Sayap dan Melodi di Light
Tujuh Malam
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Light 1
Ia
bersama sekumpulan orang membawa kayu yang setengah dilahap api. Nyalanya berteriak
dengan penuh haus seolah tengah bersiap menghabisi sebuah tubuh. Jauhari berada
di barisan depan. Senyumannya memenuhi ruang malam. Di hadapan mereka, ombak seolah
menari dengan gemulai, bergulung dengan ketinggian hingga dua meter dan mereka
memilih untuk tidak terlalu dekat. Maka, perempuan itu tidak menyianyiakan
waktunya. Ia melompat cepat dan seketika hilang dalam lautan. Tubuhnya pun padam
oleh malam.
Warga
berteriak: seluruh mata menjurus pada tubuh yang hilang itu, wajah mereka berubah
lugu dan terbelalak. Jauhari mencoba untuk percaya apa yang tengah ia lihat.
***
Light
2
Ombak
kembali kelebat dalam batin, wanita di sudut gundah itu bernama Intania. Rambut
gerai dalam angin lautan, napasnya menemukan satu-satu ketenangan. Melodi dan
sayap-sayapnya ia terbangkan ke angkasa malam, bagai elang di langit kembara. Intania
dalam ketenangan malam, di balik sambutan ombak, merentangkan harapan. Ia kejar
ombak yang datang bergulung, ia datang, bukan untuk pergi dari maut yang akan
menerkam, melahap habis dirinya menjadi bagian paling malang.
“Intania...
Intania...”
“Aku
mau mati, Barak! Aku mau mati!”
Barak
memeluk erat Intania. Ditampungnya tangis itu, kepedihan itu. Sepi pun
berkelakar, angin semakin palang di pintu malam. Barak tak sedia begitu saja
melepas pelukannya. Ia ingin benar-benar memastikan deru napas yang berkejaran
di dada Intania yang menempel di dadanya padam oleh hangatnya keadaan.
“Intania..
aku tidak mengerti. Tapi, aku mencintaimu.”
***
Light
3
Malam
penuh melodi dan sayap-sayap yang berterbangan. Di pesisir, kembali, seorang
gadis dengan perawakan sawo matang dan rambut ikal tergerai panjang menari
penuh harapan. Tarian-tarian yang ia pelajari dari alam, mengusik relung
kerinduan. Dilihatnya paras wanita cantik seakan ibunya yang turun dari surga.
Wanita itu tersenyum ke arahnya, seakan terhenyak dengan melodi dan, wanita itu
ikut menari bersamanya. Ia tersenyum lebih dalam kepada gadis itu dan mencium
keningnya terus penuh kenangan.
Tarian
syahdu penuh harapan. Melodi dan sayap bersatu menjadi alunan bertalu-talu,
begitu indah. Wanita penari di ujung malam itu mengajari gadisnya dengan penuh
kekhusyukan. Seolah, dalam tempo yang tak lama, gadisnya menjadi penari dengan
sepasang sayap emas paling dipuja. Malam kembali perkasa hingga memaksa mereka
berpisah. Gadis bermata syahdu itu tersenyum dengan manisnya kepada sang ibu lalu
mengucapkan selamat malam. Tarian-tarian malam kerap dilakukan. Mereka sering
bertemu dan lelaki tak pernah tahu, takkan ia memberitahu.
Lantas,
Intania pulang dengan pukulan senang di wajahnya. Alahai, segala kata sumpah
serapah segera menjadi sarapan paginya kali itu. Bukan, bukan kali itu saja,
tapi juga berkali-kali yang, ia takkan peduli. Pukulan di pipi kanan dan kiri
juga akan menjadi lauk yang harus ia nikmati.
***
Light
4
Barak
belum pulang. Intania bertanya dalam hati, akankah Barak juga tenggelam.
Kepercayaannya luntur, ia ingin pergi menyambut alunan melodi dan menari di
angkasa. Menari bersama segenap harapannya. Kepercayaan Intania mungkin benar
luntur disebabkan ombak kencang menerjang begitu dekat ke arahnya. Kepastian
itu ia dapatkan setelah ayahnya mengaku bangga berhasil menjadikan Intania
gadis berdarah di malam ke-empat. Intania tak mampu memberontak. Ia hanya
percaya Tuhan takkan diam.
“Jauhari
akan membuatmu menjadi ratu dan aku, raja!”
“Bedebah
kau, Ayah!”
“Aku
bukan ayahmu... ayahmu sudah mati. Tak sudi aku menjadi ayahmu!”
Tangis
itu hanyalah tong dan ayahnya, oh bukan, melainkan ayah tirinya bertepuk di
malam kepedihan bagi Intania. Seakan sayap-sayapnya telah benar patah, tak
mampu terbang di langit tertinggi. Intania telah hilang dalam masanya. Seorang
gadis berusia 15 tahun, kini ibarat buah jatuh dari tangkainya. Maka, Intania
mengadu pada sepinya, berderu gundah di pinggir laut. Ditatapnya
harapan-harapan itu.
***
Light
5
Dalam
malam gemerlap yang kelima, Intania sudah tak tahan. Di antara keramaian pesta,
ia mencoba untuk berlari sejauh mungkin. Lelaki dari kota itu tertidur pulas.
Maka, inilah kesempatan baginya. Ia harus pergi meninggalkan perkampungan yang
menjual keperawanan. Mereka, gadis-gadis dengan usia keemasan seakan punya
kebanggaan. Namun, Intania tidak. Menurutnya, kebanggaan adalah dengan tidak
menyerahkan masa keemasan di tangan gemerlapnya malam haram.
Intania pun hilang.
Ayah tirinya kalap bukan main. Beberapa orang mengatakan Intania tengah berlari
dengan sangat tergesa-gesa malam itu. Bahkan mereka sempat menyumpahi Intania
yang melanggar sumpah adat perkampungan. Oh, bagi mereka melayani kepuasan
dunia adalah kebahagiaan luar biasa.
“Anak
haram. Tak tahu kau berterimakasih padaku. Fuih... makan dari mana kau
di luar sana!”
Itulah
harapan pertama yang sempat Intania teruskan setelah ibunya. Ia merentangkan
tangan pada lautan dan menyerahkan tubuhnya pada alam.
“Aku
akan menari, menari untuk yang telah menciptakanku.”
***
Light
7
Malam
itu seorang warga melihat perempuan dengan perawakan seperti Intania menari di
puncak malam. Lagi-lagi, tarian yang sering dibawakan wanita-wanita penjual
keperawanan. Tarian itu tampak lebih indah dari apa yang pernah diperlihatkan
wanita lainnya di kampung ini. Seorang warga yang bernama Barak. Lalu, ia
mendekat ke arah wanita itu. Ia bisa melihat kesadaran dari sosok yang tengah
ia dekati, wanita itu tersenyum lembut ke arahnya.
“Aku
pikir kau sudah mati.”
Intania
memeluk Barak begitu erat. Napas mereka beradu dengan deru paling cepat. Lalu, ia
membawa Barak dalam tarian-tarian yang begitu lincah. Malam dengan Light
ketujuh jatuh di bulan kesatu. Purnama begitu jelas di atas sana, begitu
cerah—memberi sinar paling terangnya.
***
Flight
6
Intania.
Sudah lama sekali ia melakukan ritual itu: menari dengan lautan. Setiap malam,
ketika ombak mencapai ketinggian dua hingga empat meter. Kebanyakan warga
menganggap bahwa ombak terkadang marah. Itu berasal dari wanita yang setiap
harinya menangis di pesisir.
“Lalu?”
“Wanita-wanita
penari itu sering dipaksa untuk menari keperawanan. Setiap wanita yang sudah
mencapai masa kematangan, mereka akan dijual. Penari-penari dari Kampung
tersebut bertubuh langsing. Itu sudah pasti. Di kampung itu, wanita-wanita
penari harus menguasai tarian perkampungan yang nantinya akan dipersembahkan di
malam melepas keperawanan. Dalam tujuh hari malam itu akan dilalui. Setelah
tujuh hari maka warga menganggap bahwa mereka telah berhasil menciptakan wanita
penari. Pembeli keperawanan biasanya berasal dari kota-kota yang diorganisir
oleh satu orang.”
“Lantas,
setelah itu, bagaimana dengan wanita-wanitanya?”
“Mereka
yang melawan dibunuh di pinggir lautan. Hem.. walaupun itu hanya berani
dilakukan Intania dan ibunya.”
“Jadi,
begitu akhirnya?”
“Tidak!
Akhirnya, aku memutuskan agar wanita itu dibebaskan. Biarkan mereka menari di
lautan lepas. Biarkan... bukan di istana, bukan! Jika setelah itu mereka akan dibuang!”
“Ceritamu
bagus,” katanya tersenyum saat kami tengah bulan madu di malam keenam.
Cahaya
kamar ini bagus!
Serambi Kompak, 1 Januari 2013
No comments:
Post a Comment