Sunday, June 24, 2012

Cerpen, Jurnal Medan, 24 juni 2012


Empat Pukul Kesunyian
Oleh: Ria Ristiana Dewi


Hampir setiap waktu sunyi itu mencekam, mengeratkan tangannya di selingkar leher. Paduan desir angin bersama kehitaman malam menyayat, cahaya bintang  berjatuhan, bayang wajahmu tergeletak. Aku terhampar menyaksikan, sebagian perasaan mengatakan betapa kau tega membiarkan sunyi itu berkeliar pada tiap-tiap malam, tiap-tiap mimpi memimpin, hingga sewaktu bangun tetap sama, tiada siapa-siapa. Dan sebagian lagi mengutarakan kau selalu meletakkan wajahmu di aroma kerinduan bahwa: kau ingin tetap untukku, selalu.
                Ingatkah kau, aku pernah memintamu untuk mengikatkan wajah itu di sebuah tiang gantung sepanjang trotoar agar aku dapat selalu mencaci sekaligus melampiaskan sebuah sunyi yang merindu di sepanjang jalan. Hingga suatu waktu sunyi itu mencekam, aku melempar sesimpul senyummu yang tersisa pada wajah di atas tiang gantung. Mungkinkah kau di situ selalu merajut sunyi beserta segala bentuk kerinduannya.
                “Setiap malam, setiap malam aku takut!”
                “Kenapa?”
                “Sepi.”
                Wajah itu mengayun-ayun, berbunyi besi yang saling bergesekan. Wajah itu penuh sunyi yang menyayat di sepanjang ruang. Hembusan angin bertambah riuh, debar jantung tak karuan. Wajah itu seakan tahu, mengerti arti sunyi. Pekat malam menari-nari dalam imaji. Aku menarik napas seirama hembusan angin. Sementara itu, Sam duduk dengan setia di sampingku. Ia terus mendengarkan kisah kesunyian ini. Setiap malam, kisah itu kubagi kepadanya. Lalu entah mengapa, ia selalu setia mendengarkan.
                Setiap malam, ya, setiap malam. Wajah itu, wajah kesunyian, bergantung-gantung dan berpindah-pindah dari satu tiang ke tiang yang lainnya. Menemani langkahku berjalan sewaktu aku pulang dari kantor pukul 20.00 WIB.

Pukul 20.00 WIB yang pertama,
                Pulang dari kantor, aku berjalan di sepanjang trotoar. Seirama langkah, aku menatap wajah pada sebuah tiang. Wajah itu wajah seorang wanita paruh baya, belum pernah menikah. Ya! Usianya berkisar 39 tahun.  Lepas senja, ia melangkah manja di pinggiran jalan sambil menepuk-nepuk pipinya hingga berwarna kemerah-merahan. Pekerjaan yang sudah lama wanita itu jalankan. Aku heran mengapa masih ada wanita dengan berpakaian kantoran saat senja telah mendengkur di ranjang malam. Langkahku semakin pelan seirama niat yang akan kutajamkan untuk bertanya apa yang hendak ia lakukan saat malam telah berkumandang. Ah, sudah lama aku benam niat untuk bertanya kepadanya. Sementara itu aku baru saja membeli sebungkus mie dari gaji pertamaku. Aku akan pulang, membuka sepatu, mandi, menonton TV sambil memakan sebungkus mie. Namun, akankah ia juga melakukannya seperti aku pada pukul 20.15 WIB?
                Lima belas menit aku masih belum paham. Sengaja kurenggangkan waktu duduk di halte. Ia belum juga pulang. Hingga pukul 21.15 WIB aku mendatanginya.
                “Maap, Mbak!” kataku sedikit menundukkan kepala untuk bersikap lebih ramah di depannya.
                “Ya? Oh, mau Mbak? Ini brosur....”
                “Bukan! Saya...”
                “Ya?”
                “Mbak sedang apa ya?”
                “Begini Mbak! Saya sedang bekerja menyebarkan brosur asuransi di jalanan,” katanya sedikit tertawa ringan sambil menyodorkan brosur di tangannya.
                “Asuransi? Malam-malam? Boleh tahu, Mbak di sini sampai jam berapa? Ah, Eh, maap, saya tak bermaksud....”
                “Tak apa,” wajahnya di balut sunyi, namun ia pandai menutupi. Bersamaku, wanita ini tak dapat membohongi diri. Desing mobil masih terlalu ramai, riuh angin malam memeluk wanita ini. Sejenak kami duduk dan ia bercerita panjang lebar.
                “Tidakkah Mbak takut sakit?”
                “Saya tidak tahu. Yang saya tahu saya perlu uang,” katanya.
                Malam kembali membagi kisah. Jika malam adalah peluang, wanita ini akan membagi gelisah di sepanjang jalan. Ia akan terus menunggu om-om hingga raut awan begitu pekat. Saat itulah, sembari berjalan-jalan menaiki mobil om-om tersebut, ia menawarkan asuransi.
                “Mbak tidak takut?”
                “Sampai sekarang mereka tidak berani mengajak saya sampai ke penginapan. Soalnya saya katakan, saya mengidap HIV,” katanya tertawa dengan sedikit sungging aneh sekaligus sunyi. Ya! Sunyi yang terus mengeratkan tangannya di selingkar leher wanita itu. Sunyi yang berpendar di kedua bola matanya. Walaupun begitu, ia masih menganggap pekerjaannya halal. Siapa yang tahu kalau ia tetap menjaga diri.
                Sepanjang jalan, aku meneguk senyum. Ada-ada saja! Wanita di malam yang berjalan di awan pekat. Dengan sunyi yang menyayat dan berdendang mengikuti langkah-langkahnya. Seperti aku, sepanjang trotoar menyimak wajah-wajah sunyi. Angin kian berhembus kencang, jangkrik bersahutan dengan lantang, gerimis semakin menantang.
                Hingga esok,

Pukul 20.00 WIB yang kedua,
                Kali ini wajah kesunyian itu bersiul dari seekor burung, seekor merpati berwarna putih, memiliki mata merah sedikit berair. Merpati itu sering bertengger di atas tiang gantung, melengkapi pandanganku terhadap sunyi yang menyayat lebih dalam. Purnama ikut membedakan malam ini, merpati itu mengepak-ngepakkan sayap sembari terpengkur. Hati ini tak jelas girang, mengapa pula seekor merpati bertengger santai pada tiang di atas trotoar. Tidakkah ia memilih mengoyak-ngoyak daun di atas pohon atau beranjak untuk menemukan sekumpulannya? Langkahku kembali terhenti, kali ini tanpa sebungkus mie, berdiri menatap burung itu.
                Ia adalah seekor burung, namun tak hendak terbang ke manapun. Kenapa? Bukankah kebebasan adalah cita-cita?
                Burung itu membalas tatapanku. Meskipun malam, tidak pula menjadi penghalang. Mata merah berairnya nanar, suasana semakin bercadar. Aku melangkah pergi, ia terpengkur, lalu aku menoleh kembali, dan ia mematuk-matuk tiang itu. Seakan hendak menyampaikan pesan. Aku tak jadi, sebab malam semakin tak kepalang, maka aku pulang.
                Dalam tidur aku bermimpi burung itu mengisyaratkan pertemuan. Suaranya hingga membangunkanku dan aku keluar melihatnya telah bertengger pada tiang listrik yang berada persis di depan rumah kos. Matanya bisu, tatapan kesunyian. Gemericik air dari pipa air yang terhubung menuju gorong-gorong menyisir suara malam itu. Cicit tikus saling berkerjaran menambah gaung kesunyian itu hadir. Tak tertinggal pula hembusan angin mendesir pelan.
                Aku mengusirnya, aku tak berniat memelihara merpati di depan rumah. Ia tak mau pergi, justru nanarnya semakin merajai pikiranku.
                Esok pagi,
                Aku menemukan burung itu telah tergeletak dengan tubuh terbalik di beranda rumah. Sayapnya telah terkoyak parah dan matanya yang nanar itu membelalak di hadapanku. Sunyi mencekam, mengeratkan genggamannya di selingkar leher. Aku menguburnya di bawah guguran daun pohon mangga.
Satu hari mesti kulupakan saja peristiwa tersebut.

Pukul 20.00 WIB yang ketiga,
                Aku kembali melewati trotoar menuju tempat kos-kosan. Hujan menggerimis memaksa langkahku untuk semakin panjang. Jilbab yang kukenakan pun terburai seiring angin yang semakin kencang. Aku merasa takkan sampai kos tanpa kehujanan, maka aku kembali menunggu hujan reda di halte pinggir jalan. Malam menjadi begitu sunyi dengan lebih sunyi. Hanya ada suara desau mobil sesekali dan petir bercampur rintikan hujan, perlahan semakin deras dan semakin lagi. Sesekali pula cahaya kilatan menyambut aroma sunyi, keberanianku seakan padam sebab malam semakin garang.
Sorotanku menyusur di seberang jalan, dengan jarak pandang semakin rapat aku melihat wanita paruh baya berpakaian kantor silam membisu sembari berdiri iri pada hujan yang perkasa. Rambutnya telah basah, pula beberapa kertas yang ada di tangannya. Perkiraanku ia akan pulang dengan sunyi masih terus mengekor di belakangnya.
                Dengan lebih yakin, aku melangkah berani sebab kali ini hujan berisyarat lega meski masih dengan gerimis satu-satu. Layaknya sosok yang ingin tahu, kudekati wanita itu.
                “Maap, Mbak! Masih kenal saya?”
                “Kamu...”
                Ya! Beberapa menit kemudian aku kembali mendengarkan kisahnya. Kisah itu masih perihal sunyi yang mencekam, mengeratkan tangannya di selingkar leher, bergantung-gantung, terkadang pula melompat-lompat di sepanjang tiang, di sepanjang aku berjalan, di sepanjang trotoar dari kantor menuju kos.
                “Aku membunuh anakku sendiri. Aku membunuhnya!”
                Ia meraung, menangis di bahuku. Aku merangkulnya dan menepuk-nepuk bahunya. Katanya, ia menutup kepala sang anak dengan bantal saat malam anaknya tertidur pulas. Katanya, ia ingin melupakan peristiwa di mana pemerkosaan itu terjadi. Saat ia akan menawarkan asuransi di jalanan, saat ia akan meraup keuntungan demi menyembuhkan kedua orang tuanya yang tengah sakit.
                “Ayahku hidup, tapi tak bangun-bangun dari tidurnya! Dan ibuku tak mampu lagi berbicara. Mereka terkena penyakit kelumpuhan. Sementara itu kedua adikku butuh sekolah! Kau tahu aku mencarinya!”
                “Mencari siapa?”
                “Burung merpati!”
                “Apa?”
                “Burung itu membawa kesunyian di tiap malam. Aku membencinya!”
                “Aku tak mengerti maksudmu!”
                Ia terus menangis, sementara akal sehatku semakin miris. Burung merpati itu pernah hinggap di depan rumah kosku dan mati tanpa sebab di beranda rumah. Apa yang mesti kubuat dengan burung merpati yang juga dipenuhi kesunyian itu, dan, dan wanita yang diperkosa itu ingin membunuh merpati itu sama seperti ia membunuh anaknya sendiri.


 Pukul 20.00 WIB yang keempat,
                Kesunyian itu semakin mencekam dan menyayat di malam ke empat. Pukul 20.00 WIB, aku berjalan pulang dari kantor. Tak ada hujan, tak ada wanita itu, tak ada seekor burung merpati melainkan seorang lelaki. Ia mendatangiku dengan tergesa dan menarik tanganku dengan memaksa.
                “Ikut aku!”
                “Sam!”
                “Ayo, ikut aku!”
                “Ke mana?”
                “Memecah kesunyian. Kau kesunyian kan?”
                “Aku tak mengerti.”
                “Aku akan membuatmu tak pernah melupakan kesunyian.”
                Lalu ia membawaku ke dalam semak taman yang berada tak jauh dari jalan. Benar saja ia membuatku tak pernah melupakan kesunyian. Merpati di taman pun berterbangan. Langit tersenyum, hujan menggerimis. Dan kini, kesunyian telah mengeratkan tangannya di selingkar leher milikku. Aku menggamit malam dan pulang dengan sunyi yang mencekam.

Serambi KOMPAK,  6 April 2012

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...