MEI UNTUK IBU
Oleh: Ria Ristiana Dewi
21
Mei 2012
Musim gugur daun sudah dimulai. Dua
bulan paling tidak sebanyak dua kali guguran panjang. Bisa sampai tiga hari
berturut-turut. Sisanya musim penghujan dan kemarau yang kerap melanda
kota-kota besar. Musim gugur daun bulan Mei tahun ini salah satunya menjemput
aku kembali ke kota kelahiran, kota Medan.
Tak terasa dua tahun aku berada di Yogyakarta. Selama dua tahun itu
Medan menjadi begitu ramai. Menurut supir taksi yang membawaku, banyak sekali
orang-orang pendatang baru di kota ini. Beberapa ada dari Aceh dan lainnya dari
daerah-daerah yang ada di Sumatera Utara. Universitas dan sekolahan semakin
menjamur pun menambah banyak tempat kos atau rumah sewaan. Tempat-tempat
berbelanja juga tak kalah saing, aku bisa melihat pula gedung-gedung pencakar
langit yang hadir dua hingga tiga bangunan dalam dua tahun ini.
Sebuah pohon mangga yang dahulu
masih mungil saat kutinggalkan, kini berubah menjadi dahan-dahan kokoh.
Buah-buah tampak ramai. Ah, inikah pemandangan rumahku, rumah yang cukup lama
tidak aku singgahi. Paling tidak satu kali dalam sehari aku menelpon atau
sekadar sms-an dengan ibu. Daun-daun mangga tampak terserak memenuhi halaman
mungil kami. Aku tak begitu yakin ibu di rumah. Biasanya jam segini ibu di
warung. Aku sudah tak sabar. Sementara, aku memang merahasikan kedatangan ini.
Namun sebelum berbalik, dari dalam rumah tampak gerakan yang membuat aku yakin
bahwa ibu ada di dalamnya. Aku mengetuk pintu rumah kami yang masih tampak sama
lantas mengucapkan salam.
Hmm... benar saja, begitu ia membuka
pintu, matanya sekilas nanar, tajam, dan berusaha menyakinkan diri sendiri.
Tadinya ia ingin tertawa, namun ia memilih menangis ringan sambil memelukku
begitu erat, erat. Mungkin menumpahkan kerinduan, kerinduan bertahun. Ah, dua
tahun lebih tepatnya. Sepertinya, aku sudah mendapatkan lima atau sepuluh tahun
saja. Aku tak bisa menebak-nebak bagaimana seorang Tenaga Kerja Indonesia yang
merantau berpuluh tahun meninggalkan anak dan istrinya atau seorang ibu yang
menjadi TKW meninggalkan anaknya yang masih disusui. Aku tak mengerti, mengapa tercipta jarak? Kata ibu, jarak adalah kerinduan yang tersemai indah dan
akan mekar mencari bulir-bulir cinta suatu nanti.
“Kau sudah tamat kuliah, Anakku? Kau
sudah begitu dewasa! Cantik!”
Aku masih menyambut tangisnya dengan
tersedu panjang. Namun ada yang harus aku kalimatkan di balik ini. Ibu...
Aku sengaja mengulurkan waktu lebih
lama untuk menjelaskan hal-hal yang tak ibu ketahui. Aku mencoba menjelaskan
pada waktu-waktu yang tepat, satu persatu, selangkah-demi selangkah.
“Almarhum Ayahmu pasti bangga! Kau
kuliah dengan biayamu sendiri dan aku, ibumu hanya bisa berpangku tangan. Aku
tak berguna, tak bisa memberikanmu apa-apa.”
“Tak ada lagi yang mampu kuminta Bu,
selain kebahagiaan Ibu.”
“Kebahagiaanku adalah
kebahagiaanmu!”
“Dan kebahagiaanku adalah mewujudkan
impian Ibu!”
Mendengarnya ibu tersenyum sambil
menyibak sisa air mata di pipinya. Ia membetulkan posisi duduk untuk melihat
wajahku lebih dalam.
“Impian ibu adalah menjadikanmu anak
yang shaleh dan baik hatinya. Pintar dunia dan dibawa hingga akhirat.”
“Dan aku berdoa untuk Ibu. Selalu!”
kataku menyambungnya sambil mencium kening tangan ibu.
“Katakan, katakan bagaimana
kuliahmu, Nak? Kau sudah tamat?”
“Bu... nanti saja kita bicarakan.
Sekarang aku mau mengajak ibu berjalan-jalan dulu. Ibu paham kan aku
sangat rindu kota ini. Hem... aku ingat saat ibu menginginkan makanan ala Solo
yang terkenal itu. Ibu... aku ingin mengajak ibu ke sana. Ibu bisa makan
sepuasnya. Setelah itu kita ke Mall. Aku mau ibu membeli pakaian-pakaian bagus
yang selama ini ibu idamkan. Selain tentunya aku sudah membelikan ibu beberapa
pakaian dari Yogya.”
“Kau tahu dari mana ibu suka semua
itu? Lalu, uang dari mana pula?”
Ibu menatapku aneh—mencari-cari
jawaban dari mata seraya menatapku dengan kedipan-kedipan berarti.
“Dari mata ibu. Dan soal uang nanti
akan kujelaskan. Ibu tenang saja, uang ini halal.”
Ibu mengganti tatapannya dengan
senyuman. Ia menangis kecil kembali dan memelukku lebih erat.
***
Rencananya besok aku akan pergi
keliling kota dengan ibu dan hari ini aku coba meraba ingatan tentang halaman,
rumah, dan seisi kamar yang kutinggalkan. Ibu merawatnya untukku. Itu telihat
dengan tatanya yang terlihat rapi dan parasnya yang bersih. Ia menambahkan
beberapa fotoku saat di Yogya yang aku kirimkan lewat pos. Beberapa buku yang
sering kubaca semasa SD hingga SMA masih ia letakkan rapi, lebih rapi dari yang
pernah aku tinggalkan. Di tempat tidur aku melihat satu buku dengan sampul
kertas putih yang telah digambar bentuk hati oleh, aku tak tahu, siapa? Ia
pasti berbakat! Tapi, kenapa ada dihadapanku, di atas tempat tidurku. Aku yakin
ada alasan tertentu kenapa ibu meletakkan buku itu saja di atas tempat tidurku.
Kalimat yang tertera di bawah gambar
hati: This My Heart Book And You
Aku hendak membuka halaman pertama,
namun aku tahu ini bukan saat yang tepat, maka aku meletakkannya kembali dan
berusaha untuk tidak bertanya apapun setelah aku berhasil mengajak ibuku menghabiskan
satu hari esok, untuk keliling kota.
Jam demi jam yang kuhitung sampai
malam yang menyinari kecil hati ini. Bulan sangat indah. Purnama yang sempurna.
Tak sengaja, kutipan malam itu menyinggahi ingatan kala kami duduk di deratan
kursi bawah pohon mangga. Saat itu, sebelum aku sempat mengatakan perpisahan,
hujan hadir dan ia pergi. Hingga ku terpaksa mengucapkan ini dari sms. Aku tak
ingin menebak ekspresinya saat itu.
Bahkan setelah hari ini.
***
Embun rekah, matahari menggiring
kalbu, jiwa-jiwa pecah dua belah. Fajar bertasbih di dedaunan tunas. Aku mulai
dengan menyapu halaman usai subuh. Ibu memasak rendang kesukaanku. Ia juga
merebus bunga pepaya. Di atasnya aku melihat taburan daun-daun jambu. Daun-daun
itu akan mampu menghilangkan sedikit rasa pahit pada bunga pepaya. Setelah itu
ditumis dengan cempokak. Ah, sudah lama
sekali. Makanan seperti ini yang jarang aku konsumsi saat di Yogya. Aku lebih
sering memasak ikan ataupun sayuran daun ubi, paling tidak aku juga membeli di
warung-warung nasi bungkus yang siap saji kalau tak sempat memasak sendiri.
Pekerjaan kuliah hampir lebih banyak meregut aktivitas sehari-hariku.
Setelah
pagi itu aku bersiap untuk keliling kota. Saat tengah melangkah keluar rumah,
ibu mulai menanyai sesuatu hal. Aku sudah bisa menebak itu dari nada suara ibu.
“Buku itu, buku yang ada di tempat
tidurmu, buku dari Wawan.”
Aku tetap diam sepanjang jalan.
Sampai kami memutuskan naik becak mesin dan mulai untuk terus melanjutkan
perjalanan. Ibu memahami aku, ia sangat paham aku. Ia tahu aku pasti memikirkan
hal ini, hal yang sudah lama aku benam keberadaannya. Yang terlalu berat
untukku selesaikan.
***
Aku terus memikirkan kata-kata ibu.
Terus memikirkan itu. Aku belum berani membuka buku itu, buku: The My Heart
Book And You.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Adinda, abangda terus berusaha agar
memarkirkan rasa ini di tempat yang tepat. Namun biarlah catatan ini menjadi
sejarah cinta yang berharga itu. Adinda tahukah bahwa cintalah yang telah
menaikkan derajat kita. Cinta mengubah sesuatu kehampaan menjadi ruang cerita.
Allah Swt menciptakan cinta dengan sempurna.
Dua puluh lembar tulisan-tulisan itu
aku baca dalam satu malam. Air mataku menetes dan tanpa kusadari perlahan pipi ini basah,
mengalir seperti memang diciptakan untuk itu. Ibu memelukku, ia masuk ke kamar
setelah mengdengarku tersedu. Aku tak mampu membendungnya.
“Jadi, kau belum tahu, Nak?”
“Belum Bu, kapan Bu? Kapan Abangda
pergi ke Mesir? Kenapa ibu tak beritahu Aku?”
“Ia melarang ibu. Katanya, dia tak
mau mengganggu aktivitasmu! Ia pamit sudah satu tahun yang lalu. Ia sempat
cerita pada ibu. Katanya, ia ingin membuktikan kalau ia bisa melamarmu dan
membahagiakanmu!”
“Abangda tidak boleh seperti ini. Ia
tak boleh seperti ini. Aku tidak memaksanya untuk menjadi kaya dunia Bu! Aku
hanya mau kami merasa cukup dan bahagia dengannya, selalu di sisi Dara,” kataku
tampak panik, mulai tak bisa dan tak tahu apa kata-kata itu kesalahan.
“Ssttt... Dara, Anakku, jangan
engkau sesali hal yang sudah terjadi. Biarkan ia memperjuangkan hidupnya. Kau
tak boleh egois. Kalian sudah lama menanam rasa dengan jarak jauh. Apa kau
pikir ibumu ini tak mengerti perasaan anaknya? Apa kau pikir ibu tak tahu ia
laki-laki seperti apa? Ia laki-laki bertanggung jawab. Percayalah pada ibu! Ia akan
kembali dan menikah denganmu.”
Aku hanya bisa memeluk ibu. Hanya
ibu saat itu. Saat Mei tanggal 22. Mei, di tanggal ulang tahunmu dan aku
sengaja memilih tanggal ini untuk di sini sebab masih dua tahun lagi waktuku
menyelesaikan kuliah di Yogya, aku harus kembali. Kau tahu kenapa abangda? Aku
sudah bekerja sebagai pengelola sebuah sekolah di Yogya. Mereka memberikan
kehidupan yang cukup untukku makan dan membelikan ibu pakaian. Tentu aku juga
membeli kado istimewa untukmu. Mei ini memang untuk ibu, juga untukmu. Mei yang
berlalu begitu cepat, mei yang menelurkan rindu-rindu panjang.
Adinda, jarak itu menitipkan
rindu yang begitu indah di dada kita.
Rindu, 27 Agustus 2012

No comments:
Post a Comment