Monday, October 1, 2012

Cerpen, Waspada, 30 September 2012


MEI UNTUK IBU
Oleh: Ria Ristiana Dewi
21 Mei 2012
Musim gugur daun sudah dimulai. Dua bulan paling tidak sebanyak dua kali guguran panjang. Bisa sampai tiga hari berturut-turut. Sisanya musim penghujan dan kemarau yang kerap melanda kota-kota besar. Musim gugur daun bulan Mei tahun ini salah satunya menjemput aku kembali ke kota kelahiran, kota Medan.  Tak terasa dua tahun aku berada di Yogyakarta. Selama dua tahun itu Medan menjadi begitu ramai. Menurut supir taksi yang membawaku, banyak sekali orang-orang pendatang baru di kota ini. Beberapa ada dari Aceh dan lainnya dari daerah-daerah yang ada di Sumatera Utara. Universitas dan sekolahan semakin menjamur pun menambah banyak tempat kos atau rumah sewaan. Tempat-tempat berbelanja juga tak kalah saing, aku bisa melihat pula gedung-gedung pencakar langit yang hadir dua hingga tiga bangunan dalam dua tahun ini.
            Sebuah pohon mangga yang dahulu masih mungil saat kutinggalkan, kini berubah menjadi dahan-dahan kokoh. Buah-buah tampak ramai. Ah, inikah pemandangan rumahku, rumah yang cukup lama tidak aku singgahi. Paling tidak satu kali dalam sehari aku menelpon atau sekadar sms-an dengan ibu. Daun-daun mangga tampak terserak memenuhi halaman mungil kami. Aku tak begitu yakin ibu di rumah. Biasanya jam segini ibu di warung. Aku sudah tak sabar. Sementara, aku memang merahasikan kedatangan ini. Namun sebelum berbalik, dari dalam rumah tampak gerakan yang membuat aku yakin bahwa ibu ada di dalamnya. Aku mengetuk pintu rumah kami yang masih tampak sama lantas  mengucapkan salam.
            Hmm... benar saja, begitu ia membuka pintu, matanya sekilas nanar, tajam, dan berusaha menyakinkan diri sendiri. Tadinya ia ingin tertawa, namun ia memilih menangis ringan sambil memelukku begitu erat, erat. Mungkin menumpahkan kerinduan, kerinduan bertahun. Ah, dua tahun lebih tepatnya. Sepertinya, aku sudah mendapatkan lima atau sepuluh tahun saja. Aku tak bisa menebak-nebak bagaimana seorang Tenaga Kerja Indonesia yang merantau berpuluh tahun meninggalkan anak dan istrinya atau seorang ibu yang menjadi TKW meninggalkan anaknya yang masih disusui. Aku tak mengerti, mengapa  tercipta jarak? Kata  ibu,  jarak adalah kerinduan yang tersemai indah dan akan mekar mencari bulir-bulir cinta suatu nanti.
            “Kau sudah tamat kuliah, Anakku? Kau sudah begitu dewasa! Cantik!”
            Aku masih menyambut tangisnya dengan tersedu panjang. Namun ada yang harus aku kalimatkan di balik ini. Ibu...
            Aku sengaja mengulurkan waktu lebih lama untuk menjelaskan hal-hal yang tak ibu ketahui. Aku mencoba menjelaskan pada waktu-waktu yang tepat, satu persatu, selangkah-demi selangkah.
            “Almarhum Ayahmu pasti bangga! Kau kuliah dengan biayamu sendiri dan aku, ibumu hanya bisa berpangku tangan. Aku tak berguna, tak bisa memberikanmu apa-apa.”
            “Tak ada lagi yang mampu kuminta Bu, selain kebahagiaan Ibu.”
            “Kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu!”
            “Dan kebahagiaanku adalah mewujudkan impian Ibu!”
            Mendengarnya ibu tersenyum sambil menyibak sisa air mata di pipinya. Ia membetulkan posisi duduk untuk melihat wajahku lebih dalam.
            “Impian ibu adalah menjadikanmu anak yang shaleh dan baik hatinya. Pintar dunia dan dibawa hingga akhirat.”
            “Dan aku berdoa untuk Ibu. Selalu!” kataku menyambungnya sambil mencium kening tangan ibu.
            “Katakan, katakan bagaimana kuliahmu, Nak? Kau sudah tamat?”
            “Bu... nanti saja kita bicarakan. Sekarang aku mau mengajak ibu berjalan-jalan dulu. Ibu paham kan aku sangat rindu kota ini. Hem... aku ingat saat ibu menginginkan makanan ala Solo yang terkenal itu. Ibu... aku ingin mengajak ibu ke sana. Ibu bisa makan sepuasnya. Setelah itu kita ke Mall. Aku mau ibu membeli pakaian-pakaian bagus yang selama ini ibu idamkan. Selain tentunya aku sudah membelikan ibu beberapa pakaian dari Yogya.”
            “Kau tahu dari mana ibu suka semua itu? Lalu, uang dari mana pula?”
            Ibu menatapku aneh—mencari-cari jawaban dari mata seraya menatapku dengan kedipan-kedipan berarti.
            “Dari mata ibu. Dan soal uang nanti akan kujelaskan. Ibu tenang saja, uang ini halal.”
            Ibu mengganti tatapannya dengan senyuman. Ia menangis kecil kembali dan memelukku lebih erat.
***
            Rencananya besok aku akan pergi keliling kota dengan ibu dan hari ini aku coba meraba ingatan tentang halaman, rumah, dan seisi kamar yang kutinggalkan. Ibu merawatnya untukku. Itu telihat dengan tatanya yang terlihat rapi dan parasnya yang bersih. Ia menambahkan beberapa fotoku saat di Yogya yang aku kirimkan lewat pos. Beberapa buku yang sering kubaca semasa SD hingga SMA masih ia letakkan rapi, lebih rapi dari yang pernah aku tinggalkan. Di tempat tidur aku melihat satu buku dengan sampul kertas putih yang telah digambar bentuk hati oleh, aku tak tahu, siapa? Ia pasti berbakat! Tapi, kenapa ada dihadapanku, di atas tempat tidurku. Aku yakin ada alasan tertentu kenapa ibu meletakkan buku itu saja di atas tempat tidurku.
            Kalimat yang tertera di bawah gambar hati: This My Heart Book And You
            Aku hendak membuka halaman pertama, namun aku tahu ini bukan saat yang tepat, maka aku meletakkannya kembali dan berusaha untuk tidak bertanya apapun setelah aku berhasil mengajak ibuku menghabiskan satu hari esok, untuk keliling kota.
            Jam demi jam yang kuhitung sampai malam yang menyinari kecil hati ini. Bulan sangat indah. Purnama yang sempurna. Tak sengaja, kutipan malam itu menyinggahi ingatan kala kami duduk di deratan kursi bawah pohon mangga. Saat itu, sebelum aku sempat mengatakan perpisahan, hujan hadir dan ia pergi. Hingga ku terpaksa mengucapkan ini dari sms. Aku tak ingin  menebak ekspresinya saat itu. Bahkan setelah hari ini.
***
            Embun rekah, matahari menggiring kalbu, jiwa-jiwa pecah dua belah. Fajar bertasbih di dedaunan tunas. Aku mulai dengan menyapu halaman usai subuh. Ibu memasak rendang kesukaanku. Ia juga merebus bunga pepaya. Di atasnya aku melihat taburan daun-daun jambu. Daun-daun itu akan mampu menghilangkan sedikit rasa pahit pada bunga pepaya. Setelah itu ditumis dengan cempokak.  Ah, sudah lama sekali. Makanan seperti ini yang jarang aku konsumsi saat di Yogya. Aku lebih sering memasak ikan ataupun sayuran daun ubi, paling tidak aku juga membeli di warung-warung nasi bungkus yang siap saji kalau tak sempat memasak sendiri. Pekerjaan kuliah hampir lebih banyak meregut aktivitas sehari-hariku.
            Setelah pagi itu aku bersiap untuk keliling kota. Saat tengah melangkah keluar rumah, ibu mulai menanyai sesuatu hal. Aku sudah bisa menebak itu dari nada suara ibu.
            “Buku itu, buku yang ada di tempat tidurmu, buku dari Wawan.”
            Aku tetap diam sepanjang jalan. Sampai kami memutuskan naik becak mesin dan mulai untuk terus melanjutkan perjalanan. Ibu memahami aku, ia sangat paham aku. Ia tahu aku pasti memikirkan hal ini, hal yang sudah lama aku benam keberadaannya. Yang terlalu berat untukku selesaikan.
***
            Aku terus memikirkan kata-kata ibu. Terus memikirkan itu. Aku belum berani membuka buku itu, buku: The My Heart Book And You.
            Assalamualaikum Wr. Wb.
            Adinda, abangda terus berusaha agar memarkirkan rasa ini di tempat yang tepat. Namun biarlah catatan ini menjadi sejarah cinta yang berharga itu. Adinda tahukah bahwa cintalah yang telah menaikkan derajat kita. Cinta mengubah sesuatu kehampaan menjadi ruang cerita. Allah Swt menciptakan cinta dengan sempurna.
            Dua puluh lembar tulisan-tulisan itu aku baca dalam satu malam. Air mataku menetes dan  tanpa kusadari perlahan pipi ini basah, mengalir seperti memang diciptakan untuk itu. Ibu memelukku, ia masuk ke kamar setelah mengdengarku tersedu. Aku tak mampu membendungnya.
            “Jadi, kau belum tahu, Nak?”
            “Belum Bu, kapan Bu? Kapan Abangda pergi ke Mesir? Kenapa ibu tak beritahu Aku?”
            “Ia melarang ibu. Katanya, dia tak mau mengganggu aktivitasmu! Ia pamit sudah satu tahun yang lalu. Ia sempat cerita pada ibu. Katanya, ia ingin membuktikan kalau ia bisa melamarmu dan membahagiakanmu!”
            “Abangda tidak boleh seperti ini. Ia tak boleh seperti ini. Aku tidak memaksanya untuk menjadi kaya dunia Bu! Aku hanya mau kami merasa cukup dan bahagia dengannya, selalu di sisi Dara,” kataku tampak panik, mulai tak bisa dan tak tahu apa kata-kata itu kesalahan.
            “Ssttt... Dara, Anakku, jangan engkau sesali hal yang sudah terjadi. Biarkan ia memperjuangkan hidupnya. Kau tak boleh egois. Kalian sudah lama menanam rasa dengan jarak jauh. Apa kau pikir ibumu ini tak mengerti perasaan anaknya? Apa kau pikir ibu tak tahu ia laki-laki seperti apa? Ia laki-laki bertanggung jawab. Percayalah pada ibu! Ia akan kembali dan menikah denganmu.”
            Aku hanya bisa memeluk ibu. Hanya ibu saat itu. Saat Mei tanggal 22. Mei, di tanggal ulang tahunmu dan aku sengaja memilih tanggal ini untuk di sini sebab masih dua tahun lagi waktuku menyelesaikan kuliah di Yogya, aku harus kembali. Kau tahu kenapa abangda? Aku sudah bekerja sebagai pengelola sebuah sekolah di Yogya. Mereka memberikan kehidupan yang cukup untukku makan dan membelikan ibu pakaian. Tentu aku juga membeli kado istimewa untukmu. Mei ini memang untuk ibu, juga untukmu. Mei yang berlalu begitu cepat, mei yang menelurkan rindu-rindu panjang.
            Adinda, jarak itu menitipkan rindu yang begitu indah di dada kita.
Rindu, 27 Agustus 2012

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...