BUNGA-BUNGA MARPAUR
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Sementara ini, aku hanya berani meratap. Sela keramaian itu membuat sebuah kerikil kecil terlempar dalam hati. Batinku terketuk, bibirpun katup menimpali nasib yang berakar hingga dalam sempitnya jam ini sebab lembar lima ribu rupiah di tangan adalah terakhir yang menemani. Perjuangannya tersungguh di ujung pangkal. Dari jejalan kampus, tempat namaku tercantum sebagai mahasiswa baru, daun-daun tua berjatuhan menyambut kekeringan senja. Pikiranku benar-benar gugur dalam angin yang menghempas hingga habis oleh pasir yang mengikuti arah sepoi-sepoi. Aku pulang, sendiri menaiki angkot yang kemarin sempat ditunjukkan salah seorang teman. Dan di tangannya seraya menggumbar gelisah aku membuka koran lantas membaca berita perihal biaya kuliah akan mengguyur di setiap jenjang. Apalagi lulus di jurusan kedokteran. Puluhan juta yang tak kemana. Hoh!
Tapi kemarin, di senja yang berkirim ibu sempat menaruh harap aku adalah seorang dokter. Namun, aku membuat penawaran, “Bu, menjadi seorang guru juga tugas yang mulia.”
Baiklah, sekarang ini sesuai perjanjian itu aku telah lulus di keguruan. Bertarung sengit bukan cerita baru lagi membuat kebanggaan. Ibu menyambut dengan tangis bergurat manis. Sungguh ia bahagia. Tentu aku puas mencicipi senyumnya saat-saat ini. Hanya! Aku berbohong padanya. Masih di pulau kami, Samosir. Tempat aku lahir dan besar itulah aku mengaku mendapat kuliah gratis, perihal uang masuk tiga juta saja setelah itu selesai. Tapi, ibu jika kau dengar aku ingin mengeluh biru saat ini. Berjalan di kota orang, tak menentu gelisah ini mengumbar. Entah tersangkut dalam sengat matahari ataupun debu yang kian berterbangan di udara beracun. Aku hendak berlari kemana sementara dalam kurun dua minggu uang tiga juta sudah mesti kugenggam. Demi syarat masuk sebagai mahasiswa baru. Begitulah….
“Oya, namaku Marpaur.”
“Ah… dari tadi kamu melamun terus. Saya tanya nama juga kamu gak tahu lagi. Memangnya kurang puas dengan jurusannya.”
“Bukan, Ah… sudahlah. Eh, tapi ada gak pekerjaan dalam dua minggu mengumpulkan uang tiga juta,” kataku buru-buru.
“Di sini? Di Medan ini? Aku pun orang baru di sini. Manalah kutahu!”
“Oya?”
“Ya… perkenalkan, namaku Ebro. Aku lulus di jurusan Fisika.”
“Mantap! Aku di Bahasa Indonesia.”
Sekilas Ebro memandang sekelilingku. Ia mengerenyitkan dahi dan memadu pada sinar yang mengekor di belakangku. Di angkot ini hanya aku dan dia. Entah mengapa kami terlihat sama. Sama-sama merajut tanya atas kehidupan kota yang baru saja kami injak. Ini awal yang membahagiakan bisa berkenalan dengan teman yang lain jurusan sekaligus. Walaupun aku lebih berharap mendapat yang satu jurusan dahulu agar jejakku dan dia terlihat lebih rapat nantinya.
“Gini, Lae… aku ada uang. Kalau mau pinjam lah dulu.”
Ah… masa? Baru kenal sudah menawarkan sejumlah uang. Sejenak aku diam, mencoba mengetes suara klekson mobil di luar angkot. Ah.. masa sih? Gak ada yang salah dengan pendengaran.
“Jangan heran Lae, lagipun kita sama-sama perantauan.”
“Tapi akan lama baru bisa kukembalikan.”
“Pakailah dulu. Kebetulan orang tuaku lebih berkecukupan di kampung,” katanya menyakinkan.
Ia menyuruhku datang besok pagi untuk sama-sama membayar uang masuk kuliah. Sementara, dengan lagak gemetar aku membawa sejumlah uang setelah tadi ia memberikannya terburu-buru di angkot. Kebetulan rumahnya tak jauh dari kos temanku yang kebetulan memberikan tumpangan. Sampai di rumah, tanpa curiga sama sekali Bimbim menatapku masuk. Ia sedang menonton TV sambil sesekali cekikan.
“Paur… udah bayar uang masuk tadi?”
“Belum. Eh loh… kenapa pulak?”
“Kecurian. Tadi di angkot waktu pergi, dompetku digasak, Bim!”
“Bah… terus?”
Aku hanya mengangkat bahu, tapi selintas tersenyum cengir.
“Tapi, tadi ada yang pinjamkan di angkot,” kataku memburu wajah semak Bimbim yang selintas merana mendengar kisahku. Sekilas lagi ia merubahnya dengan kecut yang menjadi. Mungkin wajah tak percaya.
“Iya… Bim, aku pun gak percaya.”
“Hati-hati Paur… ini kota, bukan macam di kampung. Semua serba gak gratis.”
Mendengarnya dadaku bergerak naik turun. Suasana selintas sesak, paru-paru begitu cepat, jantung begitu memompa dengan dahsyatnya. Masih dengan kejadian tadi, waktu yang begitu singkat namun penuh peristiwa. Sebenarnya aku juga gak bakal mau kalau bukan karena mengingat ibu. Sudah pasti ibu akan syok mendengar cerita uangku kandas selama beberapa hari saja di kota. Padahal pagi hingga sore ibu menahan lelah di toko, menjual pernak-pernik. Kalau masa liburan begini, memanglah ramai. Tapi, setidaknya uang tiga juta itu bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Bahkan aku mengatakan padanya uang kuliahku bakalan gratis. Namanyanya anak negeri. Tapi apa mau dikata, uang itu tidak serta merta kudapatkan. Syaratnya harus beberapa semester dulu, mendapat prestasi, ada surat miskin (sudah pasti) dan Ah, tujuh keliling memikirkannya. Mau gratisan aja bayar dulu, mana ada harga kertas yang gratis. Bantiku mengeluhkan. Setelah nama sebagai penerima beasiswa keluar, menunggu uangnya sampai ke tangan juga membuat deg-degan. Itulah cerita anak-anak di kos ini yang telah mengalami.
“Sudahlah Marpaur, masih banyak lagi yang harus kau alami di sini. Ini masih belum seberapa. Sabarlah ya…” Bimbim menekuniku di kos. Ia teman lamaku di kampung. Tak segan-segan makan dan minum gratis di sini. Bimbim sudah bekerja dan ia tekuni sambil kuliah. Begitupun ia tak mengeluh padaku. Mungkin dulu rasanya seperti ini telah dialaminya, sehingga ia mengerti.
***
Esok. Aku bertemu Ebro. Dengan lagak senyum-senyum bangganya ia menuju ke arahku yang sudah setengah jam menunggunya di depan tempat pembayaran uang masuk kuliah. Seperti perjanjian kami kemarin.
Waktu demi waktu, walaupun Ebro lain jurusan denganku, aku tetap menampakkan wajah. Sesekali aku ke kosnya. Dan satu semester ini aku baru bisa mengembalikan setengah dari uang yang kupinjam. Sungguh malunya aku, sementara Ebro santai saja menerimanya. Semakin gelisah semakin aku harus bekerja keras. Hingga jadilah aku bekerja sebagai pelayan restoran sekaligus private les. Lumayan! Apalagi aku harus segera melunasi hutang, sekaligus mencicil uang kuliah semester depan.
Hah… berkat semuanya. Uang Ebro kembali juga. Dan dengan santai aku mengembalikannya. Tapi, aku tahu harus mencicil bunganya. Ya! Aku sempat berjanji kalau satu semester tidak terlunasi, maka bunga adalah jawaban. Aku terima itu dan aku tak menyangka, bunga itu selalu saja berbunga. Sama sekali bukan mauku. Bahkan di kos, terkadang Bimbim mengeluskan dadanya. Apalagi ini?
“Paur… kenapa terus berbunga?”
“Aku gak ngerti Bim, dulu aku memang sempat menjanjikan ini.”
Bimbim semakin gelisah. Aku tahu dari caranya memandangku. Ia seperti sudah menduga bahkan aku ingat nasihatnya dulu padaku. Hoh! Aku benar-benar dungu. Hari demi hari melipat senja, bulan saling berkejaran, tahun bertahta saling mendatangkan waktu. Sudah sebanyak enam semester ini. Bunga itu belum juga layu. Akibatnya kecurigaanku memuncak juga. Aku labrak Ebro dan meminta penjelasan padanya. Dengan santai ia mengatakan, “Santai Lae, ingat kesepakatan kita”.
Dengan geram aku membalas, “Kesepakatan kita selesai, tidak ada lagi pembayaran”.
“Gak bisa gitu, Lae! Gini aja, kalau dalam satu bulan kau bayar satu juta, semua selesai!”
“Ah… bukannya hanya dua ratus”.
“Itu kalau gak mau berbunga lagi.”
Dengan penuh rasa yang berkecamuk, sambil sedikit berdoa dalam hati, aku pun mengiyakan.
“Okelah”.
***
Sebulan kemudian aku ke rumahnya. Dengan penuh kesabaran aku siap melunaskan hutang-hutangku. Tapi tunggu! Di rumah itu sangat ramai. Ada apa?
Ada polisi dan masyarakat yang berdatangan. Aku tak percaya, aku tanya salah seorang di situ. Jantungku tak menentu. Salah satu masyarakat bilang Ebro pernah mencopet beberapa orang mahasiswa baru saat akan membayar uang kuliah. Ia juga perampok kelas kakap yang telah banyak mencuri di kos-kos mahasiswa. Bahkan ia pun membohongi setiap orang untuk memberikan hutang, namun dengan bunga yang begitu tinggi. Seperti aku korbannya. Benar! Seperti aku. Bodohnya. Lama aku menganggap ia dewa penolongku. Bahkan aku pun tak ingat, apakah mungkin ia yang menghipnotisku di angkot tiga tahun yang lalu? Aku tak ingat wajahnya walau dalam hitungan detik.
Begitupun aku lega, ia tertangkap. Dengan demikian, uang di tanganku ini akan aku kirimkan pada ibu. Seraya berdoa agar kelak aku tamat dan membantu biaya kuliah adik-adik.
Serambi KOMPAK, Juli 2011
No comments:
Post a Comment