Monday, December 27, 2021

Horornya UP PPG

Untuk lulus dalam pendidikan PPG, setiap guru harus menjalani kuliah online selama 4 bulan bersama dosen yang diakhiri dengan ujian UKMPPG. Begitupun saya bersyukur PPG kali ini tidak dijalani PTM melainkan online, sehingga saya tak perlu meninggalkan pekerjaan dan keluarga. 

Ujian UKMPPG terdiri dari UKIN dan UP. UKIN merupakan ujian praktik lapangan, membuat video, menguploadnya di LMS disertai perangkat ajarnya. Adapula menyertakan portofolio berupa jurnal, atau karya lainnya sebagai bentuk penilaian. kami hanya memiliki waktu satu minggu untuk melengkapi semua itu dan setelahnya berselang 1 hari, dilakukan gladi untuk ujian UP satu hari berikutnya. Saya ingat nasihat salah seorang dosen agar di sela-sela kesibukan mengerjakan tugas di LMS, meet, UKIN, kami tetap belajar membaca materi. Atas inisiatif salah seorang teman, kami rajin mengerjakan soal dan membahasnya. Namun tentu, saya tidak bisa melakukannya dengan maksimal. Saat pagi saya harus bekerja sambil meet dengan dosen, diselingi mengerjakan tugas-tugas, sore terkadang kami meet lagi dan presentasi. Dan malam, saya harus menjaga anak saya yang masih kecil-kecil dan tentu saat malam teman-teman membahas soal, saya abaikan kecuali ada sela waktu yang bisa dimanfaatkan. Saya yang sejak dulu hanya mengajar bahasa Indonesia, kali itu tentu saja cemas karena harus mempelajari semua bidang sebagai tuntutan guru PGSD yang harus bisa menguasai 5 mapel sekaligus. Materinya juga bukan pula materi siswa SD, melainkan materi dewasa yang berlatar High Order Thinking Skill. Namun, saya berupaya belajar terus menerus, meskipun terkadang apa yang saya pelajari banyak pula yang saya lupa setelah beberapa hari diselingi mengerjakan tugas. Namun, dalam hati saya bertekad saya harus lakukan semaksimal mungkin, ini kesempatan langka yang sulit untuk saya ulangi lagi. Dan berdasarkan informasi banyaknya teman angkatan sebelumnya tidak lulus, saya semakin cemas dan semakin harus membuat sesuatu. Dengan penuh drama, saya harus dapat melalui ini. 

Ada perasaan cemas berlebihan hingga terkadang emosi tidak terkontrol dengan baik. Saya katakan pada keluarga bersabarlah melihat saya seperti ini. Terkadang, saya tidak bisa memegang anak, pekerjaan rumah, dan lainnya. Begitu pula di sekolah yang saat itu tengah mengadakan ujian. Betapa sibuknya mereka dan saya dengan rasa kurang enak hati, tidak bisa maksimal membantu. Saya mengerjakan semuanya dan harus bisa melauinya. Saya harus menyiapkan nilai siswa tepat waktu dan saya juga harus menyiapkan tugas PPG saya tepat waktu, saya pula harus memastikan anak kandung saya sendiri mampu dalam ujiannya di sekolah. 

Tentu saya harus sehat. Saya berupaya untuk sesehat mungkin dan sejernih mungkin dalam berpikir. Semua harus dilalui dengan baik. Dan apa yang telah saya korbankan haruslah ada timbal balik yang sesuai. Tentu itu semua rencana saya dan rencana Allah harus saya jalani kalau nantinya semua itu tidak sesuai dengan rencana saya sendiri.

Terkadang, saya mengatakan pada diri sendiri, bersabarlah dan berupayalah, ini kesempatanmu dan tidak selalui ada kesempatan sebaik ini lagi, jangan sampai saya menyesal. Saya terus melihat buku-buku yang materi kisi-kisinya sangat banyak yang belum mampu saya pelajari. Tapi saya katakan pada diri sendiri, terus cari peluangnya dan terus sampai titik akhir, jangan lengah dan lemah lagi, abaikan bosan, lelah, dan semuanya. Kuatkan, kuatkan.

Dan, dengan drama lokasi ujian yang sulit didapatkan dan perasaan yang cemas karena takut peristiwa mati lampu, internet, dll. Tentu terbayang dalam benak saya pula. 

Persiapan teknis terus saya lakukan. Saya memutuskan untuk ujian di rumah setelah sedkit pertengkaran rencana di hotel pun gagal. Dengan rasa bercampur aduk saya terus berdoa. Saya ungsikan anak-anak ke rumah bude nya dan mengkosongkan rumah. Saya minta suami untuk menjaga di luar kamar dan memastikan tidak ada orang datang membuat keributan. Suasana ujian harus benar-benar clear. 

Saat menjawab soal. Saya tak menemukan satu soal pun masuk persis dari soal yang sudah saya baca. Namun, nalar dan materinya sama dan ini hanyalah soal yang diubah-ubah kondisinya. Saya menjawab soal-soal yang terkadang satu dengan lainnya terlihat sama saja, namun saya harus bisa menjawabnya sebaik mungkin, sebaik mungkin. Saya harus memastikan semua terjawab dengan penuh pertanggungjawaban--maksudnya saya harus memastikan saya tahu apa yang saya jawab dan sadar sesadar-sadarnya. Tidak ada cela untuk tidak konsentrasi, ada gangguan, dan lainnya. Terkadang pengawas mengharuskan kami setiap dua puluh menit mengeliling kamera ke seluruh ruang agar ia memastikan tidak ada kecurangan. Saya harus bisa saat itu semaksimal kemampuan yang sudah saya perjuangkan. 

Itu, adalah ujan paling serius yang saya lakukan. Dan ya, setelah berhari sejak ujian itu, saya berusaha untuk mendamaikan hati, kalau saya tidak lulus itu wajar dan saya harus memakluminya.

Namun, seminggu lebih berselang, pengumuman pun tiba. Salah seorang teman mengatakan Alhamdulillah di grup. Saya langsung mencari kertas ujian saya untuk melihat nomor ujian.

Dan,

saya masukkan nomor ujian dan tanggal lahir dengan cepat:

bunyi "lulus ukmppg" pun terbaca oleh saya dengan cepat.

Saya sontak keluar kamar dan mengatakan dengan kakak saya,

"Aku lulus, aku lulus, akhirnya......"

-----------------

PGSD di LPTK saya terdapat 200.an lebih. Namun yang lulus hanya 88 orang. Sontak tentu, kami terkejut. 
Banyak yang tidak lulus mengungkapkan kekecewaannya di FB dan ya, saya paham, ada rasa kecewa karena kelulusan PPG tidklah mudah. Ada perasaan sedih yang tak terungkapkan. Ya, saya paham itu.

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...