Sunday, January 26, 2014

Cerpen, Medan Bisnis, 26 Januari 2014

Dalam Cermin di Tengah Hujan






  
"Masih ingat?"
"Tentu!"
Itu percakapan hujan, percakapan tengah malam Sam dengan Ran. Malam itu, bibir teras benar-benar telah basah, mereka menatap pandang dengan gumam santai dan mengingat-ingat masa-masa yang sudah keberapa kali, entahlah, sudah untuk hitungan yang bagaimana lagi, sehingga mereka terpaksa menerka-nerka ingatan itu. Mereka menarik napas secara bergantian ketika tiba waktunya sejarah itu berbekas.
"Kau, bahkan menyuruhku mandi hujan hanya untuk datang tepat waktu!"
"Sudahlah Sam! Jangan mulai mengungkit-ungkitnya lagi. Ha... ha... ha...."

Bahkan tawa mereka masih begitu polos seperti masa kanak-kanan yang tak pernah usai jadi bahan candaan. Sesekali mereka memegang perutnya masing-masing akibat tak mampu membendung geli tawa.

Hujan turun gerimis, dengan perlahan membasahi bibir teras, lagi dan lagi hingga menggenangi bagian dalam teras. Sam dan Ran masih mengingat hujan di teras rumah, sesekali Ran menyimpul senyum dan Sam membalas dengan lagu-lagu yang lama tak didengar Ran lagi. Lagi dan lagi hujan tak pernah mau selesai, kini, bahkan, menggenangi kaki Ran dan Sam. Mereka tetap santai, saling menatap satu sama lain.

Mungkin sebuah percakapan yang tak pernah mereka duga sebelum-sebelumnya. Percakapan ringan dan renyah yang dihabiskan hanya untuk berdua saja. Jika ada yang menatap mereka dari kejauhan dan berusaha untuk menduga-duga, maka mereka setidaknya akan berkata, "Dunia benar-benar mereka nikmati berdua saja! Romantis!"

Atau mungkin, mereka sampai lupa bahwa hujan telah melenyapkan sandal-sandal kesayangan mereka? Ran menyukai warna merah, namun sandal berwarna merah itu bahkan telah tenggelam dibawa arus pendek - perlahan terlihat deras, namun Ran tak begitu mempedulikannya. Sam berusaha mengingatkan Ran, namun Ran menghentikannya.
"Biar saja Sam! Biarkan saja tenggelam. Aku juga tak terlalu suka motifnya!" kata Ran dengan menaikkan bahunya sedikit berikut kedua telapak tangannya secara bersamaan.

Sam hanya diam dan kembali menatap sorotan Ran, lantas ia membiarkan pula jika berikut sandal yang tergenang air dan termakan arus adalah sandal kesayangannya - yang baru saja ia beli di Singapura saat berbulan madu sekitar satu bulan yang lalu - tentu aja masih begitu hangat di ingatan Sam. Ia berusaha tidak acuh menanggapi sandal yang menurutnya bisa ia dapatkan kapan dan di mana pun itu. Kapan dan di mana pun yang ia inginkan. Mungkin! tidak sampai harus berbulan madu untuk kedua kalinya.

"Kau bahkan tidak peduli dengan sandal kesayanganmu, Sam! Kau tukang gombal paling gila yang pernah aku kenal!"

Ia terus menggali lorong-lorong hati yang terbangun di dalam mata Ran. Mereka lupa bagaimana dulu pertengkaran kerap membias di dada masing-masing. Aku cinta kamu, kata Sam, dan Ran akan membalasnya dengan, ah, itu hanya gombal dan ia pergi dan ia akan meninggalkan Sam dengan bujuk rayu tidak berguna.

Hem... ya, air pun semakin deras berpusar hampir mencapai lutut mereka berdua, menenggelamkan betis. Sorotan Sam tidak ingin lepas barang satu dua kali pusaran. Ia tak ingin melewati lorong-lorong di dalam mata itu yang sejak tadi ia nikmati, bermain dalam ombak-ombak di dalam mata itu, berikut angin rindu bergidik riuh mesra, membangunkan sorotan yang begitu tajam, mencekam rindu yang berkabut di musim-musim penghujan. Beberapa tembang kenangan meluncur dari bibir lelaki ini.

"Air, Sam! Banjir!" kata Ran setelah bergidik pelan menatap pada genangan air yang sudah memenuhi teras rumah - yang memang dibuat lebih rendah dari rumah mereka. Meskipun begitu, air tak mampu dibendung masuk ke dalam rumah, namun Sam hanya menatap Ran.

"Kalau rumah ini banjir, aku akan belikan kamu rumah yang lebih mewah dari rumah ini!"
Ran ingin tertawa, namun ia gagal sehingga yang terjadi hanya sebuah ekspresi senyum yang halus. Di balik ekspresi itu, Ran kembali menatap sorotan Sam dengan begitu tenang.

Sementara itu, air tampak sudah akan membanjiri rumah mereka. Di dalamnya, ruang TV, ruang tamu, kamar tidur yang sofanya baru saja dibeli Sam, ataupun beberapa karpet di bawah kursi tamu telah basah. Tidak ada cermin yang mampu menggambarkan hati masing-masing di antaranya. Bahkan situasi banjir tak mampu membendung puncak rindu itu.
"Jangan berbalik! Tetaplah di situ, jangan pedulikan banjir!"

Meskipun, beberapa orang dari rumah sebelah tampak sibuk mengangkut barang-barang mereka ke tempat yang lebih tinggi, beberapa lainnya berusaha membendung derasnya air, juga ada yang menggunakan alat penyapu air untuk mengeluarkannya dari dalam rumah mereka. Mereka tidak peduli.

Beberapa di antaranya masih berkesempatan melongok dari balik pagar dan menggelengkan kepala beberapa kali tatkala melihat lelaki dan perempuan yang terlihat bodoh dengan tindakan saling menatap, seperti menatap sebuah cermin di depan masing-masingnya, pada hujan yang semakin lama semakin memenuhi pikiran warga, meskipun tidak untuk pikiran mereka berdua.

Mereka tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu ketika kemudian listrik menjadi padam secara berlebihan, mereka saling berpegangan tangan. Warga mulai berteriak kesal, beberapa menyambutnya dengan umpatan kesal, ada yang menelpon pihak penanggungjawab listrik dengan makian-makian, ada pula yang sekadar mengumpat dalam diam di jejaring sosial, ataupun blog-blog yang menurut orang lainnya, itu tidaklah begitu penting.

Yang penting dan menarik bagi mereka saat sekelompok orang yang menyebut dirinya warga demokrasi membakar lembaga listrik di kotanya. Lantas kini, listrik jadi benar-benar padam, entah sampai kapan.

Mereka berdua pun tetap saja saling menatap meskipun hujan menggerimis di tengah siang yang sudah menyoroti kornea kedua mata. Dan saat itu sekelompok orang mulai kelelahan untuk memperjuangkan listrik agar menyala, banjir agar terhenti, agar cinta kelak bersemi di akhir penceritaan.

Mereka belum juga lapar!

"Kau ingin anak berapa, Sam?"
"Anak? Dari siapa?"

Ran menaikkan sebelah alis matanya, lorong-lorong dalam korneanya membeku seperti telah turun salju dan di tempat yang jauh dalam lorong itu air berombak dan tadinya mengalir jernih, kini mulai membeku.

"Dari siapa lagi?"

"Maksudmu? Dari istriku?"

"Tentu saja dariku! Kau ini bagaimana!"

Percakapan mulai tidak semestinya. Beberapa warga menyiapkan telinga untuk mendengar sebuah pertengkaran hebat. Beberapa mulai menggelengkan kepala untuk kesekian kali.

Kini, banjir pun mulai surut, lampu telah menyala, warga terlihat sibuk membersihkan kotoran sisa-sisa banjir di rumah mereka. Sementara itu pertengkaran terus terjadi di rumah sepasang kekasih yang konon menikah dengan dua orang saksi di rumah yang baru saja mereka beli ini.

Sepasang warga yang mengaku dirinya adalah seorang RT dan seorang lagi pak Lurah mendatangi rumah sepasang kekasih yang telah menikah sebulan yang lalu itu.

"Maaf Pak! Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya mohon dengarkanlah aspirasi kami!"

Ran nampak naik tensi apalagi Sam. Suasana sorotan mata berubah menjadi suasana tuntutan warga yang sejak tadi tidak mereka pedulikan. Bapak pemimpin itu kini mempersilahkan Pak RT dan Pak Lurah yang sejak tadi menatap enggan kepada rumah yang kotor ini untuk duduk di sebelahnya. Sementara Ran tampak mengumpat geram sambil berceloteh untuk sekadar didengar oleh mereka berdua.

"Aku ingin punya anak! Titik! Aku juga istrimu sejak sebulan yang lalu! Jangan pernah berharap pernikahan itu hanya sebatang janur di depan rumah!"

Beberapa cermin di dalam rumah pecah di tangan Ran, Pak RT dan Pak Lurah kini pun bernajak pergi dari rumah pemimpinnya setelah mendapat apa yang mereka mau. Tak peduli kalau pada akhirnya, mungkin ya, Ran mengamuk dengan hebat dan memecahkan seluruh cermin di rumahnya. Bahkan ia ingin sekali mencungkil mata Sam! Mata yang tadi ia tengah bercermin di balik hujan. Mata itu berangsur menjadi kabut tebal dan menyesakkan.

Ran hampir saja kehilangan nyawanya. Untunglah seseorang menaham tindakan itu dari belakang tubuhnya, dengan memeluknya dan mencoba menyuntikkan obat penenang untuknya.

Namun, Sam sudah tidak peduli lagi ketika kemudian ia meninggalkan rumah itu di tengah hujan yang mengguyur perlahan, perlahan deras dengan lebih deras.

Kini, cinta hanya sepasang sorotan semu yang menguyur mata milik wanita cantik bernama Ran. Ia bahkan hampir lupa siapa nama lengkapnya ketika beberapa orang dokter di kemudian tahun baru ini menanyakannya.

"Siapakah aku dan siapa kamu? Apa kamu kekasihku?" itulah ucapanya di hadapan seorang dokter yang tadi memeluknya begitu erat, sangat erat!

(Cerpen: Ria Ristiana Dewi) (Serambi Kompak, 29 Desember 2013)

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...