Saturday, January 26, 2013

Medan Binis, 27 Januari 2013


Sayap dan Melodi di Light Tujuh Malam
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Light 1
            Ia bersama sekumpulan orang membawa kayu yang setengah dilahap api. Nyalanya berteriak dengan penuh haus seolah tengah bersiap menghabisi sebuah tubuh. Jauhari berada di barisan depan. Senyumannya memenuhi ruang malam. Di hadapan mereka, ombak seolah menari dengan gemulai, bergulung dengan ketinggian hingga dua meter dan mereka memilih untuk tidak terlalu dekat. Maka, perempuan itu tidak menyianyiakan waktunya. Ia melompat cepat dan seketika hilang dalam lautan. Tubuhnya pun padam oleh malam.
            Warga berteriak: seluruh mata menjurus pada tubuh yang hilang itu, wajah mereka berubah lugu dan terbelalak. Jauhari mencoba untuk percaya apa yang tengah ia lihat.
***
Light 2
            Ombak kembali kelebat dalam batin, wanita di sudut gundah itu bernama Intania. Rambut gerai dalam angin lautan, napasnya menemukan satu-satu ketenangan. Melodi dan sayap-sayapnya ia terbangkan ke angkasa malam, bagai elang di langit kembara. Intania dalam ketenangan malam, di balik sambutan ombak, merentangkan harapan. Ia kejar ombak yang datang bergulung, ia datang, bukan untuk pergi dari maut yang akan menerkam, melahap habis dirinya menjadi bagian paling malang.
            “Intania... Intania...”
            “Aku mau mati, Barak! Aku mau mati!”
            Barak memeluk erat Intania. Ditampungnya tangis itu, kepedihan itu. Sepi pun berkelakar, angin semakin palang di pintu malam. Barak tak sedia begitu saja melepas pelukannya. Ia ingin benar-benar memastikan deru napas yang berkejaran di dada Intania yang menempel di dadanya padam oleh hangatnya keadaan.
            “Intania.. aku tidak mengerti. Tapi, aku mencintaimu.”
***
Light 3
            Malam penuh melodi dan sayap-sayap yang berterbangan. Di pesisir, kembali, seorang gadis dengan perawakan sawo matang dan rambut ikal tergerai panjang menari penuh harapan. Tarian-tarian yang ia pelajari dari alam, mengusik relung kerinduan. Dilihatnya paras wanita cantik seakan ibunya yang turun dari surga. Wanita itu tersenyum ke arahnya, seakan terhenyak dengan melodi dan, wanita itu ikut menari bersamanya. Ia tersenyum lebih dalam kepada gadis itu dan mencium keningnya terus penuh kenangan.
            Tarian syahdu penuh harapan. Melodi dan sayap bersatu menjadi alunan bertalu-talu, begitu indah. Wanita penari di ujung malam itu mengajari gadisnya dengan penuh kekhusyukan. Seolah, dalam tempo yang tak lama, gadisnya menjadi penari dengan sepasang sayap emas paling dipuja. Malam kembali perkasa hingga memaksa mereka berpisah. Gadis bermata syahdu itu tersenyum dengan manisnya kepada sang ibu lalu mengucapkan selamat malam. Tarian-tarian malam kerap dilakukan. Mereka sering bertemu dan lelaki tak pernah tahu, takkan ia memberitahu.
            Lantas, Intania pulang dengan pukulan senang di wajahnya. Alahai, segala kata sumpah serapah segera menjadi sarapan paginya kali itu. Bukan, bukan kali itu saja, tapi juga berkali-kali yang, ia takkan peduli. Pukulan di pipi kanan dan kiri juga akan menjadi lauk yang harus ia nikmati.
***
Light 4
            Barak belum pulang. Intania bertanya dalam hati, akankah Barak juga tenggelam. Kepercayaannya luntur, ia ingin pergi menyambut alunan melodi dan menari di angkasa. Menari bersama segenap harapannya. Kepercayaan Intania mungkin benar luntur disebabkan ombak kencang menerjang begitu dekat ke arahnya. Kepastian itu ia dapatkan setelah ayahnya mengaku bangga berhasil menjadikan Intania gadis berdarah di malam ke-empat. Intania tak mampu memberontak. Ia hanya percaya Tuhan takkan diam.
            “Jauhari akan membuatmu menjadi ratu dan aku, raja!”
            “Bedebah kau, Ayah!”
            “Aku bukan ayahmu... ayahmu sudah mati. Tak sudi aku menjadi ayahmu!”
            Tangis itu hanyalah tong dan ayahnya, oh bukan, melainkan ayah tirinya bertepuk di malam kepedihan bagi Intania. Seakan sayap-sayapnya telah benar patah, tak mampu terbang di langit tertinggi. Intania telah hilang dalam masanya. Seorang gadis berusia 15 tahun, kini ibarat buah jatuh dari tangkainya. Maka, Intania mengadu pada sepinya, berderu gundah di pinggir laut. Ditatapnya harapan-harapan itu.
***
Light 5
            Dalam malam gemerlap yang kelima, Intania sudah tak tahan. Di antara keramaian pesta, ia mencoba untuk berlari sejauh mungkin. Lelaki dari kota itu tertidur pulas. Maka, inilah kesempatan baginya. Ia harus pergi meninggalkan perkampungan yang menjual keperawanan. Mereka, gadis-gadis dengan usia keemasan seakan punya kebanggaan. Namun, Intania tidak. Menurutnya, kebanggaan adalah dengan tidak menyerahkan masa keemasan di tangan gemerlapnya malam haram.    
Intania pun hilang. Ayah tirinya kalap bukan main. Beberapa orang mengatakan Intania tengah berlari dengan sangat tergesa-gesa malam itu. Bahkan mereka sempat menyumpahi Intania yang melanggar sumpah adat perkampungan. Oh, bagi mereka melayani kepuasan dunia adalah kebahagiaan luar biasa.
            “Anak haram. Tak tahu kau berterimakasih padaku. Fuih... makan dari mana kau di luar sana!”
            Itulah harapan pertama yang sempat Intania teruskan setelah ibunya. Ia merentangkan tangan pada lautan dan menyerahkan tubuhnya pada alam.
            “Aku akan menari, menari untuk yang telah menciptakanku.”
***
Light 7
            Malam itu seorang warga melihat perempuan dengan perawakan seperti Intania menari di puncak malam. Lagi-lagi, tarian yang sering dibawakan wanita-wanita penjual keperawanan. Tarian itu tampak lebih indah dari apa yang pernah diperlihatkan wanita lainnya di kampung ini. Seorang warga yang bernama Barak. Lalu, ia mendekat ke arah wanita itu. Ia bisa melihat kesadaran dari sosok yang tengah ia dekati, wanita itu tersenyum lembut ke arahnya.
            “Aku pikir kau sudah mati.”
            Intania memeluk Barak begitu erat. Napas mereka beradu dengan deru paling cepat. Lalu, ia membawa Barak dalam tarian-tarian yang begitu lincah. Malam dengan Light ketujuh jatuh di bulan kesatu. Purnama begitu jelas di atas sana, begitu cerah—memberi sinar paling terangnya.
***
Flight 6
            Intania. Sudah lama sekali ia melakukan ritual itu: menari dengan lautan. Setiap malam, ketika ombak mencapai ketinggian dua hingga empat meter. Kebanyakan warga menganggap bahwa ombak terkadang marah. Itu berasal dari wanita yang setiap harinya menangis di pesisir.
            “Lalu?”
            “Wanita-wanita penari itu sering dipaksa untuk menari keperawanan. Setiap wanita yang sudah mencapai masa kematangan, mereka akan dijual. Penari-penari dari Kampung tersebut bertubuh langsing. Itu sudah pasti. Di kampung itu, wanita-wanita penari harus menguasai tarian perkampungan yang nantinya akan dipersembahkan di malam melepas keperawanan. Dalam tujuh hari malam itu akan dilalui. Setelah tujuh hari maka warga menganggap bahwa mereka telah berhasil menciptakan wanita penari. Pembeli keperawanan biasanya berasal dari kota-kota yang diorganisir oleh satu orang.”
            “Lantas, setelah itu, bagaimana dengan wanita-wanitanya?”
            “Mereka yang melawan dibunuh di pinggir lautan. Hem.. walaupun itu hanya berani dilakukan Intania dan ibunya.”
            “Jadi, begitu akhirnya?”
            “Tidak! Akhirnya, aku memutuskan agar wanita itu dibebaskan. Biarkan mereka menari di lautan lepas. Biarkan... bukan di istana, bukan! Jika setelah itu mereka akan dibuang!”
            “Ceritamu bagus,” katanya tersenyum saat kami tengah bulan madu di malam keenam.
            Cahaya kamar ini bagus!
 Serambi Kompak, 1 Januari 2013

 

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...