PUISI TIDAK TERDOGMA?
Judul : Menapak ke Puncak Sajak, Jangan Menulis Sebelum Membaca Buku Ini!
Penulis : Hasan Aspahani
Tahun : Cetakan ke I, November 2007
Penerbit : Koekoesan
Tebal : viii + 142 halaman, 12 x 19 cm
Kesan pertama saat anda melihat judul buku ini adalah puitis. Ya! Bagaimana tidak? Menapak ke Puncak Sajak artinya kita telah diajak menelusuri sajak hingga ke bagian tersulitnya sekalipun. Walaupun sesungguhnya puisi adalah keindahan yang seharusnya bersifat melemahkan saraf-saraf manusia dari ketegasan-ketegasan yang terkadang menuntut satu jalan. Dengan berbagai macam hiruk pikuk masalah di luar dunia keindahan itu sendiri, puisi menjadi teman baik, kapanpun dan dimanapun.
Menulislah saja! Berpuisilah saja! Jangan terlalu sibuk direcoki teori, berkembanglah dan belajarlah secara alami. Begitulah Hasan Aspahani menasihati dalam buku ini. Ada pula pendapat-pendapat para ahli puisi dalam buku ini, misalnya William Wordsworth (1770-1856) mengatakan puisi yang baik adalah aliran estetika dari perasaan yang kuat bertenaga : yang mengambil sumbernya dari emosi yang diraih kembali dalam keadaan yang setenang-tenangnya. Ini membuktikan tidak ada pembatasan yang kaku mengenai proses pembuatan puisi. Bahkan banyak pengapresiasi yang menilai keberhasilan puisi atau puisi yang baik, tercapai jika penyair bisa mengendalikan emosi saat menuliskannya. Juga ditentukan oleh ketertiban dan keteguhan si penyair menjaga jarak aman dengan bahan yang diolahnya menjadi puisi. Artinya dia tidak tertarik masuk lalu terjebak di dalam obyek yang hendak digubahnya ke dalam puisi.
Ketika kita terpesona dengan suatu peristiwa atau terpukau keindahan, respon yang paling murni adalah mengucapkan kata-kata kekaguman. Verbal. Jujur. Spontan. Misalnya, “Oh alangkah indahnya pemandangan ini.” Tapi jangan sebut ini puisi, ini kalimat biasa. Sangat mentah untuk sebuah puisi.
Ya, ketika kita terpesona dengan sebuah peristiwa atau benda, dan itu adalah sebuah benih puisi yang baik, dan jika kita ingin menuliskan juga puisi dari kekaguman itu ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Salah satunya yang disarankan oleh penyair Ceko berbahasa Jerman Rainer Maria Rilke. Kita harus melihat banyak, mendengar banyak, tersesat di hutan, duduk di samping orang yang sedang sakratul maut atau perempuan yang sedang melahirkan. Menjadi saksi peristiwa yang mengugah emosi kita. Lalu melupakan saja semua.
Semua puisi yang buruk, berangkat dari perasaan asli. Menulis sesuatu yang alami adalah menulis apa adanya. Dan yang apa adanya itu tidak artistik. Menulis puisi juga bisa diandaikan seperti melihat dua lembar foto udara di bawah stereoskop. Pada jarak fokus yang tepat, gambar dua dimensi menjadi nampak mana bukit dan lembah, mana pohon dan padang rumput, menjadi tiga dimensi.
Lalu ada pertanyaan yang sering terdengar oleh kita, “Kalau saya hanya ingin membuat sajak dengan kata-kata yang biasa saja? Apakah mengurangi niat saya menulis puisi?”. Jawabannya: tidak. Sama sekali tidak. Jangan cemaskan apa-apa. Sajak yang baik tidak harus memuat kata-kata aneh. Sapardi Djoko Damono piawai membuat sajak yang indah hanya dengan kata-kata yang biasa. Dan itu sama sekali tidak mudah. Sama menantangnya.
Jadi, intinya buku ini ingin menguji kelayakan sebuah puisi, namun ada proses yang diceritakan di dalamnya. Tidak salah lagi, membaca buku ini akan mampu membuat kita lebih banyak tahu apa itu puisi dan seluk beluk jalannya membuat puisi. Kemenarikan lainnya adalah bubuhan kata-kata bijak dari beberapa penyair seperti: penyair Cina, Li Po; Khahlil Gibran; dan Sapardi Djoko Damono. Lalu akan ada solusi di bab-bab akhir buku ini. Ada sebuah pernyataan lain bahwa banyak penulis puisi yang putus asa karena tidak dimuat puisinya walaupun sudah dikirim berkali-kali. Penulis membuat paparan menanggapi hal ini, yaitu bercerita mengenai Sutardji Calzoum Bachri. Penyair kelahiran rengat itu juga kesusahan ketika mulai mempublikasikan sajak-sajaknya. Karena saat itu karya-karya memang menentang arus besar model sajak yang lagi jadi trend. Tak mengikuti sajak-sajak pada masa itu merajai majalah-majalah sastra. Konon pula saat itu selera para redaktur sedang seragam. Maka, kemanapun Tardji menawarkan sajaknya, yang ada cuma penolakan dan penolakan lagi.
Tapi, untunglah dia sudah teramat yakin saat itu bahwa hasil karyanya punya nilai. Mungkin karena itu pula dia kemudian melengkapi sajak-sajaknya dengan kredo bagi sajak-sajaknya seperti yang kita baca dalam kumpulan O, Amuk, Kapak. Mungkin dia letih setiap kali harus menjelaskan untuk menyakinkan orang lain, ihwal sajak-sajaknya. Terakhir, bertanyalah anda, kapan puisi itu lahir? Maka carilah jawabannya pada buku ini.
Tak imbang bila dikatakan sempurna disamping keberhasilan buku ini, selainnya akan ada banyak sekali paparan-paparan yang kontras dengan kesederhanaan, terkesan menyulitkan pembaca dalam memahami. Penjelasan yang berbeda saat kita membaca buku-buku yang berupa teori-teori, buku ini ingin membuat sajian yang berbeda yaitu berupa pertanyaan dan pernyataan di dalamnya. Tapi sayang, sajian itu terlampau membosankan apabila terlalu monoton. Jadi, ada baiknya lebih dibuat variatif.
No comments:
Post a Comment