Saturday, September 10, 2011

Cerpen, Medan Bisnis (Rentak), 25 Juli 2010


SURAT TERAKHIR
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Perlahan Ia menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan perasaan gundah. Kertas surat hasil pemeriksaan dokter yang terlepas dari amplop bercap rumah sakit ibu dan anak begitu terasa tidak adil baginya. Gemetaran tangannya berpegangan pada kursi. Kertas itu terus dipandanginya. Lama sekali ia terdiam dalam pikirannya yang kalut. Cepat-cepat ia hapus paras muramnya, jam dinding pun berdentang dua belas kali. Kakinya melangkah menyempit jarak pada jendela di ruang kamar berukuran enam kali enam lalu menutupnya. Ia berbalik ke tempat tidurnya, terduduk, dibelainya selimut tebal kesayangan istrinya. Jika sempat, ia ingin marah pada istrinya, meminta penjelasan atas hasil yang baru ini ia ketahui. Sebelum dan sesudahnya, Romo hanya tahu istrinya telah menjadikannya laki-laki beruntung. Dikaruniai seorang anak laki-laki setelah sepuluh tahun lamanya pernikahan. Hatinya berdebar menuang segala kegembiraan. Mereka membesarkan Purnomo Anggoro dengan hati berkalut rindu seorang anak. Selalu ia jaga dikala purnomo sakit. Saat ngantor dan saat purnomo memanggil namanya di rumah meminta dibelikan mainan, ia akan menunda rapat, ia akan menghentikan bincang-bincang dengan klien, cepat-cepat ia bergegas menggendong purnomo dan membawanya kemana pun yang purnomo senangi.
            Romo tersedu bimbang. Pelan-pelan ia menatap fotonya, istri dan anaknya di sudut ruangan kamar, foto yang mengusik relung jiwanya. Kerinduan tiada tara, melampiaskan segala rindu menyertai memori masa lalu. Dulu sekali kala kepedihannya dan istrinya hampir menebang keutuhan rumah tangganya. Masa awan gelap melangit jelas dalam kehidupannya, kala itu puing-puing terselip mimpi untuk beranak hingga bercucu pun ia mimpikan. Jelas ia bagai bulan merindukan usikan bintang-bintang merasi, satu persatu hadir menyemai indah. Harta tak mengapa menimbang Romo mewariskan tiga buah perusahaan. Hanya satu yang belum ia miliki kala itu, hingga purnomo hadir, purnomolah satu-satunya harta paling berharga dalam hidupnya dan hidup istrinya.
            Romo langsung mengundang keluarga besarnya. Ia membuat pesta besar di tujuh bulanan kandungan istrinya. Dalam pesta itulah ia turut memperkenalkan calon anaknya, meminta doa seluruh keluarganya. Seluruh keluarga mengamini anak Romo kelak sehat, berbakti, dan menjadi penerus yang baik bagi perusahaan keluarga. Apalagi dahulu Romo pula anak satu-satunya yang meneruskan perusahaan keluarga. Romo menjaga amanah itu dengan baik. Jadi, waktu itu mereka mengira Romo benar-benar beruntung mendapat seorang anak laki-laki.
Di sudut tempat tidur itu pula, ia menggenggam tangan istrinya yang tergagap-gagap, berusaha mengatakan sesuatu. Romo tak mendengarkan dengan jelas. Yang ia tahu istrinya hanya menunjuk satu-satunya lemari di kamar mereka. Sebelum akhirnya menghela napas terakhir. Purnomo adalah kata terakhir yang terucap dari bibir istrinya. Romo jelas mengobrak-abrik lemari itu, ia temukan sebuah amplop diantara pakaian istrinya. Ia baca dengan jelas setiap hurufnya hingga berulang tiga kali. Selain kertas hasil tes DNA, ia menemukan surat keterangan permintaan dari orang tua kandung Purnomo agar mereka segera dipertemukan. Pilu sontak menyertai  seakan petir sedang menyambarnya, hatinya, dan pikirannya. Ia pikir ia salah, tetap takkan percaya. Ia remas pelan kertas itu, segera ia singkirkan dari pandangannya.
Ia takkan bisa memenuhinya. Ia takkan mengatakan apa-apa pada Purnomo tentang masalah ini. Ia tak rela satu-satunya miliknya diambil. Telah lewat 30 menit setelah jam berdentang dua belas kali tadi. Diam-diam Romo mengintip, menggeser sedikit gorden kamarnya dan melihat Purnomo pulang, memasuki rumah. Tak lama Purnomo telah berdiri di kamarnya.
”Ayah masih sakit?” Purnomo segera merapatkan dirinya ke tempat tidur ayahnya tergeletak, tertidur dengan mata belum terpejam. Romo sengaja merenggang waktu, ia picingkan sejenak matanya hingga purnomo mengira ia akan tidur. Setelah Purnomo memutuskan beranjak keluar kamar, tiba-tiba Romo menggerutu seraya mengucap pelan ”Purnomo, anakku!”
Langkah Purnomo langsung terhenti. Ia berbalik semula. Memandang ayahnya yang kini duduk di pinggir ranjang. Sedikit menunduk kepiluan hatinya, Romo menarik napas pelan-pelan kemudian berbicara pelan. ”Ada yang harus kau ketahui Anakku!”
”Tidak Ayah, Purnomo sudah tahu!”
Wajah Romo langsung berubah kejut, sontak ia bimbang, pikirannya berubah mendung dan hatinya gerimis. Jantungnya berdetak lebih kencang, tak mengira akan secepat ini.
”Kau sudah tau, anakku?”
”Jadi, ayah tidak usah berpikir yang lain selain kesehatan ayah sekarang.”
Romo merapikan sedikit posisi duduknya, ia kerutkan dahinya, dengan serius berkata pada Purnomo ”Apa maksudmu, Nak?”
”Ayah...Pak Sawiji yang sekarang ini membantu perusahaan kita. Berkat dia, hutang-hutang perusahaan tertutupi.”
”Ayah semakin gak ngerti!”
Purnomo memamerkan senyum sekuntumnya, agak serak suaranya lalu ia betulkan mimik wajahnya.
”Ayah...selama ayah sakit ada seseorang yang mengaku teman ayah. Namanya Sawiji. Dia mengaku tertarik dengan bisnis kita dan mengetahui kita terlilit hutang, dia langsung menawarkan bantuan.”
”Tap...”
”E...” Purnomo menyela ayahnya dan menggeleng-geleng seakan masih panjang cerita yang kelak meluncur dari benaknya.
”Ayah jangan khawatir. Purnomo sengaja tidak memberitahukan Ayah semata karena takut Ayah lebih banyak pikiran. Jadi, Purnomo jadikan ini Surprise.”
Kembali senyum Purnomo mengembang. Kali ini ia merasa lebih yakin bahwa keputusannya tidak ada yang salah. Selama waktu yang menggenang ini, Purnomo kemudian mengangkat tangan kanan ayahnya dan menciumnya berkali-kali. Ia letakkan lagi pada pipi dinginnya dan kembali membentuk keyakinan dalam benaknya. Ia baca mata ayahnya yang lembut, lalu ia menyiratkan kegelisahan dalam menit itu.
”Apa yang Ayah pikirkan lagi?”
Tiba-tiba, dalam kurun detik, air mata Ayah berlinang. Ia kembali menarik napasnya dan memungut ketenangannya. Ia rebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia kerahkan seluruh bimbangnya dalam malam kelopak matanya yang berkatup. Dieratnya guling, lalu ia masukkan setengah tangannya ke bawah bantal sampai meraih kertas yang tadi ia remus lalu ia pungut lagi dan ia rapikan. Yang tadinya akan ia sampaikan pada Purnomo, kembali ia benamkan niat itu. Tak sanggup jantungnya menahan kelam.
”Ayah...Purnomo tidak paham. Maapkan Purnomo. Mungkin ini tidak memperbaiki kondisi Ayah. Kalau bukan ini, apa ada hal lain yang ingin Ayah sampaikan?”
Setelah memastikan tak ada jawaban, Purnomo beranjak pergi dari kamar Ayahnya.
***
            ”Katakanlah Romo, Kau tak punya hak memisahkan orang tua kandung dengan anaknya!” Semacam bayang-bayang putih yang semakin lama semakin memudar, Romo berseteru hebat dengannya.
            ”Tidak...tidak...!”
            Bayangan itu kembali melambai dan hilang seketika.
            ”Ah..., Mimpi.” serunya pelan seraya membisik diri sendiri.
            Membalik ia, dan memastikan sosok yang ia sayangi berdiri tepat di balik pintu lalu melangkah masuk ke kamar Romo.
            ”Ayah...kenapa? Ayah mimpi?”
            Romo tak mengelak dan akhirnya kembali menyakinkan dirinya. Lalu terusik dirinya memeluk Purnomo dengan erat. Mengangkat kedua tangannya dan menguatkan genggamannya ke kedua bahu Purnomo. Ia alirkan seluruh keberaniannya melalui tatapan yang terus menguat. Hingga akhirnya keberanian itu timbul. Tapi, matanya kabur tak karuan dan tak ia dapatkan lagi menangkap wajah sosok di depannya. Perlahan jantungnya ikut tak karuan dan ia memeluk Purnomo lagi, namun kini tanpa tenaga, lemas.
            ”Yah...bangun Yah!”
            Dengan bimbang purnomo menghentakkan tubuh ayahnya, dan menyadarkannya. Tak ada jawaban, lalu Purnomo menggendong Ayahnya dengan kekuatan yang ia sendiri tak tahu dari mana kekuatan itu tiba-tiba hadir saat orang yang disayanginya tak berdaya.
***
            Kembali sunyi memupuk isi kepala Romo. Dalam bayangannya hadir kembali Sang Istri yang terus menerus menyalahkannya. Terus...hingga ia tak mengelak semua karena salahnya pula. Ia mencelakakan sendiri istrinya sewaktu mengandung tepat 7 bulan. Tepat pada acara pesta tujuh bulanan, ia mengamuk dan memukul istrinya hanya karena tak suka sebuah perlakuan pada saudaranya dan menyebabkannya keguguran. Tapi, Romo tak tahu. Ia tak pernah tahu istrinya keguguran karena istrinya takut Romo akan lebih frustasi. Hingga istrinya memungut Purnomo dan merencanakan semuanya tanpa sepengetahuan Romo dan keluarganya.
Dalam surat terakhir istrinya hanya mengucap ”maap, aku mengaku tertekan karena ambisimu dan keluargamu mendapat keturunan seorang anak laki-laki yang sehat dan apa jadinya aku tanpa memenuhinya.”
            Romo tak mengelak lagi, ia ikutin garis putih yang terulur dari bayang-bayang istrinya. Dalam kelam yang ia sendiri tak sadarkan diri dan memangku maap pada segenap kepedihan istrinya. Semua telah ia lalui dan ia tuliskan secoret surat terkhir untuk Purnomo kemarin malam sebelum menghembuskan napas terakhir.
            ”Anakku, ku harap setelah membaca ini, kau memaapkan orang tua yang telah membesarkanmu ini. Dan kuharap kau menjaga baik-baik pesanku. Jangan salahkan Aku dan Ibumu yang telah memisahkan Kau dengan Orang Tuamu. Izinkan aku pamit dan menitip pesan terakhir ibumu. Kembalilah pada orang tua kandungmu yang selama ini kami rahasikan. Ambillah beberapa surat keterangan di lemariku dan carilah orang tua kandungmu. Mereka berhak atasmu.”

Serambi KOMPAK, Mei-Juni 2010

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...