Tertawa di Atas Nama Malam
Ada malam, yang suka tertawa, yang langitnya terbuat dari kepayahan angin berhembus di dahan-dahan Pohon Beringin. Itu, waktu sekitar bintang bersinar terang, dan pucatnya wajah terbayang dalam benak mata kita. Berkaca-kaca dan bersatu dengan perasaan. Meskipun ruang bicara ini menenggelamkan semua harapan, dan akhirnya, dipaksa waktu pula, kita pulang ke rumah sambil berdecak dalam dada. Tanganku terpaksa meremas ujung pakaian dan meringis penuh murka. Bayangan langkah kala itu adalah akhir keputusan kita. Tak ada yang harus bergegas sesal atau apa.
Dan, malam ini, sebuah dendang rasa ini menemani.....
kita bertemu sebentar saja, dan ayo, lelap....
seandainya....
No comments:
Post a Comment