Karena Andar
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Aku
berlari ke arah daun guguran di antara pohon-pohon cemara, melihat bayangan
yang terbawa angin. Angin itu
seolah-olah tersenyum lalu melambai ke arahku. Aku jadi teringat dengan cerita angin. Angin? Saat ini, angin itu
berputar bulat lalu menghilang.
“Kau
rindu aku?”
Aku
belum bisa memastikan mengapa ada bayangan di balik angin yang bisa berbicara
bahkan tersenyum. Tapi,
“Sudahlah...!”
“Andar?”
kataku dengan sedikit terkejut pelan.
“Ya,
ini aku! Kamu sedang apa di sini?” katanya mengerenyitkan dahi
“Tapi
tunggu, kamu melamun lagi ya, Mbak Dara?” sambungnya lagi melirik untuk
berusaha membaca wajahku.
Aku
malu, tapi kau, Andar selalu bisa membuatku melupakan alasan mengapa aku harus
hampa dan kosong.
“Mare...
kita ngopi bareng, yuk, Mbak Dara!” sambil mengayunkan tangannya ke arah
kantin kampus yang memang tampak dekat oleh mata. Aku dan Andar, ya, kami sudah
merasa lapar. Aku membayangkan, ah, kali ini aku membayangkan nasi putih hangat
dengan satu potong paha ayam bersama saus sambal. Dan ya, tentu saja secangkir
kopi khas kantin kampus. Ah, biasa saja, tapi kami lebih suka mengatakannya
begitu.
“Ladies
first!” kata Andar sambil mengedipkan matanya.
“Ha...
ha... ha... masih berlaku ya, Ndar!”
“Loh...
ya, iya untuk Mbakku yang cantik toh!”
“Ha...
ha... ha....”
Akhirnya
aku memesan terlebih dahulu dan disusul Andar. Setelah kami duduk hingga
pesananpun datang, Andar tak pernah berhenti mengoceh. Ia masih suka
melihatku dengan gaya anak cupu-cupu ala Guntur Alam, penulis novel
Jomblo Cenat Cenut yang sangat aku kagumi.
“Seseruput
itu seseduh cintaku, Dara!”
“Apa?”
Aku hampir menyeprotkan kopi ke wajahnya kalau bukan karena ia berbalik badan
dan menghindari serangan itu.
“Ups,
maap... maap!”
“Ngak
apa-apa, Mbak Dara!” katanya sambil berbalik dan berusaha untuk tersenyum
dengan tenang, lebih berusaha tenang dari pada saat sebelum terkena cipratan
kopi.
“Hem..
cipratan kopi dari bibirmu juga sangat mempesona ya!”
“Ha...
ha... ha... mau lagi?”
“Ups,
ja....ngan...!” katanya memarkirkan telapak tangannya di hadapanku dan ia
terlihat sedikit gelisah. Selagi begitu, aku justru ingin tertawa. Sifat melow
dan gaya melamun ala melankolisku sekejap hilang. Ini semua karena Andar.
***
Itulah
mengapa aku tertarik memperkenalkannya denganmu, Wan! Ya, perkenalkan! Namanya
Andar. Aku suka menjebaknya hanya untuk melewati waktu makan siang di kampus
bersamaku. Hingga suatu hari ia pergi. Aku tak tahu ia pergi ke mana. Tapi aku
sangat membutuhkannya saat ini, di sini. Aku terlihat rapi atau mungkin seperti
objek setrikaan yang tak dapat diganggu gugat di lemari pakaian. Tapi jika kau
bertanya, ia sangat ingin dipakai dan dibawa berjalan-jalan sebab untuk apa
lagi ia ada.
***
“Perkenalkan, namaku Andar!”
“Aku Dara!”
“Kau, mahasiswi di sini?”
“Ya!”
“Jurusan?”
“Ekonomi!”
“Wow!”
“Kenapa wow?”
“Itu jurusan impianku. Tapi sayang, passing
gradeku tidak sampai. Aku hanya akan bangga karena sukses di jurusan
pertanian.
“Itu hebat!”
“Hem... ya iyalah, kalau kamu bilang
tidak hebat, aku laporin yo ke dekan!”
“Ha... ha... ha... kamu cupu ya...
kayak anak-anak!”
“Oi..alah, Mbak! Karena aku
anak-anak, maka aku panggil kamu, Mbak! Oke?”
“Terserah!”
Hari
itu. Ia membawaku berjalan-jalan keliling kampus. Wan, lebih tepatnya, ia
adalah abang angkatanku. Tapi, begitulah pertemuan kami, kau takkan bisa
menyangkanya. Sejak perkenalan itu, karena ia tahu bahwa aku bukanlah penduduk
asli Yogyakarta dan tentu, setelah ia tahu aku berasal dari Medan, maka ia tampak
semangat memperkenalkan padaku tentang dunianya: Yogyakarta.
Wan,
inilah pertamakalinya aku mengenal
Yogyakarta. Semua itu dari Andar.
Pagi itu aku dan Andar berjalan-jalan ke Malioboro. Ia berhasil
menyakinkanku setelah sebulan kami berkenalan. Tentu saja tidak hanya itu, ia
terlebih dahulu memperkenalkan aku dengan ibunya. Wan, jangan salah sangka! Aku
sedang tidak berpacaran dengannya!
Malioboro
memang menjadi pilihan pertama aku dan Andar. Sepanjang jalan kota Malioboro yang aku lalui, penduduk
di sini memang terkenal dengan keramahtamahannya. Saat itu, aku dan Andar
memilih untuk menaiki Trans Jogya. Pagi itulah, aku melihat suasana Yogya yang
penuh daya tarik: klasik, tapi tetap modern pula.
Ia
juga memperkenalkan aku dengan Candi Prambanan dan Borobudur. Kedua candi yang
selama ini hanya bisa aku nikmati di TV, buku, ataupun internet. Wan, aku
sangat mengagumi caranya menjagaku selama perjalanan. Ya, memang! Ia telah
dipesankan pada ibunya untuk menjagaku. Sebab aku tak punya apapun yang bisa
menjamin keselamatan seorang anak gadis seperti aku kecuali percaya bahwa Allah
SWT akan selalu melindungiku. Dan, kau, Wan, kau juga akan selalu berdoa
untukku, kan?
***
Wan,
di Malioboro inilah aku selalu menunggu Andar. Ia tak pernah datang lagi. Aku
duduk di bawah pohon Cemara yang selalu menjadi tempat kami menghabiskan
liburan bersama. Setahun perkenalan aku
dengannya, aku baru berani datang sendirian ke rumahnya. Itupun setelah aku tahu, ia tak pernah datang
lagi ke kampus. Setelah tamat kuliah, menurut pengakuan ibunya, ia sibuk untuk
menjalankan pekerjaannya di Kalimantan.
***
Wan,
Perkenalkan! Namanya Andar. Ini belum menjadi akhir dari ceritaku. Sebab, ia
menitipkan satu buah cincin untukku melalui ibunya. Wan, kaulah kekasihku, dan
ia, ia hendak melamarku setelah pekerjaannya usai di Kalimantan dan mendapat
rekomendasi pemindahan kerja ke Yogyakarta. Saat itu terjadi, apa yang harus
kuucapkan?
Aku
memang memperkenalkan diriku sebagai Dara—yang tidak memiliki kekasih sebab
agama kita tidak mengijinkan walaupun ya, hanya kita dan Tuhanlah yang tahu
komitmen hidup kita berdua. Untuk itulah, aku mengirimkan surat ini untukmu.
Untuk mengatakan padamu bahwa ini karena Andar. Aku menulisnya di antara
guguran pohon Cemara yang menghadirkan angin-angin kerinduan. Dan aku masih
melihat senyummu dan Andar di antara angin-angin itu. Aku ingin berkata, tidak
ada dusta dalam perkataan ini dan angin akan bersikap jujur padamu, Wan.
Serambi Kompak, 5 Maret 2013

No comments:
Post a Comment