PANGGIL AKU VIRGA!
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Virga. Itulah namaku. Lahir saat hujan panas, saat rintih air berbentuk lidi-lidi kemudian menguap menjadi awan yang bias cerah oleh matahari yang kerap menggagahi. Sewaktu udara subur di garis tropis gugur satu-satu tersantap danau, sungai, dan lautan. Itulah rumahku. Seharusnya, hampir semua menyukaiku. Tapi, ada pula yang katakan aku ini pembawa mistis. Hmm…, biarlah…!
Aku perkenalkan teman-temanku: rumput, jangkrik, katak, daun, dan tentu saja aerosol. Terkadang yang lain menyebut aerosol dengan julukan embun ataupun kabut. Bagiku aerosol itu teman baikku walau sering ruang udara memisahkan kami, jadi jarang dibawah langit kami bertemu. Banyak yang berkata aku dan ia sebagai saudara kembar. Teman-teman akan sulit membedakan saat kami hadir bersama. Mereka katakan aerosol akan menjelma dingin dan aku menjelma hangat. Mungkin itulah sebabnya kami akan saling memenuhi ruang udara yang mempertemukan malam dan siang.
Aku suka bermain pada ombak di lautan, terkadang itu rintangan. Aku suka bermain pasir di sungai-sungai dangkal, terkadang mengasyikkan. Aku suka pula berendam di danau, terkadang itu lembut hingga menenangkan. Jadi, itulah aku.
Tunggu!
Perlu satu lagi ciriku yaitu aku menyukai hujan. Hujan mengingatkan aku pada ibuku. Hujan mengingatkan aku pada ayahku. Hujan mengingatkan aku pada kekasihku. Hujan mengingatkan aku pada saudara-saudaraku. Hujan mengingatkan aku pada teman-temanku. Hujan kerap adalah aku. Itulah kenapa aku lahir bernama Virga. Saat hujan panas, rintih air berbentuk lidi-lidi kemudian menguap menjadi awan yang bias cerah oleh matahari yang kerap menggagahi.
“Virga!” Rumput, jangkrik, katak, daun, dan aerosol menoleh mendengar dengung hujan memanggilku. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada sosok yang berdiri dibalik rintik-rintik apalagi yang merantingkan suara menyusuri cahaya siang ini. Tidak ada mendung, tidak ada gerimis, apalagi hujan. Lalu siapa yang memekak telinga memanggil ‘Virga’. Siapa?
“Virga!” Suara itu kembali dan mulai membuat gerah teman-temanku. Mereka kembali menoleh, kembali menyoroti jejalanan kosong yang hanya dipenuhi cahaya. Tapi tidak ada siapa-siapa?
Biarlah…biarlah mereka memanggilku Virga.
Aku terlahir untuk memberi sejuk kala kulit-kulit tersayat oleh sengat panas, untuk memberi hangat pada sekuntum mawar yang berharap, untuk suara serangga menyayap senja, demi cahaya, demi prahara, demi rahasia turunnya dahaga surga. Jadi, itulah aku.
Biarlah…biarlah mereka memanggilku Virga. Aku turun dari arah badan langit, berjalan menggumuli rerumputan.
“Katamu, kau memanggil aku Virga. Katamu nama itu terlampau asing. Kenapa teman?” tanyaku suatu fajar kepada rerumputan yang masih disetubuhi basah.
“Virga! Kau tak pernah berniat membuatku gila, kan!”
“Ada-ada saja kau ini rumput. Apa maksudmu?”
“Tanya katak, jangkrik, daun, dan aerosol. Kau itu mati, Virga!”
“Kumohon rumput, aku ini Virga. Aku hidup dan aku ada untuk menghangatkan kalian.”
“Kau hantu, Virga!”
Kemudian aku termenung disudut ujung rintik-rintik. Aku Virga, aku hidup, tidak mati. Aku ingat saat kelahiranku dan aku tak pernah ingat saat kematianku. Aku ini Virga. Panggil aku Virga!
Tunggu!
Ibu. Aku ingat ibu. Ia adalah bulan. Pernahkah kau memperhatikan siang dengan rembulan mengintip di balik awan abu-abu? Saat hujan malu-malu menghujam bumi, itulah ibuku. Bagimu memang tak penting. Tapi bagiku itu penting karena dia-lah ibuku.
“Teman, aku tak pernah bertemu ibuku. Percayakah?” kataku saat aerosol memanjakan jangkrik hingga menjebak aku dan mereka berkumpul pagi itu. Tapi kenapa mereka diam saja tidak meresponku. Mereka beradu di bawah daun-daun mengaliri aerosol menangkap jangkrik pada tubuhnya, bermain hujan yang kian deras. Lalu aku pergi mencebur diri pada cahaya yang hadir kala hujan mereda.
Aku bingung. Bingung dengan teman-temanku yang diam. Aku hanya berbicara pada rumput hari ini. Begitu pun rumput bilang aku mati.
Aku berjalan terus melewati beberapa jalanan yang becek bekas hujan yang tadi menghujam. Dari situ aku bertemu aerosol lagi.
“Ah…aerosol, kau ini ada dimana-mana?”
“Virga!”
“Ya…aku Virga. Panggil aku Virga!” jelasku padanya bahkan benar-benar menjelaskan dari nadaku yang menekan.
“Mustahil. Kau itu mati. Kau hanyalah cerita dongeng.”
“Aerosol. Kita mirip. Apa kau tak ingat bahwa banyak orang yang bilang kita ini mirip.”
“Virga, kau itu hanya dongeng. Dengar ya, dahulu orang pernah bilang bahwa saat orang meninggal pasti ada virga. Jadi, sudah pasti kau itu hantu yang menyedot para arwah.”
“Hah!” Aku bingung, aku semakin bingung. Apa yang mereka katakan. Benar! Aku saja bingung. Ini benar-benar gila. Aku menyedot para arwah? Padahal aku akan memberikan kehangatan, kesejukan, hingga kedamaian pada siapa pun.
Aku berjalan lagi. Dua tiga kali ilalang tak ku perduli. Segala geli tadi itu kuanggap lelucon. Aku tak percaya bahwa itu aku. Jadi, sudah pasti itu bukan aku. Cahaya mengekor memenuhi ruang udara, lantas aku kembali tercebur hangatnya dan pergi ke atas langit. Aku terdiam bermain awan. Dari balik awan aku melihat tumpukan air menghujani bumi. Aku berang, kesal dengan sikap teman-temanku tadi. Aku melihat ke arah angkasa. Ada banyak bintang yang jauh terlihat oleh mata manusia. Tempatnya tak begitu jauh dari tempatku, berada di atmosfer paling luar, namun kala siang menggilir malam mereka seakan redup. Lihat! Bintang terbesar itulah ayahku. Ia raja segala bintang. Ya…Matahari. Aku sering diberi nasihat olehnya agar jangan terlalu banyak bermimpi selalu memberi kehangatan dan kesejukan pada bumi. Ia katakan bahwa manusia selalu tak mensyukuri cahaya, hujan, maupun kesejukan. Bagaimana tidak? Saat cahaya hadir mereka bertengkar dan menghina angkasa menyuruh menurunkan hujan. Lalu, saat hujan turun mereka mengeluh karena banjir, padahal mereka yang menutup tanah dengan aspal, mereka yang menutup sungai dengan sampah dan mereka pula yang menebang pepohonan beserta makhluk yang hidup didalamnya. Hingga tak ada kehijauan lagi apalagi kesejukan.
Setelah aku memahaminya. Aku duduk saja di atas awan tanpa perlu memikirkan peristiwa tadi. Teman-temanku saja katakan aku ini hantu. Menyedihkan. Oh…hujan. Hari ini bumi dipenuhi hujan. Taukah, hujan itulah kekasihku. Jumlahnya lebih banyak dariku. Dan akan turun saat matahari bergeser dibenam awan hitam. Jangan katakan bahwa kami adalah sepasang saling mencintai. Tidak! Untukku kami semua saling membutuhkan dan berada pada tugas masing-masing. Lebih kepada maksudku bahwa kami pasti memiliki kasih sayang satu sama lain. Tapi, kami sudah pasti tidak akan saling memusuhi. Walau hujan lebih banyak jumlahnya, aku tak protes. Walau matahari lebih besar dan begitu panasnya, aku tak protes, dan walau bulan begitu indahnya saat menghiasi malam, aku juga tak protes. Biarlah aku menjadi aku dan biarlah mereka seperti apa adanya mereka. Kami sudah memiliki tempat kami masing-masing.
Namaku Virga. Hari ini dan dalam waktu yang lama aku tidak turun ke bumi. Tapi aku merindukan bumi. Aku mulai gelisah. Aku rindu teman-temanku. Aku rindu danau, lautan, dan sungai. Lalu, setelah kekasihku memenuhi tugasnya, kini giliran aku turun ke bumi saat hujan panas, saat rintih air berbentuk lidi-lidi kemudian menguap menjadi awan yang bias cerah oleh matahari yang kerap menggagahi.
Aku takkan menunjukkan wajah kusut nanti, saat akan bertemu teman-temanku. Walaupun entah apa mereka mengenalku dan menganggapku teman atau justru mengatakan aku ini hantu. Mereka tetap temanku. Dalam kehidupan angkasa, aku belajar arti sebuah pertemanan, dalam kehidupan angkasa, aku belajar pula tentang arti kesetiaan, dalam kehidupan angkasa aku belajar tentang proses kesabaran. Jadi, bukan manusia saja yang belajar itu semua. Kami lebih melekat pada hal itu karena kami tidak memiliki rasa benci. Kami justru senantiasa mensyukuri tugas-tugas yang diberikan kepada kami.
Aku pun kembali cepat turun melintasi terik. Sebelum pudar oleh awan yang menutupi. Tidak seperti semula, semuanya sirna. Aku tak melihat teman-temanku. Yang aku lihat, pohon-pohon berjatuhan, sungai meluap, lautan mengacung-acungkan ombak ke atas daratan, dan danau resah bergoyang akibat bumi yang marah. Air merendam mereka. Rumput, Jangkrik, katak, daun, dan aerosol telah tiada hari itu. Aku sedih karena tak menemukan mereka lagi. Kemana mereka, apakah benar bahwa aku penyedot arwah. Jadi, saat aku turun mereka semua mati. Tidak, mereka tak boleh mati.
“Kawan-kawan jika kalian disini, panggil aku Virga! Aku akan menghangatkan.”
Mereka tidak menjawab dan aku hanya menyaksikan genangan itu. Aku tak mampu menghalangi air yang mengamuk, aku tak mampu menyelamatkan teman-temanku. Aku tak mampu!
Virga merupakan air yang jatuh dari badan langit kemudian menguap ketika melalui udara kering lalu kembali ke langit, maka tak pernah jatuh ke permukaan bumi. Jadi, bagaimana ia bisa mengenal rumput, jangkrik, katak, daun, dan aerosol. Jawabnya adalah bagaimana ia selalu dirindukan memberi kehangatan, berharap hujan senantiasa menjadi sahabat musim. Jadi panggil saja hujan itu Virga! Agar musim kian dirindukan sebagaimana Virga dirindukan.
Aku mati. Aku hantu. Mereka benar aku ini hantu. Berarti teman-temanku berkata benar bahwa aku hanya hantu. Aku Virga. Aku ini hanya kayangan berada di awan-awan. Hujan, ya…ini karena hujan kerap memenuhi bumi hingga aku mati. Aku bingung. Aku heran pada bumi yang terlanjur gerah pada ruang udara. Saat air daratan terguncang hebat, deras air mengalir memenuhi. Oh…teman-temanku, jangkrik, katak, daun, rumput, aerosol tenggelam oleh hujan. Teman-teman, walau aku ini mati. Kumohon rindukanlah aku dari negeri kedua kalian. Surga…teman-teman saat ada hujan di negeri surga maka aku ada disitu untuk kalian.
Namun, bila saat ini kau telah sangat merindukan aku karena ternyata kini kau tahu aku tak pernah ada di muka bumi. Melihatlah ke langit. Cari aku pada bulan pertama, aku menunggumu disitu teman.
Dan, teriaklah!
Kemudian,
Panggil aku, Virga!
Serambi KOMPAK, Lepas Tahun 2010
Dibukukan dalam buku Hujan dan Fiksi yang Kuciptakan,
Penerbit. Leutika Prio.

No comments:
Post a Comment