Thursday, October 4, 2012

FILSAFAT.


TEORI FILSAFAT: BUKAN MERENUNG ATAU BERPIKIR?
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Manusia adalah makhluk tanda tanya dengan segudang rasa ingin tahu selalu dikaitkan dengan alam pikir yang berkembang. Dalam Teori Filsafat, Perkembangan itu takkan bisa lari dari kehidupannya. Hal ini adalah kebenaran. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.

Asal Kata dan Kesepakatan Teori Filsafat
            Kata “filsafat” dalam Teori Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia yang terdiri dari dua kata yakni: “Philos” dan “sophia”. Philos artinya cinta atau suka, dan sophia artinya kearifan atau kebijakan (Sadulloh, 2003, dan Jalaluddin dan Idi. 1997). Jadi filsafat menurut asal katanya adalah cinta akan ilmu pengetahuan atau kebenaran. Sementara itu menurut Beck, filsafat adalah studi tentang kebenaran alam semesta beserta isinya dengan karakteristik: (1) kritis yaitu berpikir mengungkapkan dan memecahkan masalah secara menyeluruh dan mendalam, (2) Spekulatif yaitu berpikir menerobos melampaui fakta atau data-data yang tersedia dalam rangka menemukan hal yang hakiki, dan (3) Fenomenologis yaitu berpikir awal dari gejala (Fenomena) kemudian mencoba terus mengikuti, mengurangi atau mereduksi hal-hal yang penting untuk sampai pada hal yang menjadi hakekat.  (eidos) dari gejala dan (4) normatif yaitu berpikir yang tertuju untuk mencari hal-hal yang seharusnya (Mudyaharjo, 2001: 27).
            Dalam pengertian yang lebih luas Harol Titus, mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut (Jalaluddin dan Idi: 1997); (1) filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan tehadap kehidupan dalam alam yang biasanya diterima secara kritis, (2) filsafat ialah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi, (3) filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan (4) filsafat ialah analisa logis dan bahas dan serta penjelasan tentang arti  konsep, (5) filsafat ialah sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.
            Arti formal filsafat dalam Teori Filsafat di sini sesungguhnya adalah sekumpulan sikap yang dijunjung tinggi dan kepercayaan serta suatu protes, kritik pemikiran terhadap kehidupan dan alam melalui suatu analisis logis dari bahasa maupun penjelasan tentang arti kata dan konsep. Berlanjut pada ahli Teori Filsafat lainnya seperti Plato (427SM-347 M) yang sepakat mengatakan bahwa filsafat itu  berkaitan dengan kebenaran-kebenaran. Maka, memang tidak salah bila penulis simpulkan bahwa filsafat adalah pemikiran terhadap ilmu pengetahuan yang luas dan berusaha untuk memikirkan persoalan yang timbul dalam kehidupan manusia.

Cara, Ciri Berfikir Kefilsafatan dalam Teori Filsafat
            Filsafat merupakah pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hal hubungan yang umum. Bila kita berbicara Teori Filsafat ini, di antara proses-proses yang dibicarakan ialah pemikiran itu sendiri, di antara hal-hal yang dipikirkan adalah si pemikir itu sendiri. Bila sebelumnya telah kita bangun asumsi bahwa apakah filsafat sebenarnya bukan berpikir dan merenung, sesungguhnya lebih tepat dikatakan bahwa berfilsafat bukanlah merenung tanpa isi atau melamun belaka dan juga bukan berpikir yang bersifat kebetulan. Jadi, memang sudah jelas bahwa filsafat itu merupakah hasil dari jadi sadarnya manusia mengenai dirinya sebagai pemikir. Maka, demi perkembangan ilmu, hendaknya kita mau menjadi pemikir di muka bumi. Berfilsafat dengan berpikir ilmiah adalah mencoba menyusun suatu sistem ilmu pengetahuan yang saling berhubungan, rasional, konsepsional, dan memenuhi syarat untuk memahami dunia tempat kita hidup maupun memahami diri kita sendiri.

Teori Filsafat dengan Dinamika Sejarah dan Agama
            Salah satu situs http://www.hendiburahman.web.id yang memaparkan tentang Teori Filsafat, menjelaskan bahwa memang dalam salah satu aliran filsafat yaitu Paradigma prophetivisme, filsafat sama halnya dengan wahyu yang dibawakan nabi. Dengan kata lain, dalam islam sendiri hal ini berlandaskan pada Al-Qur’an dengan tujuan pencapaian kesempurnaan dengan tuntutan Allah SWT melalui nabi. Aturan-aturan dalam Al-Qur’an diyakini mencakup segala tindakan yang harus dilakukan manusia di muka bumi. Begitulah kira-kira pengkajiannya.
            Jika memang demikian, perkembangan ilmu pengetahuan yang tadinya kita yakini adalah salah satu bentuk dari keinginan manusia untuk tidak berpikir tanpa isi, dengan Al-Qur’an perkembangan tersebut telah memiliki batasan. Pemikir-pemikir jaman dahulu seperti halnya Aristoteles, Plato, Comte, Marxis, dan lainnya dianggap telah melewati batas.
            Kita tentu masih ingat dengan teori evolusi Darwin. Teori ini merupakan teori yang mengatakan bahwa manusia sesungguhnya berasal dari kera. Teori ini kemudian banyak dipakai oleh orang-orang pada zamannya. Bahkan teori ini telah sampai pada tangan Hitler (militeris sekaligus pemimpin Jerman) yang memimpin dengan “tangan besi”. Hitler mudah percaya bahwasannya ada orang-orang yang terlahir mesti medapatkan perlakukan tidak merusak peradaban seperti yang dikatakan dalam Teori Evolusi Darwin. Hitler berpendapat bahwa ras eropa sama dengan kera. Ia juga menganggap bahwa mempertahankan hidup itu harus dengan bertarung.
            Hitler melansir konsep eugenetika yang menjadi dasar pijakan pandangan evolusionis Nazi. Eugenetika berarti ‘perbaikan’ ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat. Sehingga menurut teori itu, ras manusia bisa diperbaiki dengan meniru cara bagaimana hewan berkualitas baik dihasilkan melalui perkawinan hewan yang sehat. Sedangkan hewan cacat dan berpenyakit dimusnahkan.

Berpikir Sejauh Mana dengan Batasan
            Batasan yang mesti kita alamatkan adalah batasan yang membawa nilai-nilai positif atau negatif bagi manusia di muka bumi. Tentu kita sepakat bahwa memang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti halnya dalam kajian lanjutan Teori Filsafat, tidak untuk menemukan sejarah-sejarah terulang dalam problema Hitler tadi. Maka, sekarang ini pemikir-pemikir di muka bumi diwujudkan dengan kadar semestinya.
            Umat Islam telah menganut hal ini sejak zaman nabi. Aliran filsafat dalam islam yang mengutamakan kepentingan menyeluruh memang dirasa pantas menjadi pedoman. Beberapa agama lainnya juga tentunya percaya bahwa aturan dalam berpikir itu perlu mendapat sambutan ke arah yang lebih positif. Untuk itulah ilmu pengetahuan sekarang ini dibuat dalam wujud teknologi yang mendukung kinerja manusia. Dalam tahap awal, teknologi yang tercipta oleh pemikir-pemikir kita sekarang ini dimaksudkan melancarkan komunikasi manusia, memberi bantuan tenaga dan moral dalam kebutuhan sehari-harinya. Namun, sekali lagi kita memang diharuskan memberi batasan-batasan terhadap penggunaannya.

Merenung atau Berpikir dengan Isi Positif
            Merenungkan dan memikirkan sesuatu hal tentu hal yang sederhana untuk dilakukan oleh siapapun. Sesungguhnya, memiliki pemikiran-pemikiran yang menuju perbaikan kehidupan manusia adalah hal membanggakan yang pantas didukung. Pembelajaran kita terhadap kehidupan harus dimulai dari diri sendiri. Namun, kehidupan satu manusia dengan satu manusia lainnya mengalami dinamika yang tak bisa ditolak. Untuk itulah manusia perlu sepakat, manusia perlu memikirkan hal yang ia pikirkan agar menjadi pemikiran yang berguna bagi masyarakat luas.
            Merenung bagi sebagian orang adalah sesuatu yang liar. Memang betul jika ada istilah merenung bukan berarti meratapi. Merenung bisa dalam konsep dan konteks yang beranekaragam. Bagi sebagian orang mendengar kata merenung sama halnya dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia. Jika kita mau percaya bahwa merenung dengan nilai-nilai selalu membawa perubahan, maka merenung dapat digunakan sebagai bentuk memperbaiki diri dan melakukan perubahan di masa yang akan datang. Demi mendapatkan nilai positif dari tujuan merenung tersebut mulailah dengan memikirkan hal-hal berdasarkan batasan yang Tuhan berikan. Batasan itu dimaksudkan agar manusia tidak berpikir hanya sesuai dorongan nafsu belaka. Hendaknya kita berpikir pula demi memberikan perubahan bagi sesama. Begitulah Teori Filsafat dalam khazanah konsep berpikir dan merenung yang sebenarnya.

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...