawang rasa puas bersama gembira. Keduanya juga terasa lebih akrab jika memang besanan nantinya.
***
Tawa seperti itulah yang selalu Khadijah nanti dari wajah ibunya. syukurlah. Jikalau pengabdiannya tak berbuah hasil, untuk apa ia bersusah.
Dalam diamnya khadijah menatap penuh syahdu ke pintu kamar yang terbuka di depan tempat duduk mereka semua. Laki-laki itu akhirnya terlihat jelas dari dekat oleh Khadijah. Laki-laki yang sekali itu terlihat dari jauh olehnya, laki-laki berwajah malaikat saat di perempatan menuju kampung. Khadijah mengaku hatinya heran dengan kehendak Yang Kuasa. Yah, bagaimana tidak? Akhirnya ia menutupi kekhawatiran sekaligus rasa penasarannya. Yang di depannya itu bukan lagi yang kemarin ia mimpikan karena sekarang sudah ada di depan mata.
Senyum Khadijah mengembang.
“Apa yang akan terjadi jika tadinya aku menentang ibuku.” Kata hatinya yang mengungkap syukur.
Saat Khadijah melayangkan pandang ke rupa si wajah malaikat itu, ternyata laki-laki itu juga turut mengembang senyum yang membuat Khadijah semakin yakin.
Serambi KOMPAK, 15 Januari 2010
No comments:
Post a Comment