Pernah, nabi mengatakan dalam sebuah hadis.
Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).
Dalam hadist ini banyak yang berpendapat bahwa ini perkara fitnah dan, ya fitnah adalah informasi bohong atau tuduhan tanpa dasar. Ya, tapi tunggu, itu baru makna yang sering kita pahami sebagai orang Indonesia. Saya melihat ke arah yang lebih dasar mengenai apa itu fitnah:
-------------------
Kata "fitnah" dalam bahasa Arab adalah fitna (فتنة). Kata ini memiliki banyak makna, di antaranya:
Godaan, Cobaan, Pemberontakan, Pertikaian sipil, Konflik, Ujian, Syirik, Kesesatan, Kerancuan pemahaman, Azab.
Kata "fitnah" sering digunakan dalam konteks Islam untuk merujuk pada berbagai bentuk pencemaran nama baik, tuduhan yang tidak benar, dan penyesatan.
Dalam Al-Qur'an, kata "fitnah" disebutkan sebanyak 60 kali dalam 32 surah, mulai dari surah al-Baqarah hingga surah al-Buruj.
Makna kata "fitnah" dalam Al-Qur'an berbeda dengan apa yang dipahami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Dalam bahasa Indonesia, "fitnah" artinya tuduhan dusta.
Dalam Al-Qur'an, Allah mengutuk orang-orang yang melakukan fitnah (Qadhf), yaitu suatu bentuk ucapan yang secara teknis termasuk dalam pencemaran nama baik.
---------------------
Bagaimana menurutmu?
Akan ada pernyataan percakapan, pemberontakan, kesyirikan, kesesatan dalam pemahaman, bahkan azab.
konteks yang luas ini sungguh mencengangkan.
Kalaulah konteks fitnah seluas ini, maka apa yang kita alami dari kebanyakan peristiwa kini, sebaiknya memang menghindarinya dengan sebanyak-banyaknya. Meskipun demikian, kita tidak benar-benar bisa menghindarinya. Namun tentu, Allah menyukai hamba-hambanya yang senantiasa berusahan berbuat yang paling baik, berbuat yang paling dekat dengan ketakwaan.
Pertanyaannya, sudah sampai di mana usaha kita itu?
Tahukah, kegelisahan ini membara pula di bulan Ramadhan dan semakin panas di dada, merintih, dan memohon ampun berkali-kali juga rasanya belum cukup.
No comments:
Post a Comment