BULAN BIRU
Ria Ristiana Dewi
Tepat pada malam yang ditemani bulan purnama, wajahnya menganga di bawah langit. Senyumnya terpatri di awan hitam, hati pun senyap, ruh berkeliaran mencari raga. Raganya terpatung seakan ada kutukan dibuat para awak angkasa, cerah kornea tak kedip sekali pun itu “bersebab bulan hari ini serupa bidadari,” katanya berkomat-kamit berbicara pada angin, berbicara pada jangkrik, berbicara pada burung hantu yang sejak tadi termenung pula melihat kelakuanya. Bulan yang indah dan waktu yang sempurna. Banyak orang yang penasaran sebab Mark Hammergren yang biasanya dipanggil Mark ini mulai berbicara sendiri pada bulan. Orang-orang di sekeliling Mark bilang bahwa Mark mulai bertingkah aneh akhir-akhir ini. Mark sendiri mengaku bahagia karena akhirnya bulan purnama jatuh memenuhi ruang bumi. Serupa anak itik kehilangan entok, Mark dengan mata berbinar dan senyum melebar turut menyambut langit yang terlampau cerah hari ini.
“Turun kau, Mark! Mark Hammer-gren!”
Tapi Mark hanya diam di atas atap rumah, sewaktu istrinya memanggilnya dari bawah menjeritkan nama menyuruhnya turun. Karena Sri Martini yang biasa dipanggil Tini ini sudah merasa cukup menanggung malu atas gunjingan para tetangga akibat tingkah aneh Mark yang setiap malam jum’at akan naik ke atas atap sekedar melihat bulan biru, tidak hanya itu karena ia pun ternyata kerap menjerit-jerit sambil bernyanyi sehingga menggangu pendengaran para tetangga.
“Puas kau, Mark! Membuatku malu bertubi-tubi,” sambar Tini sewaktu Mark turun dari atas atap. Ia tak melihat mata istrinya yang melotot ke arahnya, sambil senyum-senyum ia masuk ke dalam rumah lalu ke dalam kamar, langsung di seretnya selimut di sekujur tubuh, tak perduli perlu atau tidak untuk mencuci kaki dan wajahnya sehabis naik dari atap tadi.
“Sudah cukup bersabar aku sebagai istrimu, kalau bukan karena ayah dan ibu sudah minta cerai aku,” sergap Tini lagi dengan jemu yang menjadi-jadi. Lantas diikutinya Mark ke dalam kamar, dilihatnya mata Mark telah terkatub.
“Sudah tidak sabar aku,” keluhnya datar sambil mengambil selimut yang menutupi tubuh Mark, namun Mark tetap tak membuka matanya. Tini pun memilih menyeret selimut itu dan satu bantal serta gulingnya ke luar kamar. Dipilihnya untuk tidur di luar pada sofa panjang di depan TV. Sengaja dibiarkannya lampu mati sehingga hanya tinggal kelap-kelip yang menyoroti wajahnya.
Ini sudah lima tahun pernikahannya. Pernikahan tanpa cinta, tanpa keinginannya ataupun suaminya. Ya…, mereka dijodohkan. Entah bagaimana Tini mau saja saat perjodohan itu. Namun, Mark sempat menolak berkali-kali sebelum akhirnya Ayah Mark terkena penyakit jantung dan terpaksa ia harus menuruti keinginan orang tuanya itu. Ayah Mark adalah pengusaha asal Jombangan, Jawa Timur sedangkan Ibunya adalah seorang pekerja di kantor diplomat Amerika Serikat yang kemudian menetap di Surabaya menjadi warga negara Indonesia setelah menikah dengan ayah Mark. Setelah Mark berusia sepuluh tahun, ibunya meninggal. Mulai dari situ-lah Mark sering menjadi diam. Ayahnya berupaya menyembuhkan keanehan yang terjadi pada Mark dengan membawanya ke dokter bahkan psikolog. Dokter hanya mengatakan bahwa Mark sehat dan butuh lebih banyak refreshing sedangkan psikolog bilang Mark hanya perlu lebih banyak perhatian.
Itu dahulu, sebelum akhirnya ia bertemu Bulan Biru, wanita asal Medan, Sumatera Utara. Mark bertemu dengannya saat di bangku kuliah, merupakan salah satu kampus di kota Surabaya. Bulan Biru sendiri kuliah di Surabaya lewat pertarungan sengit masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) hingga akhirnya bertemu dengan Mark yang berwajah oriental, rada culun, raut bingung, padahal pintar. Orang-orang di kampus hanya tahu Mark kerap berdiam diri, sembari belajar pun hanya satu dua kata yang melontar dari mulutnya bersama teman-teman. Wajah oriental itu membuat Mark tidak sulit untuk dikenali. Itu pula yang membuat Bulan Biru tertarik dengan kepribadian Mark sehingga entah bagaimana mereka mulai akrab, sering dipergoki jalan berdua saat di kampus. Mark mengambil jurusan yang sama dengan Bulan Biru yaitu jurusan astronomi. Ini-lah yang memudahkan Bulan Biru menyelami kepribadian Mark, mereka sama-sama memiliki hobi membaca buku – buku fiksi pula buku-buku berbau astronomi. Biasanya di bawah pohon sekeliling kampus, mereka menghabiskan segala obrolan itu.
Sesekali Mark membicarakan masalah hati. Lantas Bulan Biru akan merasa tersanjung. Bulan Biru mulai menjadi arah setir Mark. Ia mulai mendapatkan perhatian lebih hingga akhirnya mereka berpacaran. Banyak yang mengatakan bahwa kenapa Bulan Biru, wanita sederhana asal Sumatera Utara namun berwajah surga menghabiskan hati dan pikirannya untuk seorang pendiam yang kerap dicap ‘aneh’ oleh teman-temannya.
Berbeda pula pendapat lain yang mengatakan bahwa Mark yang terkenal kaya raya dan akan mewarisi perusahaan keluarganya itu seharusnya enggan didampingi wanita dari keluarga sederhana. Bahkan, bisa dikatakan prihatin sebab di Medan ayah Bulan Biru hanya seorang tukang becak. Namun, beruntunglah Bulan Biru yang memiliki kecerdasan mampu mendapatkan beasiswa hingga tamat kuliah.
Itu-lah pendapat orang-orang, namun yang paling penting adalah pendapat Ayah Mark yang tidak menyetujui hubungan mereka. Jelas karena status keluarganya—barangkali karena ayah Mark telah membuat kesepakatan bersama ayah Sri Martini untuk membuat perjodohan. Masalahnya perusahaan keluarga.
Jadi-lah Mark menikah sebagaimana ayah Mark mencoba segala cara untuk menyingkirkan Bulan Biru. Yah…, Bulan Biru hilang didengar Mark berita yang tersebar bahwa Bulan Biru kembali ke Medan dan telah menikah dengan lelaki lain.
“Mark! Mark! Bangunlah…!” Suara Tini memecah malam dengan fajar. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Mark dengan nada kesal.
“Apa?” Sambut Mark berang masih sayu-sayup melihat Tini dengan mata khas melotot.
“Kerja! Kau pikir perusahaan itu mainan? Jangan aku dengar kita bangkrut hanya karena kebodohanmu.”
Tini keluar kamar Mark dengan omelannya. Lalu ia memutar arah ke dapur dan mencari-cari Mbok.
“Mbok, makan sudah siap?”
“Ya…ya, Nya! Sudah,” jawab Mbok tertatih dari arah dalam dapur.
Dari dalam kamar, Mark keluar dengan pakaian rapi, berdasi. Disisirnya rambut bergaya cepak hitam memakai minyak.
“Makanlah,” sambut Tini di meja makan. Letaknya di depan jendela arah taman yang berada di dalam rumah, akan ada beberapa bunga dengan pot-pot antik di samping kanan-kirinya. Masih di dekat pintu menuju keluar ruangan santai, dengan malas Mark menggeret kursi sedikit lalu duduk. Kursi di meja makan itu tersedia untuk empat orang, namun mereka hanya mengisinya berdua setiap hari karena memang mereka belum dikarunia seorang anak pun.
Perlahan Tini mulai akan mengambilkan nasi untuk Mark. Namun, ia mengurungkannya. Ia enggan mendengar keluh Mark setiap diambilkanya nasi. Pernah sekali itu Mark mencacinya tidak pandai memasak, tidak mampu merawat rumah, belum lagi tidak mampu memberikannya seorang anak. Begitu pun, walau Tini kerap cerewet ia tetap menghormati Mark sebagai suaminya. Terbukti dengan masih setianya ia mendampingi Mark sampai-sampai berusaha memperhatikan masalah pekerjaan dan menu makan kesukaan Mark.
***
Pukul 23.46. WIB
Mark terduduk lagi di bawah bulan, kali ini bukan bulan biru. Namun, ia tetap setia dan percaya akan hadirnya bulan biru persis di tahun baru. Ia ingat percakapannya dengan Bulan Biru di bawah pohon pekarangan kampus dahulu. Sambil membuka-buka buku astronomi, tiba-tiba Mark menunjukkan selembar kertas berisi fenomena bulan biru di hadapan Bulan Biru kala itu.
“Lihat!”
Bulan Biru membaca baris kata-katanya begitu hikmat.
Bulan biru pada masa kekinian diartikan dengan ”sekarang dan sesaat lalu”. Bulan biru pada malam pergantian tahun tentu memikat minat masyarakat dunia untuk menikmati keindahannya. Sayang, ”birunya” bulan biru malam lalu hanya dapat disaksikan oleh penduduk di Amerika Serikat (AS), Kanada, negara-negara Eropa, Amerika Selatan, dan Afrika, tetapi tidak di Australia dan Asia.
Bulan yang indah dan waktu yang sempurna. Tentu banyak orang yang penasaran akan kemunculan bulan biru tepat pada malam Tahun Baru 2010. Mark Hammergren, pejabat Planetarium di Chicago, Illinois, menyatakan bulan biru tidak ada sangkut pautnya dengan astronomi.(*)
“Bagaimana?” Tanya Mark sambil menatap sebelah wajah Bulan Biru yang masih terhenyak pada lembaran itu.
“Kebetulan,” jawab Bulan Biru sambil menatap kembali Mark.
“Kalau begitu kebetulan aku mencintaimu dan kebetulan kita bertemu. Aku akan menikahimu tahun esok, tanggal 1 Januari 2011. Aku sudah memperhitungkan bahwa bulan biru akan hadir 12 kali dalam satu tahun. Sekarang ini aku sudah menghitung 10 kali, kalau begitu 2 kali yang tersisa. Perkiraanku Bulan Biru akan hadir tepat tanggal satu.”
“Mark, kau gila!” Tahan Bulan Biru sedikit mendung. Padahal Bulan Biru dan Mark sudah tahu kalau pada tanggal itu Bulan Biru sudah akan pergi dari Surabaya.
“Ini sudah dua bulan lagi kepergianku.”
“Lalu? Kau pikir aku perduli.”
Itu saja! Mark mengenang percakapan 5 tahun yang lalu itu dengan sangat tepat—barangkali persis.
***
Bulan Biru tidak pernah ada pada tanggal 1 Januari 2011. Yah…, karena tepat sekarang ini, tanggal 1 Januari 2016 Bulan Biru itu baru hadir. Setelah mendengar pengakuan istrinya, sambil menatap langit yang penuh petasan Mark menarik tangan istrinya dan memeluk dengan erat. Seketika ia lepas lagi lalu menjerit sambil menghentak-hentakkan gumpalan tangan dengan sikut ditekuk ke dada.
“Yach….Yes…Yess….Aku akan punya anak, Mark Hammergren akan punya anak. Dengar, Tini! Aku akan menamakannya Bulan Biru. Ha…ha…ha…”
Tini hanya senyum-senyum dan turut menurut saja saat kemudian Mark memeluknya lagi dengan lebih erat.
KOMPAK, Lepas Tahun 2010
(*) Sumber: http://www.indralasmana.co.cc/2010/07/fenomena-blue-moon.html
No comments:
Post a Comment