Saturday, March 16, 2013

Cerpen, Medan Bisnis, 17 Maret 2013



Karena Andar
Oleh: Ria Ristiana Dewi

                Aku berlari ke arah daun guguran di antara pohon-pohon cemara, melihat bayangan yang terbawa angin.  Angin itu seolah-olah tersenyum lalu melambai ke arahku. Aku jadi teringat dengan  cerita angin. Angin? Saat ini, angin itu berputar bulat lalu menghilang.
            “Kau rindu aku?”
            Aku belum bisa memastikan mengapa ada bayangan di balik angin yang bisa berbicara bahkan tersenyum. Tapi,
            “Sudahlah...!”
            “Andar?” kataku dengan sedikit terkejut pelan.
            “Ya, ini aku! Kamu sedang apa di sini?” katanya mengerenyitkan dahi
            “Tapi tunggu, kamu melamun lagi ya, Mbak Dara?” sambungnya lagi melirik untuk berusaha membaca wajahku.
            Aku malu, tapi kau, Andar selalu bisa membuatku melupakan alasan mengapa aku harus hampa dan kosong.
            Mare... kita ngopi bareng, yuk, Mbak Dara!” sambil mengayunkan tangannya ke arah kantin kampus yang memang tampak dekat oleh mata. Aku dan Andar, ya, kami sudah merasa lapar. Aku membayangkan, ah, kali ini aku membayangkan nasi putih hangat dengan satu potong paha ayam bersama saus sambal. Dan ya, tentu saja secangkir kopi khas kantin kampus. Ah, biasa saja, tapi kami lebih suka mengatakannya begitu.
            Ladies first!” kata Andar sambil mengedipkan matanya.
            “Ha... ha... ha... masih berlaku ya, Ndar!”
            “Loh... ya, iya untuk Mbakku yang cantik toh!”
            “Ha... ha... ha....”
            Akhirnya aku memesan terlebih dahulu dan disusul Andar. Setelah kami duduk hingga pesananpun datang, Andar tak pernah berhenti mengoceh. Ia masih suka melihatku dengan gaya anak cupu-cupu ala Guntur Alam, penulis novel Jomblo Cenat Cenut yang sangat aku kagumi.
            “Seseruput itu seseduh cintaku, Dara!”
            “Apa?” Aku hampir menyeprotkan kopi ke wajahnya kalau bukan karena ia berbalik badan dan menghindari serangan itu.
            “Ups, maap... maap!”
            “Ngak apa-apa, Mbak Dara!” katanya sambil berbalik dan berusaha untuk tersenyum dengan tenang, lebih berusaha tenang dari pada saat sebelum terkena cipratan kopi.
            “Hem.. cipratan kopi dari bibirmu juga sangat mempesona ya!”
            “Ha... ha... ha... mau lagi?”
            “Ups, ja....ngan...!” katanya memarkirkan telapak tangannya di hadapanku dan ia terlihat sedikit gelisah. Selagi begitu, aku justru ingin tertawa. Sifat melow dan gaya melamun ala melankolisku sekejap hilang. Ini semua karena Andar.
***
            Itulah mengapa aku tertarik memperkenalkannya denganmu, Wan! Ya, perkenalkan! Namanya Andar. Aku suka menjebaknya hanya untuk melewati waktu makan siang di kampus bersamaku. Hingga suatu hari ia pergi. Aku tak tahu ia pergi ke mana. Tapi aku sangat membutuhkannya saat ini, di sini. Aku terlihat rapi atau mungkin seperti objek setrikaan yang tak dapat diganggu gugat di lemari pakaian. Tapi jika kau bertanya, ia sangat ingin dipakai dan dibawa berjalan-jalan sebab untuk apa lagi ia ada.
***
            “Perkenalkan, namaku Andar!”
            “Aku Dara!”
            “Kau, mahasiswi di sini?”
            “Ya!”
            “Jurusan?”
            “Ekonomi!”
            “Wow!”
            “Kenapa wow?”
            “Itu jurusan impianku. Tapi sayang, passing gradeku tidak sampai. Aku hanya akan bangga karena sukses di jurusan pertanian.
            “Itu hebat!”
            “Hem... ya iyalah, kalau kamu bilang tidak hebat, aku laporin yo ke dekan!”
            “Ha... ha... ha... kamu cupu ya... kayak anak-anak!”
            “Oi..alah, Mbak! Karena aku anak-anak, maka aku panggil kamu, Mbak! Oke?”
            “Terserah!”
            Hari itu. Ia membawaku berjalan-jalan keliling kampus. Wan, lebih tepatnya, ia adalah abang angkatanku. Tapi, begitulah pertemuan kami, kau takkan bisa menyangkanya. Sejak perkenalan itu, karena ia tahu bahwa aku bukanlah penduduk asli Yogyakarta dan tentu, setelah ia tahu aku berasal dari Medan, maka ia tampak semangat memperkenalkan padaku tentang dunianya: Yogyakarta.
            Wan, inilah pertamakalinya aku mengenal  Yogyakarta. Semua itu dari Andar.  Pagi itu aku dan Andar berjalan-jalan ke Malioboro. Ia berhasil menyakinkanku setelah sebulan kami berkenalan. Tentu saja tidak hanya itu, ia terlebih dahulu memperkenalkan aku dengan ibunya. Wan, jangan salah sangka! Aku sedang tidak berpacaran dengannya!
            Malioboro memang menjadi pilihan pertama aku dan Andar. Sepanjang  jalan kota Malioboro yang aku lalui, penduduk di sini memang terkenal dengan keramahtamahannya. Saat itu, aku dan Andar memilih untuk menaiki Trans Jogya. Pagi itulah, aku melihat suasana Yogya yang penuh daya tarik: klasik, tapi tetap modern pula.
            Ia juga memperkenalkan aku dengan Candi Prambanan dan Borobudur. Kedua candi yang selama ini hanya bisa aku nikmati di TV, buku, ataupun internet. Wan, aku sangat mengagumi caranya menjagaku selama perjalanan. Ya, memang! Ia telah dipesankan pada ibunya untuk menjagaku. Sebab aku tak punya apapun yang bisa menjamin keselamatan seorang anak gadis seperti aku kecuali percaya bahwa Allah SWT akan selalu melindungiku. Dan, kau, Wan, kau juga akan selalu berdoa untukku, kan?
***
            Wan, di Malioboro inilah aku selalu menunggu Andar. Ia tak pernah datang lagi. Aku duduk di bawah pohon Cemara yang selalu menjadi tempat kami menghabiskan liburan bersama.  Setahun perkenalan aku dengannya, aku baru berani datang sendirian ke rumahnya.  Itupun setelah aku tahu, ia tak pernah datang lagi ke kampus. Setelah tamat kuliah, menurut pengakuan ibunya, ia sibuk untuk menjalankan pekerjaannya di Kalimantan.
***
            Wan, Perkenalkan! Namanya Andar. Ini belum menjadi akhir dari ceritaku. Sebab, ia menitipkan satu buah cincin untukku melalui ibunya. Wan, kaulah kekasihku, dan ia, ia hendak melamarku setelah pekerjaannya usai di Kalimantan dan mendapat rekomendasi pemindahan kerja ke Yogyakarta. Saat itu terjadi, apa yang harus kuucapkan?
            Aku memang memperkenalkan diriku sebagai Dara—yang tidak memiliki kekasih sebab agama kita tidak mengijinkan walaupun ya, hanya kita dan Tuhanlah yang tahu komitmen hidup kita berdua. Untuk itulah, aku mengirimkan surat ini untukmu. Untuk mengatakan padamu bahwa ini karena Andar. Aku menulisnya di antara guguran pohon Cemara yang menghadirkan angin-angin kerinduan. Dan aku masih melihat senyummu dan Andar di antara angin-angin itu. Aku ingin berkata, tidak ada dusta dalam perkataan ini dan angin akan bersikap jujur padamu, Wan.
Serambi Kompak, 5 Maret 2013

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...