Kita mengungkapnya dalam percakapan malam
--di malam, ada rasa yang tumpah ruah--
tak mampu lagi dibendung oleh mata hati:
dadamu pedar mempercakapkankan kisah kita:
aku mengalirkan air yang deras, dan kau,
tak mampu menampungnya, apalagi
kita sepakatkan, umpama kelopak senja
sebagai syahdu yang hadir malam ini
"kita hanya meminjamnya sebentar-sebentar,
lalu mengedipkan mata"
tahu: hidup itu sekejap dan kita adalah mata
yang hidup di percakapan malam.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...
-
Dengarkan ini! kau takkan bisa lagi meremehkan orang lain atau menjadikan objek yang engkau remehkan itu sebagai bahan renyah-renyah dengar...

No comments:
Post a Comment