TEORI
FILSAFAT: BUKAN MERENUNG ATAU BERPIKIR?
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Manusia adalah makhluk tanda tanya
dengan segudang rasa ingin tahu selalu dikaitkan dengan alam pikir yang
berkembang. Dalam Teori Filsafat, Perkembangan itu takkan bisa
lari dari kehidupannya. Hal ini adalah kebenaran. Kebenaran
adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai
yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat
kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.
Asal
Kata dan Kesepakatan Teori Filsafat
Kata “filsafat” dalam Teori
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia yang terdiri
dari dua kata yakni: “Philos” dan “sophia”. Philos artinya cinta atau suka, dan
sophia artinya kearifan atau kebijakan (Sadulloh, 2003, dan Jalaluddin dan Idi.
1997). Jadi filsafat menurut asal katanya adalah cinta akan ilmu pengetahuan
atau kebenaran. Sementara itu menurut Beck, filsafat adalah studi tentang
kebenaran alam semesta beserta isinya dengan karakteristik: (1) kritis yaitu
berpikir mengungkapkan dan memecahkan masalah secara menyeluruh dan mendalam,
(2) Spekulatif yaitu berpikir menerobos melampaui fakta atau data-data yang
tersedia dalam rangka menemukan hal yang hakiki, dan (3) Fenomenologis yaitu
berpikir awal dari gejala (Fenomena) kemudian mencoba terus mengikuti,
mengurangi atau mereduksi hal-hal yang penting untuk sampai pada hal yang
menjadi hakekat. (eidos) dari gejala dan
(4) normatif yaitu berpikir yang tertuju untuk mencari hal-hal yang seharusnya
(Mudyaharjo, 2001: 27).
Dalam pengertian yang lebih luas
Harol Titus, mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut (Jalaluddin dan
Idi: 1997); (1) filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan tehadap
kehidupan dalam alam yang biasanya diterima secara kritis, (2) filsafat ialah
suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat
kita junjung tinggi, (3) filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran
keseluruhan (4) filsafat ialah analisa logis dan bahas dan serta penjelasan tentang
arti konsep, (5) filsafat ialah
sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan
dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.
Arti formal filsafat dalam Teori
Filsafat di sini sesungguhnya adalah sekumpulan sikap yang dijunjung
tinggi dan kepercayaan serta suatu protes, kritik pemikiran terhadap kehidupan
dan alam melalui suatu analisis logis dari bahasa maupun penjelasan tentang
arti kata dan konsep. Berlanjut pada ahli Teori Filsafat lainnya
seperti Plato (427SM-347 M) yang sepakat mengatakan bahwa filsafat itu berkaitan dengan kebenaran-kebenaran. Maka,
memang tidak salah bila penulis simpulkan bahwa filsafat adalah pemikiran
terhadap ilmu pengetahuan yang luas dan berusaha untuk memikirkan persoalan
yang timbul dalam kehidupan manusia.
Cara,
Ciri Berfikir Kefilsafatan dalam Teori Filsafat
Filsafat merupakah
pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hal hubungan yang umum. Bila
kita berbicara Teori Filsafat ini, di antara proses-proses yang
dibicarakan ialah pemikiran itu sendiri, di antara hal-hal yang dipikirkan
adalah si pemikir itu sendiri. Bila sebelumnya telah kita bangun asumsi bahwa
apakah filsafat sebenarnya bukan berpikir dan merenung, sesungguhnya lebih
tepat dikatakan bahwa berfilsafat bukanlah merenung tanpa isi atau melamun
belaka dan juga bukan berpikir yang bersifat kebetulan. Jadi, memang sudah
jelas bahwa filsafat itu merupakah hasil dari jadi sadarnya manusia mengenai
dirinya sebagai pemikir. Maka, demi perkembangan ilmu, hendaknya kita mau
menjadi pemikir di muka bumi. Berfilsafat dengan berpikir ilmiah adalah mencoba
menyusun suatu sistem ilmu pengetahuan yang saling berhubungan, rasional,
konsepsional, dan memenuhi syarat untuk memahami dunia tempat kita hidup maupun
memahami diri kita sendiri.
Teori
Filsafat dengan Dinamika Sejarah dan Agama
Salah satu situs http://www.hendiburahman.web.id yang
memaparkan tentang Teori Filsafat, menjelaskan bahwa memang dalam
salah satu aliran filsafat yaitu Paradigma prophetivisme, filsafat sama halnya
dengan wahyu yang dibawakan nabi. Dengan kata lain, dalam islam sendiri hal ini
berlandaskan pada Al-Qur’an dengan tujuan pencapaian kesempurnaan dengan
tuntutan Allah SWT melalui nabi. Aturan-aturan dalam Al-Qur’an diyakini
mencakup segala tindakan yang harus dilakukan manusia di muka bumi. Begitulah
kira-kira pengkajiannya.
Jika memang demikian, perkembangan
ilmu pengetahuan yang tadinya kita yakini adalah salah satu bentuk dari
keinginan manusia untuk tidak berpikir tanpa isi, dengan Al-Qur’an perkembangan
tersebut telah memiliki batasan. Pemikir-pemikir jaman dahulu seperti halnya
Aristoteles, Plato, Comte, Marxis, dan lainnya dianggap telah melewati batas.
Kita tentu masih ingat dengan teori
evolusi Darwin. Teori ini merupakan teori yang mengatakan bahwa manusia
sesungguhnya berasal dari kera. Teori ini kemudian banyak dipakai oleh
orang-orang pada zamannya. Bahkan teori ini telah sampai pada tangan Hitler
(militeris sekaligus pemimpin Jerman) yang memimpin dengan “tangan besi”.
Hitler mudah percaya bahwasannya ada orang-orang yang terlahir mesti medapatkan
perlakukan tidak merusak peradaban seperti yang dikatakan dalam Teori Evolusi
Darwin. Hitler berpendapat bahwa ras eropa sama dengan kera. Ia juga menganggap
bahwa mempertahankan hidup itu harus dengan bertarung.
Hitler melansir konsep eugenetika
yang menjadi dasar pijakan pandangan evolusionis Nazi. Eugenetika berarti
‘perbaikan’ ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta
memperbanyak individu sehat. Sehingga menurut teori itu, ras manusia bisa
diperbaiki dengan meniru cara bagaimana hewan berkualitas baik dihasilkan
melalui perkawinan hewan yang sehat. Sedangkan hewan cacat dan berpenyakit
dimusnahkan.
Berpikir
Sejauh Mana dengan Batasan
Batasan yang mesti
kita alamatkan adalah batasan yang membawa nilai-nilai positif atau negatif
bagi manusia di muka bumi. Tentu kita sepakat bahwa memang ilmu pengetahuan
yang berkembang seperti halnya dalam kajian lanjutan Teori Filsafat,
tidak untuk menemukan sejarah-sejarah terulang dalam problema Hitler tadi. Maka,
sekarang ini pemikir-pemikir di muka bumi diwujudkan dengan kadar semestinya.
Umat Islam telah menganut hal ini
sejak zaman nabi. Aliran filsafat dalam islam yang mengutamakan kepentingan
menyeluruh memang dirasa pantas menjadi pedoman. Beberapa agama lainnya juga
tentunya percaya bahwa aturan dalam berpikir itu perlu mendapat sambutan ke
arah yang lebih positif. Untuk itulah ilmu pengetahuan sekarang ini dibuat
dalam wujud teknologi yang mendukung kinerja manusia. Dalam tahap awal,
teknologi yang tercipta oleh pemikir-pemikir kita sekarang ini dimaksudkan
melancarkan komunikasi manusia, memberi bantuan tenaga dan moral dalam kebutuhan
sehari-harinya. Namun, sekali lagi kita memang diharuskan memberi
batasan-batasan terhadap penggunaannya.
Merenung
atau Berpikir dengan Isi Positif
Merenungkan dan memikirkan sesuatu
hal tentu hal yang sederhana untuk dilakukan oleh siapapun. Sesungguhnya,
memiliki pemikiran-pemikiran yang menuju perbaikan kehidupan manusia adalah hal
membanggakan yang pantas didukung. Pembelajaran kita terhadap kehidupan harus
dimulai dari diri sendiri. Namun, kehidupan satu manusia dengan satu manusia
lainnya mengalami dinamika yang tak bisa ditolak. Untuk itulah manusia perlu
sepakat, manusia perlu memikirkan hal yang ia pikirkan agar menjadi pemikiran
yang berguna bagi masyarakat luas.
Merenung bagi sebagian orang adalah
sesuatu yang liar. Memang betul jika ada istilah merenung bukan berarti meratapi.
Merenung bisa dalam konsep dan konteks yang beranekaragam. Bagi sebagian orang
mendengar kata merenung sama halnya dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia.
Jika kita mau percaya bahwa merenung dengan nilai-nilai selalu membawa
perubahan, maka merenung dapat digunakan sebagai bentuk memperbaiki diri dan
melakukan perubahan di masa yang akan datang. Demi mendapatkan nilai positif dari
tujuan merenung tersebut mulailah dengan memikirkan hal-hal berdasarkan batasan
yang Tuhan berikan. Batasan itu dimaksudkan agar manusia tidak berpikir hanya
sesuai dorongan nafsu belaka. Hendaknya kita berpikir pula demi memberikan
perubahan bagi sesama. Begitulah Teori Filsafat dalam khazanah konsep
berpikir dan merenung yang sebenarnya.
No comments:
Post a Comment